Muda, Kreatif, Pantang Menyerah !
Iden Wildensyah Buat Lencana Anda
"Sedikit ide yang kau tuang dalam karya, akan lebih berarti daripada seribu kata yang terucap"
Satu-satunya Alasan Mengapa Ada Waktu, Karena segala sesuatu tidak terjadi sekaligus (Albert Einstein)
.
Imajinasi lebih penting dari sekedar Ilmu Pengetahuan (Albert Einstein)
.
Bumi ini Cukup untuk semua orang tapi tidak Untuk Dua Orang Yang Serakah (Mahatma Gandhi)
.
Against Ignorance !!
.....
Satu Kali dalam Hidup Orang Harus Menentukan Sikap. Kalau Tidak, Dia Tidak Akan Menjadi Apa-Apa (Pramoedya Ananta Toer)
....
....
...
..
.
Hidup ini Sederhana, Tentukan Pilihanmu dan Jangan Menyesal!
Coba Mengumpulkan yang terserak !
karena Ide tak Cukup Sekedar di Obrolkan.
hmm
GALERI BUKU PENAKAYU
LINKS euy!
- Google News
- wildensyah
- isolapos
- bitra
- pipitkecilku
- perca
- akulaila.com
BLOG juga hasil karya cipta. Menyalin, Mengcopy dan Menyebarluaskan harus mencantumkan penulis. PENAKAYU adalah BLOG milik Iden Wildensyah, Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Lingkungan, UNPAD. Pekerja Konstruksi Rangka Atap Baja Ringan di Bandung.(email: wildensyah@yahoo.com)
Let's Go Green Atuh, Euy!
|
 |
Dia yang tak kukenali (sebuah cerita sangat pendek by Aku) Aku mengirimkan surat ini untuk kamu, sebut saja Dia. Dia, sejak aku mengenalmu siang itu di sudut sebuah perpustakaan saat kamu bertanya tentang penelitian yang hendak kau lakukan. Tahukah kala itu aku tidak menyangka bahwa tatapan matamu menusuk jantungku. Tatapan yang membuat banyak interpretasi tetapi coba kunetralisir karena itu tatapan yang sengaja kita adukan agar kita tahu bagaimana jawaban yang jujur atas semua pertanyaan. Dia, ketika itu tidak banyak bertanya, justeru akulah yang bertanya tentang segala sesuatu. Termasuk juga buku yang hendak kamu ambil. Sebuah buku yang menurutku sudah sangat kuno, tetapi bagimu buku itu adalah buku modern yang pemikirannya melampaui zaman saat penulisnya menyusun kata demi kata hingga menjadi sebuah buku.
Dia saat itu terlihat begitu manis dengan baju berwarna putih berenda, kerudung putih dan celana hitam. Aku memandangi sekilas saja, karena fokus pembicaraan siang itu menarik untuk diungkapkan. Materi tentang kehidupan serta dunia yang menyelimutinya. Dinamika yang senantia merundung kehidupan agar manusia berpikir. Dan Dia, kamu hadir dalam hatiku siang itu. Ah.. Sudahlah Dia, kamu tak perlu berlama-lama singgah karena kamu hanya butuh bertanya, tidak butuh aku untuk menemanimu menulis.
Disudut perpustakaan itu perkenalan bermula, tak kusangka walau hanya sekejap tetapi kesan itu mendalam. Dia memandangi setiap rak buku yang ada didepannya. Dia tidak melihat katalog atau bertanya pada petugas, dia menjelajahi setiap jajar buku. Kulihat sebentar disela-sela membaca buku, Dia girang, sepertinya menemukan buku yang dicari. Dia mencari tempat yang nyaman untuk membaca. Dia menengok kearahku, disamping meja tempat dudukku ada sebuah kursi kosong, Dia duduk didekatku. Tidak berbicara, Dia hanya membaca begitu juga aku. Tak kupedulikan Dia berada disampingku. Aku acuh saja, meneruskan membaca sama seperti Dia belum datang bertanya tentang sebuah buku.
Dia begitu asik membaca lembar perlembar buku yang ditemukan disalahsatu jajar buku perpustakaan. Kadang menulis, kadang tersenyum.. Senyumnya yang manis. Kulirik sebentar dan kuteruskan membaca. Dia masih membaca, aku tak bertanya apapun begitu juga Dia. Sejenak Dia menghentikan bacaan, melemparkan tatapannya padaku. Tetap pada saat Dia melemparkan tatapannya, kita beradu pandang. Seperti ada yang dipikirkan, Dia berkerut dan bertanya tentang sesuatu. Kukatakan tidak tahu, kusuruh Dia meneruskan dulu membaca buku itu dan baru berdiskusi. Dia terlihat kecewa, tetapi dengan cepat mengalihkan perhatiannya pada buku yang kini ada dalam pegangannya.
Hampir 4 jam aku dan Dia berada ditempat yang sama, membisu dan tenggelam dalam buku masing-masing. Dia kulihat sejenak sedang membereskan buku catatannya. Dia beranjak pergi dengan sebuah senyuman dan kata pamitan. Dia sudah pergi meninggalkan aku sendirian di sudut itu, Dia yang tak kukenal namanya kini tidak pernah muncul lagi diperpustakaan itu. Dia hanya satu kali saja bertemu aku disuatu siang menuju sore yang berkesan.
Dia, ini suratku untukmu jika tak sempat kau baca, simpan saja.. Aku tidak tahu kemana harus kukirimkan surat ini. Dia menghilang begitu saja, aku mengenalmu walaupun sebentar saja tetapi Dia, masih kubayangkan raut wajahmu, senyum manismu. Dia adalah aku.
Posted at 09:18 am by penakayu
Permalink
Ekowisata di Tangkubanparahu
Rabu, 21 Oktober 2009 | 15:03 WIB
Oleh IDEN WILDENSYAH Belakangan
ini berkembang isu tentang kawasan Tangkubanparahu yang hendak dikelola
swasta. Terjadi pertentangan karena ada perbedaan kepentingan antara
pencinta lingkungan dan pengelola. Dalam Warta Kehati,
pengelolaan ekowisata bisa berjalan lancar jika ada kerja sama kantor
pariwisata dan badan-badan manajemen sumber daya alam, khususnya yang
membidangi hutan dan taman nasional, serta lembaga swadaya masyarakat,
khususnya yang bergerak di bidang lingkungan hidup, usaha kecil, dan
pengembangan masyarakat tradisional. Kerja sama juga harus
terjalin dengan industri pariwisata yang mapan, khususnya operator
perjalanan, universitas dan lembaga penelitian, kelompok masyarakat,
organisasi internasional, lembaga penyandang dana baik pemerintah
maupun nonpemerintah, organisasi budaya, dan lain-lain. Pengelola
ekowisata harus mengupayakan akses untuk kesetaraan partisipasi sejak
proyek dimulai. Kalau tidak, keberhasilan proyek tersebut akan
terhambat di belakang hari. Bisa jadi pertentangan serupa terjadi
karena pihak pengelola sudah merasa melakukan, tetapi tidak maksimal. Pengertian
ekowisata berakar dari pengertian ecotourism. Menurut Wikipedia,
ekowisata adalah salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan
lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, pemberdayaan
sosial budaya, ekonomi masyarakat lokal, serta pembelajaran dan
pendidikan. Ekowisata dapat dipahami sebagai perjalanan yang
disengaja ke kawasan-kawasan alamiah untuk memahami budaya dan sejarah
lingkungan tersebut sambil menjaga agar keutuhan kawasan tidak berubah
dan menghasilkan peluang untuk pendapatan masyarakat sekitarnya. Jadi,
mereka merasakan manfaat dari upaya pelestarian sumber daya alam. Dampak negatif Ada
banyak definisi ekowisata yang diberikan oleh organisasi, kelompok,
ataupun individu yang bergelut di bidang ekowisata. The International
Ecotourism Society mendefinisikan ekowisata sebagai perjalanan yang
bertanggung jawab ke daerah-daerah alami yang melindungi lingkungan dan
meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat. Semiloka dan
Simposium Ecotourism (April 1995) dalam Sudarto (1999) memberi
pengertian ekowisata sebagai kegiatan perjalanan wisata yang
bertanggung jawab ke/di daerah-daerah yang masih alami atau
daerah-daerah yang dikelola dengan kaidah alam. Tujuannya, selain
menikmati keindahan, juga melibatkan unsur penduduk, pemahaman, serta
daya dukung terhadap usaha-usaha konservasi alam dan peningkatan
pendapatan masyarakat sekitar daerah tujuan ekowisata. Di samping
memiliki dampak positif bagi konservasi, pendidikan, dan ekonomi,
ekowisata juga memiliki dampak negatif. Sumber dampak dari aktivitas
wisata, menurut Siti Nuraini dalam prosiding Lokakarya Karakteristik
Permasalahan Wisata Alam di TNGP, terbagi menjadi tiga faktor, yaitu
pengunjung, fasilitas, dan tata letak. Sumber dampak lingkungan
akibat pengunjung yang terlihat langsung memang adalah pengunjung.
Pengunjunglah yang terlihat secara langsung membuang sampah atau
menimbulkan kerusakan kawasan. Dalam proses pemetaan masalah, dibahas
hal-hal yang menyebabkan keberadaan pengunjung yang cenderung
menimbulkan kerusakan lingkungan. Pembahasan itu memperlihatkan
dua penyebab besar, yaitu karakteristik pengunjung yang tidak
kompatibel dengan tujuan-tujuan konservasi dan jumlah pengunjung yang
melebihi kapasitas. Kedua penyebab tersebut kemudian diperparah dengan
kelemahan proses penegakan peraturan pengunjung. Sementara dampak
lingkungan akibat fasilitas sering kali terpusat pada perilaku
pengunjung. Padahal, ternyata fasilitas adalah kontributor kerusakan
lingkungan. Keberadaan fasilitas sebenarnya memang ditujukan untuk
menyerap dampak lingkungan pengunjung. Akan tetapi, kesalahan
penempatan, desain, dan pembangunannya justru menyebabkan kerusakan
lingkungan yang lebih parah. Semua masalah ini menunjukkan bahwa
perancang fasilitas kurang memahami desain yang berwawasan lingkungan
dan kajian mengenai dampak lingkungan itu sendiri kurang dilakukan
secara serius. Dampak lingkungan akibat tata letak (site plan)
merupakan awal dari permasalahan. Banyak sekali permasalahan di lokasi
ekowisata, baik yang terkait dengan pengunjung maupun fasilitas, dapat
ditelusuri pangkalnya dari permasalahan tata letak. Persoalan yang umum
terjadi adalah penempatan fasilitas yang berdekatan dengan daerah peka. Kerusakan alam Keberhasilan
ekowisata sangat bergantung pada usaha penyadaran semua pihak terkait,
terutama penduduk setempat dan petugas pemerintah daerah yang
bersangkutan. Ekowisata tidak hanya perlu memberikan fasilitas kepada
wisatawan untuk menikmati pemandangan alam yang indah dari kejauhan.
Namun, ekowisata juga harus memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi
pengunjung untuk tinggal nyaman di tengah lingkungan yang indah itu
untuk sementara waktu agar memperoleh kesan mendalam tentang lingkungan
setempat. Perencanaan dan pengelolaan yang terintegrasi
memungkinkan ekowisata menjadi salah satu alternatif pengelolaan sumber
daya hutan dengan meminimalisasi dampak negatifnya. Di dua sisi yang
berlawanan, ekowisata yang bertujuan menarik wisatawan sebanyak-banyak
untuk mendapatkan pemasukan maksimal hendaknya memerhatikan aspek
perlindungan terhadap faktor keseimbangan alam dan ekosistem setempat.
