Benarkah Baja Ringan Ramah Lingkungan?
Oleh Iden Wildensyah*
Baja
ringan adalah baja canai dingin yang keras yang diproses kembali
komposisi atom dan molekulnya, sehingga menjadi baja yang lebih
fleksibel. Saat ini baja ringan menjadi material bangunan yang sedang
trend, rangka atap baja ringan lebih dominan terkenal dibanding
material baja ringan untuk struktur lainnya. Hal ini karena gencarnya
iklan-iklan yang menawarkan produk rangka atap baja ringan menggantikan
rangka atap dari material kayu. Mengingat kayu semakin hari semakin
langka juga karena harga kayu yang relatif mahal,
maka pemilihan material rangka atap baja ringan menjadi satu pilihan
para kontraktor atau owner dalam membangun rumah. Selain karena faktor
keawetan dan tahan rayap dan karat, rangka atap baja ringan mempunyai
kelebihan yaitu kekuatan struktur yang lebih bagus, seperti lebih kuat,
lebih kaku dibanding konstruksi kayu.
Disamping
itu kemudahan dalam mendapatkan, kecepatan pemasangan, dan struktur
yang kuat membuat rangka atap baja ringan terkenal. Teknologi dalam
perencanaan dan pemasangan rangka atap baja ringan beragam sesuai
dengan profil dari elemen kuda-kuda itu sendiri. Profil kuda-kuda
rangka atap baja ringan yang beredar di pasaran terdiri dari C, Z,
hollow dan UK atau profil Omega atau HAT. Tiap profil memiliki
kelebihan-kelebihan serta perbedaan prinsip dalam dalam pemasangannya.
Elemen dasar Baja Ringan
Bahan
dasar baja ringan adalah Carbon Steel, Carbon Steel adalah baja yang
terdiri dari elemen-elemen yang prosentase maksimum selain bajanya
sebagai berikut: 1.70% Carbon, 1.65% Manganese, 0.60% Silicon, 0.60%
Copper. Carbon adalah unsur kimia dengan nomor atom 6, tingkat oksidasi
4.2 dan Mangan adalah unsur kimia dengan nomor atom 25, tingkat
oksidasi 7.6423. Carbon dan Manganese adalah bahan pokok untuk
meninggikan tegangan (strength) dari baja murni. Penambahan prosentase
Carbon akan mempertinggi Yield Stress tetapi akan mengurangi
daktilitas.
Rangka
atap baja ringan yang diproduksi di Indonesia menggunakan bahan dasar
baja dengan kekuatan G-550 Mpa atau setara dengan 5500 Megapascal
sesuai standar AISI (American Iron and Steell Institute). Adapun
coating (pelapis/pelindung) baja ringan dari karat yang beredar adalah
zinc/galvanis, zincalume, dan zincalume dengan penambahan magnesium.
Lapisan coating ini melindungi bahan dasar baja ringan dari karat.
Baja Ringan Ramah Lingkungan
Baja ringan diklaim memiliki sifat yang ramah lingkungan, karena menggunakan material yang bisa mengurangi pembalakan liar (illegal logging). Tidak jarang juga kita menemui brosur rangka atap baja ringan dengan kode ekolabel atau ramah lingkungan, label yang menjelaskan produk yang dijual adalah ramah terhadap lingkungan. Namun
apakah benar ramah lingkungan? Untuk mengetahui hal itu, baiknya kita
ketahui produk yang berlabel ramah lingkungan atau ekolabel.
Dalam
situs Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia (www.menlh.go.id) dilansir
bahwa Ekolabel merupakan salah satu sarana penyampaian informasi yang
akurat,‘verifiable’ dan tidak menyesatkan kepada konsumen
mengenai aspek lingkungan dari suatu produk (barang atau jasa),
komponen atau kemasannya. Pemberian informasi tersebut pada umumnya
bertujuan untuk mendorong permintaan dan penawaran produk ramah
lingkungan di pasar yang juga mendorong perbaikan lingkungan secara
berkelanjutan.
Ekolabel
dapat berupa simbol, label atau pernyataan yang diterakan pada produk
atau kemasan produk, atau pada informasi produk, buletin teknis, iklan,
publikasi, pemasaran, media internet. Selain itu, informasi yang
disampaikan dapat pula lebih lengkap dan mengandung informasi
kuantitatif untuk aspek lingkungan tertentu yang terkait dengan produk
tersebut. Ekolabel dapat dibuat oleh produsen, importir, distributor,
pengusaha ‘retail’ atau pihak manapun yang mungkin memperoleh manfaat dari hal tersebut.
