Your Ad Here

..................................... The Other Side Of Me !




Muda, Kreatif, Pantang Menyerah !

   

<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31

Iden Wildensyah

Buat Lencana Anda


"Sedikit ide yang kau tuang dalam karya, akan lebih berarti daripada seribu kata yang terucap"

Satu-satunya Alasan Mengapa Ada Waktu, Karena segala sesuatu tidak terjadi sekaligus (Albert Einstein)

.

Imajinasi lebih penting dari sekedar Ilmu Pengetahuan (Albert Einstein)

.

Bumi ini Cukup untuk semua orang tapi tidak Untuk Dua Orang Yang Serakah (Mahatma Gandhi)

.

Against Ignorance !!

.....

Satu Kali dalam Hidup Orang Harus Menentukan Sikap. Kalau Tidak, Dia Tidak Akan Menjadi Apa-Apa (Pramoedya Ananta Toer)

....

....

...

..

.

Hidup ini Sederhana, Tentukan Pilihanmu dan Jangan Menyesal!

Coba Mengumpulkan yang terserak ! karena Ide tak Cukup Sekedar di Obrolkan.

hmm

GALERI BUKU PENAKAYU

LINKS euy!

  • Google News
  • wildensyah
  • isolapos
  • bitra
  • pipitkecilku
  • perca
  • akulaila.com

    Beasiswa Indonesia Scholarships

    Scholarship Info Beasiswa

    BLOG juga hasil karya cipta. Menyalin, Mengcopy dan Menyebarluaskan harus mencantumkan penulis. PENAKAYU adalah BLOG milik Iden Wildensyah, Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Lingkungan, UNPAD. Pekerja Konstruksi Rangka Atap Baja Ringan di Bandung.(email: wildensyah@yahoo.com)

    Let's Go Green Atuh, Euy!

    go green indonesia!


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



 
Jan 20, 2011
Buku Baja Ringan


Buku ini ditulis dengan pendekatan yang sederhana namun didukung oleh data teknis dan sarat pengalaman lapangan. Buku ini sangat cocok bagi anda sebagai panduan untuk memilih produk/kontraktor rangka atap baja ringan” (Joyce Soelistiowati – tabloid PROPERTI.BIZ)

Buku ini menawarkan berbagai macam pengalaman berguna, ini bisa membantu siapa saja yang berminat untuk mengerti seluk beluk dunia rangka atap baja ringan di Indonesia sekarang ini, para pembaca di ajak untuk pintar mengenai material bangunan yang sedang nge-trend dewasa ini” (Ir Rony Chandra - Aditama Mitra Perkasa. PT)


Membeli rangka atap baja ringan adalah membeli struktur, struktur yang terjamin kuat akan memberikan tingkat keamanan dan kenyamanan pembelinya. Karena itu pastikan bahwa konstruksi atap bangunan yang akan dibeli memenuhi kaidah struktur yang bisa dipertanggungjawabkan agar struktur rangka atap yang dibeli memberikan kenyamanan bagi costumer.

Tidak ada salah bagi anda yang hendak memasang rangka atap baja ringan untuk berkonsultasi lebih jauh dengan distributor atau aplikator baja ringan terlebih dahulu, jangan sampai beralasan hanya karena murah, berkesimpulan untuk membeli batangan. Alih-alih mencari harga murah malah resiko besar yang harus ditanggung. Konstruksi rangka atap rumah anda sangat vital peranannya dalam melindungi material dan properti dibawahnya.

Buku ini memberikan informasi tentang rangka atap baja ringan khususnya bagi para costumer yang hendak memasang rangka baja ringan untuk struktur atapnya dan umumnya bagi siapa saja yang tertarik dengan dinamika pekerjaan rangka atap baja ringan.

DETAIL

Judul : Rangka Atap Baja Ringan untuk Semua

ISBN : 978-602-8800-46-4

Penulis : Iden Wildensyah, M.Si

Cetakan Kesatu : Desember 2010

Halaman : 108 + viii

Berat : -

Dimensi : 15 x 21 cm

Harga Buku : Rp. 24.000,00
Posted at 10:38 pm by penakayu
Make a comment  

 
Nov 3, 2009
Dia
Dia yang tak kukenali
(sebuah cerita sangat pendek by Aku)

Aku mengirimkan surat ini untuk kamu, sebut saja Dia. Dia, sejak aku mengenalmu siang itu di sudut sebuah perpustakaan saat kamu bertanya tentang penelitian yang hendak kau lakukan. Tahukah kala itu aku tidak menyangka bahwa tatapan matamu menusuk jantungku. Tatapan yang membuat banyak interpretasi tetapi coba kunetralisir karena itu tatapan yang sengaja kita adukan agar kita tahu bagaimana jawaban yang jujur atas semua pertanyaan. Dia, ketika itu tidak banyak bertanya, justeru akulah yang bertanya tentang segala sesuatu. Termasuk juga buku yang hendak kamu ambil. Sebuah buku yang menurutku sudah sangat kuno, tetapi bagimu buku itu adalah buku modern yang pemikirannya melampaui zaman saat penulisnya menyusun kata demi kata hingga menjadi sebuah buku.

Dia saat itu terlihat begitu manis dengan baju berwarna putih berenda, kerudung putih dan celana hitam. Aku memandangi sekilas saja, karena fokus pembicaraan siang itu menarik untuk diungkapkan. Materi tentang kehidupan serta dunia yang menyelimutinya. Dinamika yang senantia merundung kehidupan agar manusia berpikir. Dan Dia, kamu hadir dalam hatiku siang itu. Ah.. Sudahlah Dia, kamu tak perlu berlama-lama singgah karena kamu hanya butuh bertanya, tidak butuh aku untuk menemanimu menulis.

Disudut perpustakaan itu perkenalan bermula, tak kusangka walau hanya sekejap tetapi kesan itu mendalam. Dia memandangi setiap rak buku yang ada didepannya. Dia tidak melihat katalog atau bertanya pada petugas, dia menjelajahi setiap jajar buku. Kulihat sebentar disela-sela membaca buku, Dia girang, sepertinya menemukan buku yang dicari. Dia mencari tempat yang nyaman untuk membaca. Dia menengok kearahku, disamping meja tempat dudukku ada sebuah kursi kosong, Dia duduk didekatku. Tidak berbicara, Dia hanya membaca begitu juga aku. Tak kupedulikan Dia berada disampingku. Aku acuh saja, meneruskan membaca sama seperti Dia belum datang bertanya tentang sebuah buku.

Dia begitu asik membaca lembar perlembar buku yang ditemukan disalahsatu jajar buku perpustakaan. Kadang menulis, kadang tersenyum.. Senyumnya yang manis. Kulirik sebentar dan kuteruskan membaca. Dia masih membaca, aku tak bertanya apapun begitu juga Dia. Sejenak Dia menghentikan bacaan, melemparkan tatapannya padaku. Tetap pada saat Dia melemparkan tatapannya, kita beradu pandang. Seperti ada yang dipikirkan, Dia berkerut dan bertanya tentang sesuatu. Kukatakan tidak tahu, kusuruh Dia meneruskan dulu membaca buku itu dan baru berdiskusi. Dia terlihat kecewa, tetapi dengan cepat mengalihkan perhatiannya pada buku yang kini ada dalam pegangannya.

Hampir 4 jam aku dan Dia berada ditempat yang sama, membisu dan tenggelam dalam buku masing-masing. Dia kulihat sejenak sedang membereskan buku catatannya. Dia beranjak pergi dengan sebuah senyuman dan kata pamitan.
Dia sudah pergi meninggalkan aku sendirian di sudut itu, Dia yang tak kukenal namanya kini tidak pernah muncul lagi diperpustakaan itu. Dia hanya satu kali saja bertemu aku disuatu siang menuju sore yang berkesan.