Dengan demikian, tidak terjadi ketimpangan antara hasil dan dampak yang
terjadi di kawasan ekowisata tersebut. Ekowisata Tangkubanparahu,
jika diperhatikan serta dikelola dengan baik, bisa jadi akan menjadi
solusi untuk meningkatkan perekonomian daerah. Namun, jika
pengelolaannya tidak memerhatikan hal-hal negatif tersebut, jangan
berharap ekowisata mendatangkan keuntungan. Bisa jadi malah kerusakan
alam yang akan terjadi. IDEN WILDENSYAH Mahasiswa Magister Ilmu
Lingkungan Unpad
Posted at 03:45 pm by penakayu
Permalink
Saya dan Bulletin Wanadri
"Hati yang penuh syukur, bukan saja merupakan kebajikan yang
terbesar, melainkan merupakan pula induk segala kebajikan yang lain." -
Cicero
photo by stephenlangitan.com Jika
ada satu majalah yang berjasa dalam membuat saya gemar menulis, maka
majalah itu bernama Bulletin Wanadri. Saya tidak bisa dipisahkan dari
Bulletin Wanadri, saya mengenalnya ketika kuliah di Setiabudi 207
Bandung. dalam setiap bulan terbitnya Bulletin Wanadri selalu saya
tunggu, selain mendapatkan banyak hal yang bermakna dari isi dan cerita
seputar petualangan alam terbuka, saya juga mendapatkan semangat untuk
menulis dari kehadiran Bulletin Wanadri (selanjutnya disebut BW).
Format BW yang awal saya kenali sungguh berbeda, dari tampilan muka,
logo sampai isi. nilai perbedaan ini yang membuat saya sangat loyal
menjadi pembaca setia BW. jenis tulisan Satcacao yang saya kenali dari
sampul muka ini memberi kesan tersendiri. Jenis huruf ini seolah
menjadi trade mark BW. ketika format huruf ini di ganti, saya merasakan
sesuatu yang berbeda. saya merasa kehilangan identitas BW yang saya
kenal selama itu. BW mengganti format mendekati karakter National
Geoghrapic. Saya menyayangkan karena jika National Geoghrapic (NG)
terbit edisi Indonesia, habislah BW. dan betul saja, dugaan saya tidak
meleset, NG terbit versi Indonesia. BW harusnya kembali ke format
karakter awal yang saya anggap sebagai trade mark-nya BW.
Selain karena kegemaran saya membaca, kehadiran BW saya nantikan dengan
penuh harap tulisan saya muncul. Pada mulanya hanya berita seputar
perkumpulan pecinta alam saja yang saya tulis dan kirimkan ke BW. Ada
semacam kebanggaan tersendiri ketika saya melihat tulisan saya muncul
di BW. Saya menulis opini dirubrik Kolom Bebas, selebihnya saya menulis
tentang banyak hal yang berhubungan dengan masalah pecinta alam dan
lingkungan. Alhasil dari keseringan berkirim artikel, saya bisa
berkenalan secara langsung dengan jajaran redaksi BW, beberapa orang
saya kenal sangat baik dalam menjaga nilai pertemanan, saya mengenal
Haris, Galih Donikara, Antonius Satya, Jejen, dan banyak lagi (Saya
memanggil dengan Kang Haris, Kang Galih, Kang Anton dll sebagai bentuk
hormat saya pada mereka).
Saya belajar banyak dari perkenalan dengan dewan redaksi BW, mereka
memang orang besar dengan pengalaman yang mumpuni dibidang kegiatan
alam terbuka. Saya bersyukur mengenal mereka dari BW. kini setelah
hampir satu tahun, saya merasa kehilangan BW. saya merindukannya
seperti merindukan kehadiran seorang yang sudah lama tidak berjumpa.
Saya yakin suatu saat nanti BW akan muncul lagi dengan saya bisa
berkontribusi untuk dunia kepecintaalaman Indonesia.
Saya bersyukur karenaMu!
Posted at 02:44 pm by penakayu
Permalink
catatan kecil untuk Madina
''Tuhan
memang tidak pernah menjanjikan dunia yang dipenuhi kebun bunga
mawar''. Allah memang tidak pernah menyatakan bahwa tujuan baik akan
dapat dicapai dengan mudah. Kami akan terus berjalan. Mudah-mudahan ini
bukan titik. Cuma tanda koma dengan sekian panjang kelanjutan. --
Pengantar Redaksi Madina di Edisi 20--
Sekarang edisi 20 bulan september 09 berarti pertama kali beli bulan
Februari 08. Yah.. Saya pertama kali membaca majalah Madina adalah
bulan februari 2008. Saya mengingat waktu itu istri saya yang membeli.
Saya membaca karena saya merasa majalah yang sudah dibeli, sayang kalau
tidak dibaca. Saya menyukai Madina bukan karena masalah yang dikajinya
adalah islam, lebih dari itu Madina menampilkan islam yang damai, islam
yang universal dengan tidak mengurangi kekritisan terhadap dunia barat.
Madina menampilkan gaya bahasa yang lugas dan enak dibaca. Banyak
masalah dunia kontemporer yang dikaji secara mendalam oleh
penulis-penulis Madina. Tentang islam yang mengakui keberagaman juga
tentang sosok-sosok pembawa islam damai.
Madina bisa dijadikan corong alternatif bagi media islam untuk tetap
kritis tetapi tetap menghargai pluralitas bangsa. Tanpa harus mengakui
sebagai pemikiran yang paling benar dan menganggap pemikiran diluar
golongan mereka itu salah. Banyak hal yang tidak terduga. Banyak
informasi yang terbuka di Madina yang tidak di muat di media lainnya.
Misalnya tentang Amina Wadud, Madina menampilkan sosok kontroversi ini
dalam kadar yang baik. Maksudnya tidak menonjolkan seolah-olah
pendukung Amina Wadud tetapi juga tidak sebagai penentang. Dikala media
lain tidak begitu mendalam mengupas pemikiran Amina Wadud, Madina mampu
memberikan semacam percikan bagi pembaca untuk memikirkan setiap
ulasan-ulasan wawancara dengan Amina Wadud.
Selain itu, saya masih ingat ketika membaca salahsatu artikel Madina
yang membahas tentang kedatangan MU. Ya MU akan datang tetapi benarkah
MU akan memberikan manfaat bagi bangsa ini, jangan-jangan kedatangan MU
hanya sebagai alasan untuk menutupi hal yang lebih penting untuk
dipikirkan bangsa ini. Apalah artinya uang milyaran rupiah untuk
mendatangkan MU kalau ternyata masih banyak warga negara yang kelaparan.
Masih banyak lagi tema-tema menarik seperti plus minus sekolah islam,
saya membaca ini membukakan mata bahwa sekolah label islam pun tetap
saja ada plus minusnya. Rasanya ini sangat bermanfaat bagi mereka yang
hendak menyekolahkan anaknya ke sekolah islam.
Madina memberikan warna tersendiri bagi saya sebagai orang islam.
Tentang arti hormat menghormati sesama manusia juga tentang keberagaman
yang sudah semakin dipersempit dengan isu-isu yang tidak penting hingga
merasa golongannya paling benar dan diluar golongan mereka itu salah.
Cap seperti itu menurut saya yang membuat islam seolah dekat dengan
kekerasan, padahal sebenarnya ada islam yang damai. Islam adalah
rahmatan lil alamin.
Sayang memang, edisi ke 20 bulan september kemarin adalah edisi
terakhir. Sangat disayangkan memang, tetapi itulah realita yang harus
diterima dengan lapang dada. Semoga saja lahir media seperti Madina,
yang universal dan menyegarkan.
Saya bersyukur pernah mengirimkan tulisan lebih tepatnya salahsatu
catatan di facebook ini walaupun hanya mengisi kolom dari pembaca. Saya
bersyukur karena sudah turut serta mewarnai Madina.
Madina ''Terbuka, bijak, mencerahkan''
Posted at 02:43 pm by penakayu
Permalink
dari Majalah Techno Konstruksi
Benarkah Baja Ringan Ramah Lingkungan? Oleh Iden Wildensyah* Baja
ringan adalah baja canai dingin yang keras yang diproses kembali
komposisi atom dan molekulnya, sehingga menjadi baja yang lebih
fleksibel. Saat ini baja ringan menjadi material bangunan yang sedang
trend, rangka atap baja ringan lebih dominan terkenal dibanding
material baja ringan untuk struktur lainnya. Hal ini karena gencarnya
iklan-iklan yang menawarkan produk rangka atap baja ringan menggantikan
rangka atap dari material kayu. Mengingat kayu semakin hari semakin
langka juga karena harga kayu yang relatif mahal,
maka pemilihan material rangka atap baja ringan menjadi satu pilihan
para kontraktor atau owner dalam membangun rumah. Selain karena faktor
keawetan dan tahan rayap dan karat, rangka atap baja ringan mempunyai
kelebihan yaitu kekuatan struktur yang lebih bagus, seperti lebih kuat,
lebih kaku dibanding konstruksi kayu. Disamping
itu kemudahan dalam mendapatkan, kecepatan pemasangan, dan struktur
yang kuat membuat rangka atap baja ringan terkenal. Teknologi dalam
perencanaan dan pemasangan rangka atap baja ringan beragam sesuai
dengan profil dari elemen kuda-kuda itu sendiri. Profil kuda-kuda
rangka atap baja ringan yang beredar di pasaran terdiri dari C, Z,
hollow dan UK atau profil Omega atau HAT. Tiap profil memiliki
kelebihan-kelebihan serta perbedaan prinsip dalam dalam pemasangannya. Elemen dasar Baja Ringan Bahan
dasar baja ringan adalah Carbon Steel, Carbon Steel adalah baja yang
terdiri dari elemen-elemen yang prosentase maksimum selain bajanya
sebagai berikut: 1.70% Carbon, 1.65% Manganese, 0.60% Silicon, 0.60%
Copper. Carbon adalah unsur kimia dengan nomor atom 6, tingkat oksidasi
4.2 dan Mangan adalah unsur kimia dengan nomor atom 25, tingkat
oksidasi 7.6423. Carbon dan Manganese adalah bahan pokok untuk
meninggikan tegangan (strength) dari baja murni. Penambahan prosentase
Carbon akan mempertinggi Yield Stress tetapi akan mengurangi
daktilitas. Rangka
atap baja ringan yang diproduksi di Indonesia menggunakan bahan dasar
baja dengan kekuatan G-550 Mpa atau setara dengan 5500 Megapascal
sesuai standar AISI (American Iron and Steell Institute). Adapun
coating (pelapis/pelindung) baja ringan dari karat yang beredar adalah
zinc/galvanis, zincalume, dan zincalume dengan penambahan magnesium.
Lapisan coating ini melindungi bahan dasar baja ringan dari karat. Baja Ringan Ramah Lingkungan Baja ringan diklaim memiliki sifat yang ramah lingkungan, karena menggunakan material yang bisa mengurangi pembalakan liar (illegal logging). Tidak jarang juga kita menemui brosur rangka atap baja ringan dengan kode ekolabel atau ramah lingkungan, label yang menjelaskan produk yang dijual adalah ramah terhadap lingkungan. Namun
apakah benar ramah lingkungan? Untuk mengetahui hal itu, baiknya kita
ketahui produk yang berlabel ramah lingkungan atau ekolabel. Dalam
situs Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia (www.menlh.go.id) dilansir
bahwa Ekolabel merupakan salah satu sarana penyampaian informasi yang
akurat,‘verifiable’ dan tidak menyesatkan kepada konsumen
mengenai aspek lingkungan dari suatu produk (barang atau jasa),
komponen atau kemasannya. Pemberian informasi tersebut pada umumnya
bertujuan untuk mendorong permintaan dan penawaran produk ramah
lingkungan di pasar yang juga mendorong perbaikan lingkungan secara
berkelanjutan. Ekolabel
dapat berupa simbol, label atau pernyataan yang diterakan pada produk
atau kemasan produk, atau pada informasi produk, buletin teknis, iklan,
publikasi, pemasaran, media internet. Selain itu, informasi yang
disampaikan dapat pula lebih lengkap dan mengandung informasi
kuantitatif untuk aspek lingkungan tertentu yang terkait dengan produk
tersebut. Ekolabel dapat dibuat oleh produsen, importir, distributor,
pengusaha ‘retail’ atau pihak manapun yang mungkin memperoleh manfaat dari hal tersebut. Tujuan dan Manfaat Ekolabel Ekolabel
dapat dimanfaatkan untuk mendorong konsumen agar memilih produk-produk
yang memberikan dampak lingkungan yang lebih kecil dibandingkan produk
lain yang sejenis. Penerapan ekolabel oleh para pelaku usaha dapat
mendorong inovasi industri yang berwawasan lingkungan. Selain itu,
ekolabel dapat memberikan citra yang positif bagi ‘brand’ produk
maupun perusahaan yang memproduksi dan/atau mengedarkannya di pasar,
yang sekaligus menjadi investasi bagi peningkatan daya saing di pasar. Bagi
konsumen, manfaat dari penerapan ekolabel adalah konsumen dapat
memperoleh informasi mengenai dampak lingkungan dari produk yang akan
dibeli/digunakannya. Karena kepentingan tersebut, konsumen juga
memiliki kesempatan untuk berperan serta dalam penerapan ekolabel
dengan memberikan masukan dalam pemilihan kategori produk dan kriteria
ekolabel. Penyediaan ekolabel bagi konsumen juga akan meningkatkan
kepedulian dan kesadaran konsumen bahwa pengambilan keputusan dalam
pemilihan produk tidak perlu hanya ditentukan oleh harga dan mutu saja,
namun juga oleh faktor pertimbangan lingkungan. Prinsip – Prinsip Ekolabel Produk
yang diberi ekolabel selayaknya adalah produk yang dalam daur hidupnya
mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, pendistribusian,
penggunaan, dan pembuangan setelah penggunaan, memberi dampak
lingkungan relatif lebih kecil dibandingkan produk lain yang sejenis.
