Muda, Kreatif, Pantang Menyerah !
Iden Wildensyah Buat Lencana Anda
"Sedikit ide yang kau tuang dalam karya, akan lebih berarti daripada seribu kata yang terucap"
Satu-satunya Alasan Mengapa Ada Waktu, Karena segala sesuatu tidak terjadi sekaligus (Albert Einstein)
.
Imajinasi lebih penting dari sekedar Ilmu Pengetahuan (Albert Einstein)
.
Bumi ini Cukup untuk semua orang tapi tidak Untuk Dua Orang Yang Serakah (Mahatma Gandhi)
.
Against Ignorance !!
.....
Satu Kali dalam Hidup Orang Harus Menentukan Sikap. Kalau Tidak, Dia Tidak Akan Menjadi Apa-Apa (Pramoedya Ananta Toer)
....
....
...
..
.
Hidup ini Sederhana, Tentukan Pilihanmu dan Jangan Menyesal!
Coba Mengumpulkan yang terserak !
karena Ide tak Cukup Sekedar di Obrolkan.
hmm
GALERI BUKU PENAKAYU
LINKS euy!
- Google News
- wildensyah
- isolapos
- bitra
- pipitkecilku
- perca
- akulaila.com
BLOG juga hasil karya cipta. Menyalin, Mengcopy dan Menyebarluaskan harus mencantumkan penulis. PENAKAYU adalah BLOG milik Iden Wildensyah, Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Lingkungan, UNPAD. Pekerja Konstruksi Rangka Atap Baja Ringan di Bandung.(email: wildensyah@yahoo.com)
Let's Go Green Atuh, Euy!
|
 |
MEMBANGUN BANGSA, MELESTARIKAN ALAM
Oleh Iden Wildensyah *
Bumi ini cukup untuk semua manusia tapi tidak untuk keserakahan kita (Mahatma Gandhi)
Bukan tanpa alasan kejadian bencana alam seperti banjir, tanah longsor terjadi di tanah air ini atau bukan hanya kebetulan belaka semata-mata alam mendaur ulang kehidupan. Adalah cara pandang yang antroposentris dan kegagalan dalam mengimplementasikan paradigma pembangunan berkelanjutan yang menjadi alasan yang kemukakan oleh A Sony Keraf dalam bukunya etika lingkungan. demikian pula halnya dengan Arne Naess seorang filsuf Norwegia yang memperkenalkan konsep deep ecology yaitu suatu etika baru yang tidak berpusat pada manusia tetapi berpusat pada mahluk hidup seluruhnya dalam kaitan dengan upaya mengatasi persoalan lingkungan hidup. menurut arne naess krisis lingkungan hidup dewasa ini hanya bisa diatasi dengan melakukan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam yang fundamental dan radikal. yang dibutuhkan sebuah pola hidup atau gaya hidup baru yang tidak hanya menyangkut orang per orang tetapi juga budaya masyarakat secara keseluruhan. artinya dibutuhkan etika lingkungan hidup yang menuntun manusia untuk berinteraksi dalam alam semesta.
Ambilah contoh konkret kerusakan alam ini dalam kasus pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh PT Inti Indorayon Utama di Sumatera Utara, PT Freeport Indonesia di Papua, PT Newmont Minahasa Raya di Buyat sesungguhnya diakibatkan oleh perilaku perusahaan yang tidak bertanggungjawab dan tidak peduli terhadap lingkungan. ini menyangkut tidak adanya kepedulian dan tanggungjawab moral perusahaan terhadap lingkungan hidup. contoh lainnya antara lain kasus illegal logging, impor limbah secara illegal dari luar negeri dan kasus perdagangan satwa liar, kasus ini tidak menyangkut orang perorang tetapi juga birokrasi pemerintah demikian pula halnya dengan kasus sampah di kota-kota besar seperti DKI Jakarta, Surabaya, Bandung dsb atau makin menyusutnya kawasan konservasi oleh pemukiman dan pembukaan lahan pertanian, terkait dengan persoalan perilaku moral manusia, khususnya korupsi dalam tubuh birokrasi pemerintah. bahkan kasus - kasus lingkungan yang terkait dengan globalisasi perdagangan dan berbagai perjanjian internasional lainnya adalah persoalan moral, khususnya persoalan kelicikan manusia dan negara bangsa dalam melakukan manipulasi dalam banyak bidang khususnya di bidang ekonomi dan politik yang merugikan kepentingan orang lain, termasuk bidang lingkungan hidup.
Pembangunan Berkelanjutan Dan Keberlanjutan Ekologi
Sejak tahun 1980-an agenda politik lingkungan hidup mulai dipusatkan pada paradigma pembangunan berkelanjutan. mula pertama istilah ini muncul dalam world conservation strategy dari the Lester R Brown international union for the conservation of nature (1980), lalu dipakai oleh dalam buku Building A Sustainable Society (1981), istilah yang kemudian menjadi sangat populer melalui laporan Brundtland, our common future (1987).
paradigma pembangunan berkelanjutan diterima sebagai sebuah agenda politik pembangunan untuk semua negara didunia pada tahun 1992 dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) Bumi Di Rio De Janeiro, Brasil namun hingga kini paradigma tersebut tidak banyak diimplementasikan bahkan masih belum luas dipahami dan diketahui, ini bukan saja terjadi di Indonesia melainkan juga ditingkat global.
Salah satu sebab dari kegagalan mengimplementasikan paradigma tersebut adalah paradigma tersebut kurang dipahami sebagai memuat prinsip - prinsip kerja yang menentukan dan menjiwai seluruh proses pembangunan. paradigma ini tidak dipahami sebagai berisi prinsip pokok politik pembangunan itu sendiri. pada akhirnya cita - cita yang dituju dan ingin diwujudkan dibalik paradigma tersebut tidak tercapai karena prinsip politik pembangunan yang seharusnya menuntun pemerintah dan semua pihak lainnya dalam merancang dan mengimplementasikan pembangunan tidak dapat dipenuhi.
