..................................... The Other Side Of Me !




Muda, Kreatif, Pantang Menyerah !

   

<< June 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30

Iden Wildensyah

Buat Lencana Anda


"Sedikit ide yang kau tuang dalam karya, akan lebih berarti daripada seribu kata yang terucap"

Satu-satunya Alasan Mengapa Ada Waktu, Karena segala sesuatu tidak terjadi sekaligus (Albert Einstein)

.

Imajinasi lebih penting dari sekedar Ilmu Pengetahuan (Albert Einstein)

.

Bumi ini Cukup untuk semua orang tapi tidak Untuk Dua Orang Yang Serakah (Mahatma Gandhi)

.

Against Ignorance !!

.....

Satu Kali dalam Hidup Orang Harus Menentukan Sikap. Kalau Tidak, Dia Tidak Akan Menjadi Apa-Apa (Pramoedya Ananta Toer)

....

....

...

..

.

Hidup ini Sederhana, Tentukan Pilihanmu dan Jangan Menyesal!

Coba Mengumpulkan yang terserak ! karena Ide tak Cukup Sekedar di Obrolkan.

hmm

GALERI BUKU PENAKAYU

LINKS euy!

  • Google News
  • wildensyah
  • isolapos
  • bitra
  • pipitkecilku
  • perca
  • akulaila.com

    Beasiswa Indonesia Scholarships

    Scholarship Info Beasiswa

    BLOG juga hasil karya cipta. Menyalin, Mengcopy dan Menyebarluaskan harus mencantumkan penulis. PENAKAYU adalah BLOG milik Iden Wildensyah, Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Lingkungan, UNPAD. Pekerja Konstruksi Rangka Atap Baja Ringan di Bandung.(email: wildensyah@yahoo.com)

    Let's Go Green Atuh, Euy!

    go green indonesia!


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



 
Jun 22, 2005
tentang Rindu
tahukah bagaimana Tuhan menciptakan rindu?, pertama-tama Ia ciptakan waktu agar semuanya bisa berlalu dan terus terkenang, lalu ia ciptakan hati, agar bisa merasakan setiap waktu itu begitu berharga, setelah itu diciptakan hati, lalu dibumbui dengan rasa, agar setiap kenangan yang masuk ke hati bisa menjadi indah, setelah ada rasa barulah diciptakan partikel-partikel udara untuk menghantarkan rasa, lahirlah rindu agar setiap waktu, bisa mengingatNya supaya bersyukur betapa setiap waktu bersamaNya begitu berharga dan setiap rasa yang mengalir dalam darah ini begitu indah untuk dikenang.
(untuk N.A yang selalu bersyukur atas semua kerinduan yang menjalari nadi-nadi kehidupan)
Posted at 12:12 am by penakayu
Make a comment  

 
Jun 17, 2005
publikasi

Punclut, Kawasan Konservasi Yang Harus Dipertahankan

Oleh Iden Wildensyah *)

Siapa yang tidak mengenal Punclut, sebuah daerah di utara Bandung yang sebagian orang mengenalnya dengan nama puncak Ciumbuleuit utara.Punclut dalam kosakata sunda berarti puncak adalah kawasan yang sudah lama dikenal sebagai kawasan rekreasi, cross country, sepeda gunung maupun jogging, cobalah tengok setiap hari sabtu sore atau minggu, punclut menjadi daerah ramai pengunjung. “Punclut adalah kawasan berbukit yang romantik". Demikian ungkapan seorang pakar geologi, Soewarno Darsoprajitno. Tidak salah memang, dari ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl.), dapat disaksikan bentangan alam cekungan Bandung yang luar biasa istimewa. Keindahan Punclut semakin terasa saat menikmati mentari muncul di ufuk timur dan terbenam di pelukan bumi bagian barat. Ditambah udara yang sejuk dan berangin, tepat rasanya jika dikatakan Punclut sebagai kawasan yang romantik.

Sebagai bentang Kawasan Bandung Utara (KBU) termasuk dalam zona pakar – Ciburial, punclut juga termasuk lahan kritis kota bandung dimana yang mencapai 350 hektar. Lahan kritis itu terdapat di kawasan Punclut seluas 150 hektar, Dago Pakar 80 ha, Cimenyan 70 ha, dan sisanya tersebar di sisi kanan-kiri jalan raya di seluruh Kota Bandung yang luasnya 50 ha.

Menjadi lahan kritis tampaknya bukan hal yang begitu dramatis, karena belum terasa samasekali dampaknya bagi sebagaian penduduk di Kota Bandung, tetapi kalau bencana besar semacam longsor terjadi barulah kita sadar tentang pentingnya menjaga kawasan konservasi. Sebagai kawasan konservasi air yang di tetapkan dalam SK Gubernur Jabar No 181-1/SK.1624/1982, yang mengatur Bandung Utara sebagai daerah resapan air, Punclut begitu penting peranannya dalam memasok air tanah untuk Kota Bandung, hal ini pula yang mendasari beberapa kajian bandung utara agar diselamatkan dari usaha – usaha pengalihfungsian. Punclut memiliki fungsi ekologis sebagai kawasan resapan air untuk menyuplai kebutuhan air di wilayah Kota Bandung dan cekungan Bandung

Bisa dibayangkan bila punclut beralihfungsi menjadi kawasan pemukiman, entah itu oleh masyarakat atau pengembang,dimana kondisi air tanah akan semakin kritis, hal ini terjadi karena adanya pemadatan didaerah permukaan tanah, yang bisa menyebabkan air larian atau run off tinggi bila ini terjadi dengan sendirinya gerusan air terhadap tanah akan besar yang berdampak lanjut bila gerusan ini intensitasnya tinggi akan menyebabkan bencana longsor atau banjir.

Melestarikan atau membangun punclut

Daya tarik kawasan Punclut yang terletak di Bandung Utara, tak hanya mengundang warga untuk berlari pagi sambil berbelanja, terutama di hari Minggu, namun juga dilirik investor untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata terpadu. Dinamika pembangunan punclut ini menjadi berita hangat yang mengisi kolom surat kabar lokal maupun nasional.

Kedua terminologi membangun dan melestarikan pada akhirnya akan bermuara dimasyarakat yang disatu sisi akan merasa dimajukan dengan pembangunan tersebut. Sementara di sisi lainnya masyarakat yang tinggal di cekungan bandung akan merasa khawatir apabila punclut dibangun, tanah longsor dan banjir akan menghantui didepan mata.

Namun dibalik itu, pembangunan yang berwawasan lingkungan terutama di kawasan punclut sudah saatnya menjadi prioritas penting dalam agenda pembangunan berkelanjutan, konsep win – win sollution yang banyak ditawarkan seperti penataan yang menurut sebagian pemerhati lingkungan faith a comply pemerintah terhadap warga harus lebih didominasi oleh peran konservasinya, kalau dalam perbandingan persentase sekitar 80 persen untuk kawasan hijau dan 20 persen untuk kawasan pembangunan, walaupun kontrol terhadap pembangunan yang 20 persen ini juga sedikit diragukan dalam pelaksanaan lapangan.

