..................................... The Other Side Of Me !




Muda, Kreatif, Pantang Menyerah !

   

<< June 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30

Iden Wildensyah

Buat Lencana Anda


"Sedikit ide yang kau tuang dalam karya, akan lebih berarti daripada seribu kata yang terucap"

Satu-satunya Alasan Mengapa Ada Waktu, Karena segala sesuatu tidak terjadi sekaligus (Albert Einstein)

.

Imajinasi lebih penting dari sekedar Ilmu Pengetahuan (Albert Einstein)

.

Bumi ini Cukup untuk semua orang tapi tidak Untuk Dua Orang Yang Serakah (Mahatma Gandhi)

.

Against Ignorance !!

.....

Satu Kali dalam Hidup Orang Harus Menentukan Sikap. Kalau Tidak, Dia Tidak Akan Menjadi Apa-Apa (Pramoedya Ananta Toer)

....

....

...

..

.

Hidup ini Sederhana, Tentukan Pilihanmu dan Jangan Menyesal!

Coba Mengumpulkan yang terserak ! karena Ide tak Cukup Sekedar di Obrolkan.

hmm

GALERI BUKU PENAKAYU

LINKS euy!

  • Google News
  • wildensyah
  • isolapos
  • bitra
  • pipitkecilku
  • perca
  • akulaila.com

    Beasiswa Indonesia Scholarships

    Scholarship Info Beasiswa

    BLOG juga hasil karya cipta. Menyalin, Mengcopy dan Menyebarluaskan harus mencantumkan penulis. PENAKAYU adalah BLOG milik Iden Wildensyah, Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Lingkungan, UNPAD. Pekerja Konstruksi Rangka Atap Baja Ringan di Bandung.(email: wildensyah@yahoo.com)

    Let's Go Green Atuh, Euy!

    go green indonesia!


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



 
Jun 29, 2005
publikasi

Apatisme dan Potret Kelam Mahasiswa

Oleh Iden Wildensyah *


Berpikir kritis dan berani bertindak adalah Kita (Syahrir)

Apa yang akan dikatakan oleh Soe Hok Gie, Ahmad Wahib kalau mereka berdua melihat realitas sekarang, dimana semua kemudahan sudah tersedia dimanapun, laju informasi yang pesat serta kemudahan lain yang berada dekat melingkari di depan dan belakang kita. Semacam internet dan fasilitas media kesenangan lain yang semakin memanjakan penggunannya. Lihatlah kecenderungan mahasiswa saat ini untuk terjun dalam dunia politik praktis semakin menurun bahkan untuk menjadi penikmat wacana pun cenderung berkurang. Budaya intelektual yang menumbuhkan ide – ide kritis baik itu dalam diskusi, tulisan ataupun organisiasi semakin tidak menarik minat mahasiswa. Fenomena diksusi kecil yang di laksanakan dari kontrakan ke kontrakan sekedar membicarakan kondisi politik pada jaman itu dan kecenderungan mahasiswa untuk tidak terjun dalam dunia politik sebetulnya terjadi sejak jaman Soe Hok Gie. Bedanya dengan sekarang hanya media, bila dulu digambarkan mahasiswa yang suka hura-hura itu dengan pesta dan dansa sekarang sebagian kecil digambarkan dengan budaya yang penting senang pribadi.

Golongan mahasiswa yang cuek, semau gue dan emang gue pikirin dan keengganan untuk memikirkan politik yang rumit adalah realitas yang harus dipecahkan. Jika keberpihakan bangsa ini masih pada sejarah dimana semua perubahan berawal dari golongan muda yang notabene adalah mahasiswa. Sikap yang instan tanpa harus melewati proses - proses ini akan menimbulkan sikap yang apatis dalam dunia mahasiswa. Seandanya ini tidak diantisipasi baik itu melalui sistem pendidikan atau upaya – upaya penyadaran lain dikhawatirkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tidak punya sikap, terbawa oleh arus yang semakin hari semakin kencang membawa pada arah yang tidak menentu dalam berbagai persepsi pembuat arus.

Selain sikap instan, Gencarnya tayangan televisi yang tidak menampakan realita juga akan menimbulkan suatu sikap yang apatis dan cenderung di buai dengan mimpi – mimpi. Lihatlah bagaimana antusiasnya kawula muda untuk menonton tayangan MTV atau katakan cinta dari pada berduyun duyun melihat dan merasakan langsung dialog – dialog politik dalam negeri.

Bertaburannya media – media informasi yang lebih banyak membawa unsur hiburannya dari pada wacana – wacana politik semakin menyingkirkan pula sikap kritis mahasiswa terhadap isu yang sedang terjadi. Diskusi – diskusi ataupun seminar – seminar yang selalu mengangkat isu – isu serta wacana yang sedang terjadi hanya ditnggapi oleh sebagian kecil mahasiswa seabgain besarnya lagi lebih asik nongkrong di mall atau cafe – cafe menceritakan gosip selebritis terbaru.

Kecenderungan bertindak apatis dan tanpa sikap apapun juga dikarenakan keengganan untuk bisa berpikir dan bertindak dalam proses, selalu orientasi hasil, sangat instan dan terkesan tidak mau tahu dengan proses padahal berbicara politik adalah juga berbicara proses. Butuh idealisme, keikhlasan dan terpenting adalah sikap tanpa pamrih karena ukurannya adalah moral, sedangkan gerakan moral membutuhkan waktu yang lumayan panjang dan harus dijalani dengan sabar.

