|
KEBIJAKAN WILAYAH TANGERANG DAN KARAWANG SEBAGAI
KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI
Oleh IDEN WILDENSYAH
A. PENDAHULUAN
Setiap daerah mempunyai corak pertumbuhan ekonomi yang
berbeda dengan daerah lain. Oleh sebab itu perencanaan pembangunan ekonomi
suatu daerah pertama-tama perlu mengenali karakter ekonomi, sosial dan fisik
daerah itu sendiri, termasuk interaksinya dengan daerah lain. Dengan demikian
tidak ada strategi pembangunan ekonomi daerah yang dapat berlaku untuk semua
daerah. Namun di pihak lain, dalam menyusun strategi pembangunan ekonomi
daerah, baik jangka pendek maupun jangka panjang, pemahaman mengenai teori pertumbuhan
ekonomi wilayah, yang dirangkum dari kajian terhadap pola-pola pertumbuhan
ekonomi dari berbagai wilayah, merupakan satu faktor yang cukup menentukan
kualitas rencana pembangunan ekonomi daerah.
Keinginan kuat dari pemerintah daerah untuk membuat
strategi pengembangan ekonomi daerah dapat membuat masyarakat ikut serta
membentuk bangun ekonomi daerah yang dicita-citakan. Dengan pembangunan ekonomi daerah yang terencana,
pembayar pajak dan penanam modal juga dapat tergerak untuk mengupayakan peningkatan
ekonomi. Kebijakan pertanian yang mantap, misalnya, akan membuat pengusaha dapat melihat ada
peluang untuk peningkatan produksi pertanian dan perluasan ekspor. Dengan
peningkatan efisiensi pola kerja pemerintahan dalam pembangunan, sebagai bagian
dari perencanaan pembangunan, pengusaha dapat mengantisipasi bahwa pajak dan
retribusi tidak naik, sehingga tersedia lebih banyak modal bagi pembangunan
ekonomi daerah pada tahun depan.
I. TANGERANG
Tangerang adalah pusat manufaktur dan industri
di pulau Jawa dan memiliki lebih
dari 1000 pabrik. Banyak perusahaan-perusahaan internasional yang memiliki
pabrik di kota ini. Tangerang memiliki cuaca yang cenderung panas dan lembab,
dengan sedikit hutan atau bagian geografis lainnya. Kawasan-kawasan tertentu
terdiri atas rawa-rawa, termasuk kawasan di sekitar Bandara Soekarno Hatta
Dalam beberapa tahun terakhir, perluasan urban
Jakarta meliputi Tangerang, dan akibatnya banyak penduduknya yang berkomuter ke
Jakarta untuk kerja, atau sebaliknya. Banyak kota-kota satelit kelas menengah
dan kelas atas sedang dan telah dikembangkan di Tangerang, lengkap dengan pusat perbelanjaan, sekolah, dan minimarket. Pemerintah bekerja dalam
mengembangkan sistem jalan tol untuk mengakomodasikan arus lalu lintas yang
semakin banyak ke dan dari Tangerang.
1. Topografi
Wilayah Kota Tangerang rata-rata berada pada ketinggian 10 - 30 meter di
atas permukaan laut. Bagian Utara memiliki rata-rata ketinggian 10 meter di atas permukaan
laut seperti Kecamatan Neglasari, Kecamatan Batuceper, dan Kecamatan Benda.
Sedangkan bagian Selatan memiliki ketinggian 30 meter di atas permukaan laut
seperti Kecamatan Ciledug dan Kecamatan Larangan. Dilihat dari kemiringan
tanahnya, sebagian besar Kota Tangerang mempunyai tingkat kemiringan tanah 0-30
% dan sebagian kecil (yaitu di bagian Selatan kota) kemiringan tanahnya antara
3-8% berada di Kelurahan Parung Serab, Kelurahan Paninggilan Selatan dan
Kelurahan Cipadu Jaya.
2. Letak Kota Tangerang
Letak Kota Tangerang tersebut sangat strategis karena berada di antara
Ibukota Negara DKI Jakarta dan Kabupaten Tangerang. Sesuai dengan Instruksi
Presiden Nomor 13 Tahun 1976 tentang Pengembangan Jabotabek (Jakarta, Bogor,
Tangerang, Bekasi), Kota Tangerang merupakan salah satu daerah penyangga
Ibukota Negara DKI Jakarta.