Yang seharusnya menjadi perhatian semua pihak, baik pemerintah, investor, LSM dan masyarakat perlu diperhatikan adalah Punclut yang berfungsi sebagai kawasan konservasi air, terutama pasokan air tanah Kota Bandung. Keberadaan Punclut sangat terkait satu sama lainnya, hal ini merujuk pada konteks fungsi ekologis kawasan punclut yang tidak bisa berdiri sendiri.

Pembangunan untuk kawasan Punclut selayaknya diperhatikan dari semua sisi, tidak saja dari aspek ekonomi tetapi juga dari berbagi sisi yang lainya terutama kaitan dengan fungsi ekologis sebagai kawasan konservasi yang tidak bisa di buat dalam bentuk hubungan ekonomi. Begitupun dengan upaya pelestarian, dalam hal ini perlu di lakukan kajian pelestarian yang sesuai dengan wilayah dan kawasan tersebut. Dalam definisi Sony Keraf dalam bukunya Etika Lingkungan ia mengatakan bahwa keberlanjutan ekologi sudah saatnya diperhatikan semua pihak dalam lingkaran ekologi ketika pembangunan berkelanjutan ternyata gagal diimplementasikan, sama halnya dengan Fritjop Capra dalam bukunya Jaring – Jaring Kehidupan, hendaknya setiap upaya – upaya pembangunan melibatkan dan melihat semua unsur yang terdapat di lingkungan ini karena keterkaitan fungsi kehidupan yang satu sama lain saling menopang.

* Penulis Adalah Mahasiswa UPI Jurusan Teknik Sipil

(dimuat di Surat Kabar Mahasiswa Isola Pos UPI)

email : wildensyah@yahoo.com

+62817 024 6890

Posted at 03:01 pm by penakayu
Comment (1)  

 
Jun 16, 2005
publikasi..
Menuang Pendapat Dalam Tulisan*

Oleh Iden Wildensyah**

Pengalaman mengajar kita bahwa kita harus berpikir sebelum terjun ke medan pengalaman itu sendiri (Pramudya Ananta Toer, Percikan Revolusi Subuh)

Menulis adalah perjalanan menuju satu kelahiran dan karya yang lahir ibarat air yang nan bergulir deras di lereng perasaan dan pikiran (Dewi Lestari)Jika saya harus

Menuliskan tentang apa itu menulis artikel atau menulis opini, saya harus membaca dan mencari banyak hal tentang artikel, opini dll. Lalu bagaimana menuliskannya? saya mencoba menuliskannya dengan menuang pendapat dalam tulisan. Tanpa harus bersusah-susah mencari lagi literatur tentang menulis artikel atau menulis opini. Saya lebih memilih untuk menuliskan sedikit pengalaman menulis, kemudian berbagi dan tentunya mencari proses penulisan yang lebih baik. Tentunya terlalu jauh bila dibandingkan dengan penulis-penulis yang sudah kahot dan terkenal langganan mengisi lembaran opini di berbagai surat kabar, majalah lokal maupun nasional.

Menulis dan Sedikit Pengalaman

Kita mulai dari sisi saya pertama kali saya menulis. Bagi saya menulis adalah aktualisasi ide. Tiap orang mempunyai ide yang berbeda dengan orang lain, tetapi sebagian orang yang bisa menuangkannya dalam bentuk yang real, yang nyata, yang bisa dilihat dan dibagi dengan orang lain. Karena sekecil apapun ide yang tertuang dalam karya akan lebih bermakna dari seribu kata yang hanya terucap.

Berawal dari sana, saya selalu mencoba menuangkan ide, pendapat atau gagasan dalam sebuah tulisan dari hanya sekedar catatan harian dalam secarik kertas sampai dengan menyediakan waktu khusus untuk menampung ide di kepala saya. Ide menulis lahir dari mana saja, sebuah tulisan bisa lahir dari hanya sekedar menulis surat pada seorang kawan, dari jalan-jalan, diskusi atau membaca.

Penulis Djenar Maesa Ayu mengaku, dirinya menulis karena memang ingin menuliskan segala apa yang ada dalam otak dan pikirannya. Bukan karena cita-citanya ingin menerbitkan antologi cerpen ataupun novel. Tetapi lebih sebagai kebutuhan kerja intelektual saat menuangkan ide-ide. Lalu bagaimana saya menulis opini? Menulis opini bagi saya adalah suatu bentuk proses kreatif kita atau keterampilan kita dalam melihat sisi lain dari setiap peristiwa yang aktual dan faktual pada waktu tertentu. Tentunya dengan dasar-dasar kuat yang dapat mendukung semua argumen kita. Dasar ini bisa saja dari pendapat ahli atau kejadian serupa yang pernah terjadi sebelumnya.

Biasanya sebelum saya menuliskannya, terlebih dahulu saya mencari literatur opini sebelumnya. Bisa dari surat kabar, majalah atau mencari di internet. Ini berguna untuk mencari dasar untuk argumen kita juga untuk membandingkan dengan pendapat sebelumnya. Hal ini juga dilakukan agar setiap tulisan yang hendak ditulis itu benar-benar belum ditulis orang lain.Tetapi yakinlah berdasarkan pengalaman dengan topik yang sama selalu menghasilkan tulisan yang berbeda karena perbedaan persfektif dan argumentasinya.

Selalu membaca, itulah kuncinya. Karena apa yang di baca, itulah yang akan menjadi dasar untuk berbagi tulisan dengan orang lain. Tetapi harus diingat bahwa konteks membaca itu luas, bisa dari lapangan (realita di masyarakat) atau literatur (buku, majalah, koran dll).

Pengetahuan yang didapat dari membaca itu adalah aset yang berharga. Kadang saya menulis dengan teori-teori yang belum tentu dikenal oleh khalayak umum, kadang pula saya menuliskan apa yang sedang saya pikirkan pada waktu itu tanpa harus berbelit-belit dengan teori-teori atau pendapat orang lain sebelumnya, tinggal bagaimana melihat sisi lain yang beda dari orang lain tentunya yang masih aktual dan faktual di pembaca.

Menulis juga adalah proses keuletan dan keukeuh, ini pengalaman saya yang yakin bahwa media masih membutuhkan tulisan. Jika saya sudah yakin dengan tulisan saya, maka saya akan mengirimkannya ke media. Dengan terus mengirimkan maka nama saya akan membayangi redaktur sampai kemudian tulisan saya dimuat. Entahlah saya melihat proses keukeuh ini sebagai alasan kenapa tulisan bisa dimuat.