Ekolabel akan memberikan informasi kepada konsumen mengenai dampak
lingkungan yang ada dalam suatu produk tertentu yang membedakannya
dengan produk lain yang sejenis. Ukuran
keberhasilan ekolabel dapat dilihat dari adanya perbaikan kualitas
lingkungan yang dapat dikaitkan langsung dengan produksi maupun produk
yang telah mendapat ekolabel. Selain itu, tingkat peran serta dari
kalangan pelaku usaha dalam menerapkan ekolabel juga menjadi indikator
penting keberhasilan ekolabel. Selain
melihat bahan baku, sejumlah akolabel yang diberlakukan suatu negara
(buyers) juga memerhatikan proses pembuatan serta kemampuan produk
tersebut didaur ulang. Setiap ekolabel itu ada kriteria masing-masing.
Bahkan, jenis bahan bakar apa yang digunakan serta proses limbahnya
diolah seperti apa juga menjadi pertimbangan buyer membeli sebuah
produk. Penutup Pemikiran tentang ramah lingkungan, ataupun recyclibility
dalam penggunaan material baja ringan harus dipertegas kembali.
Hendaknya setiap produsen dapat menjelaskan kepada konsumen tentang
konsep tersebut, apakah karena material yang tidak akan menyisakan
sampah? Atau bahan-bahan sisa yang bisa di recycle menjadi bahan lain yang berguna? Walaupun
demikian Jika di telusuri lebih jauh, secara umum baja ringan mungkin
saja bisa mengurangi pembalakan liar karena bisa meminimalisir bahkan
cenderung menghilangkan penggunaan material kayu dalam konstruksinya. Tapi
sesuai dengan prinsip ekolabel bahwa produk yang diberi ekolabel
selayaknya adalah produk yang dalam daur hidupnya mulai dari pengadaan
bahan baku, proses produksi, pendistribusian, penggunaan, dan
pembuangan setelah penggunaan, memberi dampak lingkungan relatif lebih
kecil dibandingkan produk lain yang sejenis. Mudah-mudahan saja baja
ringan menjadi alternatif penggunaan material bangunan masa depan yang
lebih bisa diterima lingkungan karena daur hidupnya yang memberikan
dampak yang kecil. (Iden Wildensyah adalah Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan, Unpad. Bekerja di Konstruksi Rangka Atap Baja Ringan di Bandung)
Posted at 08:35 pm by penakayu
Permalink
RINGKASAN
“ Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan dalam Konsep Pembangunan Berkelanjutan”
Oleh IDEN WILDENSYAH
Pembangunan ekonomi di beberapa negara telah berhasil
menaikan taraf hidup masyarakat pada umumnya. Ilmu ekonomi dengan rangkaian
teori yang dilahirkan telah memainkan peranan penting dalam membentuk alur
pemikiran dan intuisi para perencana ekonomi. Namun bersamaan dengan kemajuan
ekonomi timbul beberapa masalah dan dampak lingkungan hidup. Sumberdaya yang
semakin menipis dan munculnya berbagai jenis pencemaran mulai dianggap
menghambat kemajuan ekonomi.
Lingkungan hidup berkaitan erat dengan kegiatan ekonomi
dibidang produksi, konsumsi dan distribusi. Seiring dengan hal itu maka terjadi
kekuatiran bahwa kualitas dan kuantitas sumberdaya menurun akibat kegiatan
ekonomi yang dikhawatirkan dapat mengancam kelangsungan kemajuan ekonomi pada
tahap berikutnya.
Maka dibutuhkan perangkat tolak ukur untung rugi dari
berbagai kegiatan yang mempunyai dampak terhadap lingkungan. Memperhitungkan
akibat yang mungkin ditimbulkan oleh langkah perlindungan dan pengendalian juga
merupakan bagian penting dari kajian untuk pengembangan suatu proyek. Jadi
masalah lingkungan dan penggunaan sumberdaya alam sudah sepatutnya dipandang
lebih sebagai persoalan ilmu ekonomi daripada persoalan moral.
Kriteria Dasar Ekonomi
-
Kepuasan (utility).
Konsep pareto optimum mengatakan bahwa sementara orang ingin mencapai kepuasan
sebesar-besarnya, kondisi yang tercapai harus menunjukan bahwa memberikan
manfaat pada satu orang atau kelompok masyarakat tanpa merugikan orang lain.
-
Produktivitas, konsep ini
mirip dengan konsep kepuasan; keduanya menyangkut suatu tingkat maksimum yang
hendak dicapai masyarakat. Namun, konsep produktivitas memusatkan perhatian pada hasil yang diukur (kardinal),
yakni barang dan jasa, termasuk mutu lingkungan. Hubungan antara efisiensi
dalam konsep produktivitas dan pareto-optimum memang tidak sederhana. Jika setiap orang ingin segalanya dalam
jumlah yang banyak, suatu perekonomian tidak dapat berjalan secara pareto-optimal
kecuali jika benar-benar efisien dalam melakukan produksi. Kita tidak akan bisa
memilih antara dua titik pada garis kemungkinan produksi kecuali jika ada tolok
ukur nilai maksimum barang dan jasa yang dihasilkan suatu masyarakat (misalnya
produk domestik bruto, PDB menurut harga pasar tertentu)
-
Dalam dua kriteria yang
dibahas sejauh ini, soal pemerataan atau distribusi tidak dibahas secara
eksplisit, jika kita amati secara mendalam, dalam proses pengambilan keputusan
ekonomi yang menyangkut masalah lingkungan, persoalan alokasi biaya
perlindungan dan distribusi manfaat bagi beberapa kelompok masyarakat yang
berbeda akan selalu muncul. Pada umumnya, menghitung dan menentukan alokasi
biaya tidak terlalu sulit dibandingkan dengan memperkirakan besaran serta
distribusi manfaat.
Ekonomi Pencemaran
Ilmu ekonomi telah mempunyai beberapa konsep dan
peralatan analisis untuk mendekati persoalan polusi. Salahsatu yang dikenal
adalah analisis manfaat-biaya dimana konsep compensating variation (CV)
dan equivalent variation (EV) biasanya dibicarakan melalui topik yang
menyangkut surplus konsumen (CS).
Dalam ilmu ekonomi, konsep tentang harga bayangan (shadow
price) dan eksternalitas juga sangat relevan untuk analisis manfaat-biaya
suatu masalah polusi. Harga bayangan diperlukan untuk mengatasi keadaan dimana
harga pasar tidak dapat diperoleh.
Seringkali dijumpai kesulitan untuk mengukur eksternalitas, baik kerugian
eksternalitas, misalnya kerusakan lingkungan seperti polusi air, polusi zat
kimia dan polusi udara yang ditimbulkan oleh suatu proyek, maupun keuntungan
eksternal seperti misalnya akses terhadap pemandangan alam dan mutu pelayanan
yang meningkat karena adanya suatu proyek.
Optimisasi dalam Ekonomi Sumberdaya
Pengikisan sumberdaya sering diinterpretasikan secara
sederhana bahwa perekonomian akan kehabisan sumberdaya, terutama sumberdaya
yang tidak dapat diperbaharui (Non renewable) dan bila hal ini
berlangsung maka akan terjadi bencana bagi kemakmuran manusia. Pemikiran yang
sederhana ini bukan saja tidak tepat tetapi juga akan menghambat usaha
pembangunan dan pertumbuhan ekonomi termasuk pola yang mengikuti konsep
pembangunan berkelanjutan.
Dalam ilmu ekonomi tersedia alat analisis untuk mengatasi
masalah semacam ini. Pertanyaan relevan yang menyangkut trade off
antarwaktu-antargenerasi ialah: apakah mungkin suatu pola pengikisan yang
dianggap efisien dari kacamata generasi sekarang dapat menyisakan sumberdaya
sedikit atau bahkan tidak sama sekali untuk generasi yang akan datang? Perlu
dicatat bahwa mengoptimalkan tingkat pengikisan sumberdaya juga berarti
memaksimumkan present value (PV) sumberdaya tersebut. Dalam terminologi
ekonomi, pemecahan masalah semacam ini umumnya menyangkut perhitungan social
discounting rate (SDR). SDR ini perlu hitung dalam menentukan penggunaan
sumberdaya alam secara optimal.
Menurut Solow dalam kerangka model dua faktor mengatakan
bahwa tingkat konsumsi yang bisa dipertahankan sampai waktu tak terhingga dapat
dicapai bila salah satu dari kondisi berikut dipenuhi: (1) elastisitas substitusi antara sumberdaya
dengan modal lebih besar dari satu (sangat elastis). (2) elastisitas tersebut
sebesar satu namun kontribusi modal lebih besar dari kontribusi sumberdaya; (3)
apabila terjadi perubahan teknologi.
Untuk kasus sumberdaya yang renewable (dapat
diperbaharui) asumsi awal yang dipakai adalah ”kaidah pertumbuhan alami” (natural
growth law). Lingkungan hidup memiliki suatu ambang batas dalam jumlah stok
atau populasi yang dapat ditunjang. Bila jumlah stok mendekati ambang batas
tersebut, pertumbuhan akan melambat dan akhirnya berhenti. Batas ini akan
dicapai bila penggunaan stok sumberdaya tidak lagi akan menghasilkan
pertumbuhan, atau bila penggunaan stok secara kumulatif mendekati tingkat
maksimum.
Konsep Kelangkaan Sumberdaya
Dari berbagai studi tentang kelangkaan sumber mineral
belum dipastikan apakah sumberdaya di bumi secara ekonomis memang langka.
Perbaikan pada beberapa faktor berikut akan mempengaruhi hasil penemuan diatas:
perubahan teknologi, penyempurnaan proses produksi dan transportasi, penemuan
deposit baru, skala ekonomi, dan faktor substitusi. Dua kasus energi (1974 dan
1979) cenderung mengukuhkan pendapata bahwa sumberdaya di bumi ini makin
langka. Dalam diagram titik A mendekat dimana basis sumberdaya akan menciut,
oleh karena itu tidaklah mengherankan bahwa para ahli secara terus menerus
aktif mencari substitusi sumberdaya, mencoba menemukan proses produksi yang
hemat sumbedaya dan melihat kemungkinan hasil substitusi hasil, yang berarti
akan lebih banyak jumlah produksi dan konsumsi barang dan jasa yang berciri
hemat sumberdaya.
