EFEK RUMAH KACA DAN
PEMANASAN GLOBAL
Menurut http://id.wikipedia.org/ (2007), efek rumah kaca, pertama kali
ditemukan oleh Joseph
Fourier pada 1824. Jean Baptiste Joseph Fourier (21 Maret 1768 - 16 Mei 1830) adalah matematikawan dan fisikawan Perancis yang paling dikenal karena mengawali penyelidikan
deret Fourier dan penerapannya pada masalah arus panas.
Efek Rumah Kaca merupakan sebuah proses di mana atmosfer memanaskan sebuah planet. Mars, Venus, dan benda
langit beratmosfer lainnya (seperti satelit
alami Saturnus,
Titan) juga
memiliki efek rumah kaca. Efek rumah kaca dapat dibagi dalam dua kelompok: efek
rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca
ditingkatkan yang terjadi akibat aktivitas manusia. Efek rumah kaca disebabkan
karena naiknya konsentrasi gas rumah kaca seperti karbondioksida
(CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini
disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan
bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut
untuk mengabsorbsinya.
Menurut Iden
Wildensyah (http://www.pikiran-rakyat.com/,
2007), gas rumah kaca adalah gas-gas yang diemisikan dari berbagai kegiatan
manusia, yang memiliki kemampuan meneruskan gelombang pendek dan mengubahnya
menjadi gelombang panjang. Selain itu, GRK juga memiliki kemampuan meneruskan
sebagian gelombang panjang dan memantulkan gelombang panjang lainnya. Dalam
protokol Kyoto (kesepakatan internasional yang berkomitmen dalam mengurangi
emisi Gas Rumah Kaca) terdapat enam jenis Gas Rumah Kaca, yaitu karbondioksida
(CO2), nitroksida (N2O), methana (CH4), sulfurheksaflourida (SF6),
perflourokarbon (PFC), dan hidrofluorokarbon (HFC).
Menurut http://id.wikipedia.org/ (2007), segala sumber energi yang
terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut terdapat
dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia
berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan
menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya.Energi yang masuk ke
bumi mengalami : 25% dipantulkan awan atau partikel lain di atmosfer, 25%
diserap awan, 45% diadsorpsi permukaan bumi, dan 5% dipantulkan kembali oleh
permukaan bumi. Energi yang diabsorpsi dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi
infra merah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar infra merah yang
dipancarkan bumi tertahan oleh awan, uap air, karbondioksida, metana dan gas lainnya di atmosfir, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Gas-gas
ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi
dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal itu terjadi
berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas
ini di atmosfer, maka semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
Dalam keadaan normal, semua kehidupan di bumi
tergantung pada efek rumah kaca. Efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek
rumah kaca maka perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu
jauh berbeda. Tanpa efek rumah kaca, bumi akan menjadi sangat dingin (-18ºC)
sehingga es akan menutupi seluruh permukaan bumi. Akan tetapi, bila gas-gas ini
semakin berlebih di atmosfer, akibatnya adalah pemanasan bumi yang terus berlanjut.
Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah sulfur dioksida
(SO2), nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa
senyawa organik seperti gas metana (CH4) dan khloro fluoro karbon (CFC). Gas-gas
tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca
Gas
Kontribusi Sumber emisi global - % CO2
45-50% Batu bara - 29
Minyak Bumi - 29
Gas alam - 11
Penggundulan hutan - 20
lainnya - 10
CH4 - 10-20%
Pemanasan Global
Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global,
2007 disebutkan bahwa pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur
rata-rata atmosfer,
laut dan daratan Bumi sebagai akibat
dari akumulasi panas di atmosfer yang disebabkan oleh Efek Rumah Kaca. Planet Bumi telah menghangat (dan juga
mendingin) berkali-kali selama 4,65 milyar tahun sejarahnya. Pada saat ini,
Bumi menghadapi pemanasan yang cepat, yang oleh para ilmuan dianggap disebabkan
oleh aktifitas manusia. Penyebab utama pemanasan ini adalah
pembakaran bahan
bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer semakin kaya akan
gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak
panas dari Matahari yang dipancarkan ke Bumi.