Cita - cita dan agenda utama pembangunan berkelanjutan tidak lain adalah upaya untuk mensinkronkan, mengintegrasikan dan memberi bobot yang sama bagi tiga aspek utama pembangunan yaitu aspek ekonomi, aspek sosial budaya dan aspek lingkungan hidup. karena itulah gagasan dibalik itu bahwa pembangunan ekonomi, sosial budaya dan lingkungan hidup harus dipandang sebagai terkait erat satu sama lain, sehingga unsur - unsur dari kesatuan yang saling terkait ini tidak boleh dipisahkan atau dipertentangkan satu dengan yang lainnya yang mau dicapai dengan pembangunan berkelanjutan adalah menggeser titik berat pembangunan dari hanya pembangunan ekonomi menjadi juga mencakup pembangunan sosial budaya dan ekologi lingkungan hidup.
Dengan kata lain yang ingin dicapai disini adalah sebuah integrasi pembangunan sosial budaya dan pembangunan lingkungan hidup kedalam arus utama pembangunan nasional agar kedua aspek tersebut mendapat perhatian yang sama berharga dengan aspek ekonomi. pembangunan aspek sosial budaya dan lingkungan hidup tidak boleh dikorbankan demi dan atas nama pembangunan ekonomi.
Keberlanjutan Ekologi
Arus pembangunan berkelanjutan di indonesia seiring juga dengan arus kerusakan lingkungan, ambilah salah satu contohnya kasus ladia galaskan yang menghancurkan ribuan hektar hutan di leuseur serta terganggunya habitat asli dan semakin maraknya illegal logging dari jalur bukaan hutan. ini tentunya juga bukan tanpa alasan pembangunan jalan ini di bangun, akan tetapi laju kerusakan yang parah ini menjadi catatan tersendiri dari dampak pembangunan itu.
Dalam hal ini kritik terhadap pembangunan berkelanjutan juga diungkapkan oleh Arne Naess dengan menawarkan apa yang disebut sebagai keberlanjutan ekologi yang luas sebagai ganti dari pembangunan berkelanjutan. keberlanjutan ekologi ini akan dicapai kalau benar- benar dilakukan perubahan mendasar dalam kebijakan politik ekonomi menyangkut pertumbuhan ekonomi dan gaya hidup masyarakat yang konsumtif. bahkan keberlanjutan ekologi ini akan dicapai pada level global kalau kebanyakan ditingkat global benar-benar melindungi kekayaan dan keanekaragaman bentuk - bentuk kehidupan di planet ini.
yang dituntut dengan paradigma berkelanjutan ekologi adalah sebuah perubahan mendasar dalam kebijakan nasional yang memberi prioritas pada kelestarian bentuk - bentuk kehidupan di planet ini, demi mencapai keberlanjutan ekologi. jadi yang menjadi sasaran utama bukan pembangunan itu sendiri melainkan mempertahankan dan melestarikan ekologi dan kekayaan bentuk - bentuk kehidupan didalamnya. ini harus menjadi komitmen politik pembangunan nasional, kalau tidak kehancuran lingkungan dan ancaman bagi kehidupan manusia diplanet ini semakin tidak teratasi.
Penutup
Konteks pembangunan berkelanjutan maupun keberlanjutan ekologi adalah dua alternatif yang bisa dipilih untuk diterapkan diindonesia karena keduanya mempunyai sasaran yang sama, integrasi ketiga aspek yaitu aspek pembangunan ekonomi, aspek sosial budaya dan aspek lingkungan hidup. bedanya, titik berat pembangunan berkelanjutan memusatkan pada pembangunan ekonomi sambil memberi perhatian pada secara proporsional pada kedua aspek lain sementara keberlanjutan ekologi mengutamakan peletarian ekologi dengan tetap menjamin kualitas kehidupan ekonomi dan sosial budaya bagi masyarakat setempat dengan jaminan konsekuen dilaksanakan sesuai komitmen untuk menjamin ketiga aspek tersebut secara proporsional keduanya tidak akan menjadi masalah dalam paradigma pembangunan ini.
untuk menghindari jebakan developmentalisme, paradigma berkelanjutan ekologi tentu lebih menarik karena dengan ini kita bisa melestarikan ekologi dan sosial budaya masyarakat demi menjamin kualitas kehidupan masyarakat yang lebih baik
*) penulis adalah relawan lingkungan di bandung
Posted at 08:10 am by penakayu
Permalink
From: iden wildensyah <aku@k.st>
Date: Wed, 2 Jun 2004 12:30:08 -0700 (PDT)
To: cinta@k.st
Subject: refleksi pertama...
Assalamu'alaikum
di awali dengan syukur Alhamdulillah,sebetulnya siang tadi aku sudah menulis banyak tapi kenapa tiba2 sekarang aku kehilangan beberapa bagian dari isi tulisanku,entah mungkin karena aku sudah menuturkannya dalam telepon tadi malam atau memang segini yang bisa aku tuliskan.
memang benar katamu bulan mei ini full of love tapi karena aku mengalirkannya seperti air jadi segalanya begitu menarik karena itu terjadi tanpa disadari dengan kekuatan logika tapi kalau bahasa kerennya god spot telah membawa semua intuisiku untuk menuliskannya seperti itu yang terkadang begitu melankolis atau pun menjadi roman picisan (kata dewa.
tapi semuanya menjadi bermakna kalau aku bandingkan dengan cerita lalu dimana setiap tahun selalu punya kesan dan pesan yang berbeda bagi para pelakunya,dan saat ini aku lah pelakunya yang benar2 merasakan semuanya begitu asik untuk aku tuliskan.
email kita tidak lebih dari sebuah catatan harian yang merekam keseharian kita dengan berbagai cerita menarik yang kadang diantara kita selalu ada komentar2 baik itu yang nyebelin ataupun ngeselin kita,dibalik itu semua kita bisa melihat sisi lain dari perjalanan ini,kita bisa bercermin dari sisi orang lain saat kita rapuh saat kita kuat saat kita patah ataupun saat semangat itu benar2 ada diantara kita walau kita kadang saling egois untuk mengakui sesuatu,kadang kita saling iseng dengan semua kejahilan kita,kadang kita seneng dan puas saat orang kita isengan kena batunya..dan semua...dan semua selama rentang waktu bulan mei kemaren.
aku masih merasakan kekuatan itu berasal dari kepala dari jiwa dan dari hati ketiga pilar itu yang membuat aku mampu berdiri walau hujan deras turun,badai,petir dan angin kencang berada dekat denganku,memang perjalanan naik gunung tidak lebih dan tidak kurang seperti halnya mengarungi sebagian perjalanan ini.