Posisi Kota Tangerang tersebut menjadikan pertumbuhannya pesat. Pada satu
sisi wilayah Kota Tangerang menjadi daerah limpahan berbagai kegiatan di
Ibukota Negara DKI Jakarta. Di sisi lain Kota Tangerang dapat menjadi daerah
kolektor pengembangan wilayah Kabupaten Tangerang sebagai daerah dengan sumber
daya alam yang produktif.
3. Tata guna lahan
Kota Tangerang merupakan salah satu kota di Botabek dengan luas wilayah
17.729,746 Ha. Dari luas wilayah tersebut pertumbuhan fisik kota ditunjukkan
oleh besamya kawasan terbangun kota, yaitu seluas 10.127,231 Ha (57,12 % dari
luas seluruh kota), sehingga sisanya sangat strategis untuk dapat dikonsolidasi
dengan baik ke dalam wilayah terbangun kota yang ada melalui perencanaan kota
yang sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata
Ruang (RDTR). Data terakhir menunjukkan bahwa pemanfaatan lahan di Kota Tangerang
meliputi:
- Pemukiman
(5.988,2 Ha)
- Industri
(1.367,1 Ha)
- Perdagangan dan
Jasa (608,1 Ha)
- Pertanian
(4.467,8 Ha)
- Lain-lain
(819,4 Ha)
- Belum terpakai
(2.66,4 Ha)
- Bandara
Soekarno - Hatta (1.816,0 Ha)
Pola penggunaan lahan di Kota Tangerang dapat
dikelompokkan ke dalam 2 (dua) kategori, yaitu kawasan budidaya dan kawasan
lindung. Berkaitan dengan zoning di Kota Tangerang, pusat
kota ditetapkan di Kecamatan Tangerang. Kawasan pengembangan terbatas di bagian
Utara (Kecamatan Benda dan Batuceper) masih mengikuti Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) yang lama. Kecamatan Batuceper masih diarahkan untuk kegiatan
pergudangan, industri dan perumahan susun. Kecamatan Benda yang wilayahnya
meliputi sebagian Bandara Internasional Soekarno - Hatta diarahkan sebagai
ruang terbuka hijau dan buffer (pengaman) bandara, yang masih konsisten dengan
RTRW sebelumnya. Sedangkan Kecamatan Ciledug tetap diarahkan untuk kegiatan
perumahan tapi dengan penegasan yang lebih jelas antara skala menengah dan
kecil. Kecamatan Jatiuwung di bagian Barat Kota Tangerang diarahkan untuk
kegiatan industri dengan pengembangan terbatas, serta permukiman penunjang
industri. Kawasan tersebut tidak diarahkan untuk penambahan industri baru tapi
untuk perluasan kegiatan yang sudah ada saja.
4. Hidrologi
Wilayah Kota Tangerang dilintasi oleh Sungai Cisadane yang membagi Kota
Tangerang menjadi 2 (dua) bagian yaitu bagian Timur sungai dan bagian Barat
sungai. Kecamatan
yang terletak di bagian Barat Sungai Cisadane meliputi Kecamatan Jatiuwung dan
sebagian Kecamatan Tangerang. Selain Sungai Cisadane, di Kota Tangerang
terdapat pula sungai-sungai lain seperti Sungai Cirarab yang merupakan batas
sebelah Barat, Kecamatan Jatiuwung dengan Kecamatan Pasar Kemis di Kabupaten
Tangerang, Kali Ledug yang merupakan anak Sungai Cirarab, Kali Sabi dan Kali
Cimode, sungai-sungai tersebut bcrada di sebelah Sungai Cisadane, sedangkan
pada bagian Timur Sungai Cisadane terdapat pula sungai/kali yang meliputi Kali
Pembuangan Cipondoh, Kali Angke, Kali Wetan, Kali Pasanggrahan, Kali Cantiga,
Kali Pondok Bahar. Selain sungai/kali di Kota Tangerang terdapat pula saluran
air yang meliputi Saluran Mokevart, Saluran Irigasi Induk Tanah Tinggi, Saluran
Induk Cisadane Barat, Saluran Induk Cisadane Timur dan Saluran Induk Cisadane
Utara.
Kota Tangerang dibelah Sungai Cisadane yang
memiliki debit air 88 m3 per detik dan mengalir sejauh 13,8 km. Selain itu,
terdapat pula 3 (tiga) aliran kali kecil yang membelah beberapa bagian wilayah
Kota Tangerang yaitu Kali Pesanggrahan di Kecamatan Ciledug, Kali Angke di
Kecamatan Ciledug dan Cipondoh, serta Kali Cirarab di Kecamatan Jatiuwung dan
Tangerang.