Simpulan
Hanya dengan sedikit pengecualian, ekonom cenderung
memperlakukan degradasi lingkungan sebagai kegagalan pasar (market failure).
Bagi ekonom semacam ini fungsi lingkungan adalah untuk memasok barang alami
seperti keindahan lanskap, menyediakan sumberdaya alam yang diperlukan untuk
menghasilkan barang ekonomi atau memasok tempat sampah bagi pembuangan produk
sampingan dari limbah hasil kegiatan ekonomi Sampai batas tertentu bahkan
konsep dan peralatan analisis ilmu ekonomi mampu membantu menemukan solusi dari
setiap persoalan.
Mengabaikan faktor lingkungan akan menimbulkan suatu
bencana terutama dilihat dari sudut konsep pembangunan berkelanjutan. Studi
multidisiplin secara kolaboratif (dengan ilmuwan dari disiplin lain) jelas
sangat diperlukan.
Komentar
Pemaparan Iwan Jaya Azis ini sangat mendasar terutama
dalam konsep yang di tuliskannya, ini menjadi bagian penting dalam
mensosialisasikan pemahaman tentang hubungan antara ekonomi dan sumberdaya
lingkungan. Ada benang merah yang bisa ditarik dimana keduanya terdapat
kesalingtergantungan satu sama lain. Ekonomi dibutuhkan untuk meningkatkan
pertumbuhan dan lingkungan dibutuhkan untuk mendukung sumberdaya tetapi
keberadaan sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui menjadi masalah tersendiri
karena berhubungan dengan harga. Logikanyanya harga akan naik bila sumberdaya
sedikit dan permintaan banyak. Sementara sumberdaya yang terus menipis dan pemintaan
semakin banyak maka seiring dengan itu harga pun akan mengalami kenaikan yang
signifikan.
Bila di telaah penurunan kualitas lingkungan disebabkan
oleh dua faktor yaitu disebakan oleh meningkatnya kebutuhan ekonomi (economic
requirement) dan gagalnya kebijakan yang diterapkan (policy failure).
Peningkatan kebutuhan yang tak terbatas sering membuat tekanan yang besar
terhadap lingkungan dan sumberdaya yang ada, suatu contoh kebutuhan akan
ketersediaan kayu yang memaksa kita untuk menebang hutan secara berlebihan dan
terjadinya tebang terlarang (illegal loging), kebutuhan transportasi
untuk mobilitas dan mendukung laju perekonomian juga sering menimbulkan dampak
terhadap kerusakan lingkungan seperti pencemaran udara, dan kejadian dilaut
dimana akibat kebutuhan ekonomi memaksa nelayan melakukan kegiatan tangkap
berlebih (over fishing). oleh karena itu percepatan pembangunan ekonomi
sudah selayaknya di barengi dengan ketersediaan sumberdaya dan lingkungan yang
lestari.
Di makalah ini Iwan Jaya Azis menuliskan beberapa hal
yang bisa dilakukan untuk menekan konsumsi berlebihan yang ditakutkan terjadi
kelangkaan dengan mengikuti konsep Solow yang mengatakan bahwa tingkat konsumsi
yang bisa dipertahankan sampai waktu tak terhingga dapat dicapai bila salah satu
dari kondisi berikut dipenuhi: (1)
elastisitas substitusi antara sumberdaya dengan modal lebih besar dari
satu (sangat elastis). (2) elastisitas tersebut sebesar satu namun kontribusi
modal lebih besar dari kontribusi sumberdaya; (3) apabila terjadi perubahan
teknologi.
Makalah yang ditulis pada masa orde baru ini masih
relevan untuk kondisi saat ini, perbedaannya hanya pada masa itu subsidi
terhadap pertamina masih besar maka paparan iwan tentang energi tidak begitu
mendalam, hanya menuliskan dua kejadian pada tahun 1974 dan 1979. padahal
kejadian pada masa orde barulah yang membuat kondisi kenaikan harga ini tidak
dipahami sebagai sebuah keharusan dan tentunya kritik terhadap pembangunan
berkelanjutan versi ekonom pun tidak dimunculkan. Karena semangat orde baru
tahun dipublikasikan makalah ini masih sangat kental.
Untuk pegangan serta dasar bagi pengantar ilmu ekonomi
sumberdaya dan lingkungan makalah ini bisa menjadi sebuah percikan bagi
pengembangan wacana selanjutnya. Terutama sebagai perbandingan 2 periode
kekuasan (orde baru, orde reformasi). Tidak ada salah juga menjadi pembanding
untuk makalah serupa yang membahas tentang konsep-konsep renewable dan non
renewable. Hanya saja pemaparan tentang sumberdaya energi sudah tidak
relevan lagi kondisi saat ini. Karena perbedaan kondisi antara tahun 1980-1990
dengan tahun 2000 – kini.
dari Makalah Iwan Jaya Azis
(Staf Pengajar FE – UI) yang disampaikan pada seminar AISEC: sustainable
development, diresume dari jurnal PRISMA edisi Januari 1991 penerbit LP3ES,
Jakarta
Posted at 11:35 pm by penakayu
Permalink
KEBIJAKAN WILAYAH TANGERANG DAN KARAWANG SEBAGAI
KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI
Oleh IDEN WILDENSYAH
A. PENDAHULUAN
Setiap daerah mempunyai corak pertumbuhan ekonomi yang
berbeda dengan daerah lain. Oleh sebab itu perencanaan pembangunan ekonomi
suatu daerah pertama-tama perlu mengenali karakter ekonomi, sosial dan fisik
daerah itu sendiri, termasuk interaksinya dengan daerah lain. Dengan demikian
tidak ada strategi pembangunan ekonomi daerah yang dapat berlaku untuk semua
daerah. Namun di pihak lain, dalam menyusun strategi pembangunan ekonomi
daerah, baik jangka pendek maupun jangka panjang, pemahaman mengenai teori pertumbuhan
ekonomi wilayah, yang dirangkum dari kajian terhadap pola-pola pertumbuhan
ekonomi dari berbagai wilayah, merupakan satu faktor yang cukup menentukan
kualitas rencana pembangunan ekonomi daerah.
Keinginan kuat dari pemerintah daerah untuk membuat
strategi pengembangan ekonomi daerah dapat membuat masyarakat ikut serta
membentuk bangun ekonomi daerah yang dicita-citakan. Dengan pembangunan ekonomi daerah yang terencana,
pembayar pajak dan penanam modal juga dapat tergerak untuk mengupayakan peningkatan
ekonomi. Kebijakan pertanian yang mantap, misalnya, akan membuat pengusaha dapat melihat ada
peluang untuk peningkatan produksi pertanian dan perluasan ekspor. Dengan
peningkatan efisiensi pola kerja pemerintahan dalam pembangunan, sebagai bagian
dari perencanaan pembangunan, pengusaha dapat mengantisipasi bahwa pajak dan
retribusi tidak naik, sehingga tersedia lebih banyak modal bagi pembangunan
ekonomi daerah pada tahun depan.
I. TANGERANG
Tangerang adalah pusat manufaktur dan industri
di pulau Jawa dan memiliki lebih
dari 1000 pabrik. Banyak perusahaan-perusahaan internasional yang memiliki
pabrik di kota ini. Tangerang memiliki cuaca yang cenderung panas dan lembab,
dengan sedikit hutan atau bagian geografis lainnya. Kawasan-kawasan tertentu
terdiri atas rawa-rawa, termasuk kawasan di sekitar Bandara Soekarno Hatta
Dalam beberapa tahun terakhir, perluasan urban
Jakarta meliputi Tangerang, dan akibatnya banyak penduduknya yang berkomuter ke
Jakarta untuk kerja, atau sebaliknya. Banyak kota-kota satelit kelas menengah
dan kelas atas sedang dan telah dikembangkan di Tangerang, lengkap dengan pusat perbelanjaan, sekolah, dan minimarket. Pemerintah bekerja dalam
mengembangkan sistem jalan tol untuk mengakomodasikan arus lalu lintas yang
semakin banyak ke dan dari Tangerang.
1. Topografi
Wilayah Kota Tangerang rata-rata berada pada ketinggian 10 - 30 meter di
atas permukaan laut. Bagian Utara memiliki rata-rata ketinggian 10 meter di atas permukaan
laut seperti Kecamatan Neglasari, Kecamatan Batuceper, dan Kecamatan Benda.
Sedangkan bagian Selatan memiliki ketinggian 30 meter di atas permukaan laut
seperti Kecamatan Ciledug dan Kecamatan Larangan. Dilihat dari kemiringan
tanahnya, sebagian besar Kota Tangerang mempunyai tingkat kemiringan tanah 0-30
% dan sebagian kecil (yaitu di bagian Selatan kota) kemiringan tanahnya antara
3-8% berada di Kelurahan Parung Serab, Kelurahan Paninggilan Selatan dan
Kelurahan Cipadu Jaya.
2. Letak Kota Tangerang
Letak Kota Tangerang tersebut sangat strategis karena berada di antara
Ibukota Negara DKI Jakarta dan Kabupaten Tangerang. Sesuai dengan Instruksi
Presiden Nomor 13 Tahun 1976 tentang Pengembangan Jabotabek (Jakarta, Bogor,
Tangerang, Bekasi), Kota Tangerang merupakan salah satu daerah penyangga
Ibukota Negara DKI Jakarta.
Posisi Kota Tangerang tersebut menjadikan pertumbuhannya pesat. Pada satu
sisi wilayah Kota Tangerang menjadi daerah limpahan berbagai kegiatan di
Ibukota Negara DKI Jakarta. Di sisi lain Kota Tangerang dapat menjadi daerah
kolektor pengembangan wilayah Kabupaten Tangerang sebagai daerah dengan sumber
daya alam yang produktif.
3. Tata guna lahan
Kota Tangerang merupakan salah satu kota di Botabek dengan luas wilayah
17.729,746 Ha. Dari luas wilayah tersebut pertumbuhan fisik kota ditunjukkan
oleh besamya kawasan terbangun kota, yaitu seluas 10.127,231 Ha (57,12 % dari
luas seluruh kota), sehingga sisanya sangat strategis untuk dapat dikonsolidasi
dengan baik ke dalam wilayah terbangun kota yang ada melalui perencanaan kota
yang sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata
Ruang (RDTR). Data terakhir menunjukkan bahwa pemanfaatan lahan di Kota Tangerang
meliputi:
- Pemukiman
(5.988,2 Ha)
- Industri
(1.367,1 Ha)
- Perdagangan dan
Jasa (608,1 Ha)
- Pertanian
(4.467,8 Ha)
- Lain-lain
(819,4 Ha)
- Belum terpakai
(2.66,4 Ha)
- Bandara
Soekarno - Hatta (1.816,0 Ha)
Pola penggunaan lahan di Kota Tangerang dapat
dikelompokkan ke dalam 2 (dua) kategori, yaitu kawasan budidaya dan kawasan
lindung. Berkaitan dengan zoning di Kota Tangerang, pusat
kota ditetapkan di Kecamatan Tangerang. Kawasan pengembangan terbatas di bagian
Utara (Kecamatan Benda dan Batuceper) masih mengikuti Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) yang lama. Kecamatan Batuceper masih diarahkan untuk kegiatan
pergudangan, industri dan perumahan susun. Kecamatan Benda yang wilayahnya
meliputi sebagian Bandara Internasional Soekarno - Hatta diarahkan sebagai
ruang terbuka hijau dan buffer (pengaman) bandara, yang masih konsisten dengan
RTRW sebelumnya. Sedangkan Kecamatan Ciledug tetap diarahkan untuk kegiatan
perumahan tapi dengan penegasan yang lebih jelas antara skala menengah dan
kecil. Kecamatan Jatiuwung di bagian Barat Kota Tangerang diarahkan untuk
kegiatan industri dengan pengembangan terbatas, serta permukiman penunjang
industri. Kawasan tersebut tidak diarahkan untuk penambahan industri baru tapi
untuk perluasan kegiatan yang sudah ada saja.