Kalau Soe Hok Gie pernah menuliskan keadaan mahaasiswa di UI dalam tulisannya yang berjudul Mahasiswa UI Bopeng Sebelah, karena ada pertarungan dua kubu kepentingan yang ingin menonjolkan back ground gerakannnya untuk menguasai politik kampus, saat ini mungkin yang tepat untuk hal ini adalah sebagian besar mahasiswa Indonesia bopeng. Lihatlah bagaimana sering terjadi rebutan masa dunia kampus yang sudah melibatkan politisi, tetapi usaha untuk kembali membawa dalam dunia intelektual yang kondusif belum kelihatan.

Penyadaran untuk kembali mengkondusifkan suasana berpikir kritis dan berani bertindak membutuhkan waktu tidak sebentar, namun usaha – usaha menghidupkan kembali melalui diskusi – diskusi kecil yang bisa menjadi bola salju yang besar masih terus berjalan dengan masih hidupnya organisasi pro demokrasi yang pernah jaya pada jamannya semacam GMNI, HMI, PMII, dll Selain itu pola pikir yang tumbuh dalam jiwa – jiwa muda yang progresif harus bisa menggugah sebagian mahasisiwa lainnya untuk sama – sama bergerak membangun bangsa dengan kemampuan berkarya masing – masing.

Tidaklah berlebihan bila kenyataan banyak mahasiswa Indonesia enggan untuk berbicara politik dalam tataran praktis melalui ide – ide kritisnya maupun wacana karena sebagian besar lebih menyenangi dunianya sendiri ketimbang memikirkan orang lain.

Mahasiswa harus tetap berperan sebagai gerakan intelektual dan moral. Di era sekarang, kesadaran politik mahasiswa yang mulai tumbuh jangan sampai layu apalagi mati. Rakyat masih mengharapkan agar gerakan mahasiswa tetap menjaga eksistensi jalannya pemerintah yang berpihak pada rakyat. Karena bagaimanapun juga sangat efektif untuk menjadi yang pertama dalam mengantarkan bangsa Indonesia menuju negara yang demokrasi.


* Penulis adalah mahasiswa UPI, aktif di Unit Pers Mahasiswa UPI

Posted at 07:08 pm by penakayu
Make a comment  

sebuah email tentang Soe Hok Gie


suatu hari aku menulis email untuk untuk editorku yang baik,


entah kenapa ketika aku mendapati sebuah
tulisan di Kompas (tanggal dan tahun aku lupa)bahwa
catatan harian seorang demonstran akan di cetak ulang.
rasanya aku gembira dan senang apalgi setelah sekian
hari mencari buku itu di palasari bahkan sampai ke
shoping center di Jogja aku tidak mendapati Catatan
Seorang Demonstran.

ternyata dugaanku benar, ketika miles mau bikin film
tentang Soe Hok Gie, aku sudah berpikir bahwa LP3ES akan
kembali menerbitkan buku itu, tentunya mereka melirik
pasar setelah booming film Gie.ternyata benar adanya,
CSD di terbitkan lagi.
jauh-jauh hari aku sudah membaca catatan seorang
demonstran (CSD) dari yang sudah ada analisisnya dari
john maxwel sampai kumpulan tulisan Gie di buku
berjudul Zaman Peralihan yang diterbitkan oleh
penerbit Bentang.
lantas kenapa tiba-tiba saja aku enggan untuk
menyamakan antara Soe Hok Gie dengan Nicholas Saputra?

Soe Hok Gie adalah seorang seorang aktivis tulen
memperjuangkan idealisme, membela rakyat indonesia,
menyuarakan keadilan. lantas siapa itu Nicholas
Saputra, seorang aktor yang multi talent, berdedikasi
dan berkarakter. namun se-karakter-karakternya aktor,
tetaplah aktor yang bisa berperan dalam setiap
adegannya. bukan seorang aktivis atau pejuang
idealisme yang rela berpanas-panas ditengah
demonstran, berani menghadapi popor senapan para
polisi.

adakah kesamaan antara Soe Hok Gie dengan Nicholas
Saputra ? jawabannya tidak.
Soe Hok Gie dibesarkan dalam lingkungan yang
sederhana, suatu hal yang kontras dengan Nico, ia
dibesarkan dalam lingkungan yang sudah sedemikian
mapan, dengan glamournya ibukota dan arus informasi
yang cepat.

Walaupun keduanya adalah mahasiswa UI, akan tetapi tentunya dengan latar
belakang UI yang berbeda saat Gie pertamakalinya masuk
kuliah dengan Nico yang masuk  ke UI di jurusan Arsitektur

siapa itu Gie lalu siapa itu Nico, orang lebih
mengenal Nico daripada Gie, ini jelas menggambarkan
sebuah realita yang kontras di generasi yang semakin
dimanjakan oleh jaman, orang semakin lupa dengan
sejarah. barangkali Inul lebih heboh dari pada Butet
Manurung atau Ratna Sarumpaet, atau bahkan orang lebih
mengenal Anjasmara, Tora Sudiro daripada Budiman Sudjatmiko dll.

Gie dan Nico, aku yakin lebih mengenal Nico dari pada
Gie, lantas sampai kapan bangsa ini akan selamanya
sejarah kabur oleh popularitas? aku tidak tahu, yang
tahu hanya jaman yang terus menerus berputar.
inilah sedikit tulisan yang ingin aku bagi denganmu
sebelum mengirimkan tulisan ke kompas.. semoga saja
lahir Soe Hok Gie dan Nico yang lebih peka pada
realita kehidupan berbangsa dan bernegara.