Menulis setiap hari adalah keharusan yang terus menerus saya lakukan, karena siapa yang menyangka bahwa dari sekedar tulisan pengalaman bisa melahirkan ide yang lebih besar atau pendapat yang tajam dan kritis. Ambillah bagaimana pengalamannya Soe Hok Gie atau Ahmad Wahib, dua tokoh yang menginspirasi setiap aktivis dalam menulis. Tentang 5w + 1h, saya yakin anda semua sudah mengetahui dan paham lebih jauh. 5w+1h ini adalah unsur dasar dalam menuliskan sebuah peristiwa, namun perlu diketahui pula Ashadi Siregar menyebutkan bahwa ada lima ukuran sebuah peristiwa bernilai berita, yakni :

  • Significane (penting) yaitu kejadian yang berkemungkinan mempengaruhi kehidupan orang banyak yang mempunyai akibat terhadap pembaca.
  • Magnitude (besar) yaitu kejadian yang menyangkut angka-angka yang berarti bagi kehidupan orang banyak atau kejadian yang berakibat bisa dijumlahkan dalam angka menarik buat pembaca.
  • Timeliness (waktu) yaitu kejadian yang menyangkut hal-hal yang baru atau dikemukakan.
  • Proximity (kedekatan) yaitu kejadian yang dekat dengan pembaca, kedekatan wilayah geografis maupun emosional.
  • Human Interest (manusiawi) yaitu kejadian yang memberi sentuhan perasaan bagi pembaca, kejadian yang menyangkut orang biasa dalam situasi luar biasa, inilah yang menjadi pangkal sebuah tulisan menjadi tidak usang dibaca kemudian hari.

    Walaupun Ashadi menyebutkan itu unsur penting peristiwa bernilai berita, tapi bagi saya kelima unsur tersebut dapat dijadikan dasar untuk menulis artikel, opini dsb. Dari kelima unsur tersebut saya bisa melihat segmen lain dari setiap peristiwa yang terjadi untuk tulisan yang hendak saya buat.

    Penulis dan Pembaca

    Sindhunata menuliskan bahwa Tulisan itu menjadi berarti, ketika ia sudah memasyarakat. Artinya, pembacalah yang menentukan apakah tulisan itu baik atau tidak (Martin Walser). Ironisnya, ketika kita menulis, pembaca itu tidak terlalu kita perhitungkan. KIta hanya berekspresi dan berekspresi. Pembaca sendiri bisa mulai menemukan arti dalam tulisan itu, jika ia sendiri mempunyai pengalaman, seperti dituturkan dalam tulisan itu.

    Dengan kata lain antara pembaca dan penulis harus ada sambungan pengalaman yang sama. Dari sinilah sebuah tulisan itu akan membentuk suatu kesadaran. Dimana hal itu muncul lewat pembaca dan dari pembaca, setelah mereka membacanya. Ini paradoks suatu penulisan: arti dari suatu tulisan itu kelihatannya lebih merupakan produk dari pembaca daripada penulisan. Karena itu benarlah kata-kata: "Nasib buku itu di tangan pembaca, sesuai dengan daya kemampuan dan tingkatan mereka".
    Dilihat dari kacamata di atas, menulis itu adalah suatu petualangan. Kita boleh merasa tulisan kita baik, ternyata tulisan itu tak berbunyi apa-apa bagi pembaca. Dalam bahasa pemasaran buku: pasar pembaca itu sulit diterka. Melihat kenyataan itu, tak bisa kita mematok dari awal, bahwa tulisan kita akan laku. Kita memang harus memperhitungkan pembaca, tapi kita tidak boleh didikte oleh pembaca. Biarlah pembaca membacanya, sementara kita hanya menuliskannya. Memang, jembatan antar kita dan pembaca akan terbangun, jika mempunyai pengalaman yang diandaikan juga dialami pembaca. Maka menulis sesungguhnya bukan hanya pekerjaan otak, tapi pekerjaan pengalaman: pengalaman mendesak kita untuk merefleksikannya, dan kemudian menuliskannya. Epilog

    Sampai di sini saya memaparkan sedikit hal tentang menulis, yang perlu diingat adalah menulis itu perlu dasar yang kuat, percaya diri, berani bertanggungjawab, orisinil bukan hasil plagiasi (hati-hati dengan plagiasi, anda akan menjadi black list redaktur. Kalaupun ada kutipan, tulislah sumbernya).

    Titik terpenting dalam menulis adalah melakukannya (do it) namun tidak kalah pentingnya juga adalah motivasi yang kuat agar tulisan kita bisa lebih kritis dan bisa dikonsumsi orang lain.

    Terakhir, saya menganalogikan bahwa penulis opini itu adalah teko yang mengisi cangkir, maka buatlah air itu bergizi bagi siapapun yang ingin meneguknya, dengan keluasan dan keterbukaan kita dalam mencari formulasi sebuah tulisan yang berguna bagi orang lain. J Bandung, Juni 2005

    Bahan Bacaan Selanjutnya :

  • Artikel Sekadar Catatan tentang Tulis Menulis ; Sindhunata
  • Vademekun Wartawan
  • Seandainya Saya Wartawan Tempo
  • Wartawan Asia.

    * Pengantar Diskusi Teknik Menulis Artikel di Pelatihan Pers dan Jurnalistik Mahasiswa "GLOSUS" FK Universitas Kristen Maranatha 11 Juni 2005

    ** Anggota UPM UPI pernah menjadi Redaktur ISOLAPOS Online dan ISOLA Magazine. kini menjadi Kontributor untuk media di Bandung.

  • Posted at 07:51 pm by penakayu
    Make a comment  

     
    Jun 15, 2005
    dari KOMPAS

    Di luar prasangka personal seseorang menjalani hidup membosankan dalam rutinitas mandul, tanpa gairah, di balik itu dia memiliki makna maupun signifikansi luar biasa dalam kehidupan, bagi orang lain dan lingkungan terdekat. Makna ini kadang-kadang gagal dicapai banyak orang. Karena itu orang merasa hampa makna hidup.

    Hampa makna hidup-di berbagai fenomena bisa berupa alienasi, nihilisme, absurdisme-sebenarnya merupakan fenomena umum bagi manusia kontemporer. Ciri-cirinya ialah ketika orang merasa terasing dari diri sendiri, orang lain, lingkungan (sosial), atau kerja; di sisi lain merasa tak punya tujuan hidup dan takdir. Mereka hidup, berperan, merasa, ambil bagian, tapi semuanya tertelan hiruk-pikuk atau persoalan sehari-hari.

    Orang kehilangan ruang meditasi (perenungan); sementara setiap kali mengalami peristiwa yang mampu memunculkan pertanyaan kritis seperti "siapa saya", "di mana saya", "ada apa sebenarnya" yang mencoba mengembalikan pada kesadaran atau vitalitas hidup, membuka eksplorasi diri, dia malah ditarik-tarik menyelesaikan dengan cara tak layak, kalau tidak melupakan dan menenggelamkan dalam buih laut kehidupan.