4. Hidrologi
Wilayah Kota Tangerang dilintasi oleh Sungai Cisadane yang membagi Kota
Tangerang menjadi 2 (dua) bagian yaitu bagian Timur sungai dan bagian Barat
sungai. Kecamatan
yang terletak di bagian Barat Sungai Cisadane meliputi Kecamatan Jatiuwung dan
sebagian Kecamatan Tangerang. Selain Sungai Cisadane, di Kota Tangerang
terdapat pula sungai-sungai lain seperti Sungai Cirarab yang merupakan batas
sebelah Barat, Kecamatan Jatiuwung dengan Kecamatan Pasar Kemis di Kabupaten
Tangerang, Kali Ledug yang merupakan anak Sungai Cirarab, Kali Sabi dan Kali
Cimode, sungai-sungai tersebut bcrada di sebelah Sungai Cisadane, sedangkan
pada bagian Timur Sungai Cisadane terdapat pula sungai/kali yang meliputi Kali
Pembuangan Cipondoh, Kali Angke, Kali Wetan, Kali Pasanggrahan, Kali Cantiga,
Kali Pondok Bahar. Selain sungai/kali di Kota Tangerang terdapat pula saluran
air yang meliputi Saluran Mokevart, Saluran Irigasi Induk Tanah Tinggi, Saluran
Induk Cisadane Barat, Saluran Induk Cisadane Timur dan Saluran Induk Cisadane
Utara.
Kota Tangerang dibelah Sungai Cisadane yang
memiliki debit air 88 m3 per detik dan mengalir sejauh 13,8 km. Selain itu,
terdapat pula 3 (tiga) aliran kali kecil yang membelah beberapa bagian wilayah
Kota Tangerang yaitu Kali Pesanggrahan di Kecamatan Ciledug, Kali Angke di
Kecamatan Ciledug dan Cipondoh, serta Kali Cirarab di Kecamatan Jatiuwung dan
Tangerang.
Aliran sungai besar dan kecil ini sangat
bermanfaat bagi penyediaan bahan baku air bersih untuk pengembangan instalasi
air bersih Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Tangerang. Persediaan air
permukaan tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan air kegiatan
industri.
5. Transportasi
Wilayah Kota Tangerang yang merupakan wilayah penyangga ibu kota negara
memiliki 3 pintu masuk utama yaitu jalan Tol Jakarta Merak, Kereta Rel Listrik
dan Pelabuhan Udara Sukarno-Hatta, Moda transportasi yang beroperasi di wilayah
Kota Tangerang terdiri dari moda transportasi darat dan udara. Moda
transportasi darat terdiri dari angkutan kota dan bus baik sedang maupun besar
yang melayani antar kota kecamatan dan antar kota/kabupaten dan provinsi,
Kerata Rel listrik (KRL) yang beroperasi menghubungkan stasiun Tangerang (pasar
anyar) dengan stasiun Jakarta Kota serta Bandara Soekarno-Hatta yang merupakan
pintu masuk internasional.
Jumlah kendaraan bermotor dari berbagai golongan
yang melintasi 3 pintu tol di Kota Tangerang yaitu pintu Tol Karang Tengah,
Kebon Nanas dan Karawaci Timur pada tahun 2005 sebanyak 60.057.184 kendaraan,
sedangkan frekuensi penerbangan di pelabuhan udara Soekarno-Hatta sebanyak
267.352 penerbangan terdiri dari 55.353 penerbangan internasional dan 212.179
penerbangan domestik. Kargo dan Pos paket yang bongkar muat sebanyak
165.998.730 kg terdiri dari penerbangan internasional sebanyak 156.584.505 kg
sedangkan penerbangan domestik sebanyak 6.847.304 kg.
6. Peluang Investasi
Dengan pemahaman terhadap potensi dan kendala
yang dimiliki Kota Tangerang, maka pemerintah kota ini merumuskan strategi
pengembangan wilayah yang paling menguntungkan untuk diterapkan di masa
mendatang yakni dengan mengutamakan kegiatan unggulan berupa:
- Pengembangan
industri.
- Pengembangan
perdagangan.
- Pengembangan
keuangan dan perbankan.
- Pengembangan
permukiman.
Sejak dikeluarkannya Instruksi Presidan Nomor 13
Tahun 1976, keempat sektor kegiatan tersebut telah tumbuh sangat pesat di Kota
Tangerang. Pertumbuhan keempat sektor kegiatan tersebut semakin pesat dengan
adanya ruas jalan tol Jakarta - Tangerang - Merak dan gerbang perhubungan udara
Indonesia Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Keempat sektor kegiatan tersebut menjadi sumber mata pencaharian utama bagi
sebagian besar penduduk Kota Tangerang.
A. Pengembangan Industri
Pengembangan Industri di Kota Tangerang sebagai akibat dari keterbatasan
lahan peruntukan pengembangannya di DKI Jakarta telah dimulai sejak tahun 1976
hingga saat ini. Industri skala kecil hingga besar bersaing dalam
pembangunannya di kota ini.
Menurut data dari Kantor Penanaman Modal dan Perijinan (KPMP), tercatat
1.407 unit usaha industri yang ada di Kota Tangerang yang mempekerjakan 149.827
tenaga kerja lokal dan 356 tenaga kerja asing. Investasi yang ditanamkan dalam
seluruh kegiatan industri tersebut mencapai Rp 3.716.781.817.979,00.
B. Pengembangan Perdagangan
Pengembangan sektor perdagangan di Kota Tangerang tumbuh seiring dengan
pesatnya pengembangan kegiatan industri dan perumahan yang telah ada. Sektor
ini tumbuh dengan aktivitas manusia yang menuntut tersedianya kebutuhan primer
dan sekunder.
Di masa yang akan datang, pengembangan sektor perdagangan sangat cerah
seiring dengan pengembangan sentra-sentra permukiman baru, perluasan permukiman
lama dan perindustrian di Kota Tangerang. Lahan untuk pengembangan kegiatan
perdagangan masih tersedia cukup luas.
C. Pengembangan Permukiman
Pengembangan sektor permukiman di Kota Tangerang, baik perkotaan maupun
perdesaan dan perumahan baru, mengalami ledakan jumlah sejak tahun 1976 di
hampir seluruh wilayah Kota Tangerang. Hal tersebut dimungkinkan dengan
peningkatan kebutuhan akan sarana perumahan seiring dengan pertambahan jumlah
penduduk (migrasi penduduk) yang bekerja di sentra-sentra kegiatan ekonomi Kota
Tangerang dan penduduk penglaju (komuter) dari DKI Jakarta yang memilih tetap
bertempat tinggal di Kota Tangerang tetapi bekerja di DKI Jakarta.
D. Peluang Investasi
Dryport dan Jalan Tol
Peluang-peluang investasi yang prospektif dan sangat mendesak kebutuhannya
adalah dryport atau pergudangan skala besar untuk menopang sekitar 1.300
industri. Saat ini kemacetan lalu lintas sering terjadi di Kota Tangerang
karena container-container harus masuk ke kawasan industri. Dengan adanya
dryport maka setiap industri tidak perlu memiliki gudang sendiri. Pemerintah
Daerah (Pemda) Kota Tangerang telah menyiapkan 2 (dua) alternatif lahan untuk
pembangunan dryport ini. Pertama, di sebelah Selatan
pada lahan di pinggir jalan tol Jakarta - Merak. Kedua, di sebelah Utara, yang berdekatan dengan Bandara Soekarno-Hatta.
II. KARAWANG
Kabupaten Karawang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat,
Indonesia. Ibukotanya adalah Karawang. Kabupaten ini berbatasan dengan
Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor di barat, Laut Jawa di utara, Kabupaten
Subang di timur, Kabupaten Purwakarta di tenggara, serta Kabupaten Cianjur di
selatan.
Kabupaten Karawang memiliki dua wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten
lain, jika pengunjung yang berasal dari Bandung, purwakarta, cirebon, subang
dan Jawa Tengah hendak menuju Jakarta melalui route jalan lama, pasti mereka
memasuki Kabupaten Karawang, tentu saja tanpa terkecuali mereka yang
menggunakan jalan tol Cikampek Jakarta, pasti sedikitnya tahu bahwa daerah yang
mereka lalui adalah Kabupaten Karawang, demikian halnya mereka yang dari arah
Bekasi dan Jakarta yang menuju jawa tengah pun sama melewati Karawang.
A. Topografi
Sebagian besar wilayah Kabupaten Karawang adalah dataran rendah, dan di
sebagian di wilayah selatan berupa dataran tinggi.
B. Demografi
Penduduk umumnya adalah suku Sunda yang menggunakan Bahasa Sunda, tetapi di
Karawang terdapat beberapa bahasa dan budaya diantaranya budaya dan bahasa
Betawi di daerah utara Karawang tepatnya sebagian Kecamatan Batujaya dan
Kecamatan Pakisjaya serta bahasa Jawa Cirebonan di jalur Utara Kecamatan
Tempuran Kecamatan Cilamaya
C. Administratif
Kabupaten Karawang terdiri atas 30 kecamatan, yang dibagi lagi atas
sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Karawang.
D. Potensi
- Di Kabupaten Karawang berdiri beberapa Kawasan
Industri, antara lain Karawang International Industry City KIIC, Kawasan
Surya Cipta, kawasan Bukit Indah City atau BIC di jalur Cikampek(Karawang)
- Di bidang pertanian, Karawang terkenal sebagai
lumbung padi Jawa Barat.
- Karawang adalah tuan rumah PORPROV Jabar X tahun
2006.
E. Transportasi
Ibukota kabupaten Karawang berada di jalur pantura. Kabupaten Karawang
dilintasi ruas jalan tol Jakarta-Cikampek(Karawang) serta Cipularang
(Cikampek(Karawang)-Purwakarta-Padalarang). Cikampek merupakan kecamatan yang
berada di bagian timur Kabupaten Karawang. Di Cikampek terdapat stasiun kereta
api yang merupakan pertemuan dua jalur utama dari Bandung dan dari Cirebon
menuju Jakarta.
Karawang menjadi daerah strategis yang banyak di lalui orang, keunggulan
ini sayangnya kurang diperhatikan, padahal kita dapat memanfaatkan peluang
dengan memasarkan potensi Kabupaten Karawang kepada setiap orang, dulu di
hampir setiap perbatasan Kabupaten terdapat sejenis sign-board besar yang
bertuliskan “ Selamat Datang di Kabupaten…” atau sekedar tulisan semboyan kota
seperti yang terpampang ketika anda memasuki Kabupaten Garut “ Garut Kota
Intan” atau jika anda dari arah Bandung menuju Purwakarta di sana terbentang
sejenis gapura yang melintang di atas jalan dengan tulisan “ Selamat Datang Di
Kota Purwakarta” sama seperti gerbang yang membentang di jalur masuk menuju
kota Karawang dari gerbang Tol Karawang Barat, ini adalah upaya memperkenalkan
daerah meskipun belum menyentuh aspek memasarkan daerah dengan strategi
positioning yang diarahkan kepada para pengunjung untuk mengingat daerah yang
dilaluinya, karena belum lengkap dengan informasi potensi daerah yang
sesungguhnya.
B. MANAJEMEN PEMBANGUNAN DAERAH YANG PRO-BISNIS
Pemerintah daerah dan pengusaha adalah dua kelompok yang
paling berpengaruh dalam menentukan corak pertumbuhan ekonomi daerah.
Pemerintah daerah, mempunyai kelebihan dalam satu hal, dan tentu saja
keterbatasan dalam hal lain, demikian juga pengusaha. Sinergi antara keduanya
untuk merencanakan bagaimana ekonomi daerah akan diarahkan perlu menjadi
pemahaman bersama. Pemerintah daerah mempunyai kesempatan membuat berbagai
peraturan, menyediakan berbagai sarana dan peluang, serta membentuk wawasan
orang banyak. Tetapi pemerintah daerah tidak mengetahui banyak bagaimana proses
kegiatan ekonomi sebenarnya berlangsung. Pengusaha mempunyai kemampuan
mengenali kebutuhan orang banyak dan dengan berbagai insiatifnya, memenuhi
kebutuhan itu. Aktivitas memenuhi kebutuhan itu membuat roda perekonomian
berputar, menghasilkan gaji dan upah bagi pekerja dan pajak bagi pemerintah.