Posted at 06:51 pm by penakayu
Comment (1)  

tentang aku dan tulisanku
semua yang aku publish disini adalah tulisanku yang dimuat dibeberapa media di bandung, bukan bermaksud sombong atau yang lain-lainya.
bagiku menulis adalah aktualisasi ide, jadi tak ada halangan bagi kebebasanku untuk menuangkan ide ini yang kadang membuat aku pusing bila aku pendam.
bagiku menulis seperti aliran air, jadi mohon maaf bila ada yang kena alirannya.
aku benci cerpen tapi aku suka bikin cerpen,
aku benci novel tapi aku suka baca,
aku benci dee karena ia telah meracuni otaku tapi aku suka supernova.
diatas semuanya inilah aku.
aku suka dengan kata-kata young, strong, free, wild, dan happy
Posted at 06:39 pm by penakayu
Make a comment  

 
Jun 27, 2005
..

Antara Soe Hok Gie Dan Nicholas Saputra

Oleh Iden Wildensyah*

"Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat"

(Soe Hok Gie)

Pertamakali mendengar kabar bahwa cerita sejarah tentang seorang demonstran bernama Soe Hok Gie oleh Mira Lesmana akan difilmkan, saya sudah menduga bahwa buku Catatan Seorang Demonstran yang diterbitkan oleh LP3ES tahun 1983 hingga dicetak sampai cetakan keenam tahun 1993 akan diterbitkan lagi. Sama seperti buku-buku yang terbit setelah ceritanya difilmkan. Namun perlu diketahui ada yang membedakan antara cerita film yang dibukukan dengan Catatan Seorang Demonstran Soe Hok Gie yang difilmkan.

Dugaan itu benar, setelah launching filmnya di Jakarta, Catatan Seorang Demonstran (CSD) di cetak ulang dengan wajah yang berbeda. Bukan karena wajah yang menjadi sampul keren Nicholas Saputra yang menjadi masalah tapi perlu diperjelas tentang siapa itu Nicholas Saputra dan siapa itu Soe Hok Gie.

Ada semacam rasa takut jika tokoh sejarah pada akhirnya kalah oleh tenarnya seorang aktor, bahkan lebih parah lagi bila fakta terbalik, orang lebih mengenal aktornya dibanding Soe Hok Gie-nya sendiri. Seperti halnya orang melihat Angelina Jolie sebagai Lara Croft, dimana pun dan kapanpun Angelina berakting, atau Mel Gibson dengan William Wallace-nya.

Siapa itu Nicholas Saputra, seorang aktor multi talent, berkarakter dan mempunyai reputasi baik untuk kalangan anak muda, belum ada gosip-gosip yang kurang baik menimpa dirinya. Berawal dari film AADC sebagai sosok kutu buku yang idealis dan penikmat sastra. Namun perlu diketahui bahwa aktor tetaplah aktor yang bisa berakting setiap saat. Barangkali dengan kemampuannya yang gemilang pantaslah Nico selalu mendapat pujian dari setiap film yang dibintanginya.

Lantas ada apa dengan Soe Hok Gie ? Dia adalah sosok aktifis yang sangat aktif pada masanya dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942. Lalu ia wafat di Mahameru saat melakukan pendakian pada 18 Desember 1969 karena menghirup asap beracun gunung tersebut. Karier, perjalanan serta sejarahnya di film-kan dengan aktornya adalah Nicholas Saputra. Sementara apa hubungannya dengan Nicholas Saputra? adakah kesamaan diantara keduanya ?.

Ada sedikit kekhawatiran ketika Gie di akan putar, pertama, sosok Gie dalam film itu bagaimana pun sempurnanya tetaplah seorang aktor yang berbeda dengan Gie pada jamannya. Kedua, ketika CSD di cetak ulang dengan sampul Nicholas Saputra, tentunya sedikit demi sedikit ada kekhawatiran pamor Soe Hok Gie akan hilang oleh sosok aktor yang menjadi cover tersebut. Ketiga, pertanyaan mampukah lahir lagi Soe Hok Gie-Soe Hok Gie baru tanpa harus melihat sosok Nicholas Saputra ?

Ketiga kekhawatiran tersebut berdasarkan pada fakta bahwa kebanyakan masyarakat Indonesia menonton dulu baru membaca bukunya. Jika representasi Soe Hok Gie adalah Nicholas Saputra, mampukah Nico menjadi sosok yang menjadi panutan kaum intelektual muda seperti halnya Soe Hok Gie?.

Terobosan promosi yang dilakukan sponsor dengan program goes to campus-nya, Gie tampaknya memang banyak yang nanti. Lihatlah bagaimana karya Aria Kusumadewa yang begitu antusias ditonton oleh mahasiswa ketika Novel Tanpa Huruf R-nya hanya di putar dari kampus ke kampus. Setiap program yang di buat untuk promosi film dengan mengambil basis masa kampus, selalu melahirkan sebuah rasa yang baru, sebuah fenomena yang jarang dilakukan oleh sineas indonesia pada masa-masa sekarang ini.