Pada awal 1896, para ilmuan beranggapan bahwa
membakar bahan bakar fosil akan mengubah komposisi atmosfer dan dapat
meningkatkan temperatur rata-rata global. Hipotesis ini
dikonfirmasi tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program
penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel
atmosfer dari puncak gunung Mauna Loa di Hawai. Hasil pengukurannya menunjukkan terjadi peningkatan
konsentrasi karbondioksida di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer
terus diukur dengan cermat. Data-data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa memang
terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer (Gambar 3).
Gambar 3. Hasil pengukuran
konsentrasi CO2 di Mauna Loa (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global, 2007)
Para ilmuwan juga telah lama menduga bahwa iklim global semakin menghangat, tetapi mereka tidak mampu memberikan
bukti-bukti yang tepat. Temperatur terus bervariasi dari waktu ke waktu
dan dari lokasi yang satu ke lokasi lainnya. Perlu bertahun-tahun pengamatan
iklim untuk memperoleh data-data yang menunjukkan suatu kecenderungan (trend)
yang jelas. Catatan pada akhir 1980-an agak memperlihatkan kecenderungan
penghangatan ini, akan tetapi data statistik ini hanya sedikit dan tidak dapat
dipercaya. Sejak 1957, data-data
diperoleh dari stasiun cuaca yang terpercaya (terletak jauh dari perkotaan),
serta dari satelit. Data-data ini memberikan pengukuran yang lebih
akurat, terutama pada 70 persen permukaan planet yang tertutup lautan.
Data-data yang lebih akurat ini menunjukkan bahwa kecenderungan menghangatnya
permukaan Bumi benar-benar terjadi. Jika dilihat pada akhir abad ke-20,
tercatat bahwa sepuluh tahun terhangat selama seratus tahun terakhir terjadi
setelah tahun 1980, dan tiga tahun terpanas terjadi setelah tahun 1990, dengan
1998 menjadi yang paling panas.
Masih menurut http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global, 2007 disebutkan bahwa dalam laporan yang
dikeluarkannya tahun 2001, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa temperatur
udara global telah meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit) sejak
1861. Panel setuju bahwa pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh aktifitas
manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC memprediksi
peningkatan temperatur rata-rata global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0
hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.
IPCC panel juga memperingatkan, bahwa meskipun
konsentrasi gas di atmosfer tidak bertambah lagi sejak tahun 2100, iklim tetap
terus menghangat selama periode tertentu akibat emisi yang telah dilepaskan
sebelumnya. Karbondioksida (Gambar 6)akan tetap berada di atmosfer selama
seratus tahun atau lebih sebelum alam mampu menyerapnya kembali. Jika emisi gas
rumah kaca terus meningkat, para ahli memprediksi, konsentrasi karbondioksioda
di atmosfer dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada awal abad ke-22 bila
dibandingkan masa sebelum era industri. Akibatnya, akan terjadi perubahan iklim
secara dramatis. Walaupun sebenarnya peristiwa perubahan iklim ini telah
terjadi beberapa kali sepanjang sejarah Bumi, manusia akan menghadapi masalah
ini dengan resiko populasi yang sangat besar (http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global, 2007).
Penyebab Pemanasan Global
Pemanasan global terjadi ketika ada konsentrasi
gas-gas tertentu yang dikenal dengan gas rumah kaca, yang terus bertambah di
udara, Hal tersebut disebabkan oleh tindakan manusia, kegiatan industri,
khususnya karbondiksida (CO2) dan chlorofluorocarbon (CFC). Yang terutama
adalah karbon dioksida, yang umumnya dihasilkan oleh penggunaan batubara,
minyak bumi, gas dan penggundulan hutan serta pembakaran hutan. Asam nitrat
dihasilkan oleh kendaraan dan emisi industri, sedangkan emisi metan disebabkan
oleh aktivitas industri dan pertanian. Karbon dioksida, chlorofluorocarbon,
metan, asam nitrat adalah gas-gas polutif yang terakumulasi di udara dan
menyaring banyak panas dari matahari. Sementara lautan dan vegetasi menangkap
banyak CO2, kemampuannya untuk menjadi “atap” sekarang berlebihan akibat emisi.
Ini berarti bahwa setiap tahun, jumlah akumulatif dari gas rumah kaca yang
berada di udara bertambah dan itu berarti mempercepat pemanasan global (http://www.ofm-jpic.org/globalwarming, 2007).
