Masalah Sampah adalah Masalah Mentalitas
Oleh Iden Wildensyah
"Pemikiran, ide, dan harapan tidak akan terwujud tanpa berbuat" demikian salah satu tayangan iklan di televisi yang menggambarkan tentang suasana perumahan yang kotor dan tidak terawat. Lantas dengan cekatan anak-anak kecil tersebut melakukan aksi bersih membuang sampah yang menumpuk.
Sebuah realita yang memang demikian adanya, bahwa kita kadang tidak sadar dengan kondisi buruknya lingkungan. Baru setelah terjadi bencana semua menyadari arti penting menjaga kualitas lingkungan sekitar kita.
Membicarakan sampah tidak akan terlepas dari masalah perilaku dan pola hidup. Semuanya berawal dari mentalitas tentang kesadaran untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih dan terjaga. Hal ini pula yang mengawali setiap perilaku kita terhadap sampah.
Memperlakukan sampah sebaik mungkin dengan cara yang baik akan tentunya akan berdampak positif bagi kehidupan itu sendiri. Tidak membuang sampah sembarang adalah permulaan dari upaya memperlakukan sampah yang baik. Sampah yang biasa dibuang sembarang dari hasil buangan konsumsi kita akan berdampak buruk pada kualitas lingkungan sekitar.
Bertebarannya penyakit akibat sanitasi yang kotor lalu saluran air yang tersumbat dan air yang tercemar adalah bukti dari ketidakpedulian kita pada lingkungan. Terlebih dalam masalah sampah menjadi momok yang menakutkan ketika kasus longsor di Leuwigajah terjadi.
Longsor di Leuwigajah menurut Koordiantor Informasi Bencana Alam dan Bantuan Ir. Senoadji berawal dari ledakan yang diakibatkan oleh gas metana. Gas metana yang berdekomposisi biasanya menghasilkan panas yang sangat tinggi ketika tekanan udara datang dari atas sementara bagian sampah di bawah mengandung bakteri anaerob yaitu bakteri yang tidak bisa bersenyawa dengan udara. Akibatnya, tekanan udara berbalik ke atas yang hasilnya ledakan besar mirip bom berkekuatan tinggi.
Terlepas dari longsor di Leuwigajah yang diakibatkan oleh sampah, permasalahan sampah tidak selesai di pengelolaan sampah apalagi menyerahkan sepenuhnya ke Perusahaan Daerah Kebersihan. Bayangkan saja, potensi sampah yang dihasilkan di Kota Bandung mencapai 3.677.377 meter kubik per harinya. Dari jumlah tersebut, Dinas Kebersihan kota Bandung hanya mampu mengangkut 82 persennya saja. Sisanya? Ya, apalagi kalau tidak dibuang serampangan, di saluran air, kali dan jalan-jalan.
Masalah sampah adalah masalah bersama yang membutuhkan sinergi untuk menanganinya bersama, karena saling berkaitan dalam sistem ekologi. Siapakah yang pertama kali mengeluarkan sampah, lalu di buang kemana sampah hasil buangan tersebut?. Sampah pada dasarnya terbagi dua kelompok, sampah organik (biasa disebut sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering). Perbedaan yang mudah sekali untuk membedakannya. Namun terkadang kita enggan untuk memilahnya terlebih dahulu sebelum membuangnya. Ini bisa dilihat dari setiap Tempat Pembuangan sampah baik itu di rumah tangga atau di komplek-komplek perumahan.
Bila dipisahkan dengan baik sampah akan memiliki nilai ekonomi yang tinggi, tentunya setelah melalui proses daur ulang. Disamping itu pula sampah tidak akan menghasilkan bau yang tajam bila kedua jenis sampah tersebut dipisahkan.
Untuk menangani permasalahan sampah secara menyeluruh perlu dilakukan alternatif-alternatif pengelolaan. Landfill bukan merupakan alternatif yang sesuai, karena landfill tidak berkelanjutan dan menimbulkan masalah lingkungan. Malahan alternatif-alternatif tersebut harus bisa menangani semua permasalahan pembuangan sampah dengan cara mendaur-ulang semua limbah yang dibuang kembali ke ekonomi masyarakat atau ke alam, sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap sumberdaya alam. Untuk mencapai hal tersebut, ada tiga asumsi dalam pengelolaan sampah yang harus diganti dengan tiga prinsip–prinsip baru. Daripada mengasumsikan bahwa masyarakat akan menghasilkan jumlah sampah yang terus meningkat, minimisasi sampah harus dijadikan prioritas utama.
Sampah yang dibuang harus dipilah, sehingga tiap bagian dapat dikomposkan atau didaur-ulang secara optimal, daripada dibuang ke sistem pembuangan limbah yang tercampur seperti yang ada saat ini. Dan industri-industri harus mendesain ulang produk-produk mereka untuk memudahkan proses daur-ulang produk tersebut. Prinsip ini berlaku untuk semua jenis dan alur sampah.
Memperlakukan sampah dengan baik dengan sendirinya akan memberikan timbal balik yang positif. Dibeberapa daerah industri daur ulang sampah kertas, plastik sudah bisa menjadi home industri yang berperan dalam upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Memulai dari diri sendiri dengan tidak membuang sampah sembarang adalah bukti nyata kepedulian kita pada lingkungan. Barangkali benar adanya bahwa semuanya berawal dari mentalitas, bila semuanya sudah menyadari arti penting kebersihan lingkungan dan betapa tidak terpujinya membuang sampah sembarangan maka permasalahan sampah yang menjadi momok yang menakutkan tidak akan terulang lagi dimasa yang akan datang.
Posted at 04:37 am by penakayu