Muda, Kreatif, Pantang Menyerah !

   

<< August 2016 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31





"Sedikit ide yang kau tuang dalam karya, akan lebih berarti daripada seribu kata yang terucap"







Satu-satunya Alasan Mengapa Ada Waktu, Karena segala sesuatu tidak terjadi sekaligus (Albert Einstein)


.

Imajinasi lebih penting dari sekedar Ilmu Pengetahuan (Albert Einstein)



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



 
Wednesday, December 03, 2014
Hidup Hari Ini
Suatu hari menjelang sore setelah memberikan instruksi untuk siswa Pendidikan Dasar sebuah Mahasiswa Pecinta Alam dari kampus yang berada di Jalan Setiabudi, Bandung, kami berkumpul di saung yang dijadikan base camp instruktur. Seorang teman memulai pembicaraan yang menarik, "Tahun depan, kita tidak usah bikin perencanaan pendidikan dasar, langsung sebar formulir kemudian tahap kelas dan tahap lapangan. Orang-orang yang merencanakan pasti itu lagi, ke lapangan juga itu lagi, tinggal kader tiap pos agar tahun depannya mereka tidak ribet lagi bikin perencanaan". Sekilas perkataan itu seperti bercanda, maklum kalau ada waktu berkumpul, para panitia pasti menyegarkan suasana dengan guyon lucu. Guyonan ini biasanya muncul lagi kalau ada acara kumpul-kumpul anggota. Tak pernah bosan untuk mengulang cerita menyenangkan pada masa lalu. Nah, kata-kata teman saya itu kemudian saya maknai dikemudian hari. Ada benarnya semua kata-kata dia walaupun ada juga tidak benarnya. Saat itu semua instruktur rata-rata sudah melaksanakan pendidikan dasar minimal dalam jangka waktu 2 tahun. Dinamika di lapangan relatif datar karena semua sudah berjalan lancar dalam relnya masing-masing. Di sisi yang lain, ada semacam kekhawatiran menurunnya trend penerimaan anggota karena titik jenuh para anggota untuk membuat inovasi. Syukurnya ini tidak terjadi. Kegiatan organisasi tetap berjalan sebagaimana mestinya sampai hari ini. Seandainya saja semua tidak sadar dengan dinamika dan merasa sombong atas raihan saat itu, bisa jadi organisasi Mahasiswa Pecinta Alam itu sudah lenyap. Alam mengajarkan agar kita tidak sombong. Ini juga yang didengungkan kepada setiap siswa untuk terus semangat menyalakan harapan dalam diri agar bisa memberikan yang terbaik untuk lingkungan, untuk Indonesia. Hidup hari ini! Saat matahari tak mampu memberikan kehangatan pada tubuh kita, harapkanlah bintang yang memberikannya, jika bintangpun tak mampu, nyalakan kehangatan dari dalam diri sendiri kemudian pancarkan keluar agar orang di sekitarmu merasakan kehangatan akan hadirmu!

Posted at 10:37 pm by penakayu
Make a comment  

 
Wednesday, March 26, 2014
Tentang Malas Menulis
Setelah beberapa hari bahkan bulan saya tidak mengisi blog ini, akhirnya saya kembali mengisi blog ini. Catatan di sini sesuatu yang biasa saja. Mengalir sedemikian rupa sebagaimana adanya.

Mengisi keseharian dengan menulis itu penuh tantangan. Salah satu tantangan terbesar bagi saya adalah melawan kemalasan. Secara teori saya tahu betul bahwa malas itu adalah sumber penyakit kreativitas. Tetapi jika melihat di sisi lainnya, bisa jadi malas sebenarnya cara tubuh kita menyesuaikan diri dengan keadaan.

Jika terlalu dipaksakan juga mungkin hasilnya tidak maksimal. Oh iya, saya membaca buku tentang malas ini. Bagi beberapa orang, malas adalah alasan untuk bekerja dengan giat. Jika sudah menyelesaikan dengan cepat diawal, maka kita punya waktu untuk bermalas-malasan.

Bisa ada benarnya juga, mungkin saat malas itulah semua ide-ide baru muncul kepermukaan yang tidak muncul saat sibuk. Jadi tak usah khawatir saat kita malas. Termasuk saat ini ketika malas menulis, yah mengalir saja. Mau menulis, mangga. Mau berdiam diri juga, silahkan.


Posted at 12:04 pm by penakayu
Make a comment  

 
Thursday, July 25, 2013
Mengulik Tampilan
Sebenarnya saya tidak begitu suka mengutak-atik tampilan blog. Tetapi, tetapi, tetapi, ada seorang anak yang sangat rajin sekali mengubah tampilan blognya. 
Sebenarnya ketika pertama kali demam bloger, saya mencoba-coba banyak tampilan melalui berbagi media. Senangnya saat berhasil membuat sesuatu yang baru, berbeda, dan unik.
Sebenarnya, mengutak-atik HTML itu sudah saya kerjakan lama sekali. Tetapi setelah dunia instan merajalela, saya lebih memilih konten saja daripada tampilan. Tampilan cari yang instan, kemudian fokus di isi. Ingat selalu contens is king!
Sebenarnya tampilan itu sangat penting! Sama pentingnya dengan isi. Nah keduanya harus bisa berjalan beriringan. Dan yang sebenar-benarnya, hari ini saya senang karena bisa membuat hari menyenangkan.
http://idenide.blogspot.com/

Posted at 05:32 pm by penakayu
Make a comment  

 
Thursday, January 20, 2011
Buku Baja Ringan


Buku ini ditulis dengan pendekatan yang sederhana namun didukung oleh data teknis dan sarat pengalaman lapangan. Buku ini sangat cocok bagi anda sebagai panduan untuk memilih produk/kontraktor rangka atap baja ringan” (Joyce Soelistiowati – tabloid PROPERTI.BIZ)

Buku ini menawarkan berbagai macam pengalaman berguna, ini bisa membantu siapa saja yang berminat untuk mengerti seluk beluk dunia rangka atap baja ringan di Indonesia sekarang ini, para pembaca di ajak untuk pintar mengenai material bangunan yang sedang nge-trend dewasa ini” (Ir Rony Chandra - Aditama Mitra Perkasa. PT)


Membeli rangka atap baja ringan adalah membeli struktur, struktur yang terjamin kuat akan memberikan tingkat keamanan dan kenyamanan pembelinya. Karena itu pastikan bahwa konstruksi atap bangunan yang akan dibeli memenuhi kaidah struktur yang bisa dipertanggungjawabkan agar struktur rangka atap yang dibeli memberikan kenyamanan bagi costumer.

