Antara Soe Hok Gie Dan Nicholas Saputra
Oleh Iden Wildensyah*
"Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat"
(Soe Hok Gie)
Pertamakali mendengar kabar bahwa cerita sejarah tentang seorang demonstran bernama Soe Hok Gie oleh Mira Lesmana akan difilmkan, saya sudah menduga bahwa buku Catatan Seorang Demonstran yang diterbitkan oleh LP3ES tahun 1983 hingga dicetak sampai cetakan keenam tahun 1993 akan diterbitkan lagi. Sama seperti buku-buku yang terbit setelah ceritanya difilmkan. Namun perlu diketahui ada yang membedakan antara cerita film yang dibukukan dengan Catatan Seorang Demonstran Soe Hok Gie yang difilmkan.
Dugaan itu benar, setelah launching filmnya di Jakarta, Catatan Seorang Demonstran (CSD) di cetak ulang dengan wajah yang berbeda. Bukan karena wajah yang menjadi sampul keren Nicholas Saputra yang menjadi masalah tapi perlu diperjelas tentang siapa itu Nicholas Saputra dan siapa itu Soe Hok Gie.
Ada semacam rasa takut jika tokoh sejarah pada akhirnya kalah oleh tenarnya seorang aktor, bahkan lebih parah lagi bila fakta terbalik, orang lebih mengenal aktornya dibanding Soe Hok Gie-nya sendiri. Seperti halnya orang melihat Angelina Jolie sebagai Lara Croft, dimana pun dan kapanpun Angelina berakting, atau Mel Gibson dengan William Wallace-nya.
Siapa itu Nicholas Saputra, seorang aktor multi talent, berkarakter dan mempunyai reputasi baik untuk kalangan anak muda, belum ada gosip-gosip yang kurang baik menimpa dirinya. Berawal dari film AADC sebagai sosok kutu buku yang idealis dan penikmat sastra. Namun perlu diketahui bahwa aktor tetaplah aktor yang bisa berakting setiap saat. Barangkali dengan kemampuannya yang gemilang pantaslah Nico selalu mendapat pujian dari setiap film yang dibintanginya.
Lantas ada apa dengan Soe Hok Gie ? Dia adalah sosok aktifis yang sangat aktif pada masanya dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942. Lalu ia wafat di Mahameru saat melakukan pendakian pada 18 Desember 1969 karena menghirup asap beracun gunung tersebut. Karier, perjalanan serta sejarahnya di film-kan dengan aktornya adalah Nicholas Saputra. Sementara apa hubungannya dengan Nicholas Saputra? adakah kesamaan diantara keduanya ?.
Ada sedikit kekhawatiran ketika Gie di akan putar, pertama, sosok Gie dalam film itu bagaimana pun sempurnanya tetaplah seorang aktor yang berbeda dengan Gie pada jamannya. Kedua, ketika CSD di cetak ulang dengan sampul Nicholas Saputra, tentunya sedikit demi sedikit ada kekhawatiran pamor Soe Hok Gie akan hilang oleh sosok aktor yang menjadi cover tersebut. Ketiga, pertanyaan mampukah lahir lagi Soe Hok Gie-Soe Hok Gie baru tanpa harus melihat sosok Nicholas Saputra ?
Ketiga kekhawatiran tersebut berdasarkan pada fakta bahwa kebanyakan masyarakat Indonesia menonton dulu baru membaca bukunya. Jika representasi Soe Hok Gie adalah Nicholas Saputra, mampukah Nico menjadi sosok yang menjadi panutan kaum intelektual muda seperti halnya Soe Hok Gie?.
Terobosan promosi yang dilakukan sponsor dengan program goes to campus-nya, Gie tampaknya memang banyak yang nanti. Lihatlah bagaimana karya Aria Kusumadewa yang begitu antusias ditonton oleh mahasiswa ketika Novel Tanpa Huruf R-nya hanya di putar dari kampus ke kampus. Setiap program yang di buat untuk promosi film dengan mengambil basis masa kampus, selalu melahirkan sebuah rasa yang baru, sebuah fenomena yang jarang dilakukan oleh sineas indonesia pada masa-masa sekarang ini.
Lalu, apakah dengan latar belakang yang berbeda antara Soe Hok Gie dengan Nicholas Saputra, akan menimbulkan kontradiksi sejarah pada masa kekinian ?. hal ini perlu di cermati bahwa sejarah tetaplah sejarah dan aktor tetaplah aktor, saya tidak yakin Nico bisa menggambarkan sosok Gie dalam kehidupan yang real, tentunya dengan iklim kemahasiswaan yang semakin hari semakin tidak terlihat. Kalah oleh gerakan zaman yang maju dengan pesatnya.
Sekali lagi siapa itu Soe Hok Gie, siapa itu Nicholas Saputra? disinilah penonton perlu jeli membedakan keduanya. Walaupun sama-sama mahasiswa Universitas Indonesia (UI) namun perlu dibedakan iklim UI sewaktu Soe Hok Gie masuk menjadi mahasiswa sejarah dengan UI ketika Nicholas Saputra masuk di jurusan arsitektur itu berbeda. Perbedaan karena iklim politik masa sekarang serta arus informasi yang semakin pesat.
Kini bukanlah sebuah hal yang mustahil bila dengan beredarnya kembali Catatan Seorang Demonstran yang disertai dengan film-nya, romantika kehidupan mahasiswa yang berpikir seperti seorang Soe Hok Gie akan muncul idealis-idealis muda, sama halnya seperti meningkatnya minat baca sastra dikalangan anak-anak muda setelah film AADC booming, akan tetapi bukan suatu mustahil juga sejarah akan terbalik ketika sampul foto Soe Hok Gie menjadi Nicholas Saputra. Orang akan mengenal bahwa Soe Hok Gie adalah Nico demikian sebaliknya.
* Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung, Aktif di Unit Pers Mahasiswa UPI/ ISOLA POS
Posted at 04:46 am by penakayu
 |  |  |
Lynna August 20, 2008 06:46 PM PDT
Gie tetap Gie, Nico tetap Nico itu memang benar. Saya juga nggak bermasalah dengan Nicholas Saputra yang memerankan Soe Hok Gie di film. Tapi yang saya permasalahkan, kenapa di buku CSD yang baru terbit, wajah seorang Nico yang menjadi cover depan, sementara wajah Gie nya sendiri malah di cover belakang. Jadi seolah-olah wajah gantengnya Nico yang dijadikan pamor. Mungkin biar orang-orang lebih tertarik untuk membeli kali ya. |
 |