Lalu, apakah dengan latar belakang yang berbeda antara Soe Hok Gie dengan Nicholas Saputra, akan menimbulkan kontradiksi sejarah pada masa kekinian ?. hal ini perlu di cermati bahwa sejarah tetaplah sejarah dan aktor tetaplah aktor, saya tidak yakin Nico bisa menggambarkan sosok Gie dalam kehidupan yang real, tentunya dengan iklim kemahasiswaan yang semakin hari semakin tidak terlihat. Kalah oleh gerakan zaman yang maju dengan pesatnya.

Sekali lagi siapa itu Soe Hok Gie, siapa itu Nicholas Saputra? disinilah penonton perlu jeli membedakan keduanya. Walaupun sama-sama mahasiswa Universitas Indonesia (UI) namun perlu dibedakan iklim UI sewaktu Soe Hok Gie masuk menjadi mahasiswa sejarah dengan UI ketika Nicholas Saputra masuk di jurusan arsitektur itu berbeda. Perbedaan karena iklim politik masa sekarang serta arus informasi yang semakin pesat.

Kini bukanlah sebuah hal yang mustahil bila dengan beredarnya kembali Catatan Seorang Demonstran yang disertai dengan film-nya, romantika kehidupan mahasiswa yang berpikir seperti seorang Soe Hok Gie akan muncul idealis-idealis muda, sama halnya seperti meningkatnya minat baca sastra dikalangan anak-anak muda setelah film AADC booming, akan tetapi bukan suatu mustahil juga sejarah akan terbalik ketika sampul foto Soe Hok Gie menjadi Nicholas Saputra. Orang akan mengenal bahwa Soe Hok Gie adalah Nico demikian sebaliknya.

* Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung, Aktif di Unit Pers Mahasiswa UPI/ ISOLA POS

Posted at 04:46 am by penakayu
Comments (16)  

..

Masalah Sampah adalah Masalah Mentalitas

Oleh Iden Wildensyah

"Pemikiran, ide, dan harapan tidak akan terwujud tanpa berbuat" demikian salah satu tayangan iklan di televisi yang menggambarkan tentang suasana perumahan yang kotor dan tidak terawat. Lantas dengan cekatan anak-anak kecil tersebut melakukan aksi bersih membuang sampah yang menumpuk.

Sebuah realita yang memang demikian adanya, bahwa kita kadang tidak sadar dengan kondisi buruknya lingkungan. Baru setelah terjadi bencana semua menyadari arti penting menjaga kualitas lingkungan sekitar kita.

Membicarakan sampah tidak akan terlepas dari masalah perilaku dan pola hidup. Semuanya berawal dari mentalitas tentang kesadaran untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih dan terjaga. Hal ini pula yang mengawali setiap perilaku kita terhadap sampah.

Memperlakukan sampah sebaik mungkin dengan cara yang baik akan tentunya akan berdampak positif bagi kehidupan itu sendiri. Tidak membuang sampah sembarang adalah permulaan dari upaya memperlakukan sampah yang baik. Sampah yang biasa dibuang sembarang dari hasil buangan konsumsi kita akan berdampak buruk pada kualitas lingkungan sekitar.

Bertebarannya penyakit akibat sanitasi yang kotor lalu saluran air yang tersumbat dan air yang tercemar adalah bukti dari ketidakpedulian kita pada lingkungan. Terlebih dalam masalah sampah menjadi momok yang menakutkan ketika kasus longsor di Leuwigajah terjadi.

Longsor di Leuwigajah menurut Koordiantor Informasi Bencana Alam dan Bantuan Ir. Senoadji berawal dari ledakan yang diakibatkan oleh gas metana. Gas metana yang berdekomposisi biasanya menghasilkan panas yang sangat tinggi ketika tekanan udara datang dari atas sementara bagian sampah di bawah mengandung bakteri anaerob yaitu bakteri yang tidak bisa bersenyawa dengan udara. Akibatnya, tekanan udara berbalik ke atas yang hasilnya ledakan besar mirip bom berkekuatan tinggi.

Terlepas dari longsor di Leuwigajah yang diakibatkan oleh sampah, permasalahan sampah tidak selesai di pengelolaan sampah apalagi menyerahkan sepenuhnya ke Perusahaan Daerah Kebersihan. Bayangkan saja, potensi sampah yang dihasilkan di Kota Bandung mencapai 3.677.377 meter kubik per harinya. Dari jumlah tersebut, Dinas Kebersihan kota Bandung hanya mampu mengangkut 82 persennya saja. Sisanya? Ya, apalagi kalau tidak dibuang serampangan, di saluran air, kali dan jalan-jalan.

Masalah sampah adalah masalah bersama yang membutuhkan sinergi untuk menanganinya bersama, karena saling berkaitan dalam sistem ekologi. Siapakah yang pertama kali mengeluarkan sampah, lalu di buang kemana sampah hasil buangan tersebut?. Sampah pada dasarnya terbagi dua kelompok, sampah organik (biasa disebut sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering). Perbedaan yang mudah sekali untuk membedakannya. Namun terkadang kita enggan untuk memilahnya terlebih dahulu sebelum membuangnya. Ini bisa dilihat dari setiap Tempat Pembuangan sampah baik itu di rumah tangga atau di komplek-komplek perumahan.

Bila dipisahkan dengan baik sampah akan memiliki nilai ekonomi yang tinggi, tentunya setelah melalui proses daur ulang. Disamping itu pula sampah tidak akan menghasilkan bau yang tajam bila kedua jenis sampah tersebut dipisahkan.