bersamamu di dunia maya,di dunia tulisan aku merasakannya begitu dekat walau kadang kedekatan ini hanya kurasakan sendiri,entah kamu merasakan hal yang sama atau tidak aku tidak tahu tapi dari teleponmu aku tahu kamu pun merasakan hal yang sama,kedekatan emosi itu membuat jarak bukan lagi penghalang untuk bisa dekat sedekat hati ini.
dulu aku tidak mau terjebak lebih dalam terutama urusan hati tapi ketika semuanya jelas didepan mataku didepan hatiku aku tidak mampu menghindarinya lagi untuk bisa berkata dan menuliskannya yang sejujur2nya tentang apa yang aku rasakan dari semua ini.
terlalu agung yang namanya cinta,untukmu itu bukan lagi sebuah kata yang keluar tanpa sebab dengan beda interpretasi,kata itu sama diantara kita tapi untuk sebuah perjalanan lebih jauh aku belum bisa memprediksi aku hanya bisa menyerahkan semua pada Alloh.biar lah IA yang menentukan kalaupun aku harus kehilangan semuanya aku rela apalagi kalau ternyata bukan kehilangan tapi mendapatkan aku sangat merelakan semuanya.
entah ini sebuah refleksi dari mei kemaren atau hanya sebuah tulisan yang mengalir aku tidak tahu karena yang aku tahu saat ini adalah semuanya tidak kita duga bahwa sampai bulan mei ini waktu itu tidak lekang untuk berbicara bahwa aku belum bisa berbicara munafik atas apa yang aku rasakan bersamamu,kau telah membawa aku pada kenyataan bahwa aku masih punya hati untuk menyapa seorang nadia dengan sapaan cinta,my dear,puteri cantikku, honey, maafkan aku...!
segitu aja dulu nanti aku sambung dengan semua refleksi yang lain
Wassalam
Aku
Posted at 01:54 am by penakayu
Permalink
satu-satunya alasan kenapa ada waktu, karena segala sesuatu tidak terjadi sekaligus (albert einstein)
Posted at 08:10 am by penakayu
Permalink
Pencinta Alam Dan Paradigma Gerakan Lingkungan
Oleh Iden Wildensyah**
" jika ingin mengubah negara untuk kegiatan - kegiatan yang sulit tentang persoalan kebijakan politik, pencinta lingkungan menjadi sumber kekuatan dengan apa saja dapat dilakukan. Jika anda ingin mempunyai negara untuk kepentingan ekonomi, pikirkan diri anda dan generasi anda yang akan datang, saya yakin anda dapat melakukannya"
(Gerlorfd Nelson dalam catalyst conference speech university of Illionis, 1990)
Pencinta alam di Indonesia saat ini belum dirasakan sebagai salah satu akar gerakan lingkungan, terbukti dalam korelasinya saat ini dengan menjamurnya perhimpunan pencinta alam seiring pula dengan kerusakan yang tidak terkendali. Dimanakah letak penyimpangan ini karena keberadaan pencinta alam dalam tataran yang ideal dapat menumbuhkembangkan generasi yang peduli lingkungan. ini patut dikembangkan baik dalam pola gerakan maupun pengembangan organisasinya. Namun dalam tataran real tidak bisa di bedakan antara pencinta alam dan penggiat alam terbuka karena keduanya hampir tidak bisa dibedakan mana yang penggiat dan mana pencinta alam
Model gerakan lingkungan yang berasal dari pencinta alam pada periode kelahirannya lebih menekankan pada kecintaan terhadap alam yang diwujudkan dengan naik gunung, camping, pelatihan konservasi, dan penghijauan di lereng-lereng gunung. Selain kecintaan terhadap alam, mereka ornop dan sebagian pencinta alam masih terkonsentrasi pada model pembangunan. Karena mereka masih meyakini kebenaran model pembengunan berkelanjutan dengan standar kemajuan ekonomi yang sesungguhnya menimbulkan dampak.
Simpulan Paradigma
Dua nama, pencinta alam dan penggiat alam terbuka seolah-olah merupakan satu kesatuan utuh yang tidak bisa di pisahkan antara keduanya. Namun kalau dilihat secara etimologi kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia akan nampak kelihatan bahwa keduanya tidak ada hubungan satu sama lainnya.
Dalam KBBI, pecinta (alam) ialah orang yang sangat suka akan (alam), sedangkan petualang ialah orang yang suka mencari pengalaman yang sulit-sulit, berbahaya, mengandung resiko tinggi dsd. Dengan demikian, secara etimologi jelas disiratkan dimana keduanya memiliki arah dan tujuan yang berbeda, meskipun space, ruang gerak aktivitas yang dipergunakan keduanya sama, alam.
Dilain pihak, perbedaan itu tidak sebatas lingkup "istilah" saja, tetapi juga langkah yang dijalankan. Seorang pencinta alam lebih populer dengan gerakan enviromentalisme-nya, sementara itu, petualang lebih aktivitasnya lebih lekat dengan aktivitas-aktivitas petualangan seperti pendakian gunung, pemanjatan tebing, pengarungan sungai dan masih banyak lagi kegiatan yang menjadikan alam sebagai medianya.
Belakangan, berlahiran kelompok-kelompok yang mengatasnamakan dirinya sebagai "Kelompok Pecinta Alam, (KPA)". Namun, keberadaaan mereka belum mencirikan kejelasan arah gerak dan pola pengembangan kelompoknya. Jangankan mencitrakan kelompoknya sebagai pecinta alam, sebagai petualang pun tidak. Aktivitas mereka cenderung merupakan aksi-aksi spontanitas yang terdorong atau bahkan terseret oleh medan ego yang tinggi dan sekian image yang telah terlebih dulu dicitrakan oleh KPA-KPA lain, dengan demikian banyak diantara para "pencinta alam" itu cuma sebatas "gaya" yang menggunakan alam sebagai alat.