Tidak ada salah bagi anda yang hendak memasang rangka atap baja ringan untuk berkonsultasi lebih jauh dengan distributor atau aplikator baja ringan terlebih dahulu, jangan sampai beralasan hanya karena murah, berkesimpulan untuk membeli batangan. Alih-alih mencari harga murah malah resiko besar yang harus ditanggung. Konstruksi rangka atap rumah anda sangat vital peranannya dalam melindungi material dan properti dibawahnya.

Buku ini memberikan informasi tentang rangka atap baja ringan khususnya bagi para costumer yang hendak memasang rangka baja ringan untuk struktur atapnya dan umumnya bagi siapa saja yang tertarik dengan dinamika pekerjaan rangka atap baja ringan.

DETAIL

Judul : Rangka Atap Baja Ringan untuk Semua

ISBN : 978-602-8800-46-4

Penulis : Iden Wildensyah, M.Si

Cetakan Kesatu : Desember 2010

Halaman : 108 + viii

Berat : -

Dimensi : 15 x 21 cm

Harga Buku : Rp. 24.000,00

Posted at 10:38 pm by penakayu
Make a comment  

 
Tuesday, November 03, 2009
Dia
Dia yang tak kukenali
(sebuah cerita sangat pendek by Aku)

Aku mengirimkan surat ini untuk kamu, sebut saja Dia. Dia, sejak aku mengenalmu siang itu di sudut sebuah perpustakaan saat kamu bertanya tentang penelitian yang hendak kau lakukan. Tahukah kala itu aku tidak menyangka bahwa tatapan matamu menusuk jantungku. Tatapan yang membuat banyak interpretasi tetapi coba kunetralisir karena itu tatapan yang sengaja kita adukan agar kita tahu bagaimana jawaban yang jujur atas semua pertanyaan. Dia, ketika itu tidak banyak bertanya, justeru akulah yang bertanya tentang segala sesuatu. Termasuk juga buku yang hendak kamu ambil. Sebuah buku yang menurutku sudah sangat kuno, tetapi bagimu buku itu adalah buku modern yang pemikirannya melampaui zaman saat penulisnya menyusun kata demi kata hingga menjadi sebuah buku.

Dia saat itu terlihat begitu manis dengan baju berwarna putih berenda, kerudung putih dan celana hitam. Aku memandangi sekilas saja, karena fokus pembicaraan siang itu menarik untuk diungkapkan. Materi tentang kehidupan serta dunia yang menyelimutinya. Dinamika yang senantia merundung kehidupan agar manusia berpikir. Dan Dia, kamu hadir dalam hatiku siang itu. Ah.. Sudahlah Dia, kamu tak perlu berlama-lama singgah karena kamu hanya butuh bertanya, tidak butuh aku untuk menemanimu menulis.

Disudut perpustakaan itu perkenalan bermula, tak kusangka walau hanya sekejap tetapi kesan itu mendalam. Dia memandangi setiap rak buku yang ada didepannya. Dia tidak melihat katalog atau bertanya pada petugas, dia menjelajahi setiap jajar buku. Kulihat sebentar disela-sela membaca buku, Dia girang, sepertinya menemukan buku yang dicari. Dia mencari tempat yang nyaman untuk membaca. Dia menengok kearahku, disamping meja tempat dudukku ada sebuah kursi kosong, Dia duduk didekatku. Tidak berbicara, Dia hanya membaca begitu juga aku. Tak kupedulikan Dia berada disampingku. Aku acuh saja, meneruskan membaca sama seperti Dia belum datang bertanya tentang sebuah buku.

Dia begitu asik membaca lembar perlembar buku yang ditemukan disalahsatu jajar buku perpustakaan. Kadang menulis, kadang tersenyum.. Senyumnya yang manis. Kulirik sebentar dan kuteruskan membaca. Dia masih membaca, aku tak bertanya apapun begitu juga Dia. Sejenak Dia menghentikan bacaan, melemparkan tatapannya padaku. Tetap pada saat Dia melemparkan tatapannya, kita beradu pandang. Seperti ada yang dipikirkan, Dia berkerut dan bertanya tentang sesuatu. Kukatakan tidak tahu, kusuruh Dia meneruskan dulu membaca buku itu dan baru berdiskusi. Dia terlihat kecewa, tetapi dengan cepat mengalihkan perhatiannya pada buku yang kini ada dalam pegangannya.

Hampir 4 jam aku dan Dia berada ditempat yang sama, membisu dan tenggelam dalam buku masing-masing. Dia kulihat sejenak sedang membereskan buku catatannya. Dia beranjak pergi dengan sebuah senyuman dan kata pamitan.
Dia sudah pergi meninggalkan aku sendirian di sudut itu, Dia yang tak kukenal namanya kini tidak pernah muncul lagi diperpustakaan itu. Dia hanya satu kali saja bertemu aku disuatu siang menuju sore yang berkesan.

Dia, ini suratku untukmu jika tak sempat kau baca, simpan saja.. Aku tidak tahu kemana harus kukirimkan surat ini. Dia menghilang begitu saja, aku mengenalmu walaupun sebentar saja tetapi Dia, masih kubayangkan raut wajahmu, senyum manismu. Dia adalah aku.

