''Tuhan
memang tidak pernah menjanjikan dunia yang dipenuhi kebun bunga
mawar''. Allah memang tidak pernah menyatakan bahwa tujuan baik akan
dapat dicapai dengan mudah. Kami akan terus berjalan. Mudah-mudahan ini
bukan titik. Cuma tanda koma dengan sekian panjang kelanjutan. --
Pengantar Redaksi Madina di Edisi 20--
Sekarang edisi 20 bulan september 09 berarti pertama kali beli bulan
Februari 08. Yah.. Saya pertama kali membaca majalah Madina adalah
bulan februari 2008. Saya mengingat waktu itu istri saya yang membeli.
Saya membaca karena saya merasa majalah yang sudah dibeli, sayang kalau
tidak dibaca. Saya menyukai Madina bukan karena masalah yang dikajinya
adalah islam, lebih dari itu Madina menampilkan islam yang damai, islam
yang universal dengan tidak mengurangi kekritisan terhadap dunia barat.
Madina menampilkan gaya bahasa yang lugas dan enak dibaca. Banyak
masalah dunia kontemporer yang dikaji secara mendalam oleh
penulis-penulis Madina. Tentang islam yang mengakui keberagaman juga
tentang sosok-sosok pembawa islam damai.
Madina bisa dijadikan corong alternatif bagi media islam untuk tetap
kritis tetapi tetap menghargai pluralitas bangsa. Tanpa harus mengakui
sebagai pemikiran yang paling benar dan menganggap pemikiran diluar
golongan mereka itu salah. Banyak hal yang tidak terduga. Banyak
informasi yang terbuka di Madina yang tidak di muat di media lainnya.
Misalnya tentang Amina Wadud, Madina menampilkan sosok kontroversi ini
dalam kadar yang baik. Maksudnya tidak menonjolkan seolah-olah
pendukung Amina Wadud tetapi juga tidak sebagai penentang. Dikala media
lain tidak begitu mendalam mengupas pemikiran Amina Wadud, Madina mampu
memberikan semacam percikan bagi pembaca untuk memikirkan setiap
ulasan-ulasan wawancara dengan Amina Wadud.
Selain itu, saya masih ingat ketika membaca salahsatu artikel Madina
yang membahas tentang kedatangan MU. Ya MU akan datang tetapi benarkah
MU akan memberikan manfaat bagi bangsa ini, jangan-jangan kedatangan MU
hanya sebagai alasan untuk menutupi hal yang lebih penting untuk
dipikirkan bangsa ini. Apalah artinya uang milyaran rupiah untuk
mendatangkan MU kalau ternyata masih banyak warga negara yang kelaparan.
Masih banyak lagi tema-tema menarik seperti plus minus sekolah islam,
saya membaca ini membukakan mata bahwa sekolah label islam pun tetap
saja ada plus minusnya. Rasanya ini sangat bermanfaat bagi mereka yang
hendak menyekolahkan anaknya ke sekolah islam.
Madina memberikan warna tersendiri bagi saya sebagai orang islam.
Tentang arti hormat menghormati sesama manusia juga tentang keberagaman
yang sudah semakin dipersempit dengan isu-isu yang tidak penting hingga
merasa golongannya paling benar dan diluar golongan mereka itu salah.
Cap seperti itu menurut saya yang membuat islam seolah dekat dengan
kekerasan, padahal sebenarnya ada islam yang damai. Islam adalah
rahmatan lil alamin.
Sayang memang, edisi ke 20 bulan september kemarin adalah edisi
terakhir. Sangat disayangkan memang, tetapi itulah realita yang harus
diterima dengan lapang dada. Semoga saja lahir media seperti Madina,
yang universal dan menyegarkan.
Saya bersyukur pernah mengirimkan tulisan lebih tepatnya salahsatu
catatan di facebook ini walaupun hanya mengisi kolom dari pembaca. Saya
bersyukur karena sudah turut serta mewarnai Madina.
Madina ''Terbuka, bijak, mencerahkan''
Posted at 02:43 pm by penakayu