Pencinta alam dunia dengan gerakan enviromentalisme yang berjuang keras dalam menjaga keseimbangan alam ini patut kita contoh sebagai satu gerakan untuk masa depan, kini yang sering ditanyakan ketika kerusakan alam di negeri ini semakin parah dimanakah pencinta alam, begitupun dengan para petualang yang menggunakan alam sebagai medianya. Bahkan Tak jarang aktivitas mereka berakhir dengan terjadinya tindakan yang justru sangat menyimpang dari makna sebagai pecinta alam, misalkan terjadinya praktek-paktek vandalisme. Inilah sebenarnya yang harus di kembalikan tujuan dan arahnya sehingga jelas fungsi dan gerak merekapun bukan hanya sebagai ajang hura-hura belaka.
Sebuah harapan untuk mengembalikan keseimbangan alam ini supaya terhindar dari terputusnya sistem dalam kehidupan ini bukan tanggung jawab pencinta alam atau penggiat alam terbuka saja tapi tugas kita semua sebagai mahluk penghuni bumi dan dua arah yang berbeda dapat bersatu untuk menciptakan kelestarian alam ini khususnya lingkungan hidup.
Aktivis lingkungan hidup dunia dengan gerakan cinta lingkungannya akan lebih berarti tindakannya dengan dukungan dari para pencinta alam yang ada di negeri ini. Dalam perbedaan pola fikir dan arah gerak pencinta alam dengan penggiat alam terbuka terdapat kesamaan pula dengan media yang sama untuk itu bukanlah suatu kemustahilan keduanya bersatu untuk masa depan lingkungan hidup Indonesia sehingga terciptanya lingkungan hidup yang seimbang, stabil dan bermanfaat bagi kehidupan sekarang dan masa depan.
Sebuah peringatan kepada kemanusiaan yang diterbitkan oleh 1.575 ilmuwan dari enam puluh sembilan negara yan mengikuti Konverensi Rio tahun 1992 perlu kita ketahui sebagai sebuah awal penyadaran untuk lingkungan hidup ini.
"Peringatan " itu berisi bahwa umat manusia dan alam berada pada arah yang bertabrakan. Kegiatan manusia mengakibatkan kerusakan besar pada lingkungan dan sumber daya yang sangat penting yang seringkali tidak dapat di pulihkan. Jika tidak dikaji, banyak dari kegiatan kita skang yang ini menempatkan masa depan pada keadaan yang sangat beresiko, sehingga kita menghadapi realitas masyarakat manusia dan alam tumbuhan dan hewan dan mungkin juga dunia tempat kita hidup ini berubah sedemikian rupa, sehingga tidak dapat lagi mendukung kehidupan menurut cara yan kita kenal. Perubahan fundamental adalah urgen jika kita ingin menghindarkan benturan dalam arah perjalanan kita yang sekarang ini terjadi.(" World scientist Warning to Humanity ") , Pernyataan siaran pers diterbitkan 18 November 1992 oleh The Union of Concerned Scientist.) "
Ancaman yang menempatkan alam dan penghuninya (manusia maupun bukan manusia) berada dalam bahaya ini patut kita ketahui bersama tentang konsekuensi dari berbagai kegiatan yang dilakukan oleh umat manusia sebagai penghuni bumi ini.
Enviromentalisme dan gerakan lingkungan
sebelum melangkah lebih jauh melihat gerakan lingkungan baiknya kita tinjau masalah lingkungan. Masalah masalah lingkungan hidup seringkali tidak menjadi prioritas yang tinggi dan seringkali menjadi sub agenda dengan demikian akhirnya larut dan tenggelam dalam tema-tema kampanye yang lebih luas dan abstrak. sementara itu gerakan lingkungan atau dsebut juga enviromentalisme yaitu suatu faham yang menempatkan lingkungan hidup sebagai pola dan arah gerakannya. Bagi sebagian pihak enviromentalisme mungkin asing karena enviromentalisme dianggap sebagai gerakan yang membahayakan orde pada waktu itu (orde baru) terutama dalam menentukan kebijakan yang berkaitan dengan ekploitasi hutan. Organisasi non politik yang concern pada lingkungan pada masa itu pun di arahkan langsung oleh Emil Salim waktu itu menjabat Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup untuk tidak mengikuti taktik Green Peace ataupun The German Green yang bisa masuk mengkritisi setiap kebijakan pemerintah yang tidak memperhatikan dampak lingkungan hidup terhadap alam ataupun masyarakat.
Sedangkan gerakan lingkungan hidup menurut literatur sosiologi istilah "gerakan lingkungan hidup" digunakan dalam tiga pengertian yaitu pertama sebagai penggambaran perkembangan tingkah laku kolektif (collective behavior). Kedua, sebagai jaringan konflik-konflik dan interaksi politis seputar isu-isu lingkungan hidup dan isu-isu lain yang terkait. Ketiga, sebagai perwujudan dari perubahan opini publik dan nilai-nilai yang menyangkut lingkungan.
Di Indonesia istilah gerakan lingkungan hidup di pakai dalam konsorsium : "15 tahun Gerakan Lingkungan Hidup : Menuju Pembangunan Berwawasan Lingkungan". Yang di selenggarakan oleh kantor Meneg Kependudukan Dan Lingkungan Hidup di Jakarta, 5 Juni 1972.
Denton E Morrison mengusulkan bahwa yang di sebutkan gerakan lingkungan hidup sesungguhnya terdiri dari 3 komponen yaitu komponen pertama, the organized or voluntary enviromental movement ( gerakan lingkungan yang terorganisir atau gerakan yang sukarela ) termasuk dalam kategori ini adalah organisasi lingkungan seperti Enviromental Devense Fund, Green Peace atau di Indonesia ada WALHI Jaringan Pelestarian Hutan "SKEPHI". Komponen kedua, The public enviromental movement (gerakan lingkungan publik ) adalah khalayak ramai yang dengan sikap sehari-hari dalam tindakan dan kata-kata mereka menyatakan kesukaan mereka terhadap ekosistem tertentu, pola hidup tertentu serta flora dan fauna tertentu. Komponen ketiga The Institusional Enviromental Movement (gerakan lingkungan terlembaga ) ini sangat menentukan dalam negara negara berkembang dimana peranan negara sangat dominan dan peranan aparat-aparat birokrasi resmi mempunyai kewenangan hukum (yuridiksi) terhadap kebijakan umum tentang lingkungan hidup atau yang berkaitan dengan lingkungan hidup sebagai contoh di Amerika ada Badan Perlindungan Lingkungan ( EPA - Enviromental Protection Agency), Dinas Pertamanan Nasional ( National Park Service) padanannya di Indonesia adalah Kantor Meneg KLH, DEPHUT.
