RINGKASAN
“ Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan dalam Konsep Pembangunan Berkelanjutan”
Oleh IDEN WILDENSYAH
Pembangunan ekonomi di beberapa negara telah berhasil
menaikan taraf hidup masyarakat pada umumnya. Ilmu ekonomi dengan rangkaian
teori yang dilahirkan telah memainkan peranan penting dalam membentuk alur
pemikiran dan intuisi para perencana ekonomi. Namun bersamaan dengan kemajuan
ekonomi timbul beberapa masalah dan dampak lingkungan hidup. Sumberdaya yang
semakin menipis dan munculnya berbagai jenis pencemaran mulai dianggap
menghambat kemajuan ekonomi.
Lingkungan hidup berkaitan erat dengan kegiatan ekonomi
dibidang produksi, konsumsi dan distribusi. Seiring dengan hal itu maka terjadi
kekuatiran bahwa kualitas dan kuantitas sumberdaya menurun akibat kegiatan
ekonomi yang dikhawatirkan dapat mengancam kelangsungan kemajuan ekonomi pada
tahap berikutnya.
Maka dibutuhkan perangkat tolak ukur untung rugi dari
berbagai kegiatan yang mempunyai dampak terhadap lingkungan. Memperhitungkan
akibat yang mungkin ditimbulkan oleh langkah perlindungan dan pengendalian juga
merupakan bagian penting dari kajian untuk pengembangan suatu proyek. Jadi
masalah lingkungan dan penggunaan sumberdaya alam sudah sepatutnya dipandang
lebih sebagai persoalan ilmu ekonomi daripada persoalan moral.
Kriteria Dasar Ekonomi
-
Kepuasan (utility).
Konsep pareto optimum mengatakan bahwa sementara orang ingin mencapai kepuasan
sebesar-besarnya, kondisi yang tercapai harus menunjukan bahwa memberikan
manfaat pada satu orang atau kelompok masyarakat tanpa merugikan orang lain.
-
Produktivitas, konsep ini
mirip dengan konsep kepuasan; keduanya menyangkut suatu tingkat maksimum yang
hendak dicapai masyarakat. Namun, konsep produktivitas memusatkan perhatian pada hasil yang diukur (kardinal),
yakni barang dan jasa, termasuk mutu lingkungan. Hubungan antara efisiensi
dalam konsep produktivitas dan pareto-optimum memang tidak sederhana. Jika setiap orang ingin segalanya dalam
jumlah yang banyak, suatu perekonomian tidak dapat berjalan secara pareto-optimal
kecuali jika benar-benar efisien dalam melakukan produksi. Kita tidak akan bisa
memilih antara dua titik pada garis kemungkinan produksi kecuali jika ada tolok
ukur nilai maksimum barang dan jasa yang dihasilkan suatu masyarakat (misalnya
produk domestik bruto, PDB menurut harga pasar tertentu)
-
Dalam dua kriteria yang
dibahas sejauh ini, soal pemerataan atau distribusi tidak dibahas secara
eksplisit, jika kita amati secara mendalam, dalam proses pengambilan keputusan
ekonomi yang menyangkut masalah lingkungan, persoalan alokasi biaya
perlindungan dan distribusi manfaat bagi beberapa kelompok masyarakat yang
berbeda akan selalu muncul. Pada umumnya, menghitung dan menentukan alokasi
biaya tidak terlalu sulit dibandingkan dengan memperkirakan besaran serta
distribusi manfaat.
Ekonomi Pencemaran
Ilmu ekonomi telah mempunyai beberapa konsep dan
peralatan analisis untuk mendekati persoalan polusi. Salahsatu yang dikenal
adalah analisis manfaat-biaya dimana konsep compensating variation (CV)
dan equivalent variation (EV) biasanya dibicarakan melalui topik yang
menyangkut surplus konsumen (CS).
Dalam ilmu ekonomi, konsep tentang harga bayangan (shadow
price) dan eksternalitas juga sangat relevan untuk analisis manfaat-biaya
suatu masalah polusi. Harga bayangan diperlukan untuk mengatasi keadaan dimana
harga pasar tidak dapat diperoleh.
Seringkali dijumpai kesulitan untuk mengukur eksternalitas, baik kerugian
eksternalitas, misalnya kerusakan lingkungan seperti polusi air, polusi zat
kimia dan polusi udara yang ditimbulkan oleh suatu proyek, maupun keuntungan
eksternal seperti misalnya akses terhadap pemandangan alam dan mutu pelayanan
yang meningkat karena adanya suatu proyek.