Aliran sungai besar dan kecil ini sangat
bermanfaat bagi penyediaan bahan baku air bersih untuk pengembangan instalasi
air bersih Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Tangerang. Persediaan air
permukaan tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan air kegiatan
industri.
5. Transportasi
Wilayah Kota Tangerang yang merupakan wilayah penyangga ibu kota negara
memiliki 3 pintu masuk utama yaitu jalan Tol Jakarta Merak, Kereta Rel Listrik
dan Pelabuhan Udara Sukarno-Hatta, Moda transportasi yang beroperasi di wilayah
Kota Tangerang terdiri dari moda transportasi darat dan udara. Moda
transportasi darat terdiri dari angkutan kota dan bus baik sedang maupun besar
yang melayani antar kota kecamatan dan antar kota/kabupaten dan provinsi,
Kerata Rel listrik (KRL) yang beroperasi menghubungkan stasiun Tangerang (pasar
anyar) dengan stasiun Jakarta Kota serta Bandara Soekarno-Hatta yang merupakan
pintu masuk internasional.
Jumlah kendaraan bermotor dari berbagai golongan
yang melintasi 3 pintu tol di Kota Tangerang yaitu pintu Tol Karang Tengah,
Kebon Nanas dan Karawaci Timur pada tahun 2005 sebanyak 60.057.184 kendaraan,
sedangkan frekuensi penerbangan di pelabuhan udara Soekarno-Hatta sebanyak
267.352 penerbangan terdiri dari 55.353 penerbangan internasional dan 212.179
penerbangan domestik. Kargo dan Pos paket yang bongkar muat sebanyak
165.998.730 kg terdiri dari penerbangan internasional sebanyak 156.584.505 kg
sedangkan penerbangan domestik sebanyak 6.847.304 kg.
6. Peluang Investasi
Dengan pemahaman terhadap potensi dan kendala
yang dimiliki Kota Tangerang, maka pemerintah kota ini merumuskan strategi
pengembangan wilayah yang paling menguntungkan untuk diterapkan di masa
mendatang yakni dengan mengutamakan kegiatan unggulan berupa:
- Pengembangan
industri.
- Pengembangan
perdagangan.
- Pengembangan
keuangan dan perbankan.
- Pengembangan
permukiman.
Sejak dikeluarkannya Instruksi Presidan Nomor 13
Tahun 1976, keempat sektor kegiatan tersebut telah tumbuh sangat pesat di Kota
Tangerang. Pertumbuhan keempat sektor kegiatan tersebut semakin pesat dengan
adanya ruas jalan tol Jakarta - Tangerang - Merak dan gerbang perhubungan udara
Indonesia Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Keempat sektor kegiatan tersebut menjadi sumber mata pencaharian utama bagi
sebagian besar penduduk Kota Tangerang.
A. Pengembangan Industri
Pengembangan Industri di Kota Tangerang sebagai akibat dari keterbatasan
lahan peruntukan pengembangannya di DKI Jakarta telah dimulai sejak tahun 1976
hingga saat ini. Industri skala kecil hingga besar bersaing dalam
pembangunannya di kota ini.
Menurut data dari Kantor Penanaman Modal dan Perijinan (KPMP), tercatat
1.407 unit usaha industri yang ada di Kota Tangerang yang mempekerjakan 149.827
tenaga kerja lokal dan 356 tenaga kerja asing. Investasi yang ditanamkan dalam
seluruh kegiatan industri tersebut mencapai Rp 3.716.781.817.979,00.
B. Pengembangan Perdagangan
Pengembangan sektor perdagangan di Kota Tangerang tumbuh seiring dengan
pesatnya pengembangan kegiatan industri dan perumahan yang telah ada. Sektor
ini tumbuh dengan aktivitas manusia yang menuntut tersedianya kebutuhan primer
dan sekunder.
Di masa yang akan datang, pengembangan sektor perdagangan sangat cerah
seiring dengan pengembangan sentra-sentra permukiman baru, perluasan permukiman
lama dan perindustrian di Kota Tangerang. Lahan untuk pengembangan kegiatan
perdagangan masih tersedia cukup luas.