Dia, ini suratku untukmu jika tak sempat kau baca, simpan saja.. Aku tidak tahu kemana harus kukirimkan surat ini. Dia menghilang begitu saja, aku mengenalmu walaupun sebentar saja tetapi Dia, masih kubayangkan raut wajahmu, senyum manismu. Dia adalah aku.
Posted at 09:18 am by penakayu
Comments (2)  

 
Nov 2, 2009
dari Kompas
Ekowisata di Tangkubanparahu

Rabu, 21 Oktober 2009 | 15:03 WIB

Oleh IDEN WILDENSYAH

Belakangan ini berkembang isu tentang kawasan Tangkubanparahu yang hendak dikelola swasta. Terjadi pertentangan karena ada perbedaan kepentingan antara pencinta lingkungan dan pengelola.

Dalam Warta Kehati, pengelolaan ekowisata bisa berjalan lancar jika ada kerja sama kantor pariwisata dan badan-badan manajemen sumber daya alam, khususnya yang membidangi hutan dan taman nasional, serta lembaga swadaya masyarakat, khususnya yang bergerak di bidang lingkungan hidup, usaha kecil, dan pengembangan masyarakat tradisional.

Kerja sama juga harus terjalin dengan industri pariwisata yang mapan, khususnya operator perjalanan, universitas dan lembaga penelitian, kelompok masyarakat, organisasi internasional, lembaga penyandang dana baik pemerintah maupun nonpemerintah, organisasi budaya, dan lain-lain.

Pengelola ekowisata harus mengupayakan akses untuk kesetaraan partisipasi sejak proyek dimulai. Kalau tidak, keberhasilan proyek tersebut akan terhambat di belakang hari. Bisa jadi pertentangan serupa terjadi karena pihak pengelola sudah merasa melakukan, tetapi tidak maksimal.

Pengertian ekowisata berakar dari pengertian ecotourism. Menurut Wikipedia, ekowisata adalah salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, pemberdayaan sosial budaya, ekonomi masyarakat lokal, serta pembelajaran dan pendidikan.

Ekowisata dapat dipahami sebagai perjalanan yang disengaja ke kawasan-kawasan alamiah untuk memahami budaya dan sejarah lingkungan tersebut sambil menjaga agar keutuhan kawasan tidak berubah dan menghasilkan peluang untuk pendapatan masyarakat sekitarnya. Jadi, mereka merasakan manfaat dari upaya pelestarian sumber daya alam.

Dampak negatif

Ada banyak definisi ekowisata yang diberikan oleh organisasi, kelompok, ataupun individu yang bergelut di bidang ekowisata. The International Ecotourism Society mendefinisikan ekowisata sebagai perjalanan yang bertanggung jawab ke daerah-daerah alami yang melindungi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat.

Semiloka dan Simposium Ecotourism (April 1995) dalam Sudarto (1999) memberi pengertian ekowisata sebagai kegiatan perjalanan wisata yang bertanggung jawab ke/di daerah-daerah yang masih alami atau daerah-daerah yang dikelola dengan kaidah alam. Tujuannya, selain menikmati keindahan, juga melibatkan unsur penduduk, pemahaman, serta daya dukung terhadap usaha-usaha konservasi alam dan peningkatan pendapatan masyarakat sekitar daerah tujuan ekowisata.

Di samping memiliki dampak positif bagi konservasi, pendidikan, dan ekonomi, ekowisata juga memiliki dampak negatif. Sumber dampak dari aktivitas wisata, menurut Siti Nuraini dalam prosiding Lokakarya Karakteristik Permasalahan Wisata Alam di TNGP, terbagi menjadi tiga faktor, yaitu pengunjung, fasilitas, dan tata letak.

Sumber dampak lingkungan akibat pengunjung yang terlihat langsung memang adalah pengunjung. Pengunjunglah yang terlihat secara langsung membuang sampah atau menimbulkan kerusakan kawasan. Dalam proses pemetaan masalah, dibahas hal-hal yang menyebabkan keberadaan pengunjung yang cenderung menimbulkan kerusakan lingkungan.

Pembahasan itu memperlihatkan dua penyebab besar, yaitu karakteristik pengunjung yang tidak kompatibel dengan tujuan-tujuan konservasi dan jumlah pengunjung yang melebihi kapasitas. Kedua penyebab tersebut kemudian diperparah dengan kelemahan proses penegakan peraturan pengunjung.

Sementara dampak lingkungan akibat fasilitas sering kali terpusat pada perilaku pengunjung. Padahal, ternyata fasilitas adalah kontributor kerusakan lingkungan. Keberadaan fasilitas sebenarnya memang ditujukan untuk menyerap dampak lingkungan pengunjung. Akan tetapi, kesalahan penempatan, desain, dan pembangunannya justru menyebabkan kerusakan lingkungan yang lebih parah. Semua masalah ini menunjukkan bahwa perancang fasilitas kurang memahami desain yang berwawasan lingkungan dan kajian mengenai dampak lingkungan itu sendiri kurang dilakukan secara serius.

Dampak lingkungan akibat tata letak (site plan) merupakan awal dari permasalahan. Banyak sekali permasalahan di lokasi ekowisata, baik yang terkait dengan pengunjung maupun fasilitas, dapat ditelusuri pangkalnya dari permasalahan tata letak. Persoalan yang umum terjadi adalah penempatan fasilitas yang berdekatan dengan daerah peka.

Kerusakan alam

Keberhasilan ekowisata sangat bergantung pada usaha penyadaran semua pihak terkait, terutama penduduk setempat dan petugas pemerintah daerah yang bersangkutan. Ekowisata tidak hanya perlu memberikan fasilitas kepada wisatawan untuk menikmati pemandangan alam yang indah dari kejauhan. Namun, ekowisata juga harus memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi pengunjung untuk tinggal nyaman di tengah lingkungan yang indah itu untuk sementara waktu agar memperoleh kesan mendalam tentang lingkungan setempat.

Perencanaan dan pengelolaan yang terintegrasi memungkinkan ekowisata menjadi salah satu alternatif pengelolaan sumber daya hutan dengan meminimalisasi dampak negatifnya. Di dua sisi yang berlawanan, ekowisata yang bertujuan menarik wisatawan sebanyak-banyak untuk mendapatkan pemasukan maksimal hendaknya memerhatikan aspek perlindungan terhadap faktor keseimbangan alam dan ekosistem setempat. Dengan demikian, tidak terjadi ketimpangan antara hasil dan dampak yang terjadi di kawasan ekowisata tersebut.

Ekowisata Tangkubanparahu, jika diperhatikan serta dikelola dengan baik, bisa jadi akan menjadi solusi untuk meningkatkan perekonomian daerah. Namun, jika pengelolaannya tidak memerhatikan hal-hal negatif tersebut, jangan berharap ekowisata mendatangkan keuntungan. Bisa jadi malah kerusakan alam yang akan terjadi. IDEN WILDENSYAH Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan Unpad

Posted at 03:45 pm by penakayu
Comment (1)  

Saya dan Bulletin Wanadri
"Hati yang penuh syukur, bukan saja merupakan kebajikan yang terbesar, melainkan merupakan pula induk segala kebajikan yang lain." - Cicero

photo by stephenlangitan.com
Jika ada satu majalah yang berjasa dalam membuat saya gemar menulis, maka majalah itu bernama Bulletin Wanadri. Saya tidak bisa dipisahkan dari Bulletin Wanadri, saya mengenalnya ketika kuliah di Setiabudi 207 Bandung. dalam setiap bulan terbitnya Bulletin Wanadri selalu saya tunggu, selain mendapatkan banyak hal yang bermakna dari isi dan cerita seputar petualangan alam terbuka, saya juga mendapatkan semangat untuk menulis dari kehadiran Bulletin Wanadri (selanjutnya disebut BW).