Posted at 09:18 am by penakayu
Make a comment  

 
Monday, November 02, 2009
dari Kompas
Ekowisata di Tangkubanparahu

Rabu, 21 Oktober 2009 | 15:03 WIB

Oleh IDEN WILDENSYAH

Belakangan ini berkembang isu tentang kawasan Tangkubanparahu yang hendak dikelola swasta. Terjadi pertentangan karena ada perbedaan kepentingan antara pencinta lingkungan dan pengelola.

Dalam Warta Kehati, pengelolaan ekowisata bisa berjalan lancar jika ada kerja sama kantor pariwisata dan badan-badan manajemen sumber daya alam, khususnya yang membidangi hutan dan taman nasional, serta lembaga swadaya masyarakat, khususnya yang bergerak di bidang lingkungan hidup, usaha kecil, dan pengembangan masyarakat tradisional.

Kerja sama juga harus terjalin dengan industri pariwisata yang mapan, khususnya operator perjalanan, universitas dan lembaga penelitian, kelompok masyarakat, organisasi internasional, lembaga penyandang dana baik pemerintah maupun nonpemerintah, organisasi budaya, dan lain-lain.

Pengelola ekowisata harus mengupayakan akses untuk kesetaraan partisipasi sejak proyek dimulai. Kalau tidak, keberhasilan proyek tersebut akan terhambat di belakang hari. Bisa jadi pertentangan serupa terjadi karena pihak pengelola sudah merasa melakukan, tetapi tidak maksimal.

Pengertian ekowisata berakar dari pengertian ecotourism. Menurut Wikipedia, ekowisata adalah salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, pemberdayaan sosial budaya, ekonomi masyarakat lokal, serta pembelajaran dan pendidikan.

Ekowisata dapat dipahami sebagai perjalanan yang disengaja ke kawasan-kawasan alamiah untuk memahami budaya dan sejarah lingkungan tersebut sambil menjaga agar keutuhan kawasan tidak berubah dan menghasilkan peluang untuk pendapatan masyarakat sekitarnya. Jadi, mereka merasakan manfaat dari upaya pelestarian sumber daya alam.

Dampak negatif

Ada banyak definisi ekowisata yang diberikan oleh organisasi, kelompok, ataupun individu yang bergelut di bidang ekowisata. The International Ecotourism Society mendefinisikan ekowisata sebagai perjalanan yang bertanggung jawab ke daerah-daerah alami yang melindungi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat.

Semiloka dan Simposium Ecotourism (April 1995) dalam Sudarto (1999) memberi pengertian ekowisata sebagai kegiatan perjalanan wisata yang bertanggung jawab ke/di daerah-daerah yang masih alami atau daerah-daerah yang dikelola dengan kaidah alam. Tujuannya, selain menikmati keindahan, juga melibatkan unsur penduduk, pemahaman, serta daya dukung terhadap usaha-usaha konservasi alam dan peningkatan pendapatan masyarakat sekitar daerah tujuan ekowisata.

Di samping memiliki dampak positif bagi konservasi, pendidikan, dan ekonomi, ekowisata juga memiliki dampak negatif. Sumber dampak dari aktivitas wisata, menurut Siti Nuraini dalam prosiding Lokakarya Karakteristik Permasalahan Wisata Alam di TNGP, terbagi menjadi tiga faktor, yaitu pengunjung, fasilitas, dan tata letak.

Sumber dampak lingkungan akibat pengunjung yang terlihat langsung memang adalah pengunjung. Pengunjunglah yang terlihat secara langsung membuang sampah atau menimbulkan kerusakan kawasan. Dalam proses pemetaan masalah, dibahas hal-hal yang menyebabkan keberadaan pengunjung yang cenderung menimbulkan kerusakan lingkungan.

Pembahasan itu memperlihatkan dua penyebab besar, yaitu karakteristik pengunjung yang tidak kompatibel dengan tujuan-tujuan konservasi dan jumlah pengunjung yang melebihi kapasitas. Kedua penyebab tersebut kemudian diperparah dengan kelemahan proses penegakan peraturan pengunjung.

Sementara dampak lingkungan akibat fasilitas sering kali terpusat pada perilaku pengunjung. Padahal, ternyata fasilitas adalah kontributor kerusakan lingkungan. Keberadaan fasilitas sebenarnya memang ditujukan untuk menyerap dampak lingkungan pengunjung. Akan tetapi, kesalahan penempatan, desain, dan pembangunannya justru menyebabkan kerusakan lingkungan yang lebih parah. Semua masalah ini menunjukkan bahwa perancang fasilitas kurang memahami desain yang berwawasan lingkungan dan kajian mengenai dampak lingkungan itu sendiri kurang dilakukan secara serius.

Dampak lingkungan akibat tata letak (site plan) merupakan awal dari permasalahan. Banyak sekali permasalahan di lokasi ekowisata, baik yang terkait dengan pengunjung maupun fasilitas, dapat ditelusuri pangkalnya dari permasalahan tata letak. Persoalan yang umum terjadi adalah penempatan fasilitas yang berdekatan dengan daerah peka.

Kerusakan alam

Keberhasilan ekowisata sangat bergantung pada usaha penyadaran semua pihak terkait, terutama penduduk setempat dan petugas pemerintah daerah yang bersangkutan. Ekowisata tidak hanya perlu memberikan fasilitas kepada wisatawan untuk menikmati pemandangan alam yang indah dari kejauhan. Namun, ekowisata juga harus memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi pengunjung untuk tinggal nyaman di tengah lingkungan yang indah itu untuk sementara waktu agar memperoleh kesan mendalam tentang lingkungan setempat.