C. Pengembangan Permukiman
Pengembangan sektor permukiman di Kota Tangerang, baik perkotaan maupun
perdesaan dan perumahan baru, mengalami ledakan jumlah sejak tahun 1976 di
hampir seluruh wilayah Kota Tangerang. Hal tersebut dimungkinkan dengan
peningkatan kebutuhan akan sarana perumahan seiring dengan pertambahan jumlah
penduduk (migrasi penduduk) yang bekerja di sentra-sentra kegiatan ekonomi Kota
Tangerang dan penduduk penglaju (komuter) dari DKI Jakarta yang memilih tetap
bertempat tinggal di Kota Tangerang tetapi bekerja di DKI Jakarta.
D. Peluang Investasi
Dryport dan Jalan Tol
Peluang-peluang investasi yang prospektif dan sangat mendesak kebutuhannya
adalah dryport atau pergudangan skala besar untuk menopang sekitar 1.300
industri. Saat ini kemacetan lalu lintas sering terjadi di Kota Tangerang
karena container-container harus masuk ke kawasan industri. Dengan adanya
dryport maka setiap industri tidak perlu memiliki gudang sendiri. Pemerintah
Daerah (Pemda) Kota Tangerang telah menyiapkan 2 (dua) alternatif lahan untuk
pembangunan dryport ini. Pertama, di sebelah Selatan
pada lahan di pinggir jalan tol Jakarta - Merak. Kedua, di sebelah Utara, yang berdekatan dengan Bandara Soekarno-Hatta.
II. KARAWANG
Kabupaten Karawang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat,
Indonesia. Ibukotanya adalah Karawang. Kabupaten ini berbatasan dengan
Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor di barat, Laut Jawa di utara, Kabupaten
Subang di timur, Kabupaten Purwakarta di tenggara, serta Kabupaten Cianjur di
selatan.
Kabupaten Karawang memiliki dua wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten
lain, jika pengunjung yang berasal dari Bandung, purwakarta, cirebon, subang
dan Jawa Tengah hendak menuju Jakarta melalui route jalan lama, pasti mereka
memasuki Kabupaten Karawang, tentu saja tanpa terkecuali mereka yang
menggunakan jalan tol Cikampek Jakarta, pasti sedikitnya tahu bahwa daerah yang
mereka lalui adalah Kabupaten Karawang, demikian halnya mereka yang dari arah
Bekasi dan Jakarta yang menuju jawa tengah pun sama melewati Karawang.
A. Topografi
Sebagian besar wilayah Kabupaten Karawang adalah dataran rendah, dan di
sebagian di wilayah selatan berupa dataran tinggi.
B. Demografi
Penduduk umumnya adalah suku Sunda yang menggunakan Bahasa Sunda, tetapi di
Karawang terdapat beberapa bahasa dan budaya diantaranya budaya dan bahasa
Betawi di daerah utara Karawang tepatnya sebagian Kecamatan Batujaya dan
Kecamatan Pakisjaya serta bahasa Jawa Cirebonan di jalur Utara Kecamatan
Tempuran Kecamatan Cilamaya
C. Administratif
Kabupaten Karawang terdiri atas 30 kecamatan, yang dibagi lagi atas
sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Karawang.
D. Potensi
- Di Kabupaten Karawang berdiri beberapa Kawasan
Industri, antara lain Karawang International Industry City KIIC, Kawasan
Surya Cipta, kawasan Bukit Indah City atau BIC di jalur Cikampek(Karawang)
- Di bidang pertanian, Karawang terkenal sebagai
lumbung padi Jawa Barat.
- Karawang adalah tuan rumah PORPROV Jabar X tahun
2006.
E. Transportasi
Ibukota kabupaten Karawang berada di jalur pantura. Kabupaten Karawang
dilintasi ruas jalan tol Jakarta-Cikampek(Karawang) serta Cipularang
(Cikampek(Karawang)-Purwakarta-Padalarang). Cikampek merupakan kecamatan yang
berada di bagian timur Kabupaten Karawang. Di Cikampek terdapat stasiun kereta
api yang merupakan pertemuan dua jalur utama dari Bandung dan dari Cirebon
menuju Jakarta.