    Ketika kecewa, bertanya tentang hidup, orang malah diajak minum-minum, bersenang-senang, dinasihati agar tak bertanya sesuatu yang sulit dijelaskan, berkata bahwa "masalah" itu akan selesai sendiri, akhirnya terlupakan bersama berlalu waktu dan peristiwa. Padahal itulah kesempatan orang mendapat jawaban fundamental terhadap misteri kehidupan.(kompas,12/06/05)

    Posted at 06:07 pm by penakayu
    Make a comment  

     
    Jun 13, 2005
    ...
    Tunas Ini Tumbuh Serupa Tubuh Yang Mengakar.
    Karena Kita Satu, Karena Kita adalah Dua Tubuh Dalam Satu Jiwa.
    Posted at 12:33 am by penakayu
    Make a comment  

     
    Jun 12, 2005
    publikasi

    MEMBANGUN BANGSA, MELESTARIKAN ALAM
    Oleh Iden Wildensyah *

    Bumi ini cukup untuk semua manusia tapi tidak untuk keserakahan kita (Mahatma Gandhi)

    Bukan tanpa alasan kejadian bencana alam seperti banjir, tanah longsor terjadi di tanah air ini atau bukan hanya kebetulan belaka semata-mata alam mendaur ulang kehidupan. Adalah cara pandang yang antroposentris dan kegagalan dalam mengimplementasikan paradigma pembangunan berkelanjutan yang menjadi alasan yang kemukakan oleh A Sony Keraf dalam bukunya etika lingkungan. demikian pula halnya dengan Arne Naess seorang filsuf Norwegia yang memperkenalkan konsep deep ecology yaitu suatu etika baru yang tidak berpusat pada manusia tetapi berpusat pada mahluk hidup seluruhnya dalam kaitan dengan upaya mengatasi persoalan lingkungan hidup. menurut arne naess krisis lingkungan hidup dewasa ini hanya bisa diatasi dengan melakukan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam yang fundamental dan radikal. yang dibutuhkan sebuah pola hidup atau gaya hidup baru yang tidak hanya menyangkut orang per orang tetapi juga budaya masyarakat secara keseluruhan. artinya dibutuhkan etika lingkungan hidup yang menuntun manusia untuk berinteraksi dalam alam semesta.

    Ambilah contoh konkret kerusakan alam ini dalam kasus pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh PT Inti Indorayon Utama di Sumatera Utara, PT Freeport Indonesia di Papua, PT Newmont Minahasa Raya di Buyat sesungguhnya diakibatkan oleh perilaku perusahaan yang tidak bertanggungjawab dan tidak peduli terhadap lingkungan. ini menyangkut tidak adanya kepedulian dan tanggungjawab moral perusahaan terhadap lingkungan hidup. contoh lainnya antara lain kasus illegal logging, impor limbah secara illegal dari luar negeri dan kasus perdagangan satwa liar, kasus ini tidak menyangkut orang perorang tetapi juga birokrasi pemerintah demikian pula halnya dengan kasus sampah di kota-kota besar seperti DKI Jakarta, Surabaya, Bandung dsb atau makin menyusutnya kawasan konservasi oleh pemukiman dan pembukaan lahan pertanian, terkait dengan persoalan perilaku moral manusia, khususnya korupsi dalam tubuh birokrasi pemerintah. bahkan kasus - kasus lingkungan yang terkait dengan globalisasi perdagangan dan berbagai perjanjian internasional lainnya adalah persoalan moral, khususnya persoalan kelicikan manusia dan negara bangsa dalam melakukan manipulasi dalam banyak bidang khususnya di bidang ekonomi dan politik yang merugikan kepentingan orang lain, termasuk bidang lingkungan hidup.

    Pembangunan Berkelanjutan Dan Keberlanjutan Ekologi

    Sejak tahun 1980-an agenda politik lingkungan hidup mulai dipusatkan pada paradigma pembangunan berkelanjutan. mula pertama istilah ini muncul dalam world conservation strategy dari the Lester R Brown international union for the conservation of nature (1980), lalu dipakai oleh dalam buku Building A Sustainable Society (1981), istilah yang kemudian menjadi sangat populer melalui laporan Brundtland, our common future (1987).

    paradigma pembangunan berkelanjutan diterima sebagai sebuah agenda politik pembangunan untuk semua negara didunia pada tahun 1992 dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) Bumi Di Rio De Janeiro, Brasil namun hingga kini paradigma tersebut tidak banyak diimplementasikan bahkan masih belum luas dipahami dan diketahui, ini bukan saja terjadi di Indonesia melainkan juga ditingkat global.

    Salah satu sebab dari kegagalan mengimplementasikan paradigma tersebut adalah paradigma tersebut kurang dipahami sebagai memuat prinsip - prinsip kerja yang menentukan dan menjiwai seluruh proses pembangunan. paradigma ini tidak dipahami sebagai berisi prinsip pokok politik pembangunan itu sendiri. pada akhirnya cita - cita yang dituju dan ingin diwujudkan dibalik paradigma tersebut tidak tercapai karena prinsip politik pembangunan yang seharusnya menuntun pemerintah dan semua pihak lainnya dalam merancang dan mengimplementasikan pembangunan tidak dapat dipenuhi.

    Cita - cita dan agenda utama pembangunan berkelanjutan tidak lain adalah upaya untuk mensinkronkan, mengintegrasikan dan memberi bobot yang sama bagi tiga aspek utama pembangunan yaitu aspek ekonomi, aspek sosial budaya dan aspek lingkungan hidup. karena itulah gagasan dibalik itu bahwa pembangunan ekonomi, sosial budaya dan lingkungan hidup harus dipandang sebagai terkait erat satu sama lain, sehingga unsur - unsur dari kesatuan yang saling terkait ini tidak boleh dipisahkan atau dipertentangkan satu dengan yang lainnya yang mau dicapai dengan pembangunan berkelanjutan adalah menggeser titik berat pembangunan dari hanya pembangunan ekonomi menjadi juga mencakup pembangunan sosial budaya dan ekologi lingkungan hidup.

    Dengan kata lain yang ingin dicapai disini adalah sebuah integrasi pembangunan sosial budaya dan pembangunan lingkungan hidup kedalam arus utama pembangunan nasional agar kedua aspek tersebut mendapat perhatian yang sama berharga dengan aspek ekonomi. pembangunan aspek sosial budaya dan lingkungan hidup tidak boleh dikorbankan demi dan atas nama pembangunan ekonomi.

    Keberlanjutan Ekologi

    Arus pembangunan berkelanjutan di indonesia seiring juga dengan arus kerusakan lingkungan, ambilah salah satu contohnya kasus ladia galaskan yang menghancurkan ribuan hektar hutan di leuseur serta terganggunya habitat asli dan semakin maraknya illegal logging dari jalur bukaan hutan. ini tentunya juga bukan tanpa alasan pembangunan jalan ini di bangun, akan tetapi laju kerusakan yang parah ini menjadi catatan tersendiri dari dampak pembangunan itu.

    Dalam hal ini kritik terhadap pembangunan berkelanjutan juga diungkapkan oleh Arne Naess dengan menawarkan apa yang disebut sebagai keberlanjutan ekologi yang luas sebagai ganti dari pembangunan berkelanjutan. keberlanjutan ekologi ini akan dicapai kalau benar- benar dilakukan perubahan mendasar dalam kebijakan politik ekonomi menyangkut pertumbuhan ekonomi dan gaya hidup masyarakat yang konsumtif. bahkan keberlanjutan ekologi ini akan dicapai pada level global kalau kebanyakan ditingkat global benar-benar melindungi kekayaan dan keanekaragaman bentuk - bentuk kehidupan di planet ini.

    yang dituntut dengan paradigma berkelanjutan ekologi adalah sebuah perubahan mendasar dalam kebijakan nasional yang memberi prioritas pada kelestarian bentuk - bentuk kehidupan di planet ini, demi mencapai keberlanjutan ekologi. jadi yang menjadi sasaran utama bukan pembangunan itu sendiri melainkan mempertahankan dan melestarikan ekologi dan kekayaan bentuk - bentuk kehidupan didalamnya. ini harus menjadi komitmen politik pembangunan nasional, kalau tidak kehancuran lingkungan dan ancaman bagi kehidupan manusia diplanet ini semakin tidak teratasi.