Perencanaan dan pengelolaan yang terintegrasi memungkinkan ekowisata menjadi salah satu alternatif pengelolaan sumber daya hutan dengan meminimalisasi dampak negatifnya. Di dua sisi yang berlawanan, ekowisata yang bertujuan menarik wisatawan sebanyak-banyak untuk mendapatkan pemasukan maksimal hendaknya memerhatikan aspek perlindungan terhadap faktor keseimbangan alam dan ekosistem setempat. Dengan demikian, tidak terjadi ketimpangan antara hasil dan dampak yang terjadi di kawasan ekowisata tersebut.

Ekowisata Tangkubanparahu, jika diperhatikan serta dikelola dengan baik, bisa jadi akan menjadi solusi untuk meningkatkan perekonomian daerah. Namun, jika pengelolaannya tidak memerhatikan hal-hal negatif tersebut, jangan berharap ekowisata mendatangkan keuntungan. Bisa jadi malah kerusakan alam yang akan terjadi. IDEN WILDENSYAH Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan Unpad


Posted at 03:45 pm by penakayu
Make a comment  

Saya dan Bulletin Wanadri
"Hati yang penuh syukur, bukan saja merupakan kebajikan yang terbesar, melainkan merupakan pula induk segala kebajikan yang lain." - Cicero

photo by stephenlangitan.com
Jika ada satu majalah yang berjasa dalam membuat saya gemar menulis, maka majalah itu bernama Bulletin Wanadri. Saya tidak bisa dipisahkan dari Bulletin Wanadri, saya mengenalnya ketika kuliah di Setiabudi 207 Bandung. dalam setiap bulan terbitnya Bulletin Wanadri selalu saya tunggu, selain mendapatkan banyak hal yang bermakna dari isi dan cerita seputar petualangan alam terbuka, saya juga mendapatkan semangat untuk menulis dari kehadiran Bulletin Wanadri (selanjutnya disebut BW).

Format BW yang awal saya kenali sungguh berbeda, dari tampilan muka, logo sampai isi. nilai perbedaan ini yang membuat saya sangat loyal menjadi pembaca setia BW. jenis tulisan Satcacao yang saya kenali dari sampul muka ini memberi kesan tersendiri. Jenis huruf ini seolah menjadi trade mark BW. ketika format huruf ini di ganti, saya merasakan sesuatu yang berbeda. saya merasa kehilangan identitas BW yang saya kenal selama itu. BW mengganti format mendekati karakter National Geoghrapic. Saya menyayangkan karena jika National Geoghrapic (NG) terbit edisi Indonesia, habislah BW. dan betul saja, dugaan saya tidak meleset, NG terbit versi Indonesia. BW harusnya kembali ke format karakter awal yang saya anggap sebagai trade mark-nya BW.

Selain karena kegemaran saya membaca, kehadiran BW saya nantikan dengan penuh harap tulisan saya muncul. Pada mulanya hanya berita seputar perkumpulan pecinta alam saja yang saya tulis dan kirimkan ke BW. Ada semacam kebanggaan tersendiri ketika saya melihat tulisan saya muncul di BW. Saya menulis opini dirubrik Kolom Bebas, selebihnya saya menulis tentang banyak hal yang berhubungan dengan masalah pecinta alam dan lingkungan. Alhasil dari keseringan berkirim artikel, saya bisa berkenalan secara langsung dengan jajaran redaksi BW, beberapa orang saya kenal sangat baik dalam menjaga nilai pertemanan, saya mengenal Haris, Galih Donikara, Antonius Satya, Jejen, dan banyak lagi (Saya memanggil dengan Kang Haris, Kang Galih, Kang Anton dll sebagai bentuk hormat saya pada mereka).

Saya belajar banyak dari perkenalan dengan dewan redaksi BW, mereka memang orang besar dengan pengalaman yang mumpuni dibidang kegiatan alam terbuka. Saya bersyukur mengenal mereka dari BW. kini setelah hampir satu tahun, saya merasa kehilangan BW. saya merindukannya seperti merindukan kehadiran seorang yang sudah lama tidak berjumpa. Saya yakin suatu saat nanti BW akan muncul lagi dengan saya bisa berkontribusi untuk dunia kepecintaalaman Indonesia.

Saya bersyukur karenaMu!

Posted at 02:44 pm by penakayu
Make a comment  

catatan kecil untuk Madina
''Tuhan memang tidak pernah menjanjikan dunia yang dipenuhi kebun bunga mawar''. Allah memang tidak pernah menyatakan bahwa tujuan baik akan dapat dicapai dengan mudah. Kami akan terus berjalan. Mudah-mudahan ini bukan titik. Cuma tanda koma dengan sekian panjang kelanjutan. -- Pengantar Redaksi Madina di Edisi 20--