Format BW yang awal saya kenali sungguh berbeda, dari tampilan muka, logo sampai isi. nilai perbedaan ini yang membuat saya sangat loyal menjadi pembaca setia BW. jenis tulisan Satcacao yang saya kenali dari sampul muka ini memberi kesan tersendiri. Jenis huruf ini seolah menjadi trade mark BW. ketika format huruf ini di ganti, saya merasakan sesuatu yang berbeda. saya merasa kehilangan identitas BW yang saya kenal selama itu. BW mengganti format mendekati karakter National Geoghrapic. Saya menyayangkan karena jika National Geoghrapic (NG) terbit edisi Indonesia, habislah BW. dan betul saja, dugaan saya tidak meleset, NG terbit versi Indonesia. BW harusnya kembali ke format karakter awal yang saya anggap sebagai trade mark-nya BW.

Selain karena kegemaran saya membaca, kehadiran BW saya nantikan dengan penuh harap tulisan saya muncul. Pada mulanya hanya berita seputar perkumpulan pecinta alam saja yang saya tulis dan kirimkan ke BW. Ada semacam kebanggaan tersendiri ketika saya melihat tulisan saya muncul di BW. Saya menulis opini dirubrik Kolom Bebas, selebihnya saya menulis tentang banyak hal yang berhubungan dengan masalah pecinta alam dan lingkungan. Alhasil dari keseringan berkirim artikel, saya bisa berkenalan secara langsung dengan jajaran redaksi BW, beberapa orang saya kenal sangat baik dalam menjaga nilai pertemanan, saya mengenal Haris, Galih Donikara, Antonius Satya, Jejen, dan banyak lagi (Saya memanggil dengan Kang Haris, Kang Galih, Kang Anton dll sebagai bentuk hormat saya pada mereka).

Saya belajar banyak dari perkenalan dengan dewan redaksi BW, mereka memang orang besar dengan pengalaman yang mumpuni dibidang kegiatan alam terbuka. Saya bersyukur mengenal mereka dari BW. kini setelah hampir satu tahun, saya merasa kehilangan BW. saya merindukannya seperti merindukan kehadiran seorang yang sudah lama tidak berjumpa. Saya yakin suatu saat nanti BW akan muncul lagi dengan saya bisa berkontribusi untuk dunia kepecintaalaman Indonesia.

Saya bersyukur karenaMu!
Posted at 02:44 pm by penakayu
Make a comment  

catatan kecil untuk Madina
''Tuhan memang tidak pernah menjanjikan dunia yang dipenuhi kebun bunga mawar''. Allah memang tidak pernah menyatakan bahwa tujuan baik akan dapat dicapai dengan mudah. Kami akan terus berjalan. Mudah-mudahan ini bukan titik. Cuma tanda koma dengan sekian panjang kelanjutan. -- Pengantar Redaksi Madina di Edisi 20--

Sekarang edisi 20 bulan september 09 berarti pertama kali beli bulan Februari 08. Yah.. Saya pertama kali membaca majalah Madina adalah bulan februari 2008. Saya mengingat waktu itu istri saya yang membeli. Saya membaca karena saya merasa majalah yang sudah dibeli, sayang kalau tidak dibaca. Saya menyukai Madina bukan karena masalah yang dikajinya adalah islam, lebih dari itu Madina menampilkan islam yang damai, islam yang universal dengan tidak mengurangi kekritisan terhadap dunia barat.
Madina menampilkan gaya bahasa yang lugas dan enak dibaca. Banyak masalah dunia kontemporer yang dikaji secara mendalam oleh penulis-penulis Madina. Tentang islam yang mengakui keberagaman juga tentang sosok-sosok pembawa islam damai.
Madina bisa dijadikan corong alternatif bagi media islam untuk tetap kritis tetapi tetap menghargai pluralitas bangsa. Tanpa harus mengakui sebagai pemikiran yang paling benar dan menganggap pemikiran diluar golongan mereka itu salah. Banyak hal yang tidak terduga. Banyak informasi yang terbuka di Madina yang tidak di muat di media lainnya. Misalnya tentang Amina Wadud, Madina menampilkan sosok kontroversi ini dalam kadar yang baik. Maksudnya tidak menonjolkan seolah-olah pendukung Amina Wadud tetapi juga tidak sebagai penentang. Dikala media lain tidak begitu mendalam mengupas pemikiran Amina Wadud, Madina mampu memberikan semacam percikan bagi pembaca untuk memikirkan setiap ulasan-ulasan wawancara dengan Amina Wadud.
Selain itu, saya masih ingat ketika membaca salahsatu artikel Madina yang membahas tentang kedatangan MU. Ya MU akan datang tetapi benarkah MU akan memberikan manfaat bagi bangsa ini, jangan-jangan kedatangan MU hanya sebagai alasan untuk menutupi hal yang lebih penting untuk dipikirkan bangsa ini. Apalah artinya uang milyaran rupiah untuk mendatangkan MU kalau ternyata masih banyak warga negara yang kelaparan.
Masih banyak lagi tema-tema menarik seperti plus minus sekolah islam, saya membaca ini membukakan mata bahwa sekolah label islam pun tetap saja ada plus minusnya. Rasanya ini sangat bermanfaat bagi mereka yang hendak menyekolahkan anaknya ke sekolah islam.
Madina memberikan warna tersendiri bagi saya sebagai orang islam. Tentang arti hormat menghormati sesama manusia juga tentang keberagaman yang sudah semakin dipersempit dengan isu-isu yang tidak penting hingga merasa golongannya paling benar dan diluar golongan mereka itu salah. Cap seperti itu menurut saya yang membuat islam seolah dekat dengan kekerasan, padahal sebenarnya ada islam yang damai. Islam adalah rahmatan lil alamin.
Sayang memang, edisi ke 20 bulan september kemarin adalah edisi terakhir. Sangat disayangkan memang, tetapi itulah realita yang harus diterima dengan lapang dada. Semoga saja lahir media seperti Madina, yang universal dan menyegarkan.
Saya bersyukur pernah mengirimkan tulisan lebih tepatnya salahsatu catatan di facebook ini walaupun hanya mengisi kolom dari pembaca. Saya bersyukur karena sudah turut serta mewarnai Madina.

Madina ''Terbuka, bijak, mencerahkan''
Posted at 02:43 pm by penakayu
Make a comment  

 
Aug 24, 2008
dari Majalah Techno Konstruksi

Benarkah Baja Ringan Ramah Lingkungan?

Oleh Iden Wildensyah*

Baja ringan adalah baja canai dingin yang keras yang diproses kembali komposisi atom dan molekulnya, sehingga menjadi baja yang lebih fleksibel. Saat ini baja ringan menjadi material bangunan yang sedang trend, rangka atap baja ringan lebih dominan terkenal dibanding material baja ringan untuk struktur lainnya. Hal ini karena gencarnya iklan-iklan yang menawarkan produk rangka atap baja ringan menggantikan rangka atap dari material kayu. Mengingat kayu semakin hari semakin langka juga karena harga kayu yang relatif mahal, maka pemilihan material rangka atap baja ringan menjadi satu pilihan para kontraktor atau owner dalam membangun rumah. Selain karena faktor keawetan dan tahan rayap dan karat, rangka atap baja ringan mempunyai kelebihan yaitu kekuatan struktur yang lebih bagus, seperti lebih kuat, lebih kaku dibanding konstruksi kayu.

