“Tentang PA: Kemarin. Hari ini dan Esok…..”
oleh : Wilianita Selviana
“Not Having but being'', Simple
in mean but rich in end and values, High quality of life, yes! high
standard living maybe yes maybe no''
Tentang PA,
kemarin….
Permasalahan
lingkungan bukan semata-mata persoalan moral namun juga krisis moral secara
global. Menurut Arne Naess, krisis lingkungan yang terjadi hanya bisa diatasi
dengan melakukan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam yang
fundamental dan radikal. Yang dibutuhkan adalah sebuah pola hidup atau gaya
baru yang tidak hanya menyangkut orang per orang, tetapi juga budaya masyarakat
secara keseluruhan. Artinya, dibutuhkan etika lingkungan hidup yang menuntun
manusia berinteraksi dengan lingkungan hidup saat ini.
Cara pandang
sangat menentukan gerak langkah manusia terhadap kegiatannya, termasuk dalam
memperlakukan alam ini. Dua cara pandang yang dominan diantaranya adalah
antroposentrisme dan ekosentrisme, keduanya mempunyai alasan masing - masing
dari beberapa tokohnya. Antroposentrisme adalah teori etika lingkungan yang
memandang manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Cara pandang ini
menyebabkan manusia mengekploitasi dan menguras alam semesta demi memenuhi
kebutuhan kepentingan manusia.
Selain itu, cara
pandang ini pun melahirkan sikap yang rakus dan tamak yang menyebabkan manusia
mengambil semua kebutuhan hidupnya dari alam tanpa memperhitungkan
kelestariannya. Alam dipandang hanya demi kepentingan manusia, sehingga
sebagian pihak mengatakan krisis lingkungan dianggap terjadi karena perilaku
manusia yang dipengaruhi oleh cara pandang antroposentris ini. Imanuel Kant,
salah seorang penganut teori ini, mengatakan, hanya manusia yang merupakan
makhluk rasional, diperbolehkan secara moral menggunakan makhluk non rasional
lainnya untuk mencapai suatu tatanan dunia yang rasional.
Cara pandang kedua
yaitu ekosentrisme yang merupakan kelanjutan teori biosentrisme (teori yang
menganggap bahwa setiap kehidupan dan makhluk hidup mempunyai nilai dan
berharga pada dirinya sendiri sehingga teori ini menganggap serius setiap
kehidupan dan makhluk hidup di alam semesta). Bahkan sering disamakan begitu
saja karena ada kesamaan di antara keduanya. Kedua cara pandang ini mendobrak
cara pandang antroposentris. Selanjutnya, ekosentrisme diperluas untuk mencakup
komunitas ekologis seluruhnya.
Sekarang populer dengan nama Deep Ecology yang pertama kali dikenalkan
oleh Arne Naess, Filsuf Norwegia, pada 1973. Naess kemudian dikenal sebagai
tokoh deep ecology sampai sekarang. Manusia adalah tertuduh dari ambruknya
kualitas bumi, ia dinilai terlampau asyik memuaskan syahwatnya tanpa
mempedulikan akibat pada bumi. Mental dan nalar antroposentris dinilai sebagai
muasal. Antroposentrisme yang merusak justru ditahbiskan kesucian
epistemologinya oleh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan modern adalah kabar
buruk dari ideologi patriarkal barat (Vandana Siva,seorang tokoh ekofeminis
india). [2]
Hal inilah yang
kemudian menimbulkan dorongan bagi sebagian orang untuk mengabdikan dirinya
bagi kelestarian alam dengan melakukan berbagai upaya untuk dan menyandang nama
sebagai Pencinta Alam.
Tentang PA, hari ini….
Kode Etik Pencinta Alam :
1.
Pencinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya
adalah ciptaan Tuhan YME
2. Pencinta
Alam Indonesia sebagai bagian dari masyarakat Indonesia sadar akan tanggung
jawab terhadap Tuhan YME
3. Pencinta
Alam Indonesia sadar bahwa Pencinta Alam adalah sebagai mahluk yang mencintai
Alam sebagai anugerah Tuhan YME
Hampir di setiap kesempatan, event apapun yang dilakukan oleh yang
menamakan dirinya pencinta alam, kode etik itu selalu dibacakan dan
diperdengarkan pada semua orang…yang menjadi pertanyaan kemudian, apakah hal
tersebut terwujud dalam tingkah laku orang yang membanggakan dirinya dengan
menamakan diri Pencinta Alam?
Sering dalam melakukan kegiatan di alam bebas yang banyak pencinta alam
cenderung hedonis alias hura-hura. Berapa persen, sih, dari total "jam
terbang" PA yang benar-benar didedikasikan untuk upaya pelestarian
lingkungan hidup? Mungkin prosentasenya jauh lebih kecil dibandingkan waktu
yang kita habiskan sebagai penikmat alam.