Hal tersebut tampaknya tidak akan bisa terlepas
dari fenomena penipisan lapisan ozon. Menurut Iden Wildensyah dalam http://www.pikiran-rakyat.com/, 2007 disebutkan bahwa Lapisan ozon merupakan tameng yang melindungi bumi
dari radiasi sinar ultraviolet yang merusak. Adanya penipisan lapisan ozon
dapat meningkatkan berbagai penyakit infeksi seperti menurunnya kekebalan
tubuh, kanker kulit, katarak mata, dan juga kerusakan pada lingkungan hidup. Kerusakan
itu, mulai dari putusnya rantai makanan pada ekosistem akuatik di laut sampai
gagalnya berbagai hasil panen. Juga kerusakan material pada bangunan dan
benda-benda lain yang terkena langsung sinar matahari.
Menurut Andria Sukowati dalam http://www.bplhdjabar.go.id/ (2007) menyebutkan bahwa polutan yang paling merugikan mempengaruhi
lapisan ozon adalah fluorocarbon, terutama yang mengandung chlorida/bromida. Bahan
yang paling bertanggung jawab terhadap penipisan sebagian besar lapisan ozon
adalah yang mengandung chlorida yaitu chlorofluorocarbon/CFC. Bahan kimia ini
menipiskan lapisan ozon dengan bertindak sebagai katalis dalam suatu reaksi
kimia yang merubah ozon (O3dan O1) menjadi oksigen (O2). Reaksi ini dipercepat
dengan adanya kristal-kristal es di stratosfer yang merupakan salah satu dari
sumber bagi kerugian besar ozon di Antartic (kehilangan sebesar 50-60%). Karena
CFC bertindak sebagai katalis, maka mereka tidak dikonsumsi dalam reaksi yang
merubah ozon menjadi oksigen, tetapi tetap ada di stratosfer dan terus menerus
merusak ozon selama bertahun-tahun.
Kerusakan ozon tidak terlepas juga dari perilaku
kita terhadap alam. Efek rumah kaca menjadi salah satu penyebab dari kerusakan
ozon. Ini terjadi antara lain
karena penggundulan hutan, polusi, dan pencemaran udara lainnya. Menurut SINDO,
2007 dalam http://www.bem.its.ac.id/web disebutkan bahwa Indonesia didaulat
sebagai negara keempat pembuang emisi gas rumah kaca (greenhouse gas/ GHG) di
dunia. Namun jika berdasar indikator konversi lahan dan perusakan hutan, posisi
Indonesia sebagai ”aktor”penyebab pemanasan global berada di posisi ketiga. Kepala
Ekonomi dan Penasihat Pemerintah Inggris untuk Urusan Efek Ekonomi Perubahan
Iklim dan Pembangunan Sir Nicholas Stern mengatakan, ada empat penyebab emisi
gas rumah kaca, yaitu aktivitas dan pemakaian energi, pertanian, kehutanan, dan
limbah. ”Emisi yang terbuang dari kebakaran hutan di Indonesia lima kali lebih
besar dari emisi yang terbuang di luar nonkehutanan.
Emisi terbuang dari pemakaian energi dan aktivitas
industri relatif masih kecil, namun secara berlahan tumbuh secara cepat,” kata
Stern, dalam seminar bertajuk ”The Economics of Climate Change” di Gedung
Perwakilan Bank Dunia, di Jakarta,kemarin. Stern menuturkan, setiap tahunnya aktivitas dan
pemakaian energi, pertanian dan limbah di Indonesia membuang emisi 451 juta ton
karbon dioksida atau setara (MtCO2e).
Jumlah itu belum termasuk akibat konversi lahan dan perusakan hutan yang
diperkirakan mengeluarkan 2,563 MtCO2e.”Indonesia masih terbesar sebagai
emitters gas rumah kaca,” kata dia. Sementara dalam paparan Stern, negara
pembuang emisi gas rumah kaca pertama diduduki Amerika Serikat (AS), disusul
China dan Uni Eropa yang merangkum 25 negara. Sementara di bawah Indonesia, ada Brasil, Rusia,
dan terakhir India. Stern mengungkapkan, meningkatnya emisi gas rumah kaca
menyebabkan perubahan iklim dunia. Sebagai negara pertanian, kata dia,
perubahan iklim berdampak buruk bagi Indonesia, sebab dengannya kerap terjadi
perubahan cuaca secara mendadak, termasuk hujan lebat yang sulit diprediksi.