Disamping itu kemudahan dalam mendapatkan, kecepatan pemasangan, dan struktur yang kuat membuat rangka atap baja ringan terkenal. Teknologi dalam perencanaan dan pemasangan rangka atap baja ringan beragam sesuai dengan profil dari elemen kuda-kuda itu sendiri. Profil kuda-kuda rangka atap baja ringan yang beredar di pasaran terdiri dari C, Z, hollow dan UK atau profil Omega atau HAT. Tiap profil memiliki kelebihan-kelebihan serta perbedaan prinsip dalam dalam pemasangannya.

Elemen dasar Baja Ringan

Bahan dasar baja ringan adalah Carbon Steel, Carbon Steel adalah baja yang terdiri dari elemen-elemen yang prosentase maksimum selain bajanya sebagai berikut: 1.70% Carbon, 1.65% Manganese, 0.60% Silicon, 0.60% Copper. Carbon adalah unsur kimia dengan nomor atom 6, tingkat oksidasi 4.2 dan Mangan adalah unsur kimia dengan nomor atom 25, tingkat oksidasi 7.6423. Carbon dan Manganese adalah bahan pokok untuk meninggikan tegangan (strength) dari baja murni. Penambahan prosentase Carbon akan mempertinggi Yield Stress tetapi akan mengurangi daktilitas.

Rangka atap baja ringan yang diproduksi di Indonesia menggunakan bahan dasar baja dengan kekuatan G-550 Mpa atau setara dengan 5500 Megapascal sesuai standar AISI (American Iron and Steell Institute). Adapun coating (pelapis/pelindung) baja ringan dari karat yang beredar adalah zinc/galvanis, zincalume, dan zincalume dengan penambahan magnesium. Lapisan coating ini melindungi bahan dasar baja ringan dari karat.

Baja Ringan Ramah Lingkungan

Baja ringan diklaim memiliki sifat yang ramah lingkungan, karena menggunakan material yang bisa mengurangi pembalakan liar (illegal logging). Tidak jarang juga kita menemui brosur rangka atap baja ringan dengan kode ekolabel atau ramah lingkungan, label yang menjelaskan produk yang dijual adalah ramah terhadap lingkungan. Namun apakah benar ramah lingkungan? Untuk mengetahui hal itu, baiknya kita ketahui produk yang berlabel ramah lingkungan atau ekolabel.

Dalam situs Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia (www.menlh.go.id) dilansir bahwa Ekolabel merupakan salah satu sarana penyampaian informasi yang akurat,‘verifiable’ dan tidak menyesatkan kepada konsumen mengenai aspek lingkungan dari suatu produk (barang atau jasa), komponen atau kemasannya. Pemberian informasi tersebut pada umumnya bertujuan untuk mendorong permintaan dan penawaran produk ramah lingkungan di pasar yang juga mendorong perbaikan lingkungan secara berkelanjutan.

Ekolabel dapat berupa simbol, label atau pernyataan yang diterakan pada produk atau kemasan produk, atau pada informasi produk, buletin teknis, iklan, publikasi, pemasaran, media internet. Selain itu, informasi yang disampaikan dapat pula lebih lengkap dan mengandung informasi kuantitatif untuk aspek lingkungan tertentu yang terkait dengan produk tersebut. Ekolabel dapat dibuat oleh produsen, importir, distributor, pengusaha ‘retail’ atau pihak manapun yang mungkin memperoleh manfaat dari hal tersebut.

Tujuan dan Manfaat Ekolabel

Ekolabel dapat dimanfaatkan untuk mendorong konsumen agar memilih produk-produk yang memberikan dampak lingkungan yang lebih kecil dibandingkan produk lain yang sejenis. Penerapan ekolabel oleh para pelaku usaha dapat mendorong inovasi industri yang berwawasan lingkungan. Selain itu, ekolabel dapat memberikan citra yang positif bagi ‘brand’ produk maupun perusahaan yang memproduksi dan/atau mengedarkannya di pasar, yang sekaligus menjadi investasi bagi peningkatan daya saing di pasar.

Bagi konsumen, manfaat dari penerapan ekolabel adalah konsumen dapat memperoleh informasi mengenai dampak lingkungan dari produk yang akan dibeli/digunakannya. Karena kepentingan tersebut, konsumen juga memiliki kesempatan untuk berperan serta dalam penerapan ekolabel dengan memberikan masukan dalam pemilihan kategori produk dan kriteria ekolabel. Penyediaan ekolabel bagi konsumen juga akan meningkatkan kepedulian dan kesadaran konsumen bahwa pengambilan keputusan dalam pemilihan produk tidak perlu hanya ditentukan oleh harga dan mutu saja, namun juga oleh faktor pertimbangan lingkungan.

Prinsip – Prinsip Ekolabel

Produk yang diberi ekolabel selayaknya adalah produk yang dalam daur hidupnya mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, pendistribusian, penggunaan, dan pembuangan setelah penggunaan, memberi dampak lingkungan relatif lebih kecil dibandingkan produk lain yang sejenis. Ekolabel akan memberikan informasi kepada konsumen mengenai dampak lingkungan yang ada dalam suatu produk tertentu yang membedakannya dengan produk lain yang sejenis.

Ukuran keberhasilan ekolabel dapat dilihat dari adanya perbaikan kualitas lingkungan yang dapat dikaitkan langsung dengan produksi maupun produk yang telah mendapat ekolabel. Selain itu, tingkat peran serta dari kalangan pelaku usaha dalam menerapkan ekolabel juga menjadi indikator penting keberhasilan ekolabel.

Selain melihat bahan baku, sejumlah akolabel yang diberlakukan suatu negara (buyers) juga memerhatikan proses pembuatan serta kemampuan produk tersebut didaur ulang. Setiap ekolabel itu ada kriteria masing-masing. Bahkan, jenis bahan bakar apa yang digunakan serta proses limbahnya diolah seperti apa juga menjadi pertimbangan buyer membeli sebuah produk.

Penutup

Pemikiran tentang ramah lingkungan, ataupun recyclibility dalam penggunaan material baja ringan harus dipertegas kembali. Hendaknya setiap produsen dapat menjelaskan kepada konsumen tentang konsep tersebut, apakah karena material yang tidak akan menyisakan sampah? Atau bahan-bahan sisa yang bisa di recycle menjadi bahan lain yang berguna?

Walaupun demikian Jika di telusuri lebih jauh, secara umum baja ringan mungkin saja bisa mengurangi pembalakan liar karena bisa meminimalisir bahkan cenderung menghilangkan penggunaan material kayu dalam konstruksinya. Tapi sesuai dengan prinsip ekolabel bahwa produk yang diberi ekolabel selayaknya adalah produk yang dalam daur hidupnya mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, pendistribusian, penggunaan, dan pembuangan setelah penggunaan, memberi dampak lingkungan relatif lebih kecil dibandingkan produk lain yang sejenis. Mudah-mudahan saja baja ringan menjadi alternatif penggunaan material bangunan masa depan yang lebih bisa diterima lingkungan karena daur hidupnya yang memberikan dampak yang kecil.

(Iden Wildensyah adalah Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan, Unpad. Bekerja di Konstruksi Rangka Atap Baja Ringan di Bandung)
Posted at 08:35 pm by penakayu
Comment (1)  

 
Jun 19, 2008
dari PSMIL II

RINGKASAN[1]

“ Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan dalam Konsep Pembangunan Berkelanjutan”

Oleh IDEN WILDENSYAH[2]

Pembangunan ekonomi di beberapa negara telah berhasil menaikan taraf hidup masyarakat pada umumnya. Ilmu ekonomi dengan rangkaian teori yang dilahirkan telah memainkan peranan penting dalam membentuk alur pemikiran dan intuisi para perencana ekonomi. Namun bersamaan dengan kemajuan ekonomi timbul beberapa masalah dan dampak lingkungan hidup. Sumberdaya yang semakin menipis dan munculnya berbagai jenis pencemaran mulai dianggap menghambat kemajuan ekonomi.