Untuk menangani permasalahan sampah secara menyeluruh perlu dilakukan alternatif-alternatif pengelolaan. Landfill bukan merupakan alternatif yang sesuai, karena landfill tidak berkelanjutan dan menimbulkan masalah lingkungan. Malahan alternatif-alternatif tersebut harus bisa menangani semua permasalahan pembuangan sampah dengan cara mendaur-ulang semua limbah yang dibuang kembali ke ekonomi masyarakat  atau ke alam, sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap sumberdaya alam. Untuk mencapai hal tersebut, ada tiga asumsi dalam pengelolaan sampah yang harus diganti dengan tiga prinsip–prinsip baru. Daripada mengasumsikan bahwa masyarakat akan menghasilkan jumlah sampah yang terus meningkat, minimisasi sampah harus dijadikan prioritas utama.

Sampah yang dibuang harus dipilah, sehingga tiap bagian dapat dikomposkan atau didaur-ulang secara optimal, daripada dibuang ke sistem pembuangan limbah yang tercampur seperti yang ada saat ini. Dan industri-industri harus mendesain ulang produk-produk mereka untuk memudahkan proses daur-ulang produk tersebut. Prinsip ini berlaku untuk semua jenis dan alur sampah.

Memperlakukan sampah dengan baik dengan sendirinya akan memberikan timbal balik yang positif. Dibeberapa daerah industri daur ulang sampah kertas, plastik sudah bisa menjadi home industri yang berperan dalam upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Memulai dari diri sendiri dengan tidak membuang sampah sembarang adalah bukti nyata kepedulian kita pada lingkungan. Barangkali benar adanya bahwa semuanya berawal dari mentalitas, bila semuanya sudah menyadari arti penting kebersihan lingkungan dan betapa tidak terpujinya membuang sampah sembarangan maka permasalahan sampah yang menjadi momok yang menakutkan tidak akan terulang lagi dimasa yang akan datang.

Posted at 04:37 am by penakayu
Make a comment  

 
Jun 22, 2005
tentang Rindu
tahukah bagaimana Tuhan menciptakan rindu?, pertama-tama Ia ciptakan waktu agar semuanya bisa berlalu dan terus terkenang, lalu ia ciptakan hati, agar bisa merasakan setiap waktu itu begitu berharga, setelah itu diciptakan hati, lalu dibumbui dengan rasa, agar setiap kenangan yang masuk ke hati bisa menjadi indah, setelah ada rasa barulah diciptakan partikel-partikel udara untuk menghantarkan rasa, lahirlah rindu agar setiap waktu, bisa mengingatNya supaya bersyukur betapa setiap waktu bersamaNya begitu berharga dan setiap rasa yang mengalir dalam darah ini begitu indah untuk dikenang.
(untuk N.A yang selalu bersyukur atas semua kerinduan yang menjalari nadi-nadi kehidupan)
Posted at 12:12 am by penakayu
Make a comment  

 
Jun 17, 2005
publikasi

Punclut, Kawasan Konservasi Yang Harus Dipertahankan

Oleh Iden Wildensyah *)

Siapa yang tidak mengenal Punclut, sebuah daerah di utara Bandung yang sebagian orang mengenalnya dengan nama puncak Ciumbuleuit utara.Punclut dalam kosakata sunda berarti puncak adalah kawasan yang sudah lama dikenal sebagai kawasan rekreasi, cross country, sepeda gunung maupun jogging, cobalah tengok setiap hari sabtu sore atau minggu, punclut menjadi daerah ramai pengunjung. “Punclut adalah kawasan berbukit yang romantik". Demikian ungkapan seorang pakar geologi, Soewarno Darsoprajitno. Tidak salah memang, dari ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl.), dapat disaksikan bentangan alam cekungan Bandung yang luar biasa istimewa. Keindahan Punclut semakin terasa saat menikmati mentari muncul di ufuk timur dan terbenam di pelukan bumi bagian barat. Ditambah udara yang sejuk dan berangin, tepat rasanya jika dikatakan Punclut sebagai kawasan yang romantik.

Sebagai bentang Kawasan Bandung Utara (KBU) termasuk dalam zona pakar – Ciburial, punclut juga termasuk lahan kritis kota bandung dimana yang mencapai 350 hektar. Lahan kritis itu terdapat di kawasan Punclut seluas 150 hektar, Dago Pakar 80 ha, Cimenyan 70 ha, dan sisanya tersebar di sisi kanan-kiri jalan raya di seluruh Kota Bandung yang luasnya 50 ha.

Menjadi lahan kritis tampaknya bukan hal yang begitu dramatis, karena belum terasa samasekali dampaknya bagi sebagaian penduduk di Kota Bandung, tetapi kalau bencana besar semacam longsor terjadi barulah kita sadar tentang pentingnya menjaga kawasan konservasi. Sebagai kawasan konservasi air yang di tetapkan dalam SK Gubernur Jabar No 181-1/SK.1624/1982, yang mengatur Bandung Utara sebagai daerah resapan air, Punclut begitu penting peranannya dalam memasok air tanah untuk Kota Bandung, hal ini pula yang mendasari beberapa kajian bandung utara agar diselamatkan dari usaha – usaha pengalihfungsian. Punclut memiliki fungsi ekologis sebagai kawasan resapan air untuk menyuplai kebutuhan air di wilayah Kota Bandung dan cekungan Bandung

Bisa dibayangkan bila punclut beralihfungsi menjadi kawasan pemukiman, entah itu oleh masyarakat atau pengembang,dimana kondisi air tanah akan semakin kritis, hal ini terjadi karena adanya pemadatan didaerah permukaan tanah, yang bisa menyebabkan air larian atau run off tinggi bila ini terjadi dengan sendirinya gerusan air terhadap tanah akan besar yang berdampak lanjut bila gerusan ini intensitasnya tinggi akan menyebabkan bencana longsor atau banjir.