Tujuan dan Manfaat Ekolabel
Ekolabel
dapat dimanfaatkan untuk mendorong konsumen agar memilih produk-produk
yang memberikan dampak lingkungan yang lebih kecil dibandingkan produk
lain yang sejenis. Penerapan ekolabel oleh para pelaku usaha dapat
mendorong inovasi industri yang berwawasan lingkungan. Selain itu,
ekolabel dapat memberikan citra yang positif bagi ‘brand’ produk
maupun perusahaan yang memproduksi dan/atau mengedarkannya di pasar,
yang sekaligus menjadi investasi bagi peningkatan daya saing di pasar.
Bagi
konsumen, manfaat dari penerapan ekolabel adalah konsumen dapat
memperoleh informasi mengenai dampak lingkungan dari produk yang akan
dibeli/digunakannya. Karena kepentingan tersebut, konsumen juga
memiliki kesempatan untuk berperan serta dalam penerapan ekolabel
dengan memberikan masukan dalam pemilihan kategori produk dan kriteria
ekolabel. Penyediaan ekolabel bagi konsumen juga akan meningkatkan
kepedulian dan kesadaran konsumen bahwa pengambilan keputusan dalam
pemilihan produk tidak perlu hanya ditentukan oleh harga dan mutu saja,
namun juga oleh faktor pertimbangan lingkungan.
Prinsip – Prinsip Ekolabel
Produk
yang diberi ekolabel selayaknya adalah produk yang dalam daur hidupnya
mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, pendistribusian,
penggunaan, dan pembuangan setelah penggunaan, memberi dampak
lingkungan relatif lebih kecil dibandingkan produk lain yang sejenis.
Ekolabel akan memberikan informasi kepada konsumen mengenai dampak
lingkungan yang ada dalam suatu produk tertentu yang membedakannya
dengan produk lain yang sejenis.
Ukuran
keberhasilan ekolabel dapat dilihat dari adanya perbaikan kualitas
lingkungan yang dapat dikaitkan langsung dengan produksi maupun produk
yang telah mendapat ekolabel. Selain itu, tingkat peran serta dari
kalangan pelaku usaha dalam menerapkan ekolabel juga menjadi indikator
penting keberhasilan ekolabel.
Selain
melihat bahan baku, sejumlah akolabel yang diberlakukan suatu negara
(buyers) juga memerhatikan proses pembuatan serta kemampuan produk
tersebut didaur ulang. Setiap ekolabel itu ada kriteria masing-masing.
Bahkan, jenis bahan bakar apa yang digunakan serta proses limbahnya
diolah seperti apa juga menjadi pertimbangan buyer membeli sebuah
produk.
Penutup
Pemikiran tentang ramah lingkungan, ataupun recyclibility
dalam penggunaan material baja ringan harus dipertegas kembali.
Hendaknya setiap produsen dapat menjelaskan kepada konsumen tentang
konsep tersebut, apakah karena material yang tidak akan menyisakan
sampah? Atau bahan-bahan sisa yang bisa di recycle menjadi bahan lain yang berguna?
Walaupun
demikian Jika di telusuri lebih jauh, secara umum baja ringan mungkin
saja bisa mengurangi pembalakan liar karena bisa meminimalisir bahkan
cenderung menghilangkan penggunaan material kayu dalam konstruksinya. Tapi
sesuai dengan prinsip ekolabel bahwa produk yang diberi ekolabel
selayaknya adalah produk yang dalam daur hidupnya mulai dari pengadaan
bahan baku, proses produksi, pendistribusian, penggunaan, dan
pembuangan setelah penggunaan, memberi dampak lingkungan relatif lebih
kecil dibandingkan produk lain yang sejenis. Mudah-mudahan saja baja
ringan menjadi alternatif penggunaan material bangunan masa depan yang
lebih bisa diterima lingkungan karena daur hidupnya yang memberikan
dampak yang kecil.
(Iden Wildensyah adalah Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan, Unpad. Bekerja di Konstruksi Rangka Atap Baja Ringan di Bandung)