    Penutup

    Konteks pembangunan berkelanjutan maupun keberlanjutan ekologi adalah dua alternatif yang bisa dipilih untuk diterapkan diindonesia karena keduanya mempunyai sasaran yang sama, integrasi ketiga aspek yaitu aspek pembangunan ekonomi, aspek sosial budaya dan aspek lingkungan hidup. bedanya, titik berat pembangunan berkelanjutan memusatkan pada pembangunan ekonomi sambil memberi perhatian pada secara proporsional pada kedua aspek lain sementara keberlanjutan ekologi mengutamakan peletarian ekologi dengan tetap menjamin kualitas kehidupan ekonomi dan sosial budaya bagi masyarakat setempat dengan jaminan konsekuen dilaksanakan sesuai komitmen untuk menjamin ketiga aspek tersebut secara proporsional keduanya tidak akan menjadi masalah dalam paradigma pembangunan ini.

    untuk menghindari jebakan developmentalisme, paradigma berkelanjutan ekologi tentu lebih menarik karena dengan ini kita bisa melestarikan ekologi dan sosial budaya masyarakat demi menjamin kualitas kehidupan masyarakat yang lebih baik

    *) penulis adalah relawan lingkungan di bandung

    Posted at 08:10 am by penakayu
    Make a comment  

    sebuah email
    From: iden wildensyah <aku@k.st>
    Date: Wed, 2 Jun 2004 12:30:08 -0700 (PDT)
    To: cinta@k.st
    Subject: refleksi pertama...

    Assalamu'alaikum
    di awali dengan syukur Alhamdulillah,sebetulnya siang tadi aku sudah menulis banyak tapi kenapa tiba2 sekarang aku kehilangan beberapa bagian dari isi tulisanku,entah mungkin karena aku sudah menuturkannya dalam telepon tadi malam atau memang segini yang bisa aku tuliskan.
    memang benar katamu bulan mei ini full of love tapi karena aku mengalirkannya seperti air jadi segalanya begitu menarik karena itu terjadi tanpa disadari dengan kekuatan logika tapi kalau bahasa kerennya god spot telah membawa semua intuisiku untuk menuliskannya seperti itu yang terkadang begitu melankolis atau pun menjadi roman picisan (kata dewa.
    tapi semuanya menjadi bermakna kalau aku bandingkan dengan cerita lalu dimana setiap tahun selalu punya kesan dan pesan yang berbeda bagi para pelakunya,dan saat ini aku lah pelakunya yang benar2 merasakan semuanya begitu asik untuk aku tuliskan.
    email kita tidak lebih dari sebuah catatan harian yang merekam keseharian kita dengan berbagai cerita menarik yang kadang diantara kita selalu ada komentar2 baik itu yang nyebelin ataupun ngeselin kita,dibalik itu semua kita bisa melihat sisi lain dari perjalanan ini,kita bisa bercermin dari sisi orang lain saat kita rapuh saat kita kuat saat kita patah ataupun saat semangat itu benar2 ada diantara kita walau kita kadang saling egois untuk mengakui sesuatu,kadang kita saling iseng dengan semua kejahilan kita,kadang kita seneng dan puas saat orang kita isengan kena batunya..dan semua...dan semua selama rentang waktu bulan mei kemaren.
    aku masih merasakan kekuatan itu berasal dari kepala dari jiwa dan dari hati ketiga pilar itu yang membuat aku mampu berdiri walau hujan deras turun,badai,petir dan angin kencang berada dekat denganku,memang perjalanan naik gunung tidak lebih dan tidak kurang seperti halnya mengarungi sebagian perjalanan ini.
    bersamamu di dunia maya,di dunia tulisan aku merasakannya begitu dekat walau kadang kedekatan ini hanya kurasakan sendiri,entah kamu merasakan hal yang sama atau tidak aku tidak tahu tapi dari teleponmu aku tahu kamu pun merasakan hal yang sama,kedekatan emosi itu membuat jarak bukan lagi penghalang untuk bisa dekat sedekat hati ini.
    dulu aku tidak mau terjebak lebih dalam terutama urusan hati tapi ketika semuanya jelas didepan mataku didepan hatiku aku tidak mampu menghindarinya lagi untuk bisa berkata dan menuliskannya yang sejujur2nya tentang apa yang aku rasakan dari semua ini.
    terlalu agung yang namanya cinta,untukmu itu bukan lagi sebuah kata yang keluar tanpa sebab dengan beda interpretasi,kata itu sama diantara kita tapi untuk sebuah perjalanan lebih jauh aku belum bisa memprediksi aku hanya bisa menyerahkan semua pada Alloh.biar lah IA yang menentukan kalaupun aku harus kehilangan semuanya aku rela apalagi kalau ternyata bukan kehilangan tapi mendapatkan aku sangat merelakan semuanya.
    entah ini sebuah refleksi dari mei kemaren atau hanya sebuah tulisan yang mengalir aku tidak tahu karena yang aku tahu saat ini adalah semuanya tidak kita duga bahwa sampai bulan mei ini waktu itu tidak lekang untuk berbicara bahwa aku belum bisa berbicara munafik atas apa yang aku rasakan bersamamu,kau telah membawa aku pada kenyataan bahwa aku masih punya hati untuk menyapa seorang nadia dengan sapaan cinta,my dear,puteri cantikku, honey, maafkan aku...!
    segitu aja dulu nanti aku sambung dengan semua refleksi yang lain

    Wassalam
    Aku
    Posted at 01:54 am by penakayu
    Make a comment  

     
    Jun 10, 2005
    ...
    satu-satunya alasan kenapa ada waktu, karena segala sesuatu tidak terjadi sekaligus (albert einstein)
    Posted at 08:10 am by penakayu
    Make a comment  

     
    Jun 9, 2005
    publikasi

    Pencinta Alam Dan Paradigma Gerakan Lingkungan

    Oleh Iden Wildensyah**

    " jika ingin mengubah negara untuk kegiatan - kegiatan yang sulit tentang persoalan kebijakan politik, pencinta lingkungan menjadi sumber kekuatan dengan apa saja dapat dilakukan. Jika anda ingin mempunyai negara untuk kepentingan ekonomi, pikirkan diri anda dan generasi anda yang akan datang, saya yakin anda dapat melakukannya"

    (Gerlorfd Nelson dalam catalyst conference speech university of Illionis, 1990)

    Pencinta alam di Indonesia saat ini belum dirasakan sebagai salah satu akar gerakan lingkungan, terbukti dalam korelasinya saat ini dengan menjamurnya perhimpunan pencinta alam seiring pula dengan kerusakan yang tidak terkendali. Dimanakah letak penyimpangan ini karena keberadaan pencinta alam dalam tataran yang ideal dapat menumbuhkembangkan generasi yang peduli lingkungan. ini patut dikembangkan baik dalam pola gerakan maupun pengembangan organisasinya. Namun dalam tataran real tidak bisa di bedakan antara pencinta alam dan penggiat alam terbuka karena keduanya hampir tidak bisa dibedakan mana yang penggiat dan mana pencinta alam

    Model gerakan lingkungan yang berasal dari pencinta alam pada periode kelahirannya lebih menekankan pada kecintaan terhadap alam yang diwujudkan dengan naik gunung, camping, pelatihan konservasi, dan penghijauan di lereng-lereng gunung. Selain kecintaan terhadap alam, mereka ornop dan sebagian pencinta alam masih terkonsentrasi pada model pembangunan. Karena mereka masih meyakini kebenaran model pembengunan berkelanjutan dengan standar kemajuan ekonomi yang sesungguhnya menimbulkan dampak.