Benar jika
kemudian berkembang stigma, bahwa pecinta alam saat ini sudah jauh melenceng
dari makna sebenarnya. Mereka yang menamakan klub pecinta alam justru tidak
mengerti apa makna pecinta alam itu yang sebenarnya. Sekarang klub pecinta alam
tumbuh bagaikan jamur di waktu hujan. Namun sayangnya pecinta alam sekarang ini
lebih mengutamakan pada petualangan dan penaklukan alam. Bukan untuk
melestarikan alam. Sehingga disadari atau pun tidak kita ikut ambil bagian dari
kerusakan alam ini. Harusnya klub pecinta alam menjadi ujung tombak dalam
menjaga kelestarian alam ini bukan sebaliknya. Banyak sudah orang-orang yang
mampu menggapai atap-atap dunia, tapi hanya segelintir aja yang benar-benar
peduli dengan alam ini. [3]
Dalam tataran
realita, tidak sedikit pencinta alam yang mempunyai arah dan gerakannya tidak
mencerminkan diri sebagai pencinta alam. Contohnya kita bisa melihat bagaimana
kasus vandalisme yang terjadi di puncak gunung.Siapa lagi kalau bukan orang
yang sering naik gunung dan ini sudah menjadi persepsi yang kuat dalam
masyarakat mengenai berubahnya paradigma pecinta alam. Berubahnya paradigma
pencinta alam telah menyebabkan sulit untuk membedakan antara pecinta alam dan
atau pegiat alam terbuka. Keduanya menyatu dalam satu diri namun sisi pencinta
alamnya kadang menjadi buyar. Pencinta alam lebih populer dengan gerakan
enviromentalismenya sedangkan penggiat alam terbuka lebih lekat dengan
aktivitas-aktivitas petualangan (adventure) seperti pendakian gunung,
pemanjatan tebing, pengarungan sungai dan masih banyak lagi kegiatan yang
mejadikan alam sebagai medianya.
Tentang PA,
Esok :PA itu adalah….
PA
merupakan singkatan dari Pecinta Alam bukan Pemerkosa Alam atau sekedar
Penikmat Alam ataupun juga Pegiat Alam. PA sejati adalah dimana ia bisa
menyatukan dirinya dengan alam, membaurkan diri dengan alam, melestarikan,
menjaga dan mempergunakan alam itu sebagai tempat dimana manusia hidup, akan
tetapi bukan bertujuan untuk merusak. PA itu juga bukan ajang untuk menaklukan
organisasi lain dalam arti hanya untuk ngeceng saja. Akan tetapi PA itu adalah
bagaimana cara kita (sadar) akan keberadaan alam. PA tidak hanya memperkenalkan
/ mengenal alam itu sendiri, akan tetapi juga meminta kita agar bagaimana alam
ini tidak dirusak tetapi dilestarikan.
“seorang
pecinta alam harus bisa hidup selaras dengan alam dan berusaha agar alam
tersebut tetap lestari. Seorang pecinta alam seharusnya melindungi dan
melestarikan edelweis bukan memetik edelweis hanya untuk suatu kebanggaan yang
tak berarti. untuk membuat kita bangga telah jelajah gunung atau hutan kita
seharusnya tidak merusak alam, cukup dengan foto itu sudah lebih dari cukup”
komentar salah seorang anggota Mapala[4]
Karena itu sebenarnya pencinta alam harus mengetahui segala kaidah
lingkungan sebagai bagian dari gerak dan pola acuan tindakannya. Kalau dilihat
dari nama sebagai Pencinta Alam yang sebenarnya dalam korelasi positif banyak
yang mencintai alam maka alam akan semakin lestari. Tapi dalam realitanya,
banyak perhimpunan belum kelihatan kontribusi nyata untuk lingkungan hidup.
Lihatlah, bagaimana kasus kawasan konservasi yang semakin hari semakin menyusut
atau kawasan hutan kota yang hampir habis tetapi pencinta alam belum ada yang
turun menyuarakan/mengeluhkan hal tersebut. [5]
Degradasi kultura dalam tubuh pencinta alam memang bukan tanpa alasan.
Semasa orde baru, arah pencinta alam diarahkan untuk tidak mengikuti pola gerak
dari green peace atau the german green yang berani mengkritisi setiap kebijakan
pemerintah. Di lain pihak keberadaan pencinta alam adalah sebuah awal gerakan
lingkungan di mana lingkungan sebagai wahana kehidupan berada pada keseimbangan
yang lestari dalam dimensi politik, ekonomi,sosial dan budaya. Jika salah
satu/beberapa ditambah porsi kepentingannya, maka akan mengganggu yang lain dan
biasanya yang menjadi korban adalah alam lingkungan hidup.
Ciri lain dari pecinta alam (PA) adalah perubahan. Karena itu, dalam
gerakan lingkungan hidup, PA selalu menginginkan/memperjuangkan adanya
perubahan (semakin baik) dalam politik, sosial, ekonomi dan budaya dengan
lingkungan hidup sebagai tema sentral.
“Bumi ini Cukup untuk semua orang tapi tidak Untuk Dua
Orang Yang Serakah’ (Mahatma Gandhi)
Iden Wildensyah (relawan lingkungan di Bandung) : Pendidikan Lingkungan Adalah
Penyadaran, Persfektif Pencinta Alam.