Lingkungan hidup berkaitan erat dengan kegiatan ekonomi dibidang produksi, konsumsi dan distribusi. Seiring dengan hal itu maka terjadi kekuatiran bahwa kualitas dan kuantitas sumberdaya menurun akibat kegiatan ekonomi yang dikhawatirkan dapat mengancam kelangsungan kemajuan ekonomi pada tahap berikutnya.

Maka dibutuhkan perangkat tolak ukur untung rugi dari berbagai kegiatan yang mempunyai dampak terhadap lingkungan. Memperhitungkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh langkah perlindungan dan pengendalian juga merupakan bagian penting dari kajian untuk pengembangan suatu proyek. Jadi masalah lingkungan dan penggunaan sumberdaya alam sudah sepatutnya dipandang lebih sebagai persoalan ilmu ekonomi daripada persoalan moral.

Kriteria Dasar Ekonomi

-         Kepuasan (utility). Konsep pareto optimum mengatakan bahwa sementara orang ingin mencapai kepuasan sebesar-besarnya, kondisi yang tercapai harus menunjukan bahwa memberikan manfaat pada satu orang atau kelompok masyarakat tanpa merugikan orang lain.

-         Produktivitas, konsep ini mirip dengan konsep kepuasan; keduanya menyangkut suatu tingkat maksimum yang hendak dicapai masyarakat. Namun, konsep produktivitas memusatkan  perhatian pada hasil yang diukur (kardinal), yakni barang dan jasa, termasuk mutu lingkungan. Hubungan antara efisiensi dalam konsep produktivitas dan pareto-optimum memang tidak sederhana.  Jika setiap orang ingin segalanya dalam jumlah yang banyak, suatu perekonomian tidak dapat berjalan secara pareto-optimal kecuali jika benar-benar efisien dalam melakukan produksi. Kita tidak akan bisa memilih antara dua titik pada garis kemungkinan produksi kecuali jika ada tolok ukur nilai maksimum barang dan jasa yang dihasilkan suatu masyarakat (misalnya produk domestik bruto, PDB menurut harga pasar tertentu)

-         Dalam dua kriteria yang dibahas sejauh ini, soal pemerataan atau distribusi tidak dibahas secara eksplisit, jika kita amati secara mendalam, dalam proses pengambilan keputusan ekonomi yang menyangkut masalah lingkungan, persoalan alokasi biaya perlindungan dan distribusi manfaat bagi beberapa kelompok masyarakat yang berbeda akan selalu muncul. Pada umumnya, menghitung dan menentukan alokasi biaya tidak terlalu sulit dibandingkan dengan memperkirakan besaran serta distribusi manfaat.

Ekonomi Pencemaran

Ilmu ekonomi telah mempunyai beberapa konsep dan peralatan analisis untuk mendekati persoalan polusi. Salahsatu yang dikenal adalah analisis manfaat-biaya dimana konsep compensating variation (CV) dan equivalent variation (EV) biasanya dibicarakan melalui topik yang menyangkut surplus konsumen (CS).

Dalam ilmu ekonomi, konsep tentang harga bayangan (shadow price) dan eksternalitas juga sangat relevan untuk analisis manfaat-biaya suatu masalah polusi. Harga bayangan diperlukan untuk mengatasi keadaan dimana harga pasar tidak dapat diperoleh.

Seringkali dijumpai kesulitan untuk mengukur eksternalitas, baik kerugian eksternalitas, misalnya kerusakan lingkungan seperti polusi air, polusi zat kimia dan polusi udara yang ditimbulkan oleh suatu proyek, maupun keuntungan eksternal seperti misalnya akses terhadap pemandangan alam dan mutu pelayanan yang meningkat karena adanya suatu proyek.

Optimisasi dalam Ekonomi Sumberdaya

Pengikisan sumberdaya sering diinterpretasikan secara sederhana bahwa perekonomian akan kehabisan sumberdaya, terutama sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui (Non renewable) dan bila hal ini berlangsung maka akan terjadi bencana bagi kemakmuran manusia. Pemikiran yang sederhana ini bukan saja tidak tepat tetapi juga akan menghambat usaha pembangunan dan pertumbuhan ekonomi termasuk pola yang mengikuti konsep pembangunan berkelanjutan.

Dalam ilmu ekonomi tersedia alat analisis untuk mengatasi masalah semacam ini. Pertanyaan relevan yang menyangkut trade off antarwaktu-antargenerasi ialah: apakah mungkin suatu pola pengikisan yang dianggap efisien dari kacamata generasi sekarang dapat menyisakan sumberdaya sedikit atau bahkan tidak sama sekali untuk generasi yang akan datang? Perlu dicatat bahwa mengoptimalkan tingkat pengikisan sumberdaya juga berarti memaksimumkan present value (PV) sumberdaya tersebut. Dalam terminologi ekonomi, pemecahan masalah semacam ini umumnya menyangkut perhitungan social discounting rate (SDR). SDR ini perlu hitung dalam menentukan penggunaan sumberdaya alam secara optimal.

Menurut Solow dalam kerangka model dua faktor mengatakan bahwa tingkat konsumsi yang bisa dipertahankan sampai waktu tak terhingga dapat dicapai bila salah satu dari kondisi berikut dipenuhi: (1)  elastisitas substitusi antara sumberdaya dengan modal lebih besar dari satu (sangat elastis). (2) elastisitas tersebut sebesar satu namun kontribusi modal lebih besar dari kontribusi sumberdaya; (3) apabila terjadi perubahan teknologi.

Untuk kasus sumberdaya yang renewable (dapat diperbaharui) asumsi awal yang dipakai adalah ”kaidah pertumbuhan alami” (natural growth law). Lingkungan hidup memiliki suatu ambang batas dalam jumlah stok atau populasi yang dapat ditunjang. Bila jumlah stok mendekati ambang batas tersebut, pertumbuhan akan melambat dan akhirnya berhenti. Batas ini akan dicapai bila penggunaan stok sumberdaya tidak lagi akan menghasilkan pertumbuhan, atau bila penggunaan stok secara kumulatif mendekati tingkat maksimum.

Konsep Kelangkaan Sumberdaya

Dari berbagai studi tentang kelangkaan sumber mineral belum dipastikan apakah sumberdaya di bumi secara ekonomis memang langka. Perbaikan pada beberapa faktor berikut akan mempengaruhi hasil penemuan diatas: perubahan teknologi, penyempurnaan proses produksi dan transportasi, penemuan deposit baru, skala ekonomi, dan faktor substitusi. Dua kasus energi (1974 dan 1979) cenderung mengukuhkan pendapata bahwa sumberdaya di bumi ini makin langka. Dalam diagram titik A mendekat dimana basis sumberdaya akan menciut, oleh karena itu tidaklah mengherankan bahwa para ahli secara terus menerus aktif mencari substitusi sumberdaya, mencoba menemukan proses produksi yang hemat sumbedaya dan melihat kemungkinan hasil substitusi hasil, yang berarti akan lebih banyak jumlah produksi dan konsumsi barang dan jasa yang berciri hemat sumberdaya.