Melestarikan atau membangun punclut

Daya tarik kawasan Punclut yang terletak di Bandung Utara, tak hanya mengundang warga untuk berlari pagi sambil berbelanja, terutama di hari Minggu, namun juga dilirik investor untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata terpadu. Dinamika pembangunan punclut ini menjadi berita hangat yang mengisi kolom surat kabar lokal maupun nasional.

Kedua terminologi membangun dan melestarikan pada akhirnya akan bermuara dimasyarakat yang disatu sisi akan merasa dimajukan dengan pembangunan tersebut. Sementara di sisi lainnya masyarakat yang tinggal di cekungan bandung akan merasa khawatir apabila punclut dibangun, tanah longsor dan banjir akan menghantui didepan mata.

Namun dibalik itu, pembangunan yang berwawasan lingkungan terutama di kawasan punclut sudah saatnya menjadi prioritas penting dalam agenda pembangunan berkelanjutan, konsep win – win sollution yang banyak ditawarkan seperti penataan yang menurut sebagian pemerhati lingkungan faith a comply pemerintah terhadap warga harus lebih didominasi oleh peran konservasinya, kalau dalam perbandingan persentase sekitar 80 persen untuk kawasan hijau dan 20 persen untuk kawasan pembangunan, walaupun kontrol terhadap pembangunan yang 20 persen ini juga sedikit diragukan dalam pelaksanaan lapangan.

Yang seharusnya menjadi perhatian semua pihak, baik pemerintah, investor, LSM dan masyarakat perlu diperhatikan adalah Punclut yang berfungsi sebagai kawasan konservasi air, terutama pasokan air tanah Kota Bandung. Keberadaan Punclut sangat terkait satu sama lainnya, hal ini merujuk pada konteks fungsi ekologis kawasan punclut yang tidak bisa berdiri sendiri.

Pembangunan untuk kawasan Punclut selayaknya diperhatikan dari semua sisi, tidak saja dari aspek ekonomi tetapi juga dari berbagi sisi yang lainya terutama kaitan dengan fungsi ekologis sebagai kawasan konservasi yang tidak bisa di buat dalam bentuk hubungan ekonomi. Begitupun dengan upaya pelestarian, dalam hal ini perlu di lakukan kajian pelestarian yang sesuai dengan wilayah dan kawasan tersebut. Dalam definisi Sony Keraf dalam bukunya Etika Lingkungan ia mengatakan bahwa keberlanjutan ekologi sudah saatnya diperhatikan semua pihak dalam lingkaran ekologi ketika pembangunan berkelanjutan ternyata gagal diimplementasikan, sama halnya dengan Fritjop Capra dalam bukunya Jaring – Jaring Kehidupan, hendaknya setiap upaya – upaya pembangunan melibatkan dan melihat semua unsur yang terdapat di lingkungan ini karena keterkaitan fungsi kehidupan yang satu sama lain saling menopang.

* Penulis Adalah Mahasiswa UPI Jurusan Teknik Sipil

(dimuat di Surat Kabar Mahasiswa Isola Pos UPI)

email : wildensyah@yahoo.com

+62817 024 6890

Posted at 03:01 pm by penakayu
Comment (1)  

 
Jun 16, 2005
publikasi..
Menuang Pendapat Dalam Tulisan*

Oleh Iden Wildensyah**

Pengalaman mengajar kita bahwa kita harus berpikir sebelum terjun ke medan pengalaman itu sendiri (Pramudya Ananta Toer, Percikan Revolusi Subuh)

Menulis adalah perjalanan menuju satu kelahiran dan karya yang lahir ibarat air yang nan bergulir deras di lereng perasaan dan pikiran (Dewi Lestari)Jika saya harus

Menuliskan tentang apa itu menulis artikel atau menulis opini, saya harus membaca dan mencari banyak hal tentang artikel, opini dll. Lalu bagaimana menuliskannya? saya mencoba menuliskannya dengan menuang pendapat dalam tulisan. Tanpa harus bersusah-susah mencari lagi literatur tentang menulis artikel atau menulis opini. Saya lebih memilih untuk menuliskan sedikit pengalaman menulis, kemudian berbagi dan tentunya mencari proses penulisan yang lebih baik. Tentunya terlalu jauh bila dibandingkan dengan penulis-penulis yang sudah kahot dan terkenal langganan mengisi lembaran opini di berbagai surat kabar, majalah lokal maupun nasional.

Menulis dan Sedikit Pengalaman

Kita mulai dari sisi saya pertama kali saya menulis. Bagi saya menulis adalah aktualisasi ide. Tiap orang mempunyai ide yang berbeda dengan orang lain, tetapi sebagian orang yang bisa menuangkannya dalam bentuk yang real, yang nyata, yang bisa dilihat dan dibagi dengan orang lain. Karena sekecil apapun ide yang tertuang dalam karya akan lebih bermakna dari seribu kata yang hanya terucap.