Optimisasi dalam Ekonomi Sumberdaya
Pengikisan sumberdaya sering diinterpretasikan secara
sederhana bahwa perekonomian akan kehabisan sumberdaya, terutama sumberdaya
yang tidak dapat diperbaharui (Non renewable) dan bila hal ini
berlangsung maka akan terjadi bencana bagi kemakmuran manusia. Pemikiran yang
sederhana ini bukan saja tidak tepat tetapi juga akan menghambat usaha
pembangunan dan pertumbuhan ekonomi termasuk pola yang mengikuti konsep
pembangunan berkelanjutan.
Dalam ilmu ekonomi tersedia alat analisis untuk mengatasi
masalah semacam ini. Pertanyaan relevan yang menyangkut trade off
antarwaktu-antargenerasi ialah: apakah mungkin suatu pola pengikisan yang
dianggap efisien dari kacamata generasi sekarang dapat menyisakan sumberdaya
sedikit atau bahkan tidak sama sekali untuk generasi yang akan datang? Perlu
dicatat bahwa mengoptimalkan tingkat pengikisan sumberdaya juga berarti
memaksimumkan present value (PV) sumberdaya tersebut. Dalam terminologi
ekonomi, pemecahan masalah semacam ini umumnya menyangkut perhitungan social
discounting rate (SDR). SDR ini perlu hitung dalam menentukan penggunaan
sumberdaya alam secara optimal.
Menurut Solow dalam kerangka model dua faktor mengatakan
bahwa tingkat konsumsi yang bisa dipertahankan sampai waktu tak terhingga dapat
dicapai bila salah satu dari kondisi berikut dipenuhi: (1) elastisitas substitusi antara sumberdaya
dengan modal lebih besar dari satu (sangat elastis). (2) elastisitas tersebut
sebesar satu namun kontribusi modal lebih besar dari kontribusi sumberdaya; (3)
apabila terjadi perubahan teknologi.
Untuk kasus sumberdaya yang renewable (dapat
diperbaharui) asumsi awal yang dipakai adalah ”kaidah pertumbuhan alami” (natural
growth law). Lingkungan hidup memiliki suatu ambang batas dalam jumlah stok
atau populasi yang dapat ditunjang. Bila jumlah stok mendekati ambang batas
tersebut, pertumbuhan akan melambat dan akhirnya berhenti. Batas ini akan
dicapai bila penggunaan stok sumberdaya tidak lagi akan menghasilkan
pertumbuhan, atau bila penggunaan stok secara kumulatif mendekati tingkat
maksimum.
Konsep Kelangkaan Sumberdaya
Dari berbagai studi tentang kelangkaan sumber mineral
belum dipastikan apakah sumberdaya di bumi secara ekonomis memang langka.
Perbaikan pada beberapa faktor berikut akan mempengaruhi hasil penemuan diatas:
perubahan teknologi, penyempurnaan proses produksi dan transportasi, penemuan
deposit baru, skala ekonomi, dan faktor substitusi. Dua kasus energi (1974 dan
1979) cenderung mengukuhkan pendapata bahwa sumberdaya di bumi ini makin
langka. Dalam diagram titik A mendekat dimana basis sumberdaya akan menciut,
oleh karena itu tidaklah mengherankan bahwa para ahli secara terus menerus
aktif mencari substitusi sumberdaya, mencoba menemukan proses produksi yang
hemat sumbedaya dan melihat kemungkinan hasil substitusi hasil, yang berarti
akan lebih banyak jumlah produksi dan konsumsi barang dan jasa yang berciri
hemat sumberdaya.
Simpulan
Hanya dengan sedikit pengecualian, ekonom cenderung
memperlakukan degradasi lingkungan sebagai kegagalan pasar (market failure).
Bagi ekonom semacam ini fungsi lingkungan adalah untuk memasok barang alami
seperti keindahan lanskap, menyediakan sumberdaya alam yang diperlukan untuk
menghasilkan barang ekonomi atau memasok tempat sampah bagi pembuangan produk
sampingan dari limbah hasil kegiatan ekonomi Sampai batas tertentu bahkan
konsep dan peralatan analisis ilmu ekonomi mampu membantu menemukan solusi dari
setiap persoalan.