Komponen gerakan lingkungan terlembaga ini penting untuk di amati sendiri ambilah contoh keberhasilan EPA dalam mengendalikan polusi air dan udara misalnya di pengaruhi kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, kebijaksanaan luar negeri serta ketersediaan sumber-sumber energi
Hakikat gerakan lingkungan menurut Buttel dan Larson mempunyai beberapa manfaat, pertama struktur gerakan lingkungan di setiap negara yakni hubungan diantara tiga komponen itu bisa berbeda-beda dan ini membawa variasi yang cukup berarti di antara paham lingkungan (enviromentalism) negara-negara itu. Kedua, taktik dan ideologi gerakan lingkungan terorganisir di suatu negara dapat di lihat sebagai hasil interaksi diantara komponen - komponen kelas negara itu satu pihak, dan kelompok-kelompok kepentingan (interces group) dilain pihak.
Epilog
Perubahan paradigma dalam tubuh pencinta alam bukan sebuah kemustahilan untuk berubah dan seimbang dengan kegiatan kegiatan alam terbuka yang biasa di gelutinya. Tidak menutup kemungkinan sebuah gerakan radikal untuk masalah kesadaran lingkungan terwujud dalam satu koridor gerakan lingkungan karena masalah lingkungan adalah masalah bersama yang membutuhkan kerjasama dari setiap stake holder pelaku,pemerhati dan aktivis yang bergerak atasnama lingkungan
Dalam konteks gerakan lingkungan, maka tantangan semakin yang semakin besar di masa mendatang mengharuskan kita untuk melakukan reposisi gerakan lingkungan menjadi gerakan sosial, karena ini adalah satu-satunya jalan untuk menghadapi dominasi pasar dan globalisasi
** Iden Wildensyah, saat ini tercatat mahasiswa UPI Bandung aktif di KPALH Gandawesi serta relawan lingkungan di Bandung pernah menjadi peserta PEKA (pelatihan konservasi dan advokasi) PA region jawa di WALHI D.I.Y
sumber :
- George Junus Aditjondro,2003. Pola-pola Gerakan Lingkungan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
- Philif Shobecof,1998. Sebuah Nama Baru Untuk Perdamaian. Yayasan Obor Indonesia.Jakarta.
- soemarwotto, otto,2001, Ekologi,Lingkungan Hidup dan Pembangunan.Djambatan.Jakarta
- Jurnal WACANA Edisi12,Tahun III,2002 Lingkungan Versus Kapitalisme Global, penerbit INSIST Press
- Buletin Wanadri no 17, 2002
- Kalam Jabar, Republika Rabu 25 februari 2004.
- Habitat Newsletter KONUS Volume 03 no 02. Juni - September 2003
- Isola Magazine, media Unit Pers Mahasiswa UPI edisi I,Juli - September 2003.
Posted at 11:20 pm by penakayu
Permalink
Selamatkan Bumi !
Oleh Iden Wildensyah *)
Permasalahan linkungan hidup bukan semata – mata persoalan moral, persoalan perilaku manusia demikian pula dengan krisis ekologi global yang kita alami dewasa ini adalah persoalan moral, krisis moral secara global. (A.Sony Keraf)
Tanggal 22 april 2005 yang akan datang penduduk diseluruh dunia akan memperingati hari bumi, sebuah peristiwa gerakan lingkungan akar rumput yang menggerakan hampir 20.000.000 orang turun kejalan di New York dalam catatan TIME tahun 1970. peristiwa yang di prakarsai oleh senator Gerlorfd Nelson ini berawal dari kekhawatirannya melihat kualitas lingkungan hidup yang semakin menurun, dalam peristiwa hari bumi itu ia menyebutkan sebagai ledakan akar rumput yang sangat mencengangkan. Masyarakat umum sungguh peduli dan hari bumi menjadi kesempatan pertama sehingga benar-benar dapat berpartisipasi dalam suatu demonstrasi yang meluas secara nasional, dan dengan itu menyampaikan pesan yang serius dan menatap kepada para politisi untuk bangkit dan berbuat sesuatu.
Kekhawatiran akan merosotnya kualitas daya dukung lingkungan ini terlihat dari semakin tingginya pencemaran udara,air dan tanah yang disebabkan oleh menjamurnya pabrik – pabrik industri serta tingkat produksi yang tinggi mengejar keuntungan. Dampak hari bumi pada tahun itu adalah dibentuknya sebuah badan lingkungan hidup Enviromental Protection Agency, keberhasilan EPA salah satunya dapat menekan tingkat pencemaran udara.
Kesadaran untuk bisa peduli terhadap ala ini ternyata membutuhkan waktu yang lama, untuk “membumikan” hari bumi pun Gerlorfd Nelson bergerak sampai 10 tahun, Karena isu lingkungan adalah isu yang satu sama lain terkait didalamnya sehingga dibutuhkan sebuah sinergi gerakan lingkungan untuk memecahkan satu persatu masalah lingkungan yang kita hadapi. Hubungan kita dengan dengan kelestarian hidup di bumi ini dalam kaitannya dengan kegiatan ekploitasi alam memunculkan beberapa macam utang. diantaranya pertama, kita berutang kepada bumi atas makanan (sustenance) yang diberikan kepada kita dan semua jenis mahluk hidup lainnya. Kedua, kita berutang kepada bumi atas kerusakan atas kerusakan yang kita perbuat terhadapnya. Untuk yang pertama kita tak bakal mampu melunasinya, sedangkan yang kedua, kita menangguhkannya dengan resiko yang bakal kita tanggung kemudian.(CEJI,2003:3) ketiga, kita berutang kepada orang- orang terpinggirkan dan termiskinkan, terutama penduduk pribumi, yang paling sering menjadi korban pertama akibat kerusakan lingkungan.