Sekarang edisi 20 bulan september 09 berarti pertama kali beli bulan Februari 08. Yah.. Saya pertama kali membaca majalah Madina adalah bulan februari 2008. Saya mengingat waktu itu istri saya yang membeli. Saya membaca karena saya merasa majalah yang sudah dibeli, sayang kalau tidak dibaca. Saya menyukai Madina bukan karena masalah yang dikajinya adalah islam, lebih dari itu Madina menampilkan islam yang damai, islam yang universal dengan tidak mengurangi kekritisan terhadap dunia barat.
Madina menampilkan gaya bahasa yang lugas dan enak dibaca. Banyak masalah dunia kontemporer yang dikaji secara mendalam oleh penulis-penulis Madina. Tentang islam yang mengakui keberagaman juga tentang sosok-sosok pembawa islam damai.
Madina bisa dijadikan corong alternatif bagi media islam untuk tetap kritis tetapi tetap menghargai pluralitas bangsa. Tanpa harus mengakui sebagai pemikiran yang paling benar dan menganggap pemikiran diluar golongan mereka itu salah. Banyak hal yang tidak terduga. Banyak informasi yang terbuka di Madina yang tidak di muat di media lainnya. Misalnya tentang Amina Wadud, Madina menampilkan sosok kontroversi ini dalam kadar yang baik. Maksudnya tidak menonjolkan seolah-olah pendukung Amina Wadud tetapi juga tidak sebagai penentang. Dikala media lain tidak begitu mendalam mengupas pemikiran Amina Wadud, Madina mampu memberikan semacam percikan bagi pembaca untuk memikirkan setiap ulasan-ulasan wawancara dengan Amina Wadud.
Selain itu, saya masih ingat ketika membaca salahsatu artikel Madina yang membahas tentang kedatangan MU. Ya MU akan datang tetapi benarkah MU akan memberikan manfaat bagi bangsa ini, jangan-jangan kedatangan MU hanya sebagai alasan untuk menutupi hal yang lebih penting untuk dipikirkan bangsa ini. Apalah artinya uang milyaran rupiah untuk mendatangkan MU kalau ternyata masih banyak warga negara yang kelaparan.
Masih banyak lagi tema-tema menarik seperti plus minus sekolah islam, saya membaca ini membukakan mata bahwa sekolah label islam pun tetap saja ada plus minusnya. Rasanya ini sangat bermanfaat bagi mereka yang hendak menyekolahkan anaknya ke sekolah islam.
Madina memberikan warna tersendiri bagi saya sebagai orang islam. Tentang arti hormat menghormati sesama manusia juga tentang keberagaman yang sudah semakin dipersempit dengan isu-isu yang tidak penting hingga merasa golongannya paling benar dan diluar golongan mereka itu salah. Cap seperti itu menurut saya yang membuat islam seolah dekat dengan kekerasan, padahal sebenarnya ada islam yang damai. Islam adalah rahmatan lil alamin.
Sayang memang, edisi ke 20 bulan september kemarin adalah edisi terakhir. Sangat disayangkan memang, tetapi itulah realita yang harus diterima dengan lapang dada. Semoga saja lahir media seperti Madina, yang universal dan menyegarkan.
Saya bersyukur pernah mengirimkan tulisan lebih tepatnya salahsatu catatan di facebook ini walaupun hanya mengisi kolom dari pembaca. Saya bersyukur karena sudah turut serta mewarnai Madina.

Madina ''Terbuka, bijak, mencerahkan''

Posted at 02:43 pm by penakayu
Make a comment  

 
Sunday, August 24, 2008
dari Majalah Techno Konstruksi

Benarkah Baja Ringan Ramah Lingkungan?

Oleh Iden Wildensyah*

Baja ringan adalah baja canai dingin yang keras yang diproses kembali komposisi atom dan molekulnya, sehingga menjadi baja yang lebih fleksibel. Saat ini baja ringan menjadi material bangunan yang sedang trend, rangka atap baja ringan lebih dominan terkenal dibanding material baja ringan untuk struktur lainnya. Hal ini karena gencarnya iklan-iklan yang menawarkan produk rangka atap baja ringan menggantikan rangka atap dari material kayu. Mengingat kayu semakin hari semakin langka juga karena harga kayu yang relatif mahal, maka pemilihan material rangka atap baja ringan menjadi satu pilihan para kontraktor atau owner dalam membangun rumah. Selain karena faktor keawetan dan tahan rayap dan karat, rangka atap baja ringan mempunyai kelebihan yaitu kekuatan struktur yang lebih bagus, seperti lebih kuat, lebih kaku dibanding konstruksi kayu.

Disamping itu kemudahan dalam mendapatkan, kecepatan pemasangan, dan struktur yang kuat membuat rangka atap baja ringan terkenal. Teknologi dalam perencanaan dan pemasangan rangka atap baja ringan beragam sesuai dengan profil dari elemen kuda-kuda itu sendiri. Profil kuda-kuda rangka atap baja ringan yang beredar di pasaran terdiri dari C, Z, hollow dan UK atau profil Omega atau HAT. Tiap profil memiliki kelebihan-kelebihan serta perbedaan prinsip dalam dalam pemasangannya.

Elemen dasar Baja Ringan

Bahan dasar baja ringan adalah Carbon Steel, Carbon Steel adalah baja yang terdiri dari elemen-elemen yang prosentase maksimum selain bajanya sebagai berikut: 1.70% Carbon, 1.65% Manganese, 0.60% Silicon, 0.60% Copper. Carbon adalah unsur kimia dengan nomor atom 6, tingkat oksidasi 4.2 dan Mangan adalah unsur kimia dengan nomor atom 25, tingkat oksidasi 7.6423. Carbon dan Manganese adalah bahan pokok untuk meninggikan tegangan (strength) dari baja murni. Penambahan prosentase Carbon akan mempertinggi Yield Stress tetapi akan mengurangi daktilitas.

Rangka atap baja ringan yang diproduksi di Indonesia menggunakan bahan dasar baja dengan kekuatan G-550 Mpa atau setara dengan 5500 Megapascal sesuai standar AISI (American Iron and Steell Institute). Adapun coating (pelapis/pelindung) baja ringan dari karat yang beredar adalah zinc/galvanis, zincalume, dan zincalume dengan penambahan magnesium. Lapisan coating ini melindungi bahan dasar baja ringan dari karat.

Baja Ringan Ramah Lingkungan

Baja ringan diklaim memiliki sifat yang ramah lingkungan, karena menggunakan material yang bisa mengurangi pembalakan liar (illegal logging). Tidak jarang juga kita menemui brosur rangka atap baja ringan dengan kode ekolabel atau ramah lingkungan, label yang menjelaskan produk yang dijual adalah ramah terhadap lingkungan. Namun apakah benar ramah lingkungan? Untuk mengetahui hal itu, baiknya kita ketahui produk yang berlabel ramah lingkungan atau ekolabel.