Berawal dari sana, saya selalu mencoba menuangkan ide, pendapat atau gagasan dalam sebuah tulisan dari hanya sekedar catatan harian dalam secarik kertas sampai dengan menyediakan waktu khusus untuk menampung ide di kepala saya. Ide menulis lahir dari mana saja, sebuah tulisan bisa lahir dari hanya sekedar menulis surat pada seorang kawan, dari jalan-jalan, diskusi atau membaca.

Penulis Djenar Maesa Ayu mengaku, dirinya menulis karena memang ingin menuliskan segala apa yang ada dalam otak dan pikirannya. Bukan karena cita-citanya ingin menerbitkan antologi cerpen ataupun novel. Tetapi lebih sebagai kebutuhan kerja intelektual saat menuangkan ide-ide. Lalu bagaimana saya menulis opini? Menulis opini bagi saya adalah suatu bentuk proses kreatif kita atau keterampilan kita dalam melihat sisi lain dari setiap peristiwa yang aktual dan faktual pada waktu tertentu. Tentunya dengan dasar-dasar kuat yang dapat mendukung semua argumen kita. Dasar ini bisa saja dari pendapat ahli atau kejadian serupa yang pernah terjadi sebelumnya.

Biasanya sebelum saya menuliskannya, terlebih dahulu saya mencari literatur opini sebelumnya. Bisa dari surat kabar, majalah atau mencari di internet. Ini berguna untuk mencari dasar untuk argumen kita juga untuk membandingkan dengan pendapat sebelumnya. Hal ini juga dilakukan agar setiap tulisan yang hendak ditulis itu benar-benar belum ditulis orang lain.Tetapi yakinlah berdasarkan pengalaman dengan topik yang sama selalu menghasilkan tulisan yang berbeda karena perbedaan persfektif dan argumentasinya.

Selalu membaca, itulah kuncinya. Karena apa yang di baca, itulah yang akan menjadi dasar untuk berbagi tulisan dengan orang lain. Tetapi harus diingat bahwa konteks membaca itu luas, bisa dari lapangan (realita di masyarakat) atau literatur (buku, majalah, koran dll).

Pengetahuan yang didapat dari membaca itu adalah aset yang berharga. Kadang saya menulis dengan teori-teori yang belum tentu dikenal oleh khalayak umum, kadang pula saya menuliskan apa yang sedang saya pikirkan pada waktu itu tanpa harus berbelit-belit dengan teori-teori atau pendapat orang lain sebelumnya, tinggal bagaimana melihat sisi lain yang beda dari orang lain tentunya yang masih aktual dan faktual di pembaca.

Menulis juga adalah proses keuletan dan keukeuh, ini pengalaman saya yang yakin bahwa media masih membutuhkan tulisan. Jika saya sudah yakin dengan tulisan saya, maka saya akan mengirimkannya ke media. Dengan terus mengirimkan maka nama saya akan membayangi redaktur sampai kemudian tulisan saya dimuat. Entahlah saya melihat proses keukeuh ini sebagai alasan kenapa tulisan bisa dimuat.

Menulis setiap hari adalah keharusan yang terus menerus saya lakukan, karena siapa yang menyangka bahwa dari sekedar tulisan pengalaman bisa melahirkan ide yang lebih besar atau pendapat yang tajam dan kritis. Ambillah bagaimana pengalamannya Soe Hok Gie atau Ahmad Wahib, dua tokoh yang menginspirasi setiap aktivis dalam menulis. Tentang 5w + 1h, saya yakin anda semua sudah mengetahui dan paham lebih jauh. 5w+1h ini adalah unsur dasar dalam menuliskan sebuah peristiwa, namun perlu diketahui pula Ashadi Siregar menyebutkan bahwa ada lima ukuran sebuah peristiwa bernilai berita, yakni :

  • Significane (penting) yaitu kejadian yang berkemungkinan mempengaruhi kehidupan orang banyak yang mempunyai akibat terhadap pembaca.
  • Magnitude (besar) yaitu kejadian yang menyangkut angka-angka yang berarti bagi kehidupan orang banyak atau kejadian yang berakibat bisa dijumlahkan dalam angka menarik buat pembaca.
  • Timeliness (waktu) yaitu kejadian yang menyangkut hal-hal yang baru atau dikemukakan.
  • Proximity (kedekatan) yaitu kejadian yang dekat dengan pembaca, kedekatan wilayah geografis maupun emosional.
  • Human Interest (manusiawi) yaitu kejadian yang memberi sentuhan perasaan bagi pembaca, kejadian yang menyangkut orang biasa dalam situasi luar biasa, inilah yang menjadi pangkal sebuah tulisan menjadi tidak usang dibaca kemudian hari.

    Walaupun Ashadi menyebutkan itu unsur penting peristiwa bernilai berita, tapi bagi saya kelima unsur tersebut dapat dijadikan dasar untuk menulis artikel, opini dsb. Dari kelima unsur tersebut saya bisa melihat segmen lain dari setiap peristiwa yang terjadi untuk tulisan yang hendak saya buat.

    Penulis dan Pembaca

    Sindhunata menuliskan bahwa Tulisan itu menjadi berarti, ketika ia sudah memasyarakat. Artinya, pembacalah yang menentukan apakah tulisan itu baik atau tidak (Martin Walser). Ironisnya, ketika kita menulis, pembaca itu tidak terlalu kita perhitungkan. KIta hanya berekspresi dan berekspresi. Pembaca sendiri bisa mulai menemukan arti dalam tulisan itu, jika ia sendiri mempunyai pengalaman, seperti dituturkan dalam tulisan itu.