    Simpulan Paradigma

    Dua nama, pencinta alam dan penggiat alam terbuka seolah-olah merupakan satu kesatuan utuh yang tidak bisa di pisahkan antara keduanya. Namun kalau dilihat secara etimologi kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia akan nampak kelihatan bahwa keduanya tidak ada hubungan satu sama lainnya.

    Dalam KBBI, pecinta (alam) ialah orang yang sangat suka akan (alam), sedangkan petualang ialah orang yang suka mencari pengalaman yang sulit-sulit, berbahaya, mengandung resiko tinggi dsd. Dengan demikian, secara etimologi jelas disiratkan dimana keduanya memiliki arah dan tujuan yang berbeda, meskipun space, ruang gerak aktivitas yang dipergunakan keduanya sama, alam.

    Dilain pihak, perbedaan itu tidak sebatas lingkup "istilah" saja, tetapi juga langkah yang dijalankan. Seorang pencinta alam lebih populer dengan gerakan enviromentalisme-nya, sementara itu, petualang lebih aktivitasnya lebih lekat dengan aktivitas-aktivitas petualangan seperti pendakian gunung, pemanjatan tebing, pengarungan sungai dan masih banyak lagi kegiatan yang menjadikan alam sebagai medianya.

    Belakangan, berlahiran kelompok-kelompok yang mengatasnamakan dirinya sebagai "Kelompok Pecinta Alam, (KPA)". Namun, keberadaaan mereka belum mencirikan kejelasan arah gerak dan pola pengembangan kelompoknya. Jangankan mencitrakan kelompoknya sebagai pecinta alam, sebagai petualang pun tidak. Aktivitas mereka cenderung merupakan aksi-aksi spontanitas yang terdorong atau bahkan terseret oleh medan ego yang tinggi dan sekian image yang telah terlebih dulu dicitrakan oleh KPA-KPA lain, dengan demikian banyak diantara para "pencinta alam" itu cuma sebatas "gaya" yang menggunakan alam sebagai alat.

    Pencinta alam dunia dengan gerakan enviromentalisme yang berjuang keras dalam menjaga keseimbangan alam ini patut kita contoh sebagai satu gerakan untuk masa depan, kini yang sering ditanyakan ketika kerusakan alam di negeri ini semakin parah dimanakah pencinta alam, begitupun dengan para petualang yang menggunakan alam sebagai medianya. Bahkan Tak jarang aktivitas mereka berakhir dengan terjadinya tindakan yang justru sangat menyimpang dari makna sebagai pecinta alam, misalkan terjadinya praktek-paktek vandalisme. Inilah sebenarnya yang harus di kembalikan tujuan dan arahnya sehingga jelas fungsi dan gerak merekapun bukan hanya sebagai ajang hura-hura belaka.

    Sebuah harapan untuk mengembalikan keseimbangan alam ini supaya terhindar dari terputusnya sistem dalam kehidupan ini bukan tanggung jawab pencinta alam atau penggiat alam terbuka saja tapi tugas kita semua sebagai mahluk penghuni bumi dan dua arah yang berbeda dapat bersatu untuk menciptakan kelestarian alam ini khususnya lingkungan hidup.

    Aktivis lingkungan hidup dunia dengan gerakan cinta lingkungannya akan lebih berarti tindakannya dengan dukungan dari para pencinta alam yang ada di negeri ini. Dalam perbedaan pola fikir dan arah gerak pencinta alam dengan penggiat alam terbuka terdapat kesamaan pula dengan media yang sama untuk itu bukanlah suatu kemustahilan keduanya bersatu untuk masa depan lingkungan hidup Indonesia sehingga terciptanya lingkungan hidup yang seimbang, stabil dan bermanfaat bagi kehidupan sekarang dan masa depan.

    Sebuah peringatan kepada kemanusiaan yang diterbitkan oleh 1.575 ilmuwan dari enam puluh sembilan negara yan mengikuti Konverensi Rio tahun 1992 perlu kita ketahui sebagai sebuah awal penyadaran untuk lingkungan hidup ini.

    "Peringatan " itu berisi bahwa umat manusia dan alam berada pada arah yang bertabrakan. Kegiatan manusia mengakibatkan kerusakan besar pada lingkungan dan sumber daya yang sangat penting yang seringkali tidak dapat di pulihkan. Jika tidak dikaji, banyak dari kegiatan kita skang yang ini menempatkan masa depan pada keadaan yang sangat beresiko, sehingga kita menghadapi realitas masyarakat manusia dan alam tumbuhan dan hewan dan mungkin juga dunia tempat kita hidup ini berubah sedemikian rupa, sehingga tidak dapat lagi mendukung kehidupan menurut cara yan kita kenal. Perubahan fundamental adalah urgen jika kita ingin menghindarkan benturan dalam arah perjalanan kita yang sekarang ini terjadi.(" World scientist Warning to Humanity ") , Pernyataan siaran pers diterbitkan 18 November 1992 oleh The Union of Concerned Scientist.) "

    Ancaman yang menempatkan alam dan penghuninya (manusia maupun bukan manusia) berada dalam bahaya ini patut kita ketahui bersama tentang konsekuensi dari berbagai kegiatan yang dilakukan oleh umat manusia sebagai penghuni bumi ini.

    Enviromentalisme dan gerakan lingkungan

    sebelum melangkah lebih jauh melihat gerakan lingkungan baiknya kita tinjau masalah lingkungan. Masalah masalah lingkungan hidup seringkali tidak menjadi prioritas yang tinggi dan seringkali menjadi sub agenda dengan demikian akhirnya larut dan tenggelam dalam tema-tema kampanye yang lebih luas dan abstrak. sementara itu gerakan lingkungan atau dsebut juga enviromentalisme yaitu suatu faham yang menempatkan lingkungan hidup sebagai pola dan arah gerakannya. Bagi sebagian pihak enviromentalisme mungkin asing karena enviromentalisme dianggap sebagai gerakan yang membahayakan orde pada waktu itu (orde baru) terutama dalam menentukan kebijakan yang berkaitan dengan ekploitasi hutan. Organisasi non politik yang concern pada lingkungan pada masa itu pun di arahkan langsung oleh Emil Salim waktu itu menjabat Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup untuk tidak mengikuti taktik Green Peace ataupun The German Green yang bisa masuk mengkritisi setiap kebijakan pemerintah yang tidak memperhatikan dampak lingkungan hidup terhadap alam ataupun masyarakat.