Dengan pajak, pemerintah daerah berkesempatan membentuk kondisi agar
perekonomian daerah berkembang lebih lanjut.
Pemerintah daerah dalam mempertahankan keberlanjutan
pembangunan ekonomi daerahnya agar membawa dampak yang menguntungkan bagi
penduduk daerah perlu memahami bahwa manajemen pembangunan daerah dapat
memberikan pengaruh yang baik guna mencapai tujuan pembangunan ekonomi yang
diharapkan. Bila kebijakan manajemen pembangunan tidak tepat sasaran maka akan
mengakibatkan perlambatan laju pertumbuhan ekonomi. Maka manajemen pembangunan
daerah mempunyai potensi untuk meningkatkan pembangunan ekonomi serta
menciptakan peluang bisnis yang menguntungkan dalam mempercepat laju
pertumbuhan ekonomi daerah.
C. KESIMPULAN DAN SARAN
Sebagai Kawasan
Pertumbuhan Ekonomi, Tangeran dan Karawang memiliki potensi yang sama untuk
mengembangkan wilayahnya masing-masing dengan beberapa prinsip manajemen
pembangunan yang probisnis. Prinsip-prinsip itu antara lain:
a. Menyediakan Informasi
kepada Pengusaha
Pemerintah daerah dapat memberikan informasi kepada para
pelaku ekonomi di daerahnya ataupun di luar daerahnya kapan, dimana, dan apa
saja jenis investasi yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan yang akan datang.
Dengan cara ini maka pihak pengusaha dapat mengetahui arah kebijakan
pembangunan daerah yang diinginkan pemerintah daerah, sehingga dapat digunakan
sebagai dasar pertimbangan dalam menentukan dalam kegiatan apa usahanya akan
perlu dikembangkan. Pemerintah daerah perlu terbuka mengenai kebijakan
pembangunannya, dan informasi yang diterima publik perlu diupayakan sesuai
dengan yang diinginkan.
b. Memberikan Kepastian dan
Kejelasan Kebijakan
Pengusaha juga mengharapkan kepastian kebijakan antar
waktu. Kebijakan yang berubah-ubah akan membuat pengusaha kehilangan
kepercayaan mengenai keseriusannya membangun ekonomi daerah. Pengusaha daerah
umumnya sangat jeli dengan perilaku pengambil kebijakan di daerahnya. Kerjasama
yang saling menguntungkan mensyaratkan adanya kepercayaan terhadap mitra usaha.
Membangun kepercayaan perlu dilakukan secara terencana dan merupakan bagian
dari upaya pembangunan daerah.
c. Mendorong Sektor Jasa dan
Perdagangan
Sektor ekonomi yang umumnya bekembang cepat di kota-kota
adalah sektor perdagangan kecil dan jasa. Sektor ini sangat tergantung pada
jarak dan tingkat kepadatan penduduk. Persebaran penduduk yang berjauhan dan
tingkat kepadatan penduduk yang rendah akan memperlemah sektor jasa dan
perdagangan eceran, yang mengakibatkan peluang kerja berkurang. Semakin dekat
penduduk, maka interaksi antar mereka akan mendorong kegiatan sektor jasa dan
perdagangan. Seharusnya pedagang kecil mendapat tempat yang mudah untuk
berusaha, karena telah membantu pemerintah daerah mengurangi pengangguran. Pada
waktunya pengusaha kecil akan membayar pajak kepada pemerintah daerah. Dengan
menstimulir usaha jasa dan perdagangan eceran, pertukaran ekonomi yang lebih
cepat dapat terjadi sehingga menghasilkan investasi yang lebih besar. Adanya
banyak pusat-pusat pedagang kaki lima yang efisien dan teratur akan menarik
lebih banyak investasi bagi ekonomi daerah dalam jangka panjang.
d. Meningkatkan Daya Saing
Pengusaha Daerah
Meningkatkan daya saing adalah dengan meningkatkan
persaingan itu sendiri. Ini berarti perlakuan-perlakukan khusus harus
ditinggalkan. Proteksi perlu ditiadakan segera ataupun bertahap. Pengembangan
produk yang sukses adalah yang berorientasi pasar, ini berarti pemerintah
daerah perlu mendorong pengusaha untuk selalu meningkatkan efisiensi teknis dan
ekonomis. Peraturan perdagangan internasional harus diperkenalkan dan
diterapkan. Perlu ada upaya terencana agar setiap pejabat pemerinah daerah
mengerti peraturan-peraturan perdagangan internasional ini, untuk dapat
mendorong pengusaha-pengusaha daerah menjadi pemain-pemain yang tangguh dalam
perdagangan bebas, baik pada lingkup daerah, nasional maupun internasional.
e. Membentuk Ruang yang
Mendorong Kegiatan Ekonomi
Membentuk ruang khusus
untuk kegiatan ekonomi akan lebih langsung menggerakkan kegiatan ekonomi.
Pemerintah daerah perlu berusaha mengantisipasi kawasan-kawasan mana yang dapat
ditumbuhkan menjadi pusat-pusat perekonomian wilayah. Kawasan-kawasan yang
strategis dan cepat tumbuh ini dapat berupa kawasan yang sudah menunjukkan
tanda-tanda aglomerasi, seperti sentra-sentra produksi pertanian tanaman
pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan; klaster industri, dsb.
Kawasan cepat tumbuh juga dapat berupa kawasan yang sengaja dibangun untuk
memanfaatkan potensi SDA yang belum diolah, seperti yang dulu dikembangkan
dengan sistim permukiman transmigrasi. Kawasan-kawasan ini perlu dikenali dan
selanjutnya ditumbuhkan dengan berbagai upaya pengembangan kegiatan ekonomi,
seperti pengadaan terminal agribisnis, pengerasan jalan, pelatihan bisnis,
promosi dsb. Pengembangan
kawasan-kawasan strategis dan cepat tumbuh ini perlu dilakukan bersamaan dengan
upaya peningkatan keterampilan, pengembangan usaha, dan penguatan keberdayaan
masyarakat..
DAFTAR PUSTAKA
·
Herry
Darwanto. Prinsip
Dasar Pembangunan Ekonomi Daerah. Majalah PP Th 2002\Edisi 28
- Moh. Soerjani
dkk. Lingkungan ; Sumberdaya
Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan, , UI Press, 1987
- Bruce Mitchell dkk, Pengelolaan
Sumberdaya dan Lingkungan, Gadjah Mada University Press, 2003
- Jayadinata, Johara T. Tata
Guna Tanah Dalam Perencanaan Pedesaan Perkotaan dan Wilayah. Penerbit
ITB. Bandung. 1999
Referensi internet
- http://www.bplhd.jakarta.go.id
- http://www.kompas.com
- http://www.id.wikipedia.com
- http://www.bappenas.go.id
Posted at 11:24 pm by penakayu
Permalink
Whatever
You Think, Think The Opposite !!
Salahsatu
buku yang menarik dibaca adalah bukunya Paul Arden, tentunya disamping
buku-buku yang lainnya yang juga inspiring. Bukan karena tampilannya yang
berbeda dengan buku-buku lain, buku ini berisi hal-hal yang unik dan pasti
Opposite seperti yang tertera dalam covernya. Cara penyampaian yang langsung
pada masalah adalah hal baru dari dunia buku yang saya baca, kajian yang sangat
kritis dalam buku ini adalah menjungkirbalikan pemikiran umum yang standar,
konvensional, dan cenderung stagnan atau pseudo kreatif menjadi the real
kreatif dan unik karena berlawanan dari hal yang umum tapi mungkin disanalah letak
kebenarannya.
Buku
ini bahkan lebih berani dalam menyerang cara memandang lingkungan kerja dan
dunia kita. Ia membaginya dalam tema-tema yang seharusnya menjadi pilihan
pemikiran orang-orang yang ingin maju. Ungkapan berpikir sebaliknya adalah
sebuah tema universal untuk keseluruhan buku. Berikutnya ia membagi
tulisan-tulisannya dalam tema-tema lebih sempit yang mengarah pada ungkapan
paradoks. Saran pengunduran diri di atas adalah salah satunya.
Pembagian
yang dilakukan Arden
dengan tema-tema cerdasnya lewat buku ini adalah serangkaian langkah penting
bagi mereka yang ingin sukses. Misalnya setelah cara berpikir terbalik ia
banyak membahas soal pentingnya mengambil keputusan. Pertama-tama katanya bukan
soal keputusan yang salah atau benar, namun soal keberanian untuk mengambil
keputusan tersebut. Dalam pandangannya, lebih baik menyesali sesuatu yang telah
dilakukan dari pada menyesal tidak melakukan sesuatu. Sebab siapa yang tahu apa
yang dapat berakhir menjadi benar?
Berikutnya tentang baik buruknyanya suatu
keputusan, yang menurut Arden keputusan yang masuk akal adalah semua orang
berpikiran yang sama. Ini akan membuat si pengambil keputusan terjebak dalam
solusi yang tak lagi orisinil. Padahal, bisa jadi keputusan yang kelihatan tak
aman menjadi solusi yang paling baik.
Nah... jika mau lebih kreatif disarankan baca
buku ini, thanks Paul Arden!
Posted at 01:13 pm by penakayu
Permalink
EFEK RUMAH KACA DAN
PEMANASAN GLOBAL
Menurut http://id.wikipedia.org/ (2007), efek rumah kaca, pertama kali
ditemukan oleh Joseph
Fourier pada 1824. Jean Baptiste Joseph Fourier (21 Maret 1768 - 16 Mei 1830) adalah matematikawan dan fisikawan Perancis yang paling dikenal karena mengawali penyelidikan
deret Fourier dan penerapannya pada masalah arus panas.
Efek Rumah Kaca merupakan sebuah proses di mana atmosfer memanaskan sebuah planet. Mars, Venus, dan benda
langit beratmosfer lainnya (seperti satelit
alami Saturnus,
Titan) juga
memiliki efek rumah kaca. Efek rumah kaca dapat dibagi dalam dua kelompok: efek
rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca
ditingkatkan yang terjadi akibat aktivitas manusia. Efek rumah kaca disebabkan
karena naiknya konsentrasi gas rumah kaca seperti karbondioksida
(CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini
disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan
bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut
untuk mengabsorbsinya.
Menurut Iden
Wildensyah (http://www.pikiran-rakyat.com/,
2007), gas rumah kaca adalah gas-gas yang diemisikan dari berbagai kegiatan
manusia, yang memiliki kemampuan meneruskan gelombang pendek dan mengubahnya
menjadi gelombang panjang. Selain itu, GRK juga memiliki kemampuan meneruskan
sebagian gelombang panjang dan memantulkan gelombang panjang lainnya. Dalam
protokol Kyoto (kesepakatan internasional yang berkomitmen dalam mengurangi
emisi Gas Rumah Kaca) terdapat enam jenis Gas Rumah Kaca, yaitu karbondioksida
(CO2), nitroksida (N2O), methana (CH4), sulfurheksaflourida (SF6),
perflourokarbon (PFC), dan hidrofluorokarbon (HFC).
Menurut http://id.wikipedia.org/ (2007), segala sumber energi yang
terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut terdapat
dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia
berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan
menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya.Energi yang masuk ke
bumi mengalami : 25% dipantulkan awan atau partikel lain di atmosfer, 25%
diserap awan, 45% diadsorpsi permukaan bumi, dan 5% dipantulkan kembali oleh
permukaan bumi. Energi yang diabsorpsi dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi
infra merah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar infra merah yang
dipancarkan bumi tertahan oleh awan, uap air, karbondioksida, metana dan gas lainnya di atmosfir, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Gas-gas
ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi
dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal itu terjadi
berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas
ini di atmosfer, maka semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
Dalam keadaan normal, semua kehidupan di bumi
tergantung pada efek rumah kaca. Efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek
rumah kaca maka perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu
jauh berbeda. Tanpa efek rumah kaca, bumi akan menjadi sangat dingin (-18ºC)
sehingga es akan menutupi seluruh permukaan bumi. Akan tetapi, bila gas-gas ini
semakin berlebih di atmosfer, akibatnya adalah pemanasan bumi yang terus berlanjut.
Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah sulfur dioksida
(SO2), nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa
senyawa organik seperti gas metana (CH4) dan khloro fluoro karbon (CFC). Gas-gas
tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca
Gas
Kontribusi Sumber emisi global - % CO2
45-50% Batu bara - 29
Minyak Bumi - 29
Gas alam - 11
Penggundulan hutan - 20
lainnya - 10
CH4 - 10-20%
Pemanasan Global
Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global,
2007 disebutkan bahwa pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur
rata-rata atmosfer,
laut dan daratan Bumi sebagai akibat
dari akumulasi panas di atmosfer yang disebabkan oleh Efek Rumah Kaca. Planet Bumi telah menghangat (dan juga
mendingin) berkali-kali selama 4,65 milyar tahun sejarahnya. Pada saat ini,
Bumi menghadapi pemanasan yang cepat, yang oleh para ilmuan dianggap disebabkan
oleh aktifitas manusia. Penyebab utama pemanasan ini adalah
pembakaran bahan
bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer semakin kaya akan
gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak
panas dari Matahari yang dipancarkan ke Bumi.
Pada awal 1896, para ilmuan beranggapan bahwa
membakar bahan bakar fosil akan mengubah komposisi atmosfer dan dapat
meningkatkan temperatur rata-rata global. Hipotesis ini
dikonfirmasi tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program
penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel
atmosfer dari puncak gunung Mauna Loa di Hawai. Hasil pengukurannya menunjukkan terjadi peningkatan
konsentrasi karbondioksida di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer
terus diukur dengan cermat. Data-data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa memang
terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer (Gambar 3).
Gambar 3. Hasil pengukuran
konsentrasi CO2 di Mauna Loa (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global, 2007)
Para ilmuwan juga telah lama menduga bahwa iklim global semakin menghangat, tetapi mereka tidak mampu memberikan
bukti-bukti yang tepat. Temperatur terus bervariasi dari waktu ke waktu
dan dari lokasi yang satu ke lokasi lainnya. Perlu bertahun-tahun pengamatan
iklim untuk memperoleh data-data yang menunjukkan suatu kecenderungan (trend)
yang jelas. Catatan pada akhir 1980-an agak memperlihatkan kecenderungan
penghangatan ini, akan tetapi data statistik ini hanya sedikit dan tidak dapat
dipercaya. Sejak 1957, data-data
diperoleh dari stasiun cuaca yang terpercaya (terletak jauh dari perkotaan),
serta dari satelit. Data-data ini memberikan pengukuran yang lebih
akurat, terutama pada 70 persen permukaan planet yang tertutup lautan.
Data-data yang lebih akurat ini menunjukkan bahwa kecenderungan menghangatnya
permukaan Bumi benar-benar terjadi. Jika dilihat pada akhir abad ke-20,
tercatat bahwa sepuluh tahun terhangat selama seratus tahun terakhir terjadi
setelah tahun 1980, dan tiga tahun terpanas terjadi setelah tahun 1990, dengan
1998 menjadi yang paling panas.
Masih menurut http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global, 2007 disebutkan bahwa dalam laporan yang
dikeluarkannya tahun 2001, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa temperatur
udara global telah meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit) sejak
1861. Panel setuju bahwa pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh aktifitas
manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC memprediksi
peningkatan temperatur rata-rata global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0
hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.
IPCC panel juga memperingatkan, bahwa meskipun
konsentrasi gas di atmosfer tidak bertambah lagi sejak tahun 2100, iklim tetap
terus menghangat selama periode tertentu akibat emisi yang telah dilepaskan
sebelumnya. Karbondioksida (Gambar 6)akan tetap berada di atmosfer selama
seratus tahun atau lebih sebelum alam mampu menyerapnya kembali. Jika emisi gas
rumah kaca terus meningkat, para ahli memprediksi, konsentrasi karbondioksioda
di atmosfer dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada awal abad ke-22 bila
dibandingkan masa sebelum era industri. Akibatnya, akan terjadi perubahan iklim
secara dramatis. Walaupun sebenarnya peristiwa perubahan iklim ini telah
terjadi beberapa kali sepanjang sejarah Bumi, manusia akan menghadapi masalah
ini dengan resiko populasi yang sangat besar (http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global, 2007).
Penyebab Pemanasan Global
Pemanasan global terjadi ketika ada konsentrasi
gas-gas tertentu yang dikenal dengan gas rumah kaca, yang terus bertambah di
udara, Hal tersebut disebabkan oleh tindakan manusia, kegiatan industri,
khususnya karbondiksida (CO2) dan chlorofluorocarbon (CFC). Yang terutama
adalah karbon dioksida, yang umumnya dihasilkan oleh penggunaan batubara,
minyak bumi, gas dan penggundulan hutan serta pembakaran hutan. Asam nitrat
dihasilkan oleh kendaraan dan emisi industri, sedangkan emisi metan disebabkan
oleh aktivitas industri dan pertanian. Karbon dioksida, chlorofluorocarbon,
metan, asam nitrat adalah gas-gas polutif yang terakumulasi di udara dan
menyaring banyak panas dari matahari. Sementara lautan dan vegetasi menangkap
banyak CO2, kemampuannya untuk menjadi “atap” sekarang berlebihan akibat emisi.
Ini berarti bahwa setiap tahun, jumlah akumulatif dari gas rumah kaca yang
berada di udara bertambah dan itu berarti mempercepat pemanasan global (http://www.ofm-jpic.org/globalwarming, 2007).
Hal tersebut tampaknya tidak akan bisa terlepas
dari fenomena penipisan lapisan ozon. Menurut Iden Wildensyah dalam http://www.pikiran-rakyat.com/, 2007 disebutkan bahwa Lapisan ozon merupakan tameng yang melindungi bumi
dari radiasi sinar ultraviolet yang merusak. Adanya penipisan lapisan ozon
dapat meningkatkan berbagai penyakit infeksi seperti menurunnya kekebalan
tubuh, kanker kulit, katarak mata, dan juga kerusakan pada lingkungan hidup. Kerusakan
itu, mulai dari putusnya rantai makanan pada ekosistem akuatik di laut sampai
gagalnya berbagai hasil panen. Juga kerusakan material pada bangunan dan
benda-benda lain yang terkena langsung sinar matahari.
Menurut Andria Sukowati dalam http://www.bplhdjabar.go.id/ (2007) menyebutkan bahwa polutan yang paling merugikan mempengaruhi
lapisan ozon adalah fluorocarbon, terutama yang mengandung chlorida/bromida. Bahan
yang paling bertanggung jawab terhadap penipisan sebagian besar lapisan ozon
adalah yang mengandung chlorida yaitu chlorofluorocarbon/CFC. Bahan kimia ini
menipiskan lapisan ozon dengan bertindak sebagai katalis dalam suatu reaksi
kimia yang merubah ozon (O3dan O1) menjadi oksigen (O2). Reaksi ini dipercepat
dengan adanya kristal-kristal es di stratosfer yang merupakan salah satu dari
sumber bagi kerugian besar ozon di Antartic (kehilangan sebesar 50-60%). Karena
CFC bertindak sebagai katalis, maka mereka tidak dikonsumsi dalam reaksi yang
merubah ozon menjadi oksigen, tetapi tetap ada di stratosfer dan terus menerus
merusak ozon selama bertahun-tahun.
Kerusakan ozon tidak terlepas juga dari perilaku
kita terhadap alam. Efek rumah kaca menjadi salah satu penyebab dari kerusakan
ozon. Ini terjadi antara lain
karena penggundulan hutan, polusi, dan pencemaran udara lainnya. Menurut SINDO,
2007 dalam http://www.bem.its.ac.id/web disebutkan bahwa Indonesia didaulat
sebagai negara keempat pembuang emisi gas rumah kaca (greenhouse gas/ GHG) di
dunia. Namun jika berdasar indikator konversi lahan dan perusakan hutan, posisi
Indonesia sebagai ”aktor”penyebab pemanasan global berada di posisi ketiga. Kepala
Ekonomi dan Penasihat Pemerintah Inggris untuk Urusan Efek Ekonomi Perubahan
Iklim dan Pembangunan Sir Nicholas Stern mengatakan, ada empat penyebab emisi
gas rumah kaca, yaitu aktivitas dan pemakaian energi, pertanian, kehutanan, dan
limbah. ”Emisi yang terbuang dari kebakaran hutan di Indonesia lima kali lebih
besar dari emisi yang terbuang di luar nonkehutanan.
Emisi terbuang dari pemakaian energi dan aktivitas
industri relatif masih kecil, namun secara berlahan tumbuh secara cepat,” kata
Stern, dalam seminar bertajuk ”The Economics of Climate Change” di Gedung
Perwakilan Bank Dunia, di Jakarta,kemarin. Stern menuturkan, setiap tahunnya aktivitas dan
pemakaian energi, pertanian dan limbah di Indonesia membuang emisi 451 juta ton
karbon dioksida atau setara (MtCO2e).
Jumlah itu belum termasuk akibat konversi lahan dan perusakan hutan yang
diperkirakan mengeluarkan 2,563 MtCO2e.”Indonesia masih terbesar sebagai
emitters gas rumah kaca,” kata dia. Sementara dalam paparan Stern, negara
pembuang emisi gas rumah kaca pertama diduduki Amerika Serikat (AS), disusul
China dan Uni Eropa yang merangkum 25 negara. Sementara di bawah Indonesia, ada Brasil, Rusia,
dan terakhir India. Stern mengungkapkan, meningkatnya emisi gas rumah kaca
menyebabkan perubahan iklim dunia. Sebagai negara pertanian, kata dia,
perubahan iklim berdampak buruk bagi Indonesia, sebab dengannya kerap terjadi
perubahan cuaca secara mendadak, termasuk hujan lebat yang sulit diprediksi.
Sepanjang seratus tahun ini konsumsi energi dunia
memang bertambah secara spektakuler. Sekitar 70% energi dipakai oleh
negara-negara maju; dan 78% dari energi tersebut berasal dari bahan bakar
fosil. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan yang mengakibatkan sejumlah
wilayah terkuras habis dan yang lainnya mereguk keuntungan. Sementara itu,
jumlah dana untuk pemanfaatan energi yang tak dapat habis (matahari, angin,
biogas, air, khususnya hidro mini dan makro), yang dapat mengurangi penggunaan
bahan bakar fosil, baik di negara maju maupun miskin tetaplah rendah, dalam perbandingan
dengan bantuan keuangan dan investasi yang dialokasikan untuk bahan bakar fosil
dan energi nuklir.
Penggundulan hutan yang mengurangi penyerapan
karbon oleh pohon, menyebabkan emisi karbon bertambah sebesar 20%, dan mengubah
iklim mikro lokal dan siklus hidrologis, sehingga mempengaruhi kesuburan tanah.
Pencegahan perubahan iklim yang merusak membutuhkan tindakan nyata untuk
menstabilkan tingkat gas rumah kaca sekarang di udara sesegera mungkin; dengan
mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 50%, demikian Panel Inter Pemerintah. Jika
tidak melakukan apa-apa maka hal-hal berikut akan membawa dampak yang merusak (http://www.ofm-jpic.org/globalwarming, 2007).
Ditambahkan juga oleh Andria Sukowati dalam http://www.bplhdjabar.go.id/ (2007) bahwa pembakaran bahan bakar atau hutan mempengaruhi keseimbangan
siklus karbon, dan menyebabkan bertambahnya CO2 di atmosfer. Bahan bakar fosil,
seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam berasal dari sisa fosil tanaman
pada zaman pra sejarah. Bahan bakar tersebut menggambarkan kandungan karbon,
dan pembakarannya mningkatkan kandungan CO2 diatmosfer. Begitupula ketika hutan
di tebangi, tak terkecuali kandungan carbon yang terdapat pada produk kayu
(furniture, kertas dll) akhirnya terbagi-bagi dan carbon dilepaskan ke atmosfer
sebagai CO2. Kurang lebih 50% dari biomass pada tanaman menjadi kandungan dalam
kayu atau produknya, perusakan hutan berupa penebangan dan pembakaran, maka
semua carbon berubah menjadi CO2 dan efek rumah kaca semakin nyata.