Dalam jurnal Wacana edisi 12 tahun 2002, Thomas barry seorang ekoteolog mengatakan bahwa utang kerusakan lingkungan menyebabkan “bumi mengalami defisit…sebagimana tampak dari macetnya sistem kehidupan dasar dari planet ini akibat penyalahgunaan udara, air, tanah dan vegetasi. Tanggung jawab atas defisitnya bumi ini terbagi tidak secara merata dimana golongan yang kaya menikmati sendiri bagian yang tak sepadan, terlampau besar, disbanding dengan kapasitas yang mampu di sediakan oleh planet ini. Golongan minoritas ini melakukan overekploitasi terhadap bumi, berutang bukan saja kepada bumi, namun juga kepada golongan mayoritas yang mengonsumsi lebih sedikit ketimbang jatah (fair share) mereka yang seharusnya atas kekayaan bumi.
Arus perdagangan bebas dan globalisasi yang pesat dalam mengejar keuntungan dan tenaga yang sedikit serta industri yang merajalela serta target target ekspor dan impor memaksa alam untuk memacu produktifitas tinggi mempunyai negatif terhadap alam itu sendiri seperti yang ditulis dalam paper CEJI (the Canadian Ecumenical Jubilee Initiative),2002. overproduksi untuk ekspor ini memperburuk kecenderungan –kecenderungan ekologis diantaranya.
Pertama, penggundulan hutan yang cepat menghancurkan keanekaragaman hayati, dan mengubah lahan yang subur benar – benar menjadi gurun pasir yang sangat luas. “ sejak tahun 1970, daerah yang berpepohonan per 1000 penduduk telah menurun drastis dari 11,4 km2 menjadi 7,3 km2 (UNDP,1984:4);
Kedua, penggunaan lahan – lahan tersubur bagi tanaman ekspor memaksa kaum petani berpindah – pindah kedaerah pinggiran misalnya, di lereng – lereng bukit yang curam yang rawan terkena erosi, akhir – akhir ini menyebabkan tanah longsor yang mematikan seperti di Honduras, Nikaragua dan Venezuela;
Ketiga, meningginya penggunaan pestisida dan pupuk kimia. Misalnya, industri pisang di beberapa Negara menggunakan pestisida jenis DBCD dan mengakibatkan kemandulan bagi kaum lelaki;
Keempat, kerusakan rawa – rawa bakau akibat peternakan udang membuat daerah – daerah pesisir semakin rawan terlanda banjir. Di Ekuador, sebanyak 70 % hutan bakau telah ditebang untuk dijadikan lahan peternakan udang, yang lantas berdampak pada mata pencaharian kaum nelayan tradisional, dan memperburuk banjir yang diakibatkan oleh badai El Nino;
Kelima, bahan bakar yang dihambur – hamburkan, kemerosotan mutu nutrisi, dan meningginya pemakaian bahan – bahan pengawet bagi makanan yang dikirim melalui perjalanan jarak jauh;
Keenam, keanekaragaman hayati yang alami diganti dengan perkebunan monokultur. Perkebunan yang monokultur membabat pepohonan yang amat mahal harganya dan menghancurkan sisanya hingga tinggallah ‘padang ilalang’ dan ‘sampah’. Vandana Shiva (1993:24) berujar “Sampah inilah yang merupakan kekayaan biomassa, yang mengatur siklus makanan dan air di alam, serta mencukupi kebutuhan makanan, bahan bakar,makanan ternak,pupuk,serat, dan obat – obatan bagi komunitas – komunitas pertanian”;
Ketujuh, pengambilan ikan yang berlebihan (over-fishing): “persediaan ikan dunia menurun hingga tinggal seperempat atau hampir habis, dan 44 % lainnya diambil melampaui batas keletariannya” (UNDP,1998:4);
Kedelapan, punahnya habitat alam dan mata pencaharian manusia sebagai akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh pengerukan bahan bakar. Contohnya, kerusakan yang ditimbulkan oleh perusahaan Shell Oil di Delta Niger, tempat tinggal orang – orang Ogoni..
Kesembilan, pengerukan kekayaan alam yang sampai pada batas tak lestari tanpa mempertimbangkan kelanjutan (sustainable) dapat mengakibatkan utang ekologis yang lumayan besar dan membutuhkan waktu yang panjang untuk bisa kembali kepada keadaan seperti semula baik itu secar kuantitas atau pun kualitas. Seperti yang dikatakan oleh Joan Martinez Alier (1997), bahwa alam tak dapat tumbuh pada kecepatan 4 – 5 % setahun, SDA yang terbarukan memiliki ritme – ritme pertumbuhan biologis yang lebih lambat dibanding ritme – ritme pertumbuhan ekonomi yang membebani secara eksternal.
Krisis lingkungan saat ini hanya dapat diatasi dengan melakukan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam yang fundamental dan radikal yang dibutuhkan sebuah pola hidup atau gaya hidup baru yang tidak hanya menyangkut orang perorang, tetapi juga budaya masyarakat secar keseluruhan, artinya dibutuhkan etika lingkungan hidup yang menuntun manusia untuk berinteraksi dengan lingkungan.
Dalam Ar Rum : 44 dijelaskan bahwa kerusakan di darat laut dan udara disebabkan karena keserakahan manusia…. Pola hidup serta kebijakan yang masih antroposentris juga menjadi penyebab utama menurunnya daya dukung lingkungan di bumi ini
Seperti sebuah renungan di hari bumi ketika kerusakan di bumi ini khususnya di Indonesia semakin meluas dari permasalahan lingkungan menjadi permasalahan kesenjangan sosial dan politik, pertanyaan yang harus dijawab oleh diri kita, bagaimana dengan kita ? bagaimana dengan anak cucu kita, dengan generasi yang akan datang ? seperti kata terakhir Gerlofd Nelson yang disampaikan dalam Catalyst Conference Speech University of Illionis,1990. ‘jika ingin mengubah Negara untuk kegiatan – kegiatan yang sulit tentang kebijakan politik, pencinta lingkungan menjadi sumber kekuatan dengan anda, apa saja dapat dilakukan. Jika ingin Negara untuk kepentingan ekonomi, pikirkan diri anda dan generasi anda manusia yang akan datang, saya yakin anda dapat melakukannya’
Posted at 10:14 pm by penakayu
Permalink
Orangutans kickboxing , kelucuan yang tidak manusiawi
Oleh Iden Wildensyah
Dalam satu kesempatan saya mendapati sebuah kozan nasional yang didalamnya ada berita tentang pemerintahan Thailand yang menghambat usaha pemulangan orangutan dari kebun binatang Safari World di Bangkok, pihak safari world mengklaim 41 orangutan telah mati. Hal yang bertolak belakang dengan klaim mereka yang mengatakan selama ini mereka berhasil melakukan penangkaran ( harian merdeka,19/08/2004)
Sebenarnya pihak indonesia telah melakukan upaya pemulangan mereka para orangutan tersebut tapi ternyata gagal karena tertahan birokrasi yang tidak kooperatif. Tim indonesia yang terdiri dari Departemen Kehutanan, LIPI, Borneo Orangutan Survival Foundation, Jaringan Pusat Penyelamatan Satwa dan Profauna Indonesia.Pengiriman orangutan sampai kesana juga memang bukan tanpa sebab diduga ada oknum dari beberapa instansi salahsatunya departemen kehutanan di Kalimantan yang menyelundupkan orang utan tersebut.