Dalam situs Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia (www.menlh.go.id) dilansir bahwa Ekolabel merupakan salah satu sarana penyampaian informasi yang akurat,‘verifiable’ dan tidak menyesatkan kepada konsumen mengenai aspek lingkungan dari suatu produk (barang atau jasa), komponen atau kemasannya. Pemberian informasi tersebut pada umumnya bertujuan untuk mendorong permintaan dan penawaran produk ramah lingkungan di pasar yang juga mendorong perbaikan lingkungan secara berkelanjutan.

Ekolabel dapat berupa simbol, label atau pernyataan yang diterakan pada produk atau kemasan produk, atau pada informasi produk, buletin teknis, iklan, publikasi, pemasaran, media internet. Selain itu, informasi yang disampaikan dapat pula lebih lengkap dan mengandung informasi kuantitatif untuk aspek lingkungan tertentu yang terkait dengan produk tersebut. Ekolabel dapat dibuat oleh produsen, importir, distributor, pengusaha ‘retail’ atau pihak manapun yang mungkin memperoleh manfaat dari hal tersebut.

Tujuan dan Manfaat Ekolabel

Ekolabel dapat dimanfaatkan untuk mendorong konsumen agar memilih produk-produk yang memberikan dampak lingkungan yang lebih kecil dibandingkan produk lain yang sejenis. Penerapan ekolabel oleh para pelaku usaha dapat mendorong inovasi industri yang berwawasan lingkungan. Selain itu, ekolabel dapat memberikan citra yang positif bagi ‘brand’ produk maupun perusahaan yang memproduksi dan/atau mengedarkannya di pasar, yang sekaligus menjadi investasi bagi peningkatan daya saing di pasar.

Bagi konsumen, manfaat dari penerapan ekolabel adalah konsumen dapat memperoleh informasi mengenai dampak lingkungan dari produk yang akan dibeli/digunakannya. Karena kepentingan tersebut, konsumen juga memiliki kesempatan untuk berperan serta dalam penerapan ekolabel dengan memberikan masukan dalam pemilihan kategori produk dan kriteria ekolabel. Penyediaan ekolabel bagi konsumen juga akan meningkatkan kepedulian dan kesadaran konsumen bahwa pengambilan keputusan dalam pemilihan produk tidak perlu hanya ditentukan oleh harga dan mutu saja, namun juga oleh faktor pertimbangan lingkungan.

Prinsip – Prinsip Ekolabel

Produk yang diberi ekolabel selayaknya adalah produk yang dalam daur hidupnya mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, pendistribusian, penggunaan, dan pembuangan setelah penggunaan, memberi dampak lingkungan relatif lebih kecil dibandingkan produk lain yang sejenis. Ekolabel akan memberikan informasi kepada konsumen mengenai dampak lingkungan yang ada dalam suatu produk tertentu yang membedakannya dengan produk lain yang sejenis.

Ukuran keberhasilan ekolabel dapat dilihat dari adanya perbaikan kualitas lingkungan yang dapat dikaitkan langsung dengan produksi maupun produk yang telah mendapat ekolabel. Selain itu, tingkat peran serta dari kalangan pelaku usaha dalam menerapkan ekolabel juga menjadi indikator penting keberhasilan ekolabel.

Selain melihat bahan baku, sejumlah akolabel yang diberlakukan suatu negara (buyers) juga memerhatikan proses pembuatan serta kemampuan produk tersebut didaur ulang. Setiap ekolabel itu ada kriteria masing-masing. Bahkan, jenis bahan bakar apa yang digunakan serta proses limbahnya diolah seperti apa juga menjadi pertimbangan buyer membeli sebuah produk.

Penutup

Pemikiran tentang ramah lingkungan, ataupun recyclibility dalam penggunaan material baja ringan harus dipertegas kembali. Hendaknya setiap produsen dapat menjelaskan kepada konsumen tentang konsep tersebut, apakah karena material yang tidak akan menyisakan sampah? Atau bahan-bahan sisa yang bisa di recycle menjadi bahan lain yang berguna?

Walaupun demikian Jika di telusuri lebih jauh, secara umum baja ringan mungkin saja bisa mengurangi pembalakan liar karena bisa meminimalisir bahkan cenderung menghilangkan penggunaan material kayu dalam konstruksinya. Tapi sesuai dengan prinsip ekolabel bahwa produk yang diberi ekolabel selayaknya adalah produk yang dalam daur hidupnya mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, pendistribusian, penggunaan, dan pembuangan setelah penggunaan, memberi dampak lingkungan relatif lebih kecil dibandingkan produk lain yang sejenis. Mudah-mudahan saja baja ringan menjadi alternatif penggunaan material bangunan masa depan yang lebih bisa diterima lingkungan karena daur hidupnya yang memberikan dampak yang kecil.

(Iden Wildensyah adalah Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan, Unpad. Bekerja di Konstruksi Rangka Atap Baja Ringan di Bandung)

Posted at 08:35 pm by penakayu
Make a comment  

 
Thursday, June 19, 2008
dari PSMIL II

RINGKASAN[1]

“ Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan dalam Konsep Pembangunan Berkelanjutan”

Oleh IDEN WILDENSYAH[2]

Pembangunan ekonomi di beberapa negara telah berhasil menaikan taraf hidup masyarakat pada umumnya. Ilmu ekonomi dengan rangkaian teori yang dilahirkan telah memainkan peranan penting dalam membentuk alur pemikiran dan intuisi para perencana ekonomi. Namun bersamaan dengan kemajuan ekonomi timbul beberapa masalah dan dampak lingkungan hidup. Sumberdaya yang semakin menipis dan munculnya berbagai jenis pencemaran mulai dianggap menghambat kemajuan ekonomi.

Lingkungan hidup berkaitan erat dengan kegiatan ekonomi dibidang produksi, konsumsi dan distribusi. Seiring dengan hal itu maka terjadi kekuatiran bahwa kualitas dan kuantitas sumberdaya menurun akibat kegiatan ekonomi yang dikhawatirkan dapat mengancam kelangsungan kemajuan ekonomi pada tahap berikutnya.