Edwin dalam http://www.ristek.go.id/file_upload/News%20(2007) juga membenarkan bahwa pemanasan global
ditandai dengan dua hal yaitu meningkatnya suhu muka bumi dan naiknya permukaan
laut. Selain disebabkan faktor alam, pemicu utama pemanasan global terjadi
karena ulah manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil (batu bara, minyak
bumi, dan gas alam) yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya ke atmosfer
yang dikenal dengan gas efek rumah kaca, yang seharusnya energi matahari
dibuang atau dipantulkan ke angkasa malah disimpan di bumi. Ia mengatakan bahwa suhu permukaan bumi
naik rata-rata 3°C per 100 tahun dan permukaan laut naik 3 cm per 100 tahun. Jika hal ini terus berkelanjutan maka bisa
dipastikan bahwa bumi akan dilanda oleh kemarau yang berkepanjangan.
Gas Rumah Kaca - Sumber
CO2 - Pembakaran bahan bakar fosil, transportasi, deforestasi pertanian
CH4 - Pertanian, perubahan tata guna lahan, pembakaran biomassa, TPA
N2O - Pembakaran bahan bakar fosil, industri, pertanian
HFCs - Industri manufaktur, freon, aerosol
PFCs - Industri manufaktur, freon, aerosol
SF6 - Transmisi listrik, industri manufaktur, freon, aerosol
Gambar 9. Tabel Gas Rumah Kaca yang dihasilkan Indonesia beserta sumbernya
Sumber: Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Bali dan Nusa Tenggara
Posted at 10:09 pm by penakayu
Permalink
“Tentang PA: Kemarin. Hari ini dan Esok…..”
oleh : Wilianita Selviana
“Not Having but being'', Simple
in mean but rich in end and values, High quality of life, yes! high
standard living maybe yes maybe no''
Tentang PA,
kemarin….
Permasalahan
lingkungan bukan semata-mata persoalan moral namun juga krisis moral secara
global. Menurut Arne Naess, krisis lingkungan yang terjadi hanya bisa diatasi
dengan melakukan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam yang
fundamental dan radikal. Yang dibutuhkan adalah sebuah pola hidup atau gaya
baru yang tidak hanya menyangkut orang per orang, tetapi juga budaya masyarakat
secara keseluruhan. Artinya, dibutuhkan etika lingkungan hidup yang menuntun
manusia berinteraksi dengan lingkungan hidup saat ini.
Cara pandang
sangat menentukan gerak langkah manusia terhadap kegiatannya, termasuk dalam
memperlakukan alam ini. Dua cara pandang yang dominan diantaranya adalah
antroposentrisme dan ekosentrisme, keduanya mempunyai alasan masing - masing
dari beberapa tokohnya. Antroposentrisme adalah teori etika lingkungan yang
memandang manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Cara pandang ini
menyebabkan manusia mengekploitasi dan menguras alam semesta demi memenuhi
kebutuhan kepentingan manusia.
Selain itu, cara
pandang ini pun melahirkan sikap yang rakus dan tamak yang menyebabkan manusia
mengambil semua kebutuhan hidupnya dari alam tanpa memperhitungkan
kelestariannya. Alam dipandang hanya demi kepentingan manusia, sehingga
sebagian pihak mengatakan krisis lingkungan dianggap terjadi karena perilaku
manusia yang dipengaruhi oleh cara pandang antroposentris ini. Imanuel Kant,
salah seorang penganut teori ini, mengatakan, hanya manusia yang merupakan
makhluk rasional, diperbolehkan secara moral menggunakan makhluk non rasional
lainnya untuk mencapai suatu tatanan dunia yang rasional.
Cara pandang kedua
yaitu ekosentrisme yang merupakan kelanjutan teori biosentrisme (teori yang
menganggap bahwa setiap kehidupan dan makhluk hidup mempunyai nilai dan
berharga pada dirinya sendiri sehingga teori ini menganggap serius setiap
kehidupan dan makhluk hidup di alam semesta). Bahkan sering disamakan begitu
saja karena ada kesamaan di antara keduanya. Kedua cara pandang ini mendobrak
cara pandang antroposentris. Selanjutnya, ekosentrisme diperluas untuk mencakup
komunitas ekologis seluruhnya.
Sekarang populer dengan nama Deep Ecology yang pertama kali dikenalkan
oleh Arne Naess, Filsuf Norwegia, pada 1973. Naess kemudian dikenal sebagai
tokoh deep ecology sampai sekarang. Manusia adalah tertuduh dari ambruknya
kualitas bumi, ia dinilai terlampau asyik memuaskan syahwatnya tanpa
mempedulikan akibat pada bumi. Mental dan nalar antroposentris dinilai sebagai
muasal. Antroposentrisme yang merusak justru ditahbiskan kesucian
epistemologinya oleh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan modern adalah kabar
buruk dari ideologi patriarkal barat (Vandana Siva,seorang tokoh ekofeminis
india). [2]
Hal inilah yang
kemudian menimbulkan dorongan bagi sebagian orang untuk mengabdikan dirinya
bagi kelestarian alam dengan melakukan berbagai upaya untuk dan menyandang nama
sebagai Pencinta Alam.
Tentang PA, hari ini….
Kode Etik Pencinta Alam :
1.
Pencinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya
adalah ciptaan Tuhan YME
2. Pencinta
Alam Indonesia sebagai bagian dari masyarakat Indonesia sadar akan tanggung
jawab terhadap Tuhan YME
3. Pencinta
Alam Indonesia sadar bahwa Pencinta Alam adalah sebagai mahluk yang mencintai
Alam sebagai anugerah Tuhan YME
Hampir di setiap kesempatan, event apapun yang dilakukan oleh yang
menamakan dirinya pencinta alam, kode etik itu selalu dibacakan dan
diperdengarkan pada semua orang…yang menjadi pertanyaan kemudian, apakah hal
tersebut terwujud dalam tingkah laku orang yang membanggakan dirinya dengan
menamakan diri Pencinta Alam?
Sering dalam melakukan kegiatan di alam bebas yang banyak pencinta alam
cenderung hedonis alias hura-hura. Berapa persen, sih, dari total "jam
terbang" PA yang benar-benar didedikasikan untuk upaya pelestarian
lingkungan hidup? Mungkin prosentasenya jauh lebih kecil dibandingkan waktu
yang kita habiskan sebagai penikmat alam.
Benar jika
kemudian berkembang stigma, bahwa pecinta alam saat ini sudah jauh melenceng
dari makna sebenarnya. Mereka yang menamakan klub pecinta alam justru tidak
mengerti apa makna pecinta alam itu yang sebenarnya. Sekarang klub pecinta alam
tumbuh bagaikan jamur di waktu hujan. Namun sayangnya pecinta alam sekarang ini
lebih mengutamakan pada petualangan dan penaklukan alam. Bukan untuk
melestarikan alam. Sehingga disadari atau pun tidak kita ikut ambil bagian dari
kerusakan alam ini. Harusnya klub pecinta alam menjadi ujung tombak dalam
menjaga kelestarian alam ini bukan sebaliknya. Banyak sudah orang-orang yang
mampu menggapai atap-atap dunia, tapi hanya segelintir aja yang benar-benar
peduli dengan alam ini. [3]
Dalam tataran
realita, tidak sedikit pencinta alam yang mempunyai arah dan gerakannya tidak
mencerminkan diri sebagai pencinta alam. Contohnya kita bisa melihat bagaimana
kasus vandalisme yang terjadi di puncak gunung.Siapa lagi kalau bukan orang
yang sering naik gunung dan ini sudah menjadi persepsi yang kuat dalam
masyarakat mengenai berubahnya paradigma pecinta alam. Berubahnya paradigma
pencinta alam telah menyebabkan sulit untuk membedakan antara pecinta alam dan
atau pegiat alam terbuka. Keduanya menyatu dalam satu diri namun sisi pencinta
alamnya kadang menjadi buyar. Pencinta alam lebih populer dengan gerakan
enviromentalismenya sedangkan penggiat alam terbuka lebih lekat dengan
aktivitas-aktivitas petualangan (adventure) seperti pendakian gunung,
pemanjatan tebing, pengarungan sungai dan masih banyak lagi kegiatan yang
mejadikan alam sebagai medianya.
Tentang PA,
Esok :PA itu adalah….
PA
merupakan singkatan dari Pecinta Alam bukan Pemerkosa Alam atau sekedar
Penikmat Alam ataupun juga Pegiat Alam. PA sejati adalah dimana ia bisa
menyatukan dirinya dengan alam, membaurkan diri dengan alam, melestarikan,
menjaga dan mempergunakan alam itu sebagai tempat dimana manusia hidup, akan
tetapi bukan bertujuan untuk merusak. PA itu juga bukan ajang untuk menaklukan
organisasi lain dalam arti hanya untuk ngeceng saja. Akan tetapi PA itu adalah
bagaimana cara kita (sadar) akan keberadaan alam. PA tidak hanya memperkenalkan
/ mengenal alam itu sendiri, akan tetapi juga meminta kita agar bagaimana alam
ini tidak dirusak tetapi dilestarikan.
“seorang
pecinta alam harus bisa hidup selaras dengan alam dan berusaha agar alam
tersebut tetap lestari. Seorang pecinta alam seharusnya melindungi dan
melestarikan edelweis bukan memetik edelweis hanya untuk suatu kebanggaan yang
tak berarti. untuk membuat kita bangga telah jelajah gunung atau hutan kita
seharusnya tidak merusak alam, cukup dengan foto itu sudah lebih dari cukup”
komentar salah seorang anggota Mapala[4]
Karena itu sebenarnya pencinta alam harus mengetahui segala kaidah
lingkungan sebagai bagian dari gerak dan pola acuan tindakannya. Kalau dilihat
dari nama sebagai Pencinta Alam yang sebenarnya dalam korelasi positif banyak
yang mencintai alam maka alam akan semakin lestari. Tapi dalam realitanya,
banyak perhimpunan belum kelihatan kontribusi nyata untuk lingkungan hidup.
Lihatlah, bagaimana kasus kawasan konservasi yang semakin hari semakin menyusut
atau kawasan hutan kota yang hampir habis tetapi pencinta alam belum ada yang
turun menyuarakan/mengeluhkan hal tersebut. [5]
Degradasi kultura dalam tubuh pencinta alam memang bukan tanpa alasan.
Semasa orde baru, arah pencinta alam diarahkan untuk tidak mengikuti pola gerak
dari green peace atau the german green yang berani mengkritisi setiap kebijakan
pemerintah. Di lain pihak keberadaan pencinta alam adalah sebuah awal gerakan
lingkungan di mana lingkungan sebagai wahana kehidupan berada pada keseimbangan
yang lestari dalam dimensi politik, ekonomi,sosial dan budaya. Jika salah
satu/beberapa ditambah porsi kepentingannya, maka akan mengganggu yang lain dan
biasanya yang menjadi korban adalah alam lingkungan hidup.
Ciri lain dari pecinta alam (PA) adalah perubahan. Karena itu, dalam
gerakan lingkungan hidup, PA selalu menginginkan/memperjuangkan adanya
perubahan (semakin baik) dalam politik, sosial, ekonomi dan budaya dengan
lingkungan hidup sebagai tema sentral.
“Bumi ini Cukup untuk semua orang tapi tidak Untuk Dua
Orang Yang Serakah’ (Mahatma Gandhi)
Iden Wildensyah (relawan lingkungan di Bandung) : Pendidikan Lingkungan Adalah
Penyadaran, Persfektif Pencinta Alam.
Posted at 08:23 pm by penakayu
Permalink
|