Yang menarik saya untuk menuliskannya adalah ada satu proses yang membuat kadang hati ini tertawa kadang meringis miris mendapati binatang menjadi tontonan sementara kita tidak tahu bahwa sebenarnya dalam posisi binatang merasakan kesakitan yang sangat, ini yang sering terjadi perikebinatangan atau hak hidup mereka yang dirampas oleh manusia. Apa bedanya dengan permpasan hak anak-anak contohnya yang diekploitasi tenaganya untuk bekerja memenuhi target orang dewasa. Atau hak – hak manusia lainnya yang sering di suarakan. Jelas – jelas ekploitasi terhadap binatang yang tidak pada tempatnya adalah sebuah perbuatan yang kurang terpuji.
Beda konteksnya sama Kerbau yang di berdayakan untuk membajak atau kuda yang dijadikan delman atau sado, mereka ( kerbau dan kuda ) memang mempunyai tenaga yang tepat dan itu diberdayakan bukan untuk kesenangan manusia sedangkan mempertandingkan orangutan bagi saya hanya sebuah pemuasan kesenangan manusia. Pertandingan di mana orang utan tersebut dipakaikan sarung tangan tinju dan seluar pendek diadakan setiap hari di taman hidupan liar Safari World sejak dua dekad lalu.
Selanjutnya dalam tataran yang lebih jelas lagi secara umum kehidupan orangutan ada di hutan – hutan pedalaman kalimantan indonesia yang kita jaga bersama – sama agar habitatnya tetap kondusif untuk kehidupan mereka. sangat ironi sekali ketika tiba – tiba mendapati orangutan yang jadi bahan tontonan di Bangkok dalam kondisi yang menggenaskan, menjadi petinju yang sama sekali tidak tahu apa itu tinju lalu bagaimana berlatihnya selanjutnya dampak apa yang akan terjadi dari kegiatan tinju, dari persfektif manusia untuk sampai menjadi petinju pun harus melalui beberapa tahapan latihan, seleksi sampai tanding. Maka wajarlah bila banyak orangutan kita yang mati menggenaskan di negeri Thailand.
Memperlakukan binatang menjadi bahan tontonan terutama dijadikan petinju yang tentunya sesama binatang juga memang bukan kali ini saja terjadi, sejak beberapa tahun yang lalu di Australia pernah terjadi hal yang sama yaitu menjadikan kangguru – kangguru disana sebagai petinju binatang yang menjadi tontonan sebagian golongan elit pendatang eropa di Australia. Ini juga mendapat reaksi yang besar dari aktivis lingkungan disana terutama pecinta satwa, mereka melakukan aksi besar – besaran menentang kegiatan tersebut.
Kejadian sekarang seperti yang dilansir beberapa media memang mengkhawatirkan diantara perjuangan mempertahankan spesies orang utan yang hampir habis di Indonesia, sementara
Di Bangkok orang utan begitu cepatnya mengalami musibah yang sangat membuat miris kita juga matinya mereka (orang utan) di kebun binatang yang notabene selalu dijadikan tempat untuk melestarikan spesies di luar habitatnya.
Seandainya ini tidak di perhatikan dari sekarang, kemungkinan besar praktek – praktek ilegal penyelundupan binatang khas Indonesia akan sulit dihentikan, selanjutnya bangsa indonesia hanya akan mengetahuinya sebatas dongeng dan cerita – cerita, tidak ada salahnya bila ini patut kita perhatikan kelestariannya dari sekarang. Secepatnya pemerintah harus turun tangan agar spesies orangutan kita tidak makin punah.
Kini sudah saatnya dari sekarang kita lebih peduli lagi untuk menjaga kelestarian orang utan khususnya dan satwa liar umumnya dari kepunahan. (24/08/04)
* penulis adalah mahasiswa UPI jurusan Teknik Sipil, Relawan Lingkungan di Bandung.
Posted at 08:51 am by penakayu
Permalink
Sehari Tanpa Kendaraan Bermotor
Oleh Iden Wildensyah *
Sejenak setelah kita melaksanakan pemilu presiden tahap II hari senin 20 September 2004 kemarin, hari ini kita coba untuk mengurangi kadar polusi di kota bandung dengan melaksanakan kegiatan tanpa kendaraan pribadi. Tingkat polusi udara yang tinggi menyebabkan berbagai dampak yang mengerikan, Prof. Dr. Otto Soemarwoto dalam satu kesempatan di Monument Perjuangan Rakyat Jawa Barat pernah mengatakan bahwa kadar timbal dalam darah sudah di atas ambang batas,selain gejala disfungsi ereksi pada pria dewasa, perlahan namun pasti, timbal akan berujung pada gangguan reproduktif. Bagi yang sudah tua mungkin berdampak langsung pada pemendekan usia, bagi yang masih muda bisa mengalami disfungsi ereksi, gangguan pada sperma atau kemandulan.
Hasil penelitian tentang kadar timbal (Pb) dalam darah anak sekolah beberapa SD dan SMP di Kota Bandung, yang dilansir "PR" (12/7), ternyata bisa lebih parah. Dengan kondisi pencemaran udara seperti saat ini, paling tidak 50 persen anak-anak(usia sekolah di Kota Bandung dipastikan memiliki kadar timbal dalam darah di atas ambang batas. ketika kadar timbal dalam darah ini sudah di atas ambang batas maka ini bisa menimbulkan ganguan kecerdasan pada anak-anak sedangkan pada orang dewasa efeknya tidak kalah mengerikan. Bagi wanita hamil, selain bisa keguguran, putra atau putri yang dilahirkan pun bisa prematur atau gangguan lainnya. Selain itu, timbal yang masuk dalam paru-paru orang dewasa bisa menyebabkan iritasi pernapasan bahkan kanker paru-paru, emphisema, dsb.