 |  |  |
abu mujahid July 28, 2007 11:25 AM PDT
kita harus membedakan mana pelaku sejarah mana aktor. Keduanya mempunyai perbedaan yang mendasar. saya sangat apresiatif terhadap sejarah yang difilmkan tapi pertanyaannya adalah mampukah sutradara dan pihak2 lain yg terlibat memahami zeitgeist pada masa itu. Sepandai-pandainya sutradara pasti tidak dapat merasakan zeitgeist itu apalagi dia bukan orang sejarah yang mengerti tentang metode historis. Bukan berarti saya meragukan akting nico tapi permasalahannya adalah fakta dan fenomena sejarah yang berbeda. Oleh karena itu gie adalah gie sedangkan nico adalah nico..tidak lebih tidak kurang |
 |

 |  |  |
puput November 20, 2006 10:27 PM PST
Gie adalah seseorang yang memiliki karisma tersendiri didalam bidangnya (jurnalistik) dan Nico juga memiliki itu semua didalam bidangnya sendiri(perfilman) |
 |

 |  |  |
yudhi November 9, 2006 09:28 AM PST
Gie is die.
Yang gw pikir sekarang, gimana jadinya bila Gie ga mati secepat itu...
Apa ada yang meneruskan perjuangannya? |
 |

 |  |  |
gila October 26, 2006 06:59 PM PDT
gila......................!!!!!!!!!!! kita smua sudah gila, makanya tanah AIR tercintA INI hancur leburrrrrrrrrrrrrrr.......... |
 |

 |  |  |
mei October 2, 2006 05:21 PM PDT
nico just an actor n he deserve for a big appluse. saya rasa nico tdk sebegitu gemerlapnya.mungkin dari segi fisik, nico tidak bs mewakili sosok gie tp menurut saya nico aktor yg pas utk memerankan gie sehubungan nico pernah memerankan tokoh rangga sebagai org yg cukup radikal dgn pemikirannya.bravo nivo!! =) |
 |

