Saya dan Bulletin Wanadri
"Hati yang penuh syukur, bukan saja merupakan kebajikan yang
terbesar, melainkan merupakan pula induk segala kebajikan yang lain." -
Cicero
photo by stephenlangitan.com
Jika
ada satu majalah yang berjasa dalam membuat saya gemar menulis, maka
majalah itu bernama Bulletin Wanadri. Saya tidak bisa dipisahkan dari
Bulletin Wanadri, saya mengenalnya ketika kuliah di Setiabudi 207
Bandung. dalam setiap bulan terbitnya Bulletin Wanadri selalu saya
tunggu, selain mendapatkan banyak hal yang bermakna dari isi dan cerita
seputar petualangan alam terbuka, saya juga mendapatkan semangat untuk
menulis dari kehadiran Bulletin Wanadri (selanjutnya disebut BW).
Format BW yang awal saya kenali sungguh berbeda, dari tampilan muka,
logo sampai isi. nilai perbedaan ini yang membuat saya sangat loyal
menjadi pembaca setia BW. jenis tulisan Satcacao yang saya kenali dari
sampul muka ini memberi kesan tersendiri. Jenis huruf ini seolah
menjadi trade mark BW. ketika format huruf ini di ganti, saya merasakan
sesuatu yang berbeda. saya merasa kehilangan identitas BW yang saya
kenal selama itu. BW mengganti format mendekati karakter National
Geoghrapic. Saya menyayangkan karena jika National Geoghrapic (NG)
terbit edisi Indonesia, habislah BW. dan betul saja, dugaan saya tidak
meleset, NG terbit versi Indonesia. BW harusnya kembali ke format
karakter awal yang saya anggap sebagai trade mark-nya BW.
Selain karena kegemaran saya membaca, kehadiran BW saya nantikan dengan
penuh harap tulisan saya muncul. Pada mulanya hanya berita seputar
perkumpulan pecinta alam saja yang saya tulis dan kirimkan ke BW. Ada
semacam kebanggaan tersendiri ketika saya melihat tulisan saya muncul
di BW. Saya menulis opini dirubrik Kolom Bebas, selebihnya saya menulis
tentang banyak hal yang berhubungan dengan masalah pecinta alam dan
lingkungan. Alhasil dari keseringan berkirim artikel, saya bisa
berkenalan secara langsung dengan jajaran redaksi BW, beberapa orang
saya kenal sangat baik dalam menjaga nilai pertemanan, saya mengenal
Haris, Galih Donikara, Antonius Satya, Jejen, dan banyak lagi (Saya
memanggil dengan Kang Haris, Kang Galih, Kang Anton dll sebagai bentuk
hormat saya pada mereka).
Saya belajar banyak dari perkenalan dengan dewan redaksi BW, mereka
memang orang besar dengan pengalaman yang mumpuni dibidang kegiatan
alam terbuka. Saya bersyukur mengenal mereka dari BW. kini setelah
hampir satu tahun, saya merasa kehilangan BW. saya merindukannya
seperti merindukan kehadiran seorang yang sudah lama tidak berjumpa.
Saya yakin suatu saat nanti BW akan muncul lagi dengan saya bisa
berkontribusi untuk dunia kepecintaalaman Indonesia.
Saya bersyukur karenaMu!
Posted at 02:44 pm by penakayu