Maka dibutuhkan perangkat tolak ukur untung rugi dari berbagai kegiatan yang mempunyai dampak terhadap lingkungan. Memperhitungkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh langkah perlindungan dan pengendalian juga merupakan bagian penting dari kajian untuk pengembangan suatu proyek. Jadi masalah lingkungan dan penggunaan sumberdaya alam sudah sepatutnya dipandang lebih sebagai persoalan ilmu ekonomi daripada persoalan moral.

Kriteria Dasar Ekonomi

-         Kepuasan (utility). Konsep pareto optimum mengatakan bahwa sementara orang ingin mencapai kepuasan sebesar-besarnya, kondisi yang tercapai harus menunjukan bahwa memberikan manfaat pada satu orang atau kelompok masyarakat tanpa merugikan orang lain.

-         Produktivitas, konsep ini mirip dengan konsep kepuasan; keduanya menyangkut suatu tingkat maksimum yang hendak dicapai masyarakat. Namun, konsep produktivitas memusatkan  perhatian pada hasil yang diukur (kardinal), yakni barang dan jasa, termasuk mutu lingkungan. Hubungan antara efisiensi dalam konsep produktivitas dan pareto-optimum memang tidak sederhana.  Jika setiap orang ingin segalanya dalam jumlah yang banyak, suatu perekonomian tidak dapat berjalan secara pareto-optimal kecuali jika benar-benar efisien dalam melakukan produksi. Kita tidak akan bisa memilih antara dua titik pada garis kemungkinan produksi kecuali jika ada tolok ukur nilai maksimum barang dan jasa yang dihasilkan suatu masyarakat (misalnya produk domestik bruto, PDB menurut harga pasar tertentu)

-         Dalam dua kriteria yang dibahas sejauh ini, soal pemerataan atau distribusi tidak dibahas secara eksplisit, jika kita amati secara mendalam, dalam proses pengambilan keputusan ekonomi yang menyangkut masalah lingkungan, persoalan alokasi biaya perlindungan dan distribusi manfaat bagi beberapa kelompok masyarakat yang berbeda akan selalu muncul. Pada umumnya, menghitung dan menentukan alokasi biaya tidak terlalu sulit dibandingkan dengan memperkirakan besaran serta distribusi manfaat.

Ekonomi Pencemaran

Ilmu ekonomi telah mempunyai beberapa konsep dan peralatan analisis untuk mendekati persoalan polusi. Salahsatu yang dikenal adalah analisis manfaat-biaya dimana konsep compensating variation (CV) dan equivalent variation (EV) biasanya dibicarakan melalui topik yang menyangkut surplus konsumen (CS).

Dalam ilmu ekonomi, konsep tentang harga bayangan (shadow price) dan eksternalitas juga sangat relevan untuk analisis manfaat-biaya suatu masalah polusi. Harga bayangan diperlukan untuk mengatasi keadaan dimana harga pasar tidak dapat diperoleh.

Seringkali dijumpai kesulitan untuk mengukur eksternalitas, baik kerugian eksternalitas, misalnya kerusakan lingkungan seperti polusi air, polusi zat kimia dan polusi udara yang ditimbulkan oleh suatu proyek, maupun keuntungan eksternal seperti misalnya akses terhadap pemandangan alam dan mutu pelayanan yang meningkat karena adanya suatu proyek.

Optimisasi dalam Ekonomi Sumberdaya

Pengikisan sumberdaya sering diinterpretasikan secara sederhana bahwa perekonomian akan kehabisan sumberdaya, terutama sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui (Non renewable) dan bila hal ini berlangsung maka akan terjadi bencana bagi kemakmuran manusia. Pemikiran yang sederhana ini bukan saja tidak tepat tetapi juga akan menghambat usaha pembangunan dan pertumbuhan ekonomi termasuk pola yang mengikuti konsep pembangunan berkelanjutan.

Dalam ilmu ekonomi tersedia alat analisis untuk mengatasi masalah semacam ini. Pertanyaan relevan yang menyangkut trade off antarwaktu-antargenerasi ialah: apakah mungkin suatu pola pengikisan yang dianggap efisien dari kacamata generasi sekarang dapat menyisakan sumberdaya sedikit atau bahkan tidak sama sekali untuk generasi yang akan datang? Perlu dicatat bahwa mengoptimalkan tingkat pengikisan sumberdaya juga berarti memaksimumkan present value (PV) sumberdaya tersebut. Dalam terminologi ekonomi, pemecahan masalah semacam ini umumnya menyangkut perhitungan social discounting rate (SDR). SDR ini perlu hitung dalam menentukan penggunaan sumberdaya alam secara optimal.

Menurut Solow dalam kerangka model dua faktor mengatakan bahwa tingkat konsumsi yang bisa dipertahankan sampai waktu tak terhingga dapat dicapai bila salah satu dari kondisi berikut dipenuhi: (1)  elastisitas substitusi antara sumberdaya dengan modal lebih besar dari satu (sangat elastis). (2) elastisitas tersebut sebesar satu namun kontribusi modal lebih besar dari kontribusi sumberdaya; (3) apabila terjadi perubahan teknologi.

Untuk kasus sumberdaya yang renewable (dapat diperbaharui) asumsi awal yang dipakai adalah ”kaidah pertumbuhan alami” (natural growth law). Lingkungan hidup memiliki suatu ambang batas dalam jumlah stok atau populasi yang dapat ditunjang. Bila jumlah stok mendekati ambang batas tersebut, pertumbuhan akan melambat dan akhirnya berhenti. Batas ini akan dicapai bila penggunaan stok sumberdaya tidak lagi akan menghasilkan pertumbuhan, atau bila penggunaan stok secara kumulatif mendekati tingkat maksimum.