    Sedangkan gerakan lingkungan hidup menurut literatur sosiologi istilah "gerakan lingkungan hidup" digunakan dalam tiga pengertian yaitu pertama sebagai penggambaran perkembangan tingkah laku kolektif (collective behavior). Kedua, sebagai jaringan konflik-konflik dan interaksi politis seputar isu-isu lingkungan hidup dan isu-isu lain yang terkait. Ketiga, sebagai perwujudan dari perubahan opini publik dan nilai-nilai yang menyangkut lingkungan.

    Di Indonesia istilah gerakan lingkungan hidup di pakai dalam konsorsium : "15 tahun Gerakan Lingkungan Hidup : Menuju Pembangunan Berwawasan Lingkungan". Yang di selenggarakan oleh kantor Meneg Kependudukan Dan Lingkungan Hidup di Jakarta, 5 Juni 1972.

    Denton E Morrison mengusulkan bahwa yang di sebutkan gerakan lingkungan hidup sesungguhnya terdiri dari 3 komponen yaitu komponen pertama, the organized or voluntary enviromental movement ( gerakan lingkungan yang terorganisir atau gerakan yang sukarela ) termasuk dalam kategori ini adalah organisasi lingkungan seperti Enviromental Devense Fund, Green Peace atau di Indonesia ada WALHI Jaringan Pelestarian Hutan "SKEPHI". Komponen kedua, The public enviromental movement (gerakan lingkungan publik ) adalah khalayak ramai yang dengan sikap sehari-hari dalam tindakan dan kata-kata mereka menyatakan kesukaan mereka terhadap ekosistem tertentu, pola hidup tertentu serta flora dan fauna tertentu. Komponen ketiga The Institusional Enviromental Movement (gerakan lingkungan terlembaga ) ini sangat menentukan dalam negara negara berkembang dimana peranan negara sangat dominan dan peranan aparat-aparat birokrasi resmi mempunyai kewenangan hukum (yuridiksi) terhadap kebijakan umum tentang lingkungan hidup atau yang berkaitan dengan lingkungan hidup sebagai contoh di Amerika ada Badan Perlindungan Lingkungan ( EPA - Enviromental Protection Agency), Dinas Pertamanan Nasional ( National Park Service) padanannya di Indonesia adalah Kantor Meneg KLH, DEPHUT.

    Komponen gerakan lingkungan terlembaga ini penting untuk di amati sendiri ambilah contoh keberhasilan EPA dalam mengendalikan polusi air dan udara misalnya di pengaruhi kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, kebijaksanaan luar negeri serta ketersediaan sumber-sumber energi

    Hakikat gerakan lingkungan menurut Buttel dan Larson mempunyai beberapa manfaat, pertama struktur gerakan lingkungan di setiap negara yakni hubungan diantara tiga komponen itu bisa berbeda-beda dan ini membawa variasi yang cukup berarti di antara paham lingkungan (enviromentalism) negara-negara itu. Kedua, taktik dan ideologi gerakan lingkungan terorganisir di suatu negara dapat di lihat sebagai hasil interaksi diantara komponen - komponen kelas negara itu satu pihak, dan kelompok-kelompok kepentingan (interces group) dilain pihak.

    Epilog

    Perubahan paradigma dalam tubuh pencinta alam bukan sebuah kemustahilan untuk berubah dan seimbang dengan kegiatan kegiatan alam terbuka yang biasa di gelutinya. Tidak menutup kemungkinan sebuah gerakan radikal untuk masalah kesadaran lingkungan terwujud dalam satu koridor gerakan lingkungan karena masalah lingkungan adalah masalah bersama yang membutuhkan kerjasama dari setiap stake holder pelaku,pemerhati dan aktivis yang bergerak atasnama lingkungan

    Dalam konteks gerakan lingkungan, maka tantangan semakin yang semakin besar di masa mendatang mengharuskan kita untuk melakukan reposisi gerakan lingkungan menjadi gerakan sosial, karena ini adalah satu-satunya jalan untuk menghadapi dominasi pasar dan globalisasi

    ** Iden Wildensyah, saat ini tercatat mahasiswa UPI Bandung aktif di KPALH Gandawesi serta relawan lingkungan di Bandung pernah menjadi peserta PEKA (pelatihan konservasi dan advokasi) PA region jawa di WALHI D.I.Y

    sumber :

    • George Junus Aditjondro,2003. Pola-pola Gerakan Lingkungan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
    • Philif Shobecof,1998. Sebuah Nama Baru Untuk Perdamaian. Yayasan Obor Indonesia.Jakarta.
    • soemarwotto, otto,2001, Ekologi,Lingkungan Hidup dan Pembangunan.Djambatan.Jakarta
    • Jurnal WACANA Edisi12,Tahun III,2002 Lingkungan Versus Kapitalisme Global, penerbit INSIST Press
    • Buletin Wanadri no 17, 2002
    • Kalam Jabar, Republika Rabu 25 februari 2004.
    • Habitat Newsletter KONUS Volume 03 no 02. Juni - September 2003
    • Isola Magazine, media Unit Pers Mahasiswa UPI edisi I,Juli - September 2003.
    Posted at 11:20 pm by penakayu
    Make a comment  

    ...

    Selamatkan Bumi !

    Oleh Iden Wildensyah *)

    Permasalahan linkungan hidup bukan semata – mata persoalan moral, persoalan perilaku manusia demikian pula dengan krisis ekologi global yang kita alami dewasa ini adalah persoalan moral, krisis moral secara global. (A.Sony Keraf)  

    Tanggal 22 april 2005 yang akan datang penduduk diseluruh dunia akan memperingati hari bumi, sebuah peristiwa gerakan lingkungan akar rumput yang menggerakan hampir 20.000.000 orang turun kejalan di New York dalam catatan TIME tahun 1970. peristiwa yang di prakarsai oleh senator Gerlorfd Nelson ini berawal dari kekhawatirannya melihat kualitas lingkungan hidup yang semakin menurun, dalam peristiwa hari bumi itu ia menyebutkan sebagai ledakan akar rumput yang sangat mencengangkan. Masyarakat umum sungguh peduli dan hari bumi menjadi kesempatan pertama sehingga benar-benar dapat berpartisipasi dalam suatu demonstrasi yang meluas secara nasional, dan dengan itu menyampaikan pesan yang serius dan menatap kepada para politisi untuk bangkit dan berbuat sesuatu.

    Kekhawatiran akan merosotnya kualitas daya dukung lingkungan ini terlihat dari semakin tingginya pencemaran udara,air dan tanah yang disebabkan oleh menjamurnya pabrik – pabrik industri serta tingkat produksi yang tinggi mengejar keuntungan. Dampak hari bumi pada tahun itu adalah dibentuknya sebuah badan lingkungan hidup Enviromental Protection Agency, keberhasilan EPA salah satunya dapat menekan tingkat pencemaran udara.