 |  |  |
RATIH August 24, 2006 04:28 PM PDT
NICO MEMANG PINTAR DALAM MEMERANKAN SOSOK GIE.TAPI APA LANTAS KITA MENGANGGAP BAHWA NICO ADALAH GIE????????? |
 |

 |  |  |
Lu2Q December 25, 2005 07:28 PM PST
nico ato bukan--Film Gie tetap fenomenal.Akhirnya ada juga film yang mengangkat sejarah tapi cukup menarik minat anak muda.Mungkin film ini bisa dijadikan inspirasi bwt generasi muda Indonesia untuk peduli dgn bangsa ini..pokoknya salut dengan adanya film ini!! |
 |

 |  |  |
tria December 20, 2005 10:28 PM PST
Gie dan nico akhirnya jd yg terbaik di FFI 2005, syg riri reza enggak. biar film gie ga sempurna, tp usaha miles mmg patut dihargai. moga2 vcdnya cpt keluar dan dibuat dg versi 4 jam.biar lbg lengkap ceritanya. btw dgr2 si nico bakal main film ttg peperangan jaman belanda. patut ditunggu tuh. |
 |

 |  |  |
Mahardika December 20, 2005 10:22 AM PST
Yang paling penting adalah baca bukunya dan nonton filmnya, lalu hiduplah dengan damai. Sejarah telah terjadi dan tidak bisa diutak-atik lagi. |
 |

 |  |  |
honey December 16, 2005 10:47 PM PST
ga tau harus comment apa, yg jelas gw jadi tau kalau jaman dulu itu mahasiswa sudah turun ke jalan2. buat gw ga masalah mau diperanin sama siapa aja tokoh gie itu, tapi yg penting gw sama temen2 gw yg lain sadar apa artinya perjuangan... gw ga ngerti masalah perfilm-an, mungkin yg lebih ahli tau kalau 'putra' bisa memerankannya...so no problem... |
 |

 |  |  |
dewi October 29, 2005 03:23 PM PDT
saya punya teman yang khawatirnya sama besar sama saudara. sekarang, teman saya ini ngotot ngga mau nton film gie-nya mira lesmana itu, sementara kami temen2nya pergi nton bareng. soal buku dengan cover nico itu, teman tadi juga tidak mau beli, dia malah bela2in memfotokopi CSD terbitan yang dulu, sementara kami2 membeli yang covernya nico.
yup, ini soal pilihan mengatur hati kan... |
 |

 |  |  |
penakayu October 24, 2005 12:03 PM PDT
satu yang saaya tahu, kalau ternyata...bangsa ini pernah ada karena kesadaran seorang gie, yang kita tahu dari sebuah karya seorang yang bertangan dingin... |
 |

 |  |  |
tika October 11, 2005 11:17 AM PDT
Kalau orang2 inget Gie jadi inget Nico, ya jangan salahin nico donk.. Harusnya bangga kita masih punya aktor yang sangat berkualitas untuk memerankan tokoh sejarah, coba sekarang.. siapa yang lebih pantas selain nico?????? Kalau nico udah terlanjur jadi sosok idola remaja, salah nico ya?? Itu kan hoki nya dia.. |
 |

 |  |  |
ega September 7, 2005 03:34 PM PDT
tapi ingat tetep aja orang akan melihat sosok seorang nico dari segi pandang yg berbeda,gie tetaplah gie&nico tetaplah nico.dan yg lebih penting kita melihat semangatnya, bukan sekedar tampang.tapi gue salut ma nico,dia mampu menghidupkan sosok gie,&menurut gue dia malah membantu kita semua untuk bisa membayangkan sosok gie secara nyata.karena menurut gue nico ngga jauh beda kaya gie,cuma beda jaman aja. oke! |
 |

 |  |  |
soedra June 29, 2005 11:58 AM PDT
saya memahami kegelisahan yang menghantui saudara. kekhawatiran akan biasnya citra seorang Gie dibaliknya gemerlapnya seorang Nico.tapi jangan jatuh cemburu pada citra. Gie sendiri tahu kalau jarang orang bisa memahaminya. "nobody knows my sorrow..." |
 |