Hasil studi yang dilakukan di beberapa ruas jalan di Kota Bandung menunjukkan, komposisi asam sulfat (SO4) dan asam nitrat (NO3) mencapai 30% dari total debu di udara. Hal ini menyebabkan, hujan yang turun di Kota Bandung menjadi hujan asam. Studi tersebut juga mengidentifikasi komposisi kimia di dalam partikel seperti timbal (Pb), arsenik (As), amonium (NH4), dan logam berat lainnya. Sumber-sumber pencemar antara lain industri dan transportasi.
Car free day
CFD (Car Free Day) Selanjutkan CFD menyebar ke Eropa dan negara lain di dunia mengingat semakin tingginya ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan bermotor pribadi. Ternyata dengan kegiatan CFD, masyarakat dapat menikmati jalanan sebagai tempat bersosialisasi, berjalan kaki, berolah raga, panggung musik dan sebagainya.
Keberhasilan CFD di beberapa negara ditindaklanjuti dengan semakin gencarnya pengurangan kendaraan bermotor pribadi dan diimbangi dengan peningkatan sarana angkutan umum massal dan pembangunan pedestrian.Pada September ini,tepatnya tanggal 21 september,CFD kemudian menjadi acara tahunan dan dilakukan diberbagai belahan negara lain di dunia. Tanpa melakukan pengukuran ilmiah terhadap kadar pencemaran pun, warga bisa merasakan kotornya udara ketika bernapas. Karena Car Free Day ini bermaksud membangkitkan kesadaran masyarakat tentang perlunya menjaga kebersihan udara sangat perlu.
Cara yang paling signifikan untuk menurunkan tingkat pencemaran udara adalah dengan beralih dari penggunaan kendaraan bermotor pribadi ke penggunaan alternatif transportasi non-motor, seperti bersepeda, berjalan kaki, bersepatu roda atau menggunakan kendaraan umum seperti bus, metromini, mikrolet.
Sehari tanpa kendaraan bermotor tampaknya akan menjadi satu kebutuhan bahkan di saat kesadaran untuk menjaga kualitas udara ini menjadi penting bias saja car free day tidak hanya dilakukan sehari, tapi setiap hari. Meninggalkan mobil pribadi sehari untuk merefleksikan betapa banyaknya peran kita dalam mencemari udara adalah tindakan bijak karena pada waktu yang lain juga ketika kesadaran akan udara yang bersih, kita menjadi pelaku aktif untuk mengurangi tingkat pencemaran.
* Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia
Posted at 08:49 am by penakayu
Permalink
Do'a Seorang Ayah tuhanku...jadikan anakku seorang yang cukup kuat mengetahui kelemahan dirinya dan tetap berani menghadapi dikala ia takut yang tetap bangga dan tidak hancur dalam menghadapi kekalahan serta tetap rendah hati dalam kemenangan. tuhanku... jadikan anakku seorang yang percaya akan adanya engkau dan mengenal dirinya sebagai dasar segala pengetahuannya ya tuhanku..bimbinglah ia bukan dijalan yang gampang dan tanpa rintangan tetapi dijalan yang penuh tekanan, tantangan dan kesukaran ajarilah ia agar sanggup berdiri tegak ditengah badai dan belajar mengasihi mereka yang tidak berhasil ya tuhanku..jadikanlah anakku seorang yang berhati suci,bercita -cita luhur sanggup mencintai dirinya sebelum mencintai orang lain dan mampu mengejar masa depan tanpa melupakan masa lalu. sesudah semuanya telah membentuk dirinya aku mohon juga ya tuhan berilah ia sedikit rasa humor sehingga menjadi orang yang bersunguh-sungguh tetapi tidak berlebihan dan berilah ia kerendahan hati,kesederhanaan dan kesabaran ini semua ya tuhan.. hanya ada dalam kekuatan dan keagungan diriMu dan jika itu telah Kau kabulkan,Tuhanku.. maka beranilah aku sebagai ayahnya berkata "hidupku tidak sia-sia" ( jendral douglas mc arthur )
Posted at 08:46 am by penakayu
Permalink
5 juni 2005 adalah hari lingkungan hidup sedunia, 22april 2005 adalah hari bumi dua momen besar hari lingkungan dan hari bumi tahun ini samasekali aku tidak turun bersama para aktivis lingkungan, satu hal yang sangat berbeda bila dibandingkan dengan dua atau tiga tahun yang lalu.
jangan bertanya kenapa karena aku tidak akan menjawabnya. mungkin di gerakan aku nyaris hilang tapi di media aku hadir. selama bulan ini dua tulisan tentang lingkungan dimuat dimedia bandung.
- pertama " HUTAN dan Banjir Tahunan" di Buletin Wanadri
- kedua "Punclut, Kawasan Konservasi yang Harus dipertahankan" di ISOLA POS.
- ketiga "Air, sumber kehidupan dan Bencana" di Majalah Air Minum.
terus rencana selanjutnya..
sudah aku siapkan tulisan beberapa refleksi lingkungan untuk beberapa media, semoga berhasil!
Posted at 12:11 am by penakayu
Permalink
you know-lah kalau orang ditanya tentang apa yang paling berharga dalam dirinya,pasti jawabannya beragam. termasuk aku, bagiku yang paling berharga dalam diriku adalah semangat untuk berbagi. walaupun konteks-nya luas tapi berbagi dalam banyak hal memberikan banyak hal yang berarti bagiku.
termasuk hari itu, hari dimana aku benar-benar merasakan sebuah arti berbagi, tentunya dengan orang-orang terkasih dalam hidupku. dengannya aku bisa tahu kalau berbagi melahirkan rasa kebahagiaan yang tidak terukur oleh uang berapapun.
mari berbagi dengan sesama, walau itu sedikit tapi siapa tahu dalam diri orang yang kita bagi itu besar maknanya. amien.
Posted at 07:31 am by penakayu
Permalink
|