Konsep Kelangkaan Sumberdaya

Dari berbagai studi tentang kelangkaan sumber mineral belum dipastikan apakah sumberdaya di bumi secara ekonomis memang langka. Perbaikan pada beberapa faktor berikut akan mempengaruhi hasil penemuan diatas: perubahan teknologi, penyempurnaan proses produksi dan transportasi, penemuan deposit baru, skala ekonomi, dan faktor substitusi. Dua kasus energi (1974 dan 1979) cenderung mengukuhkan pendapata bahwa sumberdaya di bumi ini makin langka. Dalam diagram titik A mendekat dimana basis sumberdaya akan menciut, oleh karena itu tidaklah mengherankan bahwa para ahli secara terus menerus aktif mencari substitusi sumberdaya, mencoba menemukan proses produksi yang hemat sumbedaya dan melihat kemungkinan hasil substitusi hasil, yang berarti akan lebih banyak jumlah produksi dan konsumsi barang dan jasa yang berciri hemat sumberdaya.

Simpulan

Hanya dengan sedikit pengecualian, ekonom cenderung memperlakukan degradasi lingkungan sebagai kegagalan pasar (market failure). Bagi ekonom semacam ini fungsi lingkungan adalah untuk memasok barang alami seperti keindahan lanskap, menyediakan sumberdaya alam yang diperlukan untuk menghasilkan barang ekonomi atau memasok tempat sampah bagi pembuangan produk sampingan dari limbah hasil kegiatan ekonomi Sampai batas tertentu bahkan konsep dan peralatan analisis ilmu ekonomi mampu membantu menemukan solusi dari setiap persoalan.

Mengabaikan faktor lingkungan akan menimbulkan suatu bencana terutama dilihat dari sudut konsep pembangunan berkelanjutan. Studi multidisiplin secara kolaboratif (dengan ilmuwan dari disiplin lain) jelas sangat diperlukan.

Komentar

Pemaparan Iwan Jaya Azis ini sangat mendasar terutama dalam konsep yang di tuliskannya, ini menjadi bagian penting dalam mensosialisasikan pemahaman tentang hubungan antara ekonomi dan sumberdaya lingkungan. Ada benang merah yang bisa ditarik dimana keduanya terdapat kesalingtergantungan satu sama lain. Ekonomi dibutuhkan untuk meningkatkan pertumbuhan dan lingkungan dibutuhkan untuk mendukung sumberdaya tetapi keberadaan sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui menjadi masalah tersendiri karena berhubungan dengan harga. Logikanyanya harga akan naik bila sumberdaya sedikit dan permintaan banyak. Sementara sumberdaya yang terus menipis dan pemintaan semakin banyak maka seiring dengan itu harga pun akan mengalami kenaikan yang signifikan.

Bila di telaah penurunan kualitas lingkungan disebabkan oleh dua faktor yaitu disebakan oleh meningkatnya kebutuhan ekonomi (economic requirement) dan gagalnya kebijakan yang diterapkan (policy failure). Peningkatan kebutuhan yang tak terbatas sering membuat tekanan yang besar terhadap lingkungan dan sumberdaya yang ada, suatu contoh kebutuhan akan ketersediaan kayu yang memaksa kita untuk menebang hutan secara berlebihan dan terjadinya tebang terlarang (illegal loging), kebutuhan transportasi untuk mobilitas dan mendukung laju perekonomian juga sering menimbulkan dampak terhadap kerusakan lingkungan seperti pencemaran udara, dan kejadian dilaut dimana akibat kebutuhan ekonomi memaksa nelayan melakukan kegiatan tangkap berlebih (over fishing). oleh karena itu percepatan pembangunan ekonomi sudah selayaknya di barengi dengan ketersediaan sumberdaya dan lingkungan yang lestari.

Di makalah ini Iwan Jaya Azis menuliskan beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menekan konsumsi berlebihan yang ditakutkan terjadi kelangkaan dengan mengikuti konsep Solow yang mengatakan bahwa tingkat konsumsi yang bisa dipertahankan sampai waktu tak terhingga dapat dicapai bila salah satu dari kondisi berikut dipenuhi: (1)  elastisitas substitusi antara sumberdaya dengan modal lebih besar dari satu (sangat elastis). (2) elastisitas tersebut sebesar satu namun kontribusi modal lebih besar dari kontribusi sumberdaya; (3) apabila terjadi perubahan teknologi.

Makalah yang ditulis pada masa orde baru ini masih relevan untuk kondisi saat ini, perbedaannya hanya pada masa itu subsidi terhadap pertamina masih besar maka paparan iwan tentang energi tidak begitu mendalam, hanya menuliskan dua kejadian pada tahun 1974 dan 1979. padahal kejadian pada masa orde barulah yang membuat kondisi kenaikan harga ini tidak dipahami sebagai sebuah keharusan dan tentunya kritik terhadap pembangunan berkelanjutan versi ekonom pun tidak dimunculkan. Karena semangat orde baru tahun dipublikasikan makalah ini masih sangat kental.

Untuk pegangan serta dasar bagi pengantar ilmu ekonomi sumberdaya dan lingkungan makalah ini bisa menjadi sebuah percikan bagi pengembangan wacana selanjutnya. Terutama sebagai perbandingan 2 periode kekuasan (orde baru, orde reformasi). Tidak ada salah juga menjadi pembanding untuk makalah serupa yang membahas tentang konsep-konsep renewable dan non renewable. Hanya saja pemaparan tentang sumberdaya energi sudah tidak relevan lagi kondisi saat ini. Karena perbedaan kondisi antara tahun 1980-1990 dengan tahun 2000 – kini.



[1] dari Makalah Iwan Jaya Azis (Staf Pengajar FE – UI) yang disampaikan pada seminar AISEC: sustainable development, diresume dari jurnal PRISMA edisi Januari 1991 penerbit LP3ES, Jakarta

[2] Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Unpad. NPM 250320070012


Posted at 11:35 pm by penakayu
Comment (1)  

Next Page