Simpulan

Hanya dengan sedikit pengecualian, ekonom cenderung memperlakukan degradasi lingkungan sebagai kegagalan pasar (market failure). Bagi ekonom semacam ini fungsi lingkungan adalah untuk memasok barang alami seperti keindahan lanskap, menyediakan sumberdaya alam yang diperlukan untuk menghasilkan barang ekonomi atau memasok tempat sampah bagi pembuangan produk sampingan dari limbah hasil kegiatan ekonomi Sampai batas tertentu bahkan konsep dan peralatan analisis ilmu ekonomi mampu membantu menemukan solusi dari setiap persoalan.

Mengabaikan faktor lingkungan akan menimbulkan suatu bencana terutama dilihat dari sudut konsep pembangunan berkelanjutan. Studi multidisiplin secara kolaboratif (dengan ilmuwan dari disiplin lain) jelas sangat diperlukan.

Komentar

Pemaparan Iwan Jaya Azis ini sangat mendasar terutama dalam konsep yang di tuliskannya, ini menjadi bagian penting dalam mensosialisasikan pemahaman tentang hubungan antara ekonomi dan sumberdaya lingkungan. Ada benang merah yang bisa ditarik dimana keduanya terdapat kesalingtergantungan satu sama lain. Ekonomi dibutuhkan untuk meningkatkan pertumbuhan dan lingkungan dibutuhkan untuk mendukung sumberdaya tetapi keberadaan sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui menjadi masalah tersendiri karena berhubungan dengan harga. Logikanyanya harga akan naik bila sumberdaya sedikit dan permintaan banyak. Sementara sumberdaya yang terus menipis dan pemintaan semakin banyak maka seiring dengan itu harga pun akan mengalami kenaikan yang signifikan.

Bila di telaah penurunan kualitas lingkungan disebabkan oleh dua faktor yaitu disebakan oleh meningkatnya kebutuhan ekonomi (economic requirement) dan gagalnya kebijakan yang diterapkan (policy failure). Peningkatan kebutuhan yang tak terbatas sering membuat tekanan yang besar terhadap lingkungan dan sumberdaya yang ada, suatu contoh kebutuhan akan ketersediaan kayu yang memaksa kita untuk menebang hutan secara berlebihan dan terjadinya tebang terlarang (illegal loging), kebutuhan transportasi untuk mobilitas dan mendukung laju perekonomian juga sering menimbulkan dampak terhadap kerusakan lingkungan seperti pencemaran udara, dan kejadian dilaut dimana akibat kebutuhan ekonomi memaksa nelayan melakukan kegiatan tangkap berlebih (over fishing). oleh karena itu percepatan pembangunan ekonomi sudah selayaknya di barengi dengan ketersediaan sumberdaya dan lingkungan yang lestari.

Di makalah ini Iwan Jaya Azis menuliskan beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menekan konsumsi berlebihan yang ditakutkan terjadi kelangkaan dengan mengikuti konsep Solow yang mengatakan bahwa tingkat konsumsi yang bisa dipertahankan sampai waktu tak terhingga dapat dicapai bila salah satu dari kondisi berikut dipenuhi: (1)  elastisitas substitusi antara sumberdaya dengan modal lebih besar dari satu (sangat elastis). (2) elastisitas tersebut sebesar satu namun kontribusi modal lebih besar dari kontribusi sumberdaya; (3) apabila terjadi perubahan teknologi.

Makalah yang ditulis pada masa orde baru ini masih relevan untuk kondisi saat ini, perbedaannya hanya pada masa itu subsidi terhadap pertamina masih besar maka paparan iwan tentang energi tidak begitu mendalam, hanya menuliskan dua kejadian pada tahun 1974 dan 1979. padahal kejadian pada masa orde barulah yang membuat kondisi kenaikan harga ini tidak dipahami sebagai sebuah keharusan dan tentunya kritik terhadap pembangunan berkelanjutan versi ekonom pun tidak dimunculkan. Karena semangat orde baru tahun dipublikasikan makalah ini masih sangat kental.

Untuk pegangan serta dasar bagi pengantar ilmu ekonomi sumberdaya dan lingkungan makalah ini bisa menjadi sebuah percikan bagi pengembangan wacana selanjutnya. Terutama sebagai perbandingan 2 periode kekuasan (orde baru, orde reformasi). Tidak ada salah juga menjadi pembanding untuk makalah serupa yang membahas tentang konsep-konsep renewable dan non renewable. Hanya saja pemaparan tentang sumberdaya energi sudah tidak relevan lagi kondisi saat ini. Karena perbedaan kondisi antara tahun 1980-1990 dengan tahun 2000 – kini.



[1] dari Makalah Iwan Jaya Azis (Staf Pengajar FE – UI) yang disampaikan pada seminar AISEC: sustainable development, diresume dari jurnal PRISMA edisi Januari 1991 penerbit LP3ES, Jakarta

[2] Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Unpad. NPM 250320070012

Posted at 11:35 pm by penakayu
Comments (3)  

kosong!
kosong.. tidak ada isi!
Posted at 11:24 pm by penakayu
Comment (1)  

 
Apr 26, 2008
Paul Arden

Whatever You Think, Think The Opposite !!

Salahsatu buku yang menarik dibaca adalah bukunya Paul Arden, tentunya disamping buku-buku yang lainnya yang juga inspiring. Bukan karena tampilannya yang berbeda dengan buku-buku lain, buku ini berisi hal-hal yang unik dan pasti Opposite seperti yang tertera dalam covernya. Cara penyampaian yang langsung pada masalah adalah hal baru dari dunia buku yang saya baca, kajian yang sangat kritis dalam buku ini adalah menjungkirbalikan pemikiran umum yang standar, konvensional, dan cenderung stagnan atau pseudo kreatif menjadi the real kreatif dan unik karena berlawanan dari hal yang umum tapi mungkin disanalah letak kebenarannya.

Buku ini bahkan lebih berani dalam menyerang cara memandang lingkungan kerja dan dunia kita. Ia membaginya dalam tema-tema yang seharusnya menjadi pilihan pemikiran orang-orang yang ingin maju. Ungkapan berpikir sebaliknya adalah sebuah tema universal untuk keseluruhan buku. Berikutnya ia membagi tulisan-tulisannya dalam tema-tema lebih sempit yang mengarah pada ungkapan paradoks. Saran pengunduran diri di atas adalah salah satunya.

Pembagian yang dilakukan Arden dengan tema-tema cerdasnya lewat buku ini adalah serangkaian langkah penting bagi mereka yang ingin sukses. Misalnya setelah cara berpikir terbalik ia banyak membahas soal pentingnya mengambil keputusan. Pertama-tama katanya bukan soal keputusan yang salah atau benar, namun soal keberanian untuk mengambil keputusan tersebut. Dalam pandangannya, lebih baik menyesali sesuatu yang telah dilakukan dari pada menyesal tidak melakukan sesuatu. Sebab siapa yang tahu apa yang dapat berakhir menjadi benar?

Berikutnya tentang baik buruknyanya suatu keputusan, yang menurut Arden keputusan yang masuk akal adalah semua orang berpikiran yang sama. Ini akan membuat si pengambil keputusan terjebak dalam solusi yang tak lagi orisinil. Padahal, bisa jadi keputusan yang kelihatan tak aman menjadi solusi yang paling baik.

Nah... jika mau lebih kreatif disarankan baca buku ini, thanks Paul Arden!

 

Posted at 01:13 pm by penakayu
Comments (2)  

 
Mar 6, 2008
dari arihany

EFEK RUMAH KACA DAN PEMANASAN GLOBAL

Menurut http://id.wikipedia.org/ (2007), efek rumah kaca, pertama kali ditemukan oleh Joseph Fourier pada 1824. Jean Baptiste Joseph Fourier (21 Maret 1768 - 16 Mei 1830) adalah matematikawan dan fisikawan Perancis yang paling dikenal karena mengawali penyelidikan deret Fourier dan penerapannya pada masalah arus panas. Efek Rumah Kaca merupakan sebuah proses di mana atmosfer memanaskan sebuah planet. Mars, Venus, dan benda langit beratmosfer lainnya (seperti satelit alami Saturnus, Titan) juga memiliki efek rumah kaca. Efek rumah kaca dapat dibagi dalam dua kelompok: efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca ditingkatkan yang terjadi akibat aktivitas manusia. Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas rumah kaca seperti karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya.