Sepanjang seratus tahun ini konsumsi energi dunia
memang bertambah secara spektakuler. Sekitar 70% energi dipakai oleh
negara-negara maju; dan 78% dari energi tersebut berasal dari bahan bakar
fosil. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan yang mengakibatkan sejumlah
wilayah terkuras habis dan yang lainnya mereguk keuntungan. Sementara itu,
jumlah dana untuk pemanfaatan energi yang tak dapat habis (matahari, angin,
biogas, air, khususnya hidro mini dan makro), yang dapat mengurangi penggunaan
bahan bakar fosil, baik di negara maju maupun miskin tetaplah rendah, dalam perbandingan
dengan bantuan keuangan dan investasi yang dialokasikan untuk bahan bakar fosil
dan energi nuklir.
Penggundulan hutan yang mengurangi penyerapan
karbon oleh pohon, menyebabkan emisi karbon bertambah sebesar 20%, dan mengubah
iklim mikro lokal dan siklus hidrologis, sehingga mempengaruhi kesuburan tanah.
Pencegahan perubahan iklim yang merusak membutuhkan tindakan nyata untuk
menstabilkan tingkat gas rumah kaca sekarang di udara sesegera mungkin; dengan
mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 50%, demikian Panel Inter Pemerintah. Jika
tidak melakukan apa-apa maka hal-hal berikut akan membawa dampak yang merusak (http://www.ofm-jpic.org/globalwarming, 2007).
Ditambahkan juga oleh Andria Sukowati dalam http://www.bplhdjabar.go.id/ (2007) bahwa pembakaran bahan bakar atau hutan mempengaruhi keseimbangan
siklus karbon, dan menyebabkan bertambahnya CO2 di atmosfer. Bahan bakar fosil,
seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam berasal dari sisa fosil tanaman
pada zaman pra sejarah. Bahan bakar tersebut menggambarkan kandungan karbon,
dan pembakarannya mningkatkan kandungan CO2 diatmosfer. Begitupula ketika hutan
di tebangi, tak terkecuali kandungan carbon yang terdapat pada produk kayu
(furniture, kertas dll) akhirnya terbagi-bagi dan carbon dilepaskan ke atmosfer
sebagai CO2. Kurang lebih 50% dari biomass pada tanaman menjadi kandungan dalam
kayu atau produknya, perusakan hutan berupa penebangan dan pembakaran, maka
semua carbon berubah menjadi CO2 dan efek rumah kaca semakin nyata.
Edwin dalam http://www.ristek.go.id/file_upload/News%20(2007) juga membenarkan bahwa pemanasan global
ditandai dengan dua hal yaitu meningkatnya suhu muka bumi dan naiknya permukaan
laut. Selain disebabkan faktor alam, pemicu utama pemanasan global terjadi
karena ulah manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil (batu bara, minyak
bumi, dan gas alam) yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya ke atmosfer
yang dikenal dengan gas efek rumah kaca, yang seharusnya energi matahari
dibuang atau dipantulkan ke angkasa malah disimpan di bumi. Ia mengatakan bahwa suhu permukaan bumi
naik rata-rata 3°C per 100 tahun dan permukaan laut naik 3 cm per 100 tahun. Jika hal ini terus berkelanjutan maka bisa
dipastikan bahwa bumi akan dilanda oleh kemarau yang berkepanjangan.
Gas Rumah Kaca - Sumber
CO2 - Pembakaran bahan bakar fosil, transportasi, deforestasi pertanian
CH4 - Pertanian, perubahan tata guna lahan, pembakaran biomassa, TPA
N2O - Pembakaran bahan bakar fosil, industri, pertanian
HFCs - Industri manufaktur, freon, aerosol
PFCs - Industri manufaktur, freon, aerosol
SF6 - Transmisi listrik, industri manufaktur, freon, aerosol
Gambar 9. Tabel Gas Rumah Kaca yang dihasilkan Indonesia beserta sumbernya
Sumber: Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Bali dan Nusa Tenggara