    Kesadaran untuk bisa peduli terhadap ala ini ternyata membutuhkan waktu yang lama, untuk “membumikan” hari bumi pun Gerlorfd Nelson bergerak sampai 10 tahun, Karena isu lingkungan adalah isu yang satu sama lain terkait didalamnya sehingga dibutuhkan sebuah sinergi gerakan lingkungan untuk memecahkan satu persatu masalah lingkungan yang kita hadapi. Hubungan kita dengan dengan kelestarian hidup di bumi ini dalam kaitannya dengan kegiatan ekploitasi alam memunculkan beberapa macam utang. diantaranya pertama, kita berutang kepada bumi atas makanan (sustenance) yang diberikan kepada kita dan semua jenis mahluk hidup lainnya. Kedua, kita berutang kepada bumi atas kerusakan atas kerusakan yang kita perbuat terhadapnya. Untuk yang pertama kita tak bakal mampu melunasinya, sedangkan yang kedua, kita menangguhkannya dengan resiko yang bakal kita tanggung kemudian.(CEJI,2003:3) ketiga, kita berutang kepada orang- orang terpinggirkan dan termiskinkan, terutama penduduk pribumi, yang paling sering menjadi korban pertama akibat kerusakan lingkungan.

    Dalam jurnal Wacana edisi 12 tahun 2002, Thomas barry seorang ekoteolog mengatakan bahwa utang kerusakan lingkungan menyebabkan “bumi mengalami defisit…sebagimana tampak dari macetnya sistem kehidupan dasar dari planet ini akibat penyalahgunaan udara, air, tanah dan vegetasi. Tanggung jawab atas defisitnya bumi ini terbagi tidak secara merata dimana golongan yang kaya menikmati sendiri bagian yang tak sepadan, terlampau besar, disbanding dengan kapasitas yang mampu di sediakan oleh planet ini. Golongan minoritas ini melakukan overekploitasi terhadap bumi, berutang bukan saja kepada bumi, namun juga kepada golongan mayoritas yang mengonsumsi lebih sedikit ketimbang jatah (fair share) mereka yang seharusnya atas kekayaan bumi.

    Arus perdagangan bebas dan globalisasi yang pesat dalam mengejar keuntungan dan tenaga yang sedikit serta industri yang merajalela serta target target ekspor dan impor memaksa alam untuk memacu produktifitas tinggi mempunyai negatif terhadap alam itu sendiri seperti yang ditulis dalam paper CEJI (the Canadian Ecumenical Jubilee Initiative),2002. overproduksi untuk ekspor ini memperburuk kecenderungan –kecenderungan ekologis diantaranya.

    Pertama, penggundulan hutan yang cepat menghancurkan keanekaragaman hayati, dan mengubah lahan yang subur benar – benar menjadi gurun pasir yang sangat luas. “ sejak tahun 1970, daerah yang berpepohonan per 1000 penduduk telah menurun drastis dari 11,4 km2 menjadi 7,3 km2 (UNDP,1984:4);

    Kedua, penggunaan lahan – lahan tersubur bagi tanaman ekspor memaksa kaum petani berpindah – pindah kedaerah pinggiran misalnya, di lereng – lereng bukit yang curam yang rawan terkena erosi, akhir – akhir ini menyebabkan tanah longsor yang mematikan seperti di Honduras, Nikaragua dan Venezuela;

    Ketiga, meningginya penggunaan pestisida dan pupuk kimia. Misalnya, industri pisang di beberapa Negara menggunakan pestisida jenis DBCD dan mengakibatkan kemandulan bagi kaum lelaki;

    Keempat, kerusakan rawa – rawa bakau akibat peternakan udang membuat daerah – daerah pesisir semakin rawan terlanda banjir. Di Ekuador, sebanyak 70 % hutan bakau telah ditebang untuk dijadikan lahan peternakan udang, yang lantas berdampak pada mata pencaharian kaum nelayan tradisional, dan memperburuk banjir yang diakibatkan oleh badai El Nino;

    Kelima, bahan bakar yang dihambur – hamburkan, kemerosotan mutu nutrisi, dan meningginya pemakaian bahan – bahan pengawet bagi makanan yang dikirim melalui perjalanan jarak jauh;

    Keenam, keanekaragaman hayati yang alami diganti dengan perkebunan monokultur. Perkebunan yang monokultur membabat pepohonan yang amat mahal harganya dan menghancurkan sisanya hingga tinggallah ‘padang ilalang’ dan ‘sampah’. Vandana Shiva (1993:24) berujar “Sampah inilah yang merupakan kekayaan biomassa, yang mengatur siklus makanan dan air di alam, serta mencukupi kebutuhan makanan, bahan bakar,makanan ternak,pupuk,serat, dan obat – obatan bagi komunitas – komunitas pertanian”;

    Ketujuh, pengambilan ikan yang berlebihan (over-fishing): “persediaan ikan dunia menurun hingga tinggal seperempat atau hampir habis, dan 44 % lainnya diambil melampaui batas keletariannya” (UNDP,1998:4);

    Kedelapan, punahnya habitat alam dan mata pencaharian manusia sebagai akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh pengerukan bahan bakar. Contohnya, kerusakan yang ditimbulkan oleh perusahaan Shell Oil di Delta Niger, tempat tinggal orang – orang Ogoni..

    Kesembilan, pengerukan kekayaan alam yang sampai pada batas tak lestari tanpa mempertimbangkan kelanjutan (sustainable) dapat mengakibatkan utang ekologis yang lumayan besar dan membutuhkan waktu yang panjang untuk bisa kembali kepada keadaan seperti semula baik itu secar kuantitas atau pun kualitas. Seperti yang dikatakan oleh Joan Martinez Alier (1997), bahwa alam tak dapat tumbuh pada kecepatan 4 – 5 % setahun, SDA yang terbarukan memiliki ritme – ritme pertumbuhan biologis yang lebih lambat dibanding ritme – ritme pertumbuhan ekonomi yang membebani secara eksternal.

    Krisis lingkungan saat ini hanya dapat diatasi dengan melakukan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam yang fundamental dan radikal yang dibutuhkan sebuah pola hidup atau gaya hidup baru yang tidak hanya menyangkut orang perorang, tetapi juga budaya masyarakat secar keseluruhan, artinya dibutuhkan etika lingkungan hidup yang menuntun manusia untuk berinteraksi dengan lingkungan.

    Dalam Ar Rum : 44 dijelaskan bahwa kerusakan di darat laut dan udara disebabkan karena keserakahan manusia…. Pola hidup serta kebijakan yang masih antroposentris juga menjadi penyebab utama menurunnya daya dukung lingkungan di bumi ini

    Seperti sebuah renungan di hari bumi ketika kerusakan di bumi ini khususnya di Indonesia semakin meluas dari permasalahan lingkungan menjadi permasalahan kesenjangan sosial dan politik, pertanyaan yang harus dijawab oleh diri kita, bagaimana dengan kita ? bagaimana dengan anak cucu kita, dengan generasi yang akan datang ? seperti kata terakhir Gerlofd Nelson yang disampaikan dalam Catalyst Conference Speech University of Illionis,1990. ‘jika ingin mengubah Negara untuk kegiatan – kegiatan yang sulit tentang kebijakan politik, pencinta lingkungan menjadi sumber kekuatan dengan anda, apa saja dapat dilakukan. Jika ingin Negara untuk kepentingan ekonomi, pikirkan diri anda dan generasi anda manusia yang akan datang, saya yakin anda dapat melakukannya’  

      *) penulis adalah mahasiswa UPI relawan Greenlife Society (GLS) di Bandung.

    Posted at 10:14 pm by penakayu
    Make a comment  

    Next Page