Menurut Iden Wildensyah (http://www.pikiran-rakyat.com/, 2007), gas rumah kaca adalah gas-gas yang diemisikan dari berbagai kegiatan manusia, yang memiliki kemampuan meneruskan gelombang pendek dan mengubahnya menjadi gelombang panjang. Selain itu, GRK juga memiliki kemampuan meneruskan sebagian gelombang panjang dan memantulkan gelombang panjang lainnya. Dalam protokol Kyoto (kesepakatan internasional yang berkomitmen dalam mengurangi emisi Gas Rumah Kaca) terdapat enam jenis Gas Rumah Kaca, yaitu karbondioksida (CO2), nitroksida (N2O), methana (CH4), sulfurheksaflourida (SF6), perflourokarbon (PFC), dan hidrofluorokarbon (HFC).

Menurut http://id.wikipedia.org/ (2007), segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut terdapat dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya.Energi yang masuk ke bumi mengalami : 25% dipantulkan awan atau partikel lain di atmosfer, 25% diserap awan, 45% diadsorpsi permukaan bumi, dan 5% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi. Energi yang diabsorpsi dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi infra merah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar infra merah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan, uap air, karbondioksida, metana dan gas lainnya di atmosfir, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal itu terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, maka semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.

Dalam keadaan normal, semua kehidupan di bumi tergantung pada efek rumah kaca. Efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca maka perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda. Tanpa efek rumah kaca, bumi akan menjadi sangat dingin (-18ºC) sehingga es akan menutupi seluruh permukaan bumi. Akan tetapi, bila gas-gas ini semakin berlebih di atmosfer, akibatnya adalah pemanasan bumi yang terus berlanjut. Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah sulfur dioksida (SO2), nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana (CH4) dan khloro fluoro karbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca


Gas
Kontribusi Sumber emisi global - % CO2
45-50% Batu bara - 29
Minyak Bumi - 29
Gas alam - 11
Penggundulan hutan - 20
lainnya - 10
CH4 - 10-20%

Pemanasan Global


Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global, 2007 disebutkan bahwa pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi sebagai akibat dari akumulasi panas di atmosfer yang disebabkan oleh Efek Rumah Kaca. Planet Bumi telah menghangat (dan juga mendingin) berkali-kali selama 4,65 milyar tahun sejarahnya. Pada saat ini, Bumi menghadapi pemanasan yang cepat, yang oleh para ilmuan dianggap disebabkan oleh aktifitas manusia. Penyebab utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari Matahari yang dipancarkan ke Bumi.

Pada awal 1896, para ilmuan beranggapan bahwa membakar bahan bakar fosil akan mengubah komposisi atmosfer dan dapat meningkatkan temperatur rata-rata global. Hipotesis ini dikonfirmasi tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel atmosfer dari puncak gunung Mauna Loa di Hawai. Hasil pengukurannya menunjukkan terjadi peningkatan konsentrasi karbondioksida di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer terus diukur dengan cermat. Data-data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa memang terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer (Gambar 3).
Gambar 3. Hasil pengukuran konsentrasi CO2 di Mauna Loa (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global, 2007)

Para ilmuwan juga telah lama menduga bahwa iklim global semakin menghangat, tetapi mereka tidak mampu memberikan bukti-bukti yang tepat. Temperatur terus bervariasi dari waktu ke waktu dan dari lokasi yang satu ke lokasi lainnya. Perlu bertahun-tahun pengamatan iklim untuk memperoleh data-data yang menunjukkan suatu kecenderungan (trend) yang jelas. Catatan pada akhir 1980-an agak memperlihatkan kecenderungan penghangatan ini, akan tetapi data statistik ini hanya sedikit dan tidak dapat dipercaya. Sejak 1957, data-data diperoleh dari stasiun cuaca yang terpercaya (terletak jauh dari perkotaan), serta dari satelit. Data-data ini memberikan pengukuran yang lebih akurat, terutama pada 70 persen permukaan planet yang tertutup lautan. Data-data yang lebih akurat ini menunjukkan bahwa kecenderungan menghangatnya permukaan Bumi benar-benar terjadi. Jika dilihat pada akhir abad ke-20, tercatat bahwa sepuluh tahun terhangat selama seratus tahun terakhir terjadi setelah tahun 1980, dan tiga tahun terpanas terjadi setelah tahun 1990, dengan 1998 menjadi yang paling panas.

Masih menurut http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global, 2007 disebutkan bahwa dalam laporan yang dikeluarkannya tahun 2001, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa temperatur udara global telah meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit) sejak 1861. Panel setuju bahwa pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh aktifitas manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC memprediksi peningkatan temperatur rata-rata global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.

IPCC panel juga memperingatkan, bahwa meskipun konsentrasi gas di atmosfer tidak bertambah lagi sejak tahun 2100, iklim tetap terus menghangat selama periode tertentu akibat emisi yang telah dilepaskan sebelumnya. Karbondioksida (Gambar 6)akan tetap berada di atmosfer selama seratus tahun atau lebih sebelum alam mampu menyerapnya kembali. Jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, para ahli memprediksi, konsentrasi karbondioksioda di atmosfer dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada awal abad ke-22 bila dibandingkan masa sebelum era industri. Akibatnya, akan terjadi perubahan iklim secara dramatis. Walaupun sebenarnya peristiwa perubahan iklim ini telah terjadi beberapa kali sepanjang sejarah Bumi, manusia akan menghadapi masalah ini dengan resiko populasi yang sangat besar (http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global, 2007).

Penyebab Pemanasan Global

Pemanasan global terjadi ketika ada konsentrasi gas-gas tertentu yang dikenal dengan gas rumah kaca, yang terus bertambah di udara, Hal tersebut disebabkan oleh tindakan manusia, kegiatan industri, khususnya karbondiksida (CO2) dan chlorofluorocarbon (CFC). Yang terutama adalah karbon dioksida, yang umumnya dihasilkan oleh penggunaan batubara, minyak bumi, gas dan penggundulan hutan serta pembakaran hutan. Asam nitrat dihasilkan oleh kendaraan dan emisi industri, sedangkan emisi metan disebabkan oleh aktivitas industri dan pertanian. Karbon dioksida, chlorofluorocarbon, metan, asam nitrat adalah gas-gas polutif yang terakumulasi di udara dan menyaring banyak panas dari matahari. Sementara lautan dan vegetasi menangkap banyak CO2, kemampuannya untuk menjadi “atap” sekarang berlebihan akibat emisi. Ini berarti bahwa setiap tahun, jumlah akumulatif dari gas rumah kaca yang berada di udara bertambah dan itu berarti mempercepat pemanasan global (http://www.ofm-jpic.org/globalwarming, 2007).

Hal tersebut tampaknya tidak akan bisa terlepas dari fenomena penipisan lapisan ozon. Menurut Iden Wildensyah dalam http://www.pikiran-rakyat.com/, 2007 disebutkan bahwa Lapisan ozon merupakan tameng yang melindungi bumi dari radiasi sinar ultraviolet yang merusak. Adanya penipisan lapisan ozon dapat meningkatkan berbagai penyakit infeksi seperti menurunnya kekebalan tubuh, kanker kulit, katarak mata, dan juga kerusakan pada lingkungan hidup. Kerusakan itu, mulai dari putusnya rantai makanan pada ekosistem akuatik di laut sampai gagalnya berbagai hasil panen. Juga kerusakan material pada bangunan dan benda-benda lain yang terkena langsung sinar matahari.