Mengabaikan faktor lingkungan akan menimbulkan suatu
bencana terutama dilihat dari sudut konsep pembangunan berkelanjutan. Studi
multidisiplin secara kolaboratif (dengan ilmuwan dari disiplin lain) jelas
sangat diperlukan.
Komentar
Pemaparan Iwan Jaya Azis ini sangat mendasar terutama
dalam konsep yang di tuliskannya, ini menjadi bagian penting dalam
mensosialisasikan pemahaman tentang hubungan antara ekonomi dan sumberdaya
lingkungan. Ada benang merah yang bisa ditarik dimana keduanya terdapat
kesalingtergantungan satu sama lain. Ekonomi dibutuhkan untuk meningkatkan
pertumbuhan dan lingkungan dibutuhkan untuk mendukung sumberdaya tetapi
keberadaan sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui menjadi masalah tersendiri
karena berhubungan dengan harga. Logikanyanya harga akan naik bila sumberdaya
sedikit dan permintaan banyak. Sementara sumberdaya yang terus menipis dan pemintaan
semakin banyak maka seiring dengan itu harga pun akan mengalami kenaikan yang
signifikan.
Bila di telaah penurunan kualitas lingkungan disebabkan
oleh dua faktor yaitu disebakan oleh meningkatnya kebutuhan ekonomi (economic
requirement) dan gagalnya kebijakan yang diterapkan (policy failure).
Peningkatan kebutuhan yang tak terbatas sering membuat tekanan yang besar
terhadap lingkungan dan sumberdaya yang ada, suatu contoh kebutuhan akan
ketersediaan kayu yang memaksa kita untuk menebang hutan secara berlebihan dan
terjadinya tebang terlarang (illegal loging), kebutuhan transportasi
untuk mobilitas dan mendukung laju perekonomian juga sering menimbulkan dampak
terhadap kerusakan lingkungan seperti pencemaran udara, dan kejadian dilaut
dimana akibat kebutuhan ekonomi memaksa nelayan melakukan kegiatan tangkap
berlebih (over fishing). oleh karena itu percepatan pembangunan ekonomi
sudah selayaknya di barengi dengan ketersediaan sumberdaya dan lingkungan yang
lestari.
Di makalah ini Iwan Jaya Azis menuliskan beberapa hal
yang bisa dilakukan untuk menekan konsumsi berlebihan yang ditakutkan terjadi
kelangkaan dengan mengikuti konsep Solow yang mengatakan bahwa tingkat konsumsi
yang bisa dipertahankan sampai waktu tak terhingga dapat dicapai bila salah satu
dari kondisi berikut dipenuhi: (1)
elastisitas substitusi antara sumberdaya dengan modal lebih besar dari
satu (sangat elastis). (2) elastisitas tersebut sebesar satu namun kontribusi
modal lebih besar dari kontribusi sumberdaya; (3) apabila terjadi perubahan
teknologi.
Makalah yang ditulis pada masa orde baru ini masih
relevan untuk kondisi saat ini, perbedaannya hanya pada masa itu subsidi
terhadap pertamina masih besar maka paparan iwan tentang energi tidak begitu
mendalam, hanya menuliskan dua kejadian pada tahun 1974 dan 1979. padahal
kejadian pada masa orde barulah yang membuat kondisi kenaikan harga ini tidak
dipahami sebagai sebuah keharusan dan tentunya kritik terhadap pembangunan
berkelanjutan versi ekonom pun tidak dimunculkan. Karena semangat orde baru
tahun dipublikasikan makalah ini masih sangat kental.
Untuk pegangan serta dasar bagi pengantar ilmu ekonomi
sumberdaya dan lingkungan makalah ini bisa menjadi sebuah percikan bagi
pengembangan wacana selanjutnya. Terutama sebagai perbandingan 2 periode
kekuasan (orde baru, orde reformasi). Tidak ada salah juga menjadi pembanding
untuk makalah serupa yang membahas tentang konsep-konsep renewable dan non
renewable. Hanya saja pemaparan tentang sumberdaya energi sudah tidak
relevan lagi kondisi saat ini. Karena perbedaan kondisi antara tahun 1980-1990
dengan tahun 2000 – kini.
dari Makalah Iwan Jaya Azis
(Staf Pengajar FE – UI) yang disampaikan pada seminar AISEC: sustainable
development, diresume dari jurnal PRISMA edisi Januari 1991 penerbit LP3ES,
Jakarta