Karawang menjadi daerah strategis yang banyak di lalui orang, keunggulan
ini sayangnya kurang diperhatikan, padahal kita dapat memanfaatkan peluang
dengan memasarkan potensi Kabupaten Karawang kepada setiap orang, dulu di
hampir setiap perbatasan Kabupaten terdapat sejenis sign-board besar yang
bertuliskan “ Selamat Datang di Kabupaten…” atau sekedar tulisan semboyan kota
seperti yang terpampang ketika anda memasuki Kabupaten Garut “ Garut Kota
Intan” atau jika anda dari arah Bandung menuju Purwakarta di sana terbentang
sejenis gapura yang melintang di atas jalan dengan tulisan “ Selamat Datang Di
Kota Purwakarta” sama seperti gerbang yang membentang di jalur masuk menuju
kota Karawang dari gerbang Tol Karawang Barat, ini adalah upaya memperkenalkan
daerah meskipun belum menyentuh aspek memasarkan daerah dengan strategi
positioning yang diarahkan kepada para pengunjung untuk mengingat daerah yang
dilaluinya, karena belum lengkap dengan informasi potensi daerah yang
sesungguhnya.
B. MANAJEMEN PEMBANGUNAN DAERAH YANG PRO-BISNIS
Pemerintah daerah dan pengusaha adalah dua kelompok yang
paling berpengaruh dalam menentukan corak pertumbuhan ekonomi daerah.
Pemerintah daerah, mempunyai kelebihan dalam satu hal, dan tentu saja
keterbatasan dalam hal lain, demikian juga pengusaha. Sinergi antara keduanya
untuk merencanakan bagaimana ekonomi daerah akan diarahkan perlu menjadi
pemahaman bersama. Pemerintah daerah mempunyai kesempatan membuat berbagai
peraturan, menyediakan berbagai sarana dan peluang, serta membentuk wawasan
orang banyak. Tetapi pemerintah daerah tidak mengetahui banyak bagaimana proses
kegiatan ekonomi sebenarnya berlangsung. Pengusaha mempunyai kemampuan
mengenali kebutuhan orang banyak dan dengan berbagai insiatifnya, memenuhi
kebutuhan itu. Aktivitas memenuhi kebutuhan itu membuat roda perekonomian
berputar, menghasilkan gaji dan upah bagi pekerja dan pajak bagi pemerintah.
Dengan pajak, pemerintah daerah berkesempatan membentuk kondisi agar
perekonomian daerah berkembang lebih lanjut.
Pemerintah daerah dalam mempertahankan keberlanjutan
pembangunan ekonomi daerahnya agar membawa dampak yang menguntungkan bagi
penduduk daerah perlu memahami bahwa manajemen pembangunan daerah dapat
memberikan pengaruh yang baik guna mencapai tujuan pembangunan ekonomi yang
diharapkan. Bila kebijakan manajemen pembangunan tidak tepat sasaran maka akan
mengakibatkan perlambatan laju pertumbuhan ekonomi. Maka manajemen pembangunan
daerah mempunyai potensi untuk meningkatkan pembangunan ekonomi serta
menciptakan peluang bisnis yang menguntungkan dalam mempercepat laju
pertumbuhan ekonomi daerah.
C. KESIMPULAN DAN SARAN
Sebagai Kawasan
Pertumbuhan Ekonomi, Tangeran dan Karawang memiliki potensi yang sama untuk
mengembangkan wilayahnya masing-masing dengan beberapa prinsip manajemen
pembangunan yang probisnis. Prinsip-prinsip itu antara lain:
a. Menyediakan Informasi
kepada Pengusaha
Pemerintah daerah dapat memberikan informasi kepada para
pelaku ekonomi di daerahnya ataupun di luar daerahnya kapan, dimana, dan apa
saja jenis investasi yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan yang akan datang.
Dengan cara ini maka pihak pengusaha dapat mengetahui arah kebijakan
pembangunan daerah yang diinginkan pemerintah daerah, sehingga dapat digunakan
sebagai dasar pertimbangan dalam menentukan dalam kegiatan apa usahanya akan
perlu dikembangkan. Pemerintah daerah perlu terbuka mengenai kebijakan
pembangunannya, dan informasi yang diterima publik perlu diupayakan sesuai
dengan yang diinginkan.
b. Memberikan Kepastian dan
Kejelasan Kebijakan
Pengusaha juga mengharapkan kepastian kebijakan antar
waktu. Kebijakan yang berubah-ubah akan membuat pengusaha kehilangan
kepercayaan mengenai keseriusannya membangun ekonomi daerah. Pengusaha daerah
umumnya sangat jeli dengan perilaku pengambil kebijakan di daerahnya. Kerjasama
yang saling menguntungkan mensyaratkan adanya kepercayaan terhadap mitra usaha.