Menurut Andria Sukowati dalam http://www.bplhdjabar.go.id/ (2007) menyebutkan bahwa polutan yang paling merugikan mempengaruhi lapisan ozon adalah fluorocarbon, terutama yang mengandung chlorida/bromida. Bahan yang paling bertanggung jawab terhadap penipisan sebagian besar lapisan ozon adalah yang mengandung chlorida yaitu chlorofluorocarbon/CFC. Bahan kimia ini menipiskan lapisan ozon dengan bertindak sebagai katalis dalam suatu reaksi kimia yang merubah ozon (O3dan O1) menjadi oksigen (O2). Reaksi ini dipercepat dengan adanya kristal-kristal es di stratosfer yang merupakan salah satu dari sumber bagi kerugian besar ozon di Antartic (kehilangan sebesar 50-60%). Karena CFC bertindak sebagai katalis, maka mereka tidak dikonsumsi dalam reaksi yang merubah ozon menjadi oksigen, tetapi tetap ada di stratosfer dan terus menerus merusak ozon selama bertahun-tahun.  

Kerusakan ozon tidak terlepas juga dari perilaku kita terhadap alam. Efek rumah kaca menjadi salah satu penyebab dari kerusakan ozon. Ini terjadi antara lain karena penggundulan hutan, polusi, dan pencemaran udara lainnya. Menurut SINDO, 2007 dalam http://www.bem.its.ac.id/web disebutkan bahwa Indonesia didaulat sebagai negara keempat pembuang emisi gas rumah kaca (greenhouse gas/ GHG) di dunia. Namun jika berdasar indikator konversi lahan dan perusakan hutan, posisi Indonesia sebagai ”aktor”penyebab pemanasan global berada di posisi ketiga. Kepala Ekonomi dan Penasihat Pemerintah Inggris untuk Urusan Efek Ekonomi Perubahan Iklim dan Pembangunan Sir Nicholas Stern mengatakan, ada empat penyebab emisi gas rumah kaca, yaitu aktivitas dan pemakaian energi, pertanian, kehutanan, dan limbah. ”Emisi yang terbuang dari kebakaran hutan di Indonesia lima kali lebih besar dari emisi yang terbuang di luar nonkehutanan.

Emisi terbuang dari pemakaian energi dan aktivitas industri relatif masih kecil, namun secara berlahan tumbuh secara cepat,” kata Stern, dalam seminar bertajuk ”The Economics of Climate Change” di Gedung Perwakilan Bank Dunia, di Jakarta,kemarin. Stern menuturkan, setiap tahunnya aktivitas dan pemakaian energi, pertanian dan limbah di Indonesia membuang emisi 451 juta ton karbon dioksida atau setara (MtCO2e).
Jumlah itu belum termasuk akibat konversi lahan dan perusakan hutan yang diperkirakan mengeluarkan 2,563 MtCO2e.”Indonesia masih terbesar sebagai emitters gas rumah kaca,” kata dia. Sementara dalam paparan Stern, negara pembuang emisi gas rumah kaca pertama diduduki Amerika Serikat (AS), disusul China dan Uni Eropa yang merangkum 25 negara.
Sementara di bawah Indonesia, ada Brasil, Rusia, dan terakhir India. Stern mengungkapkan, meningkatnya emisi gas rumah kaca menyebabkan perubahan iklim dunia. Sebagai negara pertanian, kata dia, perubahan iklim berdampak buruk bagi Indonesia, sebab dengannya kerap terjadi perubahan cuaca secara mendadak, termasuk hujan lebat yang sulit diprediksi.

Sepanjang seratus tahun ini konsumsi energi dunia memang bertambah secara spektakuler. Sekitar 70% energi dipakai oleh negara-negara maju; dan 78% dari energi tersebut berasal dari bahan bakar fosil. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan yang mengakibatkan sejumlah wilayah terkuras habis dan yang lainnya mereguk keuntungan. Sementara itu, jumlah dana untuk pemanfaatan energi yang tak dapat habis (matahari, angin, biogas, air, khususnya hidro mini dan makro), yang dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, baik di negara maju maupun miskin tetaplah rendah, dalam perbandingan dengan bantuan keuangan dan investasi yang dialokasikan untuk bahan bakar fosil dan energi nuklir.

Penggundulan hutan yang mengurangi penyerapan karbon oleh pohon, menyebabkan emisi karbon bertambah sebesar 20%, dan mengubah iklim mikro lokal dan siklus hidrologis, sehingga mempengaruhi kesuburan tanah. Pencegahan perubahan iklim yang merusak membutuhkan tindakan nyata untuk menstabilkan tingkat gas rumah kaca sekarang di udara sesegera mungkin; dengan mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 50%, demikian Panel Inter Pemerintah. Jika tidak melakukan apa-apa maka hal-hal berikut akan membawa dampak yang merusak (http://www.ofm-jpic.org/globalwarming, 2007).

Ditambahkan juga oleh Andria Sukowati dalam http://www.bplhdjabar.go.id/ (2007) bahwa pembakaran bahan bakar atau hutan mempengaruhi keseimbangan siklus karbon, dan menyebabkan bertambahnya CO2 di atmosfer. Bahan bakar fosil, seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam berasal dari sisa fosil tanaman pada zaman pra sejarah. Bahan bakar tersebut menggambarkan kandungan karbon, dan pembakarannya mningkatkan kandungan CO2 diatmosfer. Begitupula ketika hutan di tebangi, tak terkecuali kandungan carbon yang terdapat pada produk kayu (furniture, kertas dll) akhirnya terbagi-bagi dan carbon dilepaskan ke atmosfer sebagai CO2. Kurang lebih 50% dari biomass pada tanaman menjadi kandungan dalam kayu atau produknya, perusakan hutan berupa penebangan dan pembakaran, maka semua carbon berubah menjadi CO2 dan efek rumah kaca semakin nyata.

Edwin dalam http://www.ristek.go.id/file_upload/News%20(2007) juga membenarkan bahwa pemanasan global ditandai dengan dua hal yaitu meningkatnya suhu muka bumi dan naiknya permukaan laut. Selain disebabkan faktor alam, pemicu utama pemanasan global terjadi karena ulah manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil (batu bara, minyak bumi, dan gas alam) yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya ke atmosfer yang dikenal dengan gas efek rumah kaca, yang seharusnya energi matahari dibuang atau dipantulkan ke angkasa malah disimpan di bumi. Ia mengatakan bahwa suhu permukaan bumi naik rata-rata 3°C per 100 tahun dan permukaan laut naik 3 cm per 100 tahun. Jika hal ini terus berkelanjutan maka bisa dipastikan bahwa bumi akan dilanda oleh kemarau yang berkepanjangan.

Gas Rumah Kaca - Sumber
CO2 - Pembakaran bahan bakar fosil, transportasi, deforestasi pertanian
CH4 - Pertanian, perubahan tata guna lahan, pembakaran biomassa, TPA
N2O - Pembakaran bahan bakar fosil, industri, pertanian
HFCs - Industri manufaktur, freon, aerosol
PFCs - Industri manufaktur, freon, aerosol
SF6 - Transmisi listrik, industri manufaktur, freon, aerosol

Gambar 9. Tabel Gas Rumah Kaca yang dihasilkan Indonesia beserta sumbernya
Sumber: Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Bali dan Nusa Tenggara

Posted at 10:09 pm by penakayu
Make a comment  

Next Page