    Dengan kata lain antara pembaca dan penulis harus ada sambungan pengalaman yang sama. Dari sinilah sebuah tulisan itu akan membentuk suatu kesadaran. Dimana hal itu muncul lewat pembaca dan dari pembaca, setelah mereka membacanya. Ini paradoks suatu penulisan: arti dari suatu tulisan itu kelihatannya lebih merupakan produk dari pembaca daripada penulisan. Karena itu benarlah kata-kata: "Nasib buku itu di tangan pembaca, sesuai dengan daya kemampuan dan tingkatan mereka".
    Dilihat dari kacamata di atas, menulis itu adalah suatu petualangan. Kita boleh merasa tulisan kita baik, ternyata tulisan itu tak berbunyi apa-apa bagi pembaca. Dalam bahasa pemasaran buku: pasar pembaca itu sulit diterka. Melihat kenyataan itu, tak bisa kita mematok dari awal, bahwa tulisan kita akan laku. Kita memang harus memperhitungkan pembaca, tapi kita tidak boleh didikte oleh pembaca. Biarlah pembaca membacanya, sementara kita hanya menuliskannya. Memang, jembatan antar kita dan pembaca akan terbangun, jika mempunyai pengalaman yang diandaikan juga dialami pembaca. Maka menulis sesungguhnya bukan hanya pekerjaan otak, tapi pekerjaan pengalaman: pengalaman mendesak kita untuk merefleksikannya, dan kemudian menuliskannya. Epilog

    Sampai di sini saya memaparkan sedikit hal tentang menulis, yang perlu diingat adalah menulis itu perlu dasar yang kuat, percaya diri, berani bertanggungjawab, orisinil bukan hasil plagiasi (hati-hati dengan plagiasi, anda akan menjadi black list redaktur. Kalaupun ada kutipan, tulislah sumbernya).

    Titik terpenting dalam menulis adalah melakukannya (do it) namun tidak kalah pentingnya juga adalah motivasi yang kuat agar tulisan kita bisa lebih kritis dan bisa dikonsumsi orang lain.

    Terakhir, saya menganalogikan bahwa penulis opini itu adalah teko yang mengisi cangkir, maka buatlah air itu bergizi bagi siapapun yang ingin meneguknya, dengan keluasan dan keterbukaan kita dalam mencari formulasi sebuah tulisan yang berguna bagi orang lain. J Bandung, Juni 2005

    Bahan Bacaan Selanjutnya :

  • Artikel Sekadar Catatan tentang Tulis Menulis ; Sindhunata
  • Vademekun Wartawan
  • Seandainya Saya Wartawan Tempo
  • Wartawan Asia.

    * Pengantar Diskusi Teknik Menulis Artikel di Pelatihan Pers dan Jurnalistik Mahasiswa "GLOSUS" FK Universitas Kristen Maranatha 11 Juni 2005

    ** Anggota UPM UPI pernah menjadi Redaktur ISOLAPOS Online dan ISOLA Magazine. kini menjadi Kontributor untuk media di Bandung.

  • Posted at 07:51 pm by penakayu
    Make a comment  

     
    Jun 15, 2005
    dari KOMPAS

    Di luar prasangka personal seseorang menjalani hidup membosankan dalam rutinitas mandul, tanpa gairah, di balik itu dia memiliki makna maupun signifikansi luar biasa dalam kehidupan, bagi orang lain dan lingkungan terdekat. Makna ini kadang-kadang gagal dicapai banyak orang. Karena itu orang merasa hampa makna hidup.

    Hampa makna hidup-di berbagai fenomena bisa berupa alienasi, nihilisme, absurdisme-sebenarnya merupakan fenomena umum bagi manusia kontemporer. Ciri-cirinya ialah ketika orang merasa terasing dari diri sendiri, orang lain, lingkungan (sosial), atau kerja; di sisi lain merasa tak punya tujuan hidup dan takdir. Mereka hidup, berperan, merasa, ambil bagian, tapi semuanya tertelan hiruk-pikuk atau persoalan sehari-hari.

    Orang kehilangan ruang meditasi (perenungan); sementara setiap kali mengalami peristiwa yang mampu memunculkan pertanyaan kritis seperti "siapa saya", "di mana saya", "ada apa sebenarnya" yang mencoba mengembalikan pada kesadaran atau vitalitas hidup, membuka eksplorasi diri, dia malah ditarik-tarik menyelesaikan dengan cara tak layak, kalau tidak melupakan dan menenggelamkan dalam buih laut kehidupan.

    Ketika kecewa, bertanya tentang hidup, orang malah diajak minum-minum, bersenang-senang, dinasihati agar tak bertanya sesuatu yang sulit dijelaskan, berkata bahwa "masalah" itu akan selesai sendiri, akhirnya terlupakan bersama berlalu waktu dan peristiwa. Padahal itulah kesempatan orang mendapat jawaban fundamental terhadap misteri kehidupan.(kompas,12/06/05)

    Posted at 06:07 pm by penakayu
    Make a comment  

     
    Jun 13, 2005
    ...
    Tunas Ini Tumbuh Serupa Tubuh Yang Mengakar.
    Karena Kita Satu, Karena Kita adalah Dua Tubuh Dalam Satu Jiwa.
    Posted at 12:33 am by penakayu
    Make a comment  

    Next Page