Membangun kepercayaan perlu dilakukan secara terencana dan merupakan bagian
dari upaya pembangunan daerah.
c. Mendorong Sektor Jasa dan
Perdagangan
Sektor ekonomi yang umumnya bekembang cepat di kota-kota
adalah sektor perdagangan kecil dan jasa. Sektor ini sangat tergantung pada
jarak dan tingkat kepadatan penduduk. Persebaran penduduk yang berjauhan dan
tingkat kepadatan penduduk yang rendah akan memperlemah sektor jasa dan
perdagangan eceran, yang mengakibatkan peluang kerja berkurang. Semakin dekat
penduduk, maka interaksi antar mereka akan mendorong kegiatan sektor jasa dan
perdagangan. Seharusnya pedagang kecil mendapat tempat yang mudah untuk
berusaha, karena telah membantu pemerintah daerah mengurangi pengangguran. Pada
waktunya pengusaha kecil akan membayar pajak kepada pemerintah daerah. Dengan
menstimulir usaha jasa dan perdagangan eceran, pertukaran ekonomi yang lebih
cepat dapat terjadi sehingga menghasilkan investasi yang lebih besar. Adanya
banyak pusat-pusat pedagang kaki lima yang efisien dan teratur akan menarik
lebih banyak investasi bagi ekonomi daerah dalam jangka panjang.
d. Meningkatkan Daya Saing
Pengusaha Daerah
Meningkatkan daya saing adalah dengan meningkatkan
persaingan itu sendiri. Ini berarti perlakuan-perlakukan khusus harus
ditinggalkan. Proteksi perlu ditiadakan segera ataupun bertahap. Pengembangan
produk yang sukses adalah yang berorientasi pasar, ini berarti pemerintah
daerah perlu mendorong pengusaha untuk selalu meningkatkan efisiensi teknis dan
ekonomis. Peraturan perdagangan internasional harus diperkenalkan dan
diterapkan. Perlu ada upaya terencana agar setiap pejabat pemerinah daerah
mengerti peraturan-peraturan perdagangan internasional ini, untuk dapat
mendorong pengusaha-pengusaha daerah menjadi pemain-pemain yang tangguh dalam
perdagangan bebas, baik pada lingkup daerah, nasional maupun internasional.
e. Membentuk Ruang yang
Mendorong Kegiatan Ekonomi
Membentuk ruang khusus
untuk kegiatan ekonomi akan lebih langsung menggerakkan kegiatan ekonomi.
Pemerintah daerah perlu berusaha mengantisipasi kawasan-kawasan mana yang dapat
ditumbuhkan menjadi pusat-pusat perekonomian wilayah. Kawasan-kawasan yang
strategis dan cepat tumbuh ini dapat berupa kawasan yang sudah menunjukkan
tanda-tanda aglomerasi, seperti sentra-sentra produksi pertanian tanaman
pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan; klaster industri, dsb.
Kawasan cepat tumbuh juga dapat berupa kawasan yang sengaja dibangun untuk
memanfaatkan potensi SDA yang belum diolah, seperti yang dulu dikembangkan
dengan sistim permukiman transmigrasi. Kawasan-kawasan ini perlu dikenali dan
selanjutnya ditumbuhkan dengan berbagai upaya pengembangan kegiatan ekonomi,
seperti pengadaan terminal agribisnis, pengerasan jalan, pelatihan bisnis,
promosi dsb. Pengembangan
kawasan-kawasan strategis dan cepat tumbuh ini perlu dilakukan bersamaan dengan
upaya peningkatan keterampilan, pengembangan usaha, dan penguatan keberdayaan
masyarakat..
DAFTAR PUSTAKA
·
Herry
Darwanto. Prinsip
Dasar Pembangunan Ekonomi Daerah. Majalah PP Th 2002\Edisi 28
- Moh. Soerjani
dkk. Lingkungan ; Sumberdaya
Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan, , UI Press, 1987
- Bruce Mitchell dkk, Pengelolaan
Sumberdaya dan Lingkungan, Gadjah Mada University Press, 2003
- Jayadinata, Johara T. Tata
Guna Tanah Dalam Perencanaan Pedesaan Perkotaan dan Wilayah. Penerbit
ITB. Bandung. 1999
Referensi internet
- http://www.bplhd.jakarta.go.id
- http://www.kompas.com
- http://www.id.wikipedia.com
- http